
Eden masih merasa detak jantungnya berdebar kencang padahal telah bersembunyi selama seminggu di Kota Ardotalia. Dia juga heran kenapa tidak ada kabar tentang Neil.
Grup Organisasi Hercules lainnya telah membalas suratnya dan mereka mengatakan Neil tidak bergabung dengan mereka.
Eden curiga Neil mungkin telah dibunuh oleh sosok kuat misterius itu atau dibunuh oleh Suku Ular. Namun, mereka sengaja menutupi kejadian itu agar Organisasi Hercules mengira Neil telah melarikan diri atau agar anggota Organisasi Hercules yang masih bersembunyi mencari keberadaannya.
“Apa yang harus kita lakukan, Bos Eden? Persediaan kita semakin menipis dan yang lainnya juga mulai gelisah. Aku takut mereka diam-diam menyelinap keluar seperti Neil.” Pendekar tingkat 9 yang merupakan Pria tua bernama Ares bertanya. Dia sebenarnya pensiunan militer yang dulu berada di bawah Pasukan Kaisar saat Perang Rasial terjadi Seratus tahun yang lalu. Dia kecewa Kaisar tidak melanjutkan invasi menguasai seluruh Benua Grandland dan memutuskan bergabung dengan Organisasi Hercules.
“Aku juga bingung Paman Ares,” sahut Eden menghela napas panjang. “Aku merasa bila Kita melangkahkan kaki keluar dari rumah ini, maka itu akan menjadi hari terakhir Kita menyaksikan matahari.”
“Apakah kita melanjutkan penyamaran kita dengan berpura-pura menjadi pedagang lagi?” tanya Ares. Namun, ia langsung menggelengkan kepala dan berkata, “Aku rasa itu tidak akan berhasil karena Restoran yang baru berdiri di sebelah kita itu adalah Dua Pendekar Suku Ular yang memeriksa Kita saat di perbatasan.”
Ares beberapa kali keluar dari rumah persembunyian untuk mencari informasi tentang Neil serta mendengarkan desas-desus yang sedang hangat di Kota Ardotalia. Dia bahkan mampir di Restoran Valor dan Ayla saat makan malam, keduanya tidak mengenal dirinya karena saat diperbatasan; yang memeriksa dirinya adalah Pendekar tingkat 10 Suku Ular bukan keduanya.
“Bagaimana dengan jawaban Yang Mulia Lycus?” tanya Ares lagi.
“Dia menyuruh kita untuk tetap bersembunyi di Kota Ardotalia ini bila kita takut penyamaran kita terbongkar. Dia juga mengatakan beberapa bulan kedepan, Organisasi Hercules tidak akan melakukan serangan yang menggemparkan Benua Grandland,” sahut Eden, “Dia sebenarnya ingin menjemput Kita, tetapi ia sudah berada di Kekaisaran Hazel. Bila Kita mau bersabar maka ia akan menjemput Kita saat musim dingin nanti.”
“Itu terlalu lama,” sahut Ares berpikir sejenak. “Bagaimana kalau Kita membuat kelompok kecil yang akan diam-diam menyelinap keluar dari Kota Ardotalia. Bila tim ini berhasil keluar, maka yang lain dapat keluar dengan aman sebab musuh berarti sudah tidak memperhatikan kita lagi.”
Eden setuju dengan usulan Ares, tetapi ia bingung siapa yang akan mereka kirim pergi lebih dulu. Berapa orang yang akan pergi dan tinggal.
__ADS_1
...***...
“Maaf Valor ... Ayla, Aku akan kembali ke Hazel, karena Pasukan Kekaisaran telah ditarik mundur. Aku sebenarnya sedih meninggalkan kalian, tetapi mau bagaimana lagi ... Perintah militer adalah mutlak dan tidak bisa dibantah,” kata Alex berpura-pura sedih. Dia memutuskan meninggalkan Kota Ardotalia setelah seminggu melakukan pencarian anggota Organisasi Hercules, tetapi tidak menemukan keberadaan mereka dan ia berpikir mungkin mereka telah lama melarikan diri.
“Baguslah, eh ... maksudku Kami pasti sangat merindukanmu, Paman Alex!” Valor berpura-pura menangis, padahal dalam benaknya ia sangat senang Alex meninggalkan Restoran mereka, sebab selama Alex di sini—Alex selalu mengambil upah karena membantu mereka memasak makanan untuk pelanggan Restoran. Tidak tanggung-tanggung, upah yang ia ambil adalah 500 Koin Perak atau setengah Upah Minimum Satu Bulan Kota Ardotalia. Itu juga sama dengan Lima porsi Daging Sapi Belacang.
“Hmm?” Alex mengerutkan keningnya menatap Valor, karena ia tahu apa yang dipikirkan oleh Valor saat ini. “Oh, di mