Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris

Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris
Pembunuh Misterius


__ADS_3

Miranda dan Catherine tidak berani mengejar Lima Pria misterius itu, karena Dua diantara mereka adalah Pendekar tingkat 10.


Setelah mendengar teriakkan minta tolong Catherine, Sepuluh Petugas Keamanan yang berjaga di Toko penjual Sarahmie datang ke tempat kejadian perkara tersebut. Namun, karena mereka hanya Pendekar tingkat 5, mereka tidak dapat mengejar Kelima Pria misterius itu.


“Apakah Tuan Putri melihat wajah pelaku penikaman itu?” Seorang Pria yang mengaku sebagai Wartawan Koran Guild Pandora bertanya kepada Catherine yang menangis tersedu-sedu di depan mayat gadis Orc itu.


“Mereka mengenakan penutup wajah bermotif tengkorak dan pakaian serba hitam,” sahut Catherine.


Wartawan Koran Guild Pandora itu mengerutkan keningnya. “Ciri-ciri itu sama dengan yang disebutkan oleh korban yang selamat dari penyergapan gerombolan misterius itu. Berarti mereka telah masuk ke Kota Ella.”


“Ada tulisan aneh di dinding!” seru Miranda dengan ekspresi wajah terkejut, karena tulisan itu ditulis dengan tinta darah.


“Organisasi Hercules ... apa maksudnya ini?” Wartawan Koran Guild Pandora itu juga terkejut dan merasa belum pernah mendengar nama organisasi itu. “Apa mereka organisasi baru? Namun, apa tujuan mereka menargetkan Ras-Ras selain Manusia, mungkinkah mereka menginginkan hanya Manusia yang menguasai Benua Grandland?” pikirnya.


Insting Wartawannya mengatakan tidak salah lagi, itulah tujuan Organisasi Hercules tersebut. Dia segera menghela napas dalam-dalam, karena kedamaian yang diinginkan seluruh penduduk Benua Grandland sepertinya hanya bertahan sebentar saja. Dia yakin, Organisasi Hercules ini seperti pengganti pengikut Dewa Cthulhu.


Petugas Keamanan kemudian membawa tubuh gadis Orc itu ke Rumah Sakit Kota Ella, sementara Catherine dan Miranda pulang ke Istana Kekaisaran. Namun, Keduanya tidak ceria lagi dan mereka batal memasak Sarahmie Mie Goreng Aceh yang baru saja mereka dapatkan dengan harus mengantri selama Satu Jam tersebut.


Kaisar sendiri sangat marah setelah mendengar kabar itu dan menyuruh militer melakukan pengejaran terhadap Organisasi Hercules tersebut. Namun, setelah melakukan pemeriksaan diseluruh Kota Ella, pelakunya tetap tidak tertangkap; seolah-olah mereka telah meninggalkan Kota Ella.


Saat Pukul Delapan malam, Pangeran Pertama mendatangi Catherine untuk mengabarkan bahwa ia akan menuju Kota Ella. Namun, matanya tertuju pada Sarahmie Mie Goreng Aceh milik Catherine yang tergeletak di atas meja. Sebelum meninggalkan kamar Catherine, dengan santai ia mengambil Satu bungkus Sarahmie Mie Goreng Aceh tersebut.

__ADS_1


Catherine memarahi Einar, tetapi dengan ekspresi wajah datar Einar tetap membawa Sarahmie Mie Goreng Aceh itu keluar dari kamar Catherine.


“Miranda! Tolong masakkan Mie Instan ini untukku dan nanti antar ke ruang kerjaku!” kata Einar saat bertemu dengan Miranda di lorong Istana Kekaisaran.


“Baik, Pangeran Pertama,” sahut Miranda dengan hormat dan segera menuju dapur Istana.


“Tunggu Aku, Bibi Miranda!” seru Catherine berlari pelan. “Sialan Kau! Kenapa Kau tidak membeli untuk dirimu sendiri, kenapa harus mencuri milikku?” Dia mengeluh pada Einar.


“Hmm, nanti akan Aku ganti saat pulang dari Kota Perdamaian,” sahut Einar masih dengan ekspresi wajah datar. Kemudian ia melambaikan tangan sembari berjalan menuju ruang kerjanya. “Sekalian bawa teh hangat juga!” katanya lagi.


