
Setelah selesai makan siang, Oliver dan Chicie menuju Kota Perdamaian bersama Kereta Kuda Rambo, sedangkan Helena, Sarah, dan para mantan Budak Elf melanjutkan perjalanan menuju Ibukota Kerajaan Hutan Abadi.
Sarah tidak mau digendong oleh Helena karena Belle berjalan Kaki. Dia terus mengimbangi kecepatan berjalan mereka dan tidak terlihat kelelahan sedikitpun, bahkan ia terus tersenyum dan bercerita tentang teman-temannya di Kota Perdamaian.
“Apa Kamu tidak kelelahan, Sarah?” Belle akhirnya bertanya karena penasaran.
Sarah menggelengkan kepala dan berkata, ”Kan, Aku adalah Pendekar tingkat 7. Jadi, Aku tidak akan kelelahan bahkan walaupun harus berlari kencang seharian penuh.”
“K-kau Pendekar tingkat 7... bukan Pendekar Pemula, Sarah?” Belle terkejut mendengarnya.
Sarah tersenyum cerah dan berkata, “Itu karena makanan buatan Ayahku memiliki khasiat atau mungkin Sihir yang membuatku menjadi kuat. Kalau ada yang mengganggu Kak Belle suatu hari nanti, maka kirim saja surat padaku dan Aku akan datang menghajar mereka!”
Sarah mengepal erat tinjunya yang mungil, sehingga Belle tersenyum dan senang mendapatkan teman sebaik Sarah.
Ibu Belle juga senang melihat Putrinya akhirnya tersenyum dan memiliki teman baik. Dulu saat tinggal di rumah tuannya, Putrinya selalu dipukul dan ditendang oleh anak majikannya dan dia hanya dapat menatap dengan sedih tanpa berani melerainya, karena bila ia melerainya maka Putrinya akan semakin dipukuli hingga babak belur.
“Bagaimana kalau Kak Belle kugendong saja? Agar kita dapat berjalan lebih cepat!” kata Sarah langsung menggendong Belle seperti saat ia melihat Alex menggendong Helena ke dalam kamar.
”Eh, ehhhhhhhhhhh?” Belle menjadi malu, tetapi Sarah malah tertawa dan melesat dengan cepat.
Helena dan para mantan Budak Elf terpaksa mempercepat langkah mereka. Helena bahkan menggelengkan kepala atas tingkah lucu putrinya itu, seakan-akan Sarah telah lupa kalau ada bahaya yang mengintai mereka.
...***...
Kembali ke beberapa hari sebelumnya di Kota Ella, Pasukan gabungan dari berbagai Kerajaan semakin terdesak oleh serangan mayat-mayat hidup dan Monster Serigala Putih walaupun Kerajaan Iblis dan Kerajaan Naga mengirim bala bantuan yang cukup besar.
Tidak ada lagi jeda istirahat pada malam hari, kini mereka bertarung siang dan malam. Tembok Benteng Selatan Kota Ella telah hancur dan penduduk terpaksa diungsikan ke bagian Tengah dan Utara.
__ADS_1
”Kau Hades, kan?” Rolf bertanya pada Pendekar Iblis yang berlumuran darah kering yang duduk disebelahnya sembari makan nasi bungkus dengan lauk Rendang.
Hades menoleh ke sumber suara yang bertanya padanya. Dia langsung tersenyum lebar dan berkata dengan nada mengejek, “Ternyata Kau masih hidup... Kukira kau telah mati dan Aku harus mencari istrimu untuk memberitahu tentang Akun Bank-mu di Bank Voldemort.”
“Sepertinya Kau sangat ingin Aku mati!” gerutu Rolf duduk di sebelahnya. Beberapa hari terakhir mereka terpisah saat Pasukan terpaksa harus mundur ke dalam Kota Ella. ”Cih, padahal Aku ingin memberitahumu kabar gembira, tetapi karena Kamu ingin Aku mati, maka Aku memilih bungkam saja!”
Hades menatap Rolf dengan mulut penuh dengan nasi sembari mengerutkan keningnya. Kemudian ia menelan semua nasi itu tanpa mengunyahnya dan berkata, “Apa tuan Rolf tidak dapat diajak bercanda lagi?” Tiba-tiba Hades menjadi sopan seperti saat-saat awal mereka bertemu.
Beasthuman Serigala itu menyeringai nakal senang melihat rekannya itu kesal padanya. ”Karena Aku sedang baik hati tidak seperti Kamu yang malah mengutukku agar segera mati, maka Aku akan memberitahumu kabar gembira itu.”
Hades menatap Rolf tanpa berkedip, penasaran kabar gembira apa yang akan dikatakan oleh Rolf.
“Rendang yang Kamu makan itu dimasak oleh para karyawan Restoran Sarah di dapur umum,” kata Rolf masih menyeringai nakal. “Kau tahu, kan... apa maksudku? Pujaan hatimu ada di sini, di kota Ella ini!”
