Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris

Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris
Hutan Abadi V


__ADS_3

Tetua Agung Elf menutup kembali pintu rumah Pohon Helena dan mengurungnya di dalam agar Helena tidak melarikan diri saat Alex muncul di hadapan mereka.


Bisa saja saat mereka lengah, Pegasus milik Alex akan mendarat di depan rumah Pohon Helena, kemudian Helena kabur dengan menungganginya.


Kecepatan lari Pegasus adalah yang paling cepat dari Monster tingkat 10 lainnya. Dulu, Tetua Agung menyuruh Zeldeth dan bawahannya menangkap Pegasus, tetapi mereka gagal menangkapnya karena Pegasus langsung terbang tinggi ke langit secara vertikal.


Ekspresi wajah para Pendekar Elf dan bawahan Lycus tampak tegang, beberapa bahkan berkeringat dan tangan mereka gemetaran.


Namun, hingga matahari hampir menghilang, sosok yang mereka tunggu-tunggu tidak kunjung datang sehingga sebagian dari mereka mempertanyakan apakah informasi dari Ian itu akurat atau jangan-jangan mereka hanya membuang-buang waktu saja berkumpul di sana.


Ian merasa tidak nyaman dengan tatapan sinis dari Pendekar Elf. Dia kemudian mendekati Lycus dan berbisik, “Pangeran Kedua... yakinlah bahwa sosok yang mirip Alex muncul di Kuil Dewi Luna.”


Lycus tidak menjawab perkataan Ian, Dia hanya mengangguk pelan. Namun, ia juga bingung, dulu Alex tidak pernah mengulur-ulur waktu bila ingin bertarung melawan musuh. Bahkan Alex tidak segan-segan mendatangi markas mereka.


“Sepertinya bocah itu menjadi penakut setelah hampir tewas malam itu,” cibir Zeldeth sembari menyeringai jahat. “Sebentar lagi akan malam, apakah kita masih berkumpul di sini?” Zeldeth merasa bosan hanya berdiri saja sejak tadi.


“Kita tunggu saja satu jam lagi, kalau dia tidak datang maka kita akan membawa Helena ke Istana Kerajaan Hutan Abadi dan melangsungkan pernikahan itu, bagaimana menurutmu, Tetua Agung?” Lycus menyahut perkataan Zeldeth yang tampak mengerutkan keningnya karena tidak senang mendengar perkataan Lycus.


“Aku setuju!” sahut Tetua Agung Elf yang berpikir lebih baik Lycus membawa Helena ke Kota Ella sehingga bila Alex murka, maka Alex akan menggila di Kota Ella bukan di Hutan Abadi. Namun, tentu ia tetap akan mengantispasi tindakan balas dendam Alex, karena dirinya termasuk yang bekerjasama dengan Lycus dalam penyergapan terhadap Alex saat malam penyergapan itu.


Zeldeth menyandarkan tubuh tuanya di rumah Pohon Helena dan memejamkan matanya. “Terserah kalian saja!” sahutnya berkata sinis. “Bangunkan Aku bila bocah nakal itu telah menampakkan batang hidungnya!”


“Cih, sombong sekali sampah tua Elf itu,” gerutu Pendekar tingkat 10 yang berdiri di belakang Lycus. Dia kesal Kerajaan kecil ini tidak menaruh hormat pada Pangerannya, kalau tidak demi wanita Elf yang berada di dalam rumah Pohon itu maka Hutan Abadi akan dihancurkan oleh Kekaisaran Hazel.


Lycus mengangkat satu tangannya untuk menenangkan bawahannya itu. “Tidak apa-apa... jangan memantik permusuhan dengan para sahabat kita ini,” sahutnya sembari tersenyum tipis.


...***...


“Ayah... diluar sana sudah mulai gelap, kapan kita ke rumah Ibu?” tanya Sarah yang berdiri di depan rumah Pohon milik Damian.

__ADS_1


Setelah mendapat Kekuatan milik Dewi Luna, Alex langsung ke rumah Pohon Damian yang telah lama kosong tersebut, karena Damian lebih sering menjalankan misi keluar dari Hutan Abadi.


Alex mengetahui letak rumah Damian, karena Damian memberitahunya sebelum meninggalkan Kota Perdamaian dan memberikannya kertas berupa petunjuk di mana rumah Pohon tersebut.


“Baiklah, mari kita ke rumah Ibumu karena Ayah sudah menyerap kekuatan Dewi Luna,” sahut Alex segera berdiri dan merasakan Kekuatannya telah meningkat. “Apakah Aku sudah menjadi Dewa?” gumamnya karena tidak ada ukuran yang menentukan bagaimana mana membedakan Pendekar tingkat 11 dengan tingkat 12 serta seterusnya bila memang masih ada tingkatan yang lebih tinggi.


Alex penasaran apakah Elemen Sihirnya akan bertambah karena telah menyerap kekuatan Dewi Luna, kemudian ia menjentikkan jari tangannya untuk melihat apakah ada Elemen Sihir baru.