Catherine menggertakkan giginya, kesal dengan ulah saudaranya itu. Kalau Einar adalah Alex, maka ia tidak akan segan-segan memukulnya. Namun, untuk Kakak laki-laki pertamanya ini, ia tidak berani melakukannya karena Einar selalu memasang ekspresi wajah datar serta sulit menebak isi hatinya.


“Tuan Putri Catherine ....” Para Koki Istana segera membungkuk menyapa Catherine yang baru saja memasuki dapur Istana Kekaisaran.


“Kalau Tuan Putri Catherine membutuhkan sesuatu, panggil saja Kami!” kata Koki senior dan Catherine hanya mengangguk pelan saja.


Dia tidak membutuhkan bantuan mereka, karena Miranda juga seorang Koki dan telah belajar memasak dari Alex, sehingga makanan buatannya jauh lebih enak dari Koki Istana Kekaisaran.


“Aroma mie yang sangat enak!” gumam salah satu Koki setelah Miranda selesai memasak Sarahmie Mie Goreng Aceh.


“Andreas ... Tolong antar ini ke ruang kerja Pangeran Pertama!” seru Miranda pada Pemuda tampan yang merupakan Koki Pemula di dapur Istana Kekaisaran.

__ADS_1


Andreas langsung menuruti perintah Miranda, tetapi ia terpaksa menelan ludahnya saat mencium aroma Sarahmie Mie Goreng Aceh. Dia berpikir harus meminjam uang dari Koki seniornya untuk membeli Sarahmie Mie Goreng Aceh ini.


“Hmm, enaknya!” Catherine berteriak keras sehingga semua Koki menoleh ke arahnya. “Ah, maaf-maaf! Abaikan saja Kami!”


“Sialan! Kau membuat Kami menelan air liur!” gerutu Koki bertubuh gemuk dan berkepala botak. Namun, kalimat itu tentunya hanya terlintas di benaknya saja, kalau ia berani mengatakannya secara terang-terangan maka kepalanya mungkin akan dipajang di depan gerbang masuk Istana Kekaisaran.


Miranda juga terkejut setelah mencicipi Sarahmie Mie Goreng Aceh itu dan berpikir bagaimana Pangeran Alex Acherron dapat menciptakan makanan seenak ini. Dia bahkan berpikir ingin berhenti saja sebagai pengawal pribadi Catherine dan melamar kerja di Restoran Sarah. Namun, bila ia melakukannya maka siapa nanti yang akan melindungi tuan Putri Catherine yang sering keluar dari Istana tanpa ada yang mengawalnya. Kaisar pasti tidak setuju bila ia mengundurkan diri, karena Catherine juga tidak mau dikawal bila ia tidak mengenal Pendekar yang mengawalnya.


Miranda menghela napas dalam-dalam, sepertinya impiannya menjadi Koki Legendaris tidak akan pernah terwujud.


“Kenapa Bibi Miranda menghela napas? Apakah Bibi teringat dengan seseorang yang bibi suka?” canda Catherine sembari tertawa.


Miranda menggelengkan kepala sembari menoleh ke arah piring Catherine. Dia segera menyendok Mie Goreng Aceh ke dalam mulutnya dengan jumlah besar, karena Mie milik Catherine hampir habis.


Catherine mengerutkan keningnya melihat kelakuan Miranda. “Pelan-pelan saja makannya, Bibi Miranda! Aku tidak akan meminta Mie milikmu itu,” gerutunya.


Namun, Miranda telah belajar dari pengalamannya mendampingi Tuan Putrinya itu. Ucapannya itu sebenarnya mengecoh saja, saat ia lengah Catherine pasti akan merebut Mie Instan miliknya.


“Ah, kecoak!” Catherine berteriak sembari menunjuk ke arah atas.


Beberapa Koki di dekat mereka langsung berhamburan, ada yang memegang spatula sembari siaga tempur. Ada yang mengambil piring dan siap untuk melemparnya, hanya Miranda yang tidak terpengaruh dan sendoknya dengan cepat bergerak memindahkan Mie Goreng Aceh ke dalam mulutnya.

__ADS_1


“Huh, Bibi Miranda tidak bisa diajak bercanda!” keluh Catherine sembari mengisi air ke gelasnya dan menenggaknya hingga habis.


__ADS_2