Hades terkejut mendengarnya dan nasi ditangannya terjatuh , untung saja Rolf sigap menangkapnya. Kalau tidak, maka Hades tidak akan dapat jatah makanan lagi, karena jatah setiap orang hanya satu bungkus untuk Satu hari.
Hades tersipu malu dan mengambil kembali nasi bungkusnya dari tangan Rolf, kemudian melahapnya dengan cepat.
Boooommmmmmm!
Dinding rumah yang menjadi tempat mereka bersandar tiba-tiba hancur berkeping-keping. Hades dan Rolf tertimbun reruntuhan bangunan itu, tetapi keduanya dapat keluar dari reruntuhan dan mereka hanya cedera ringan saja.
Namun, mereka terkejut melihat para Pendekar disekitar mereka bertarung melawan manusia mayat-mayat hidup yang merupakan para Pendekar yang gugur kemarin.
“Sial! Aku belum memakan nasiku, kalian malah muncul!” gerutu Rolf meraung marah sembari melompat ke arah salah satu mayat hidup dan menebasnya.
Hades tertawa karena dirinya masih sempat menghabiskan nasi bungkusnya. “Makanya makan dulu barulah membual!” ejeknya sembari melompat ke arah mayat hidup lainnya.
__ADS_1
“Setelah melenyapkan mereka, Aku akan mengunjungi Nona Lilith dan memintanya membuatkan makanan enak untukku!” sahut Rolf.
“Sayang sekali, Lilith bukan Koki,” sahut Hades tertawa terkekeh-kekeh. “Dia itu pramusaji di Restoran Sarah.”
“Tidak apa-apa, Aku akan memintanya untuk menyuruh temannya membuatkan makanan enak untukku!” kata Rolf.
“Bawa Aku—” Sebelum Hades ingin mengatakan bawa Aku juga; tiba-tiba terdengar terompet perintah mundur. “Apa Kita akan membiarkan mayat-mayat hidup menguasai selatan Kota Ella? Bukankah itu akan membuat mayat-mayat hidup ini lebih mudah menyelinap ke rumah-rumah penduduk?”
Rolf segera melarikan diri dan berkata, “Kamu tidak perlu memikirkan hal itu! Mari segera mundur, nyawa kita jauh lebih penting!”
Rolf terlihat panik karena semakin banyak mayat-mayat hidup yang muncul di dekat mereka dan jumlah Pendekar dari Pasukan gabungan semakin sedikit.
“Oh, sial apa itu?” Rolf mengerutkan keningnya menunjuk ke arah sosok aneh yang belum pernah ia lihat melayang di atas Kota Ella. Sosok itu memiliki sayap membentang panjang dan tubuhnya seperti Gurita.
“Dewa Cthulhu bangkit?” Hades terkejut melihatnya. “Apakah semua Segel telah dihancurkan?” Raut wajahnya menjadi masam dan bayangan wajah Lilith terlintas di benaknya.
Hades segera berlari menuju dapur umum. Dia harus menyelamatkan Lilith, Kota Ella ini sudah tidak dapat dipertahankan lagi bila Dewa Cthulhu telah bangkit.
“Ayo cepat tuan Rolf!” Hades menoleh ke belakang, tetapi Rolf hanya tersenyum ke arahnya sembari melambaikan tangan agar Hades segera melarikan diri. Hades melangkah beberapa langkah, tetapi tiba-tiba langkahnya terhenti dan ia menggertakkan giginya. ”Ah, sial! Aku tidak ingin memberitahu istrimu tentang Akun Bank-mu itu! Kau tidak boleh mati!”
Hades melesat dengan kecepatan tinggi mendekati Rolf yang berhadapan dengan mayat hidup Naga tingkat 10.
”Bodoh! Kenapa Kamu kembali?” Rolf membentak Hades. ”Kita berdua akan mati!” gerutunya.
“Tidak akan! Selama kita bekerjasama dengan baik, maka Kita pasti dapat mengalahkannya!” sahut Hades muncul di sebelah Rolf. “Dia mirip dengan Naga yang ditunggangi oleh Mordor, sayapnya sudah tidak ada lagi dan dia tidak akan dapat terbang. Ini akan membuat kita mudah mengalahkannya!”
“Jangan terlalu percaya diri! Ingatlah, Naga ini tetap Pendekar tingkat 10, tidak akan mudah mengalahkannya!” sahut Rolf, “Pancing dia agar mengejarmu dan Aku akan muncul di bawahnya, kemudian menebas jantungnya!”
__ADS_1
Hades mengangguk pelan tanda setuju dengan saran Rolf, kemudian ia mengalirkan Elemen Sihir Api ke bilah Pedangnya. Melihat kobaran Api di bilah Pedang Hades, tatapan mata Naga itu langsung tertuju ke bilah Pedang Hades dan melompat ke arahnya.