Cahaya menyilaukan muncul di tangannya dan itu bukan Elemen Sihir Cahaya. Namun, Elemen Sihir itu mengandung Elemen Sihir Kehidupan.


Senyuman cerah terpancar dari wajah Alex. “Ini adalah Elemen Sihir yang sangat hebat,” gumamnya karena bila ia terluka maka luka itu akan sembuh dengan segera, kecuali ia terbunuh maka tentu tidak akan bisa dihidupkan lagi.


“Ayo cepat lah, Ayah!” teriak Sarah dari luar rumah Pohon Damian, karena sudah tidak sabar ingin bertemu dengan ibunya.


Alex segera keluar dari rumah Pohon Damian dan menggendong Sarah, kemudian berjalan menuju rumah Pohon Helena.


“Kenapa banyak Pendekar yang bersembunyi di rumah-rumah Pohon penduduk Elf?” gumam Alex merasa mungkin Tetua Agung Elf telah menyadari keberadaannya. “Oh, sepertinya kalian ingin merasakan murka Dewa ini, ya?”


Semakin dekat ke rumah Pohon Helena, semakin banyak kerumunan Pendekar tingkat tinggi yang Alex temui dan puncaknya adalah ia melihat sosok yang familiar di hadapannya.


Lycus tertegun sejenak saat melihat Alex berjalan dengan santai ke arah mereka. Dia tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh adiknya itu sehingga berani menampakkan diri.


Pendekar tingkat tinggi bawahan Lycus segera maju membentuk Perisai di depannya.


Perhatikan Alex langsung beralih dari Lycus yang membuat darahnya mendidih tersebut, tatapannya kemudian berhenti pada Pria Elf tua yang sedang bersandar dan memejamkan mata di rumah Pohon Helena.


“Kenapa ia memiliki Aura yang mirip dengan Mordor? Apakah ia juga telah mendapatkan kekuatan dari bagian tubuh Dewa Cthulhu?” gumam Alex terkejut.


Zeldeth membuka matanya dan tersenyum lebar menatap Alex. “Kenapa, Bocah? apakah kamu langsung ketakutan saat melihat diriku yang tua bangka ini?” candanya.

__ADS_1


Zeldeth menghunus pedangnya dan melangkahkan perlahan-lahan mendekati Alex.


“Apa kami akan ikut mengepung Alex, Pangeran Kedua?” bisik Ian yang telah menghunus pedangnya.


Lycus menggelengkan kepala, dia penasaran sekuat apa Alex saat ini sehingga ia mampu membunuh Wakil Kepala Akademi Kekaisaran dan Pendekar tingkat 10 lainnya saat di Kota Ella. Dia juga merasa ada yang aneh dengan Aura milik Zeldeth, seolah-olah Aura itu membuatnya melihat mimpi buruk yang akan melahapnya.


“Helena... jaga Putri Kita!” Alex berteriak keras dan tiba-tiba terdengar dentuman Petir memekakkan telinga.


Kain putih yang membalut Pedang Meteor terbakar dan Alex melesat ke arah depan.


“Lawan yang cukup tangguh!” Zeldeth memuji kehebatan Alex karena Aura yang dilepaskan oleh Alex cukup kuat sekali. “Kau sudah mencapai Pendekar tingkat di atas 10, kan?” tanyanya sembari tersenyum lebar.


Saat hanya tinggal satu langkah lagi dari Zeldeth, Alex menekan kakinya dengan kuat dan melompat tinggi.


Zeldeth mengerutkan keningnya dan kesal karena Alex menipunya. Dia berbalik badan sembari mengayunkan pedangnya, tetapi Alex tidak muncul di hadapannya.


“Sial! Dia berusaha membebaskan Helena!” gerutu Lycus segera menghunus pedangnya juga dan melesat ke arah rumah Pohon Helena.


Bilah Pedang Meteor membelah rumah Pohon Helena yang langsung terbelah dua dan menyisakan bagian bawah dengan tengahnya adalah ruangan yang digunakan oleh Helena sebagai tempat tinggal.


“Pegasus!” teriak Alex.


Pegasus menukik ke arah bawah dari langit dan Alex menarik tangan Helena, kemudian melemparkannya ke punggung Pegasus bersama Sarah.


“Sayang... kamu sangat kurus sekali, apakah mereka tidak memberimu makan?” tanya Alex sembari tersenyum hangat menatap Helena dan mengabaikan Zeldeth serta Lycus yang sedang melesat mendekatinya.


Butuh beberapa tarikan napas bagi Helena merespon apa yang terjadi padanya. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya, kemudian ia memeluk Sarah yang ada di depannya. “Sarah... putriku!”


“Eh, eh... kenapa aku malah diabaikan?” Alex mengerutkan keningnya, kemudian ia menghela napas dalam-dalam dan menoleh ke arah Zeldeth dan Lycus. “Pegasus... tunggu Aku di tempat kita tadi mendarat pertama kali!”

__ADS_1


Alex akan menyelesaikan dendam pada saudara kandungnya dan para Elf yang ikut terlibat dalam penyergapan terhadap dirinya serta mereka yang telah menyakiti istrinya itu.


__ADS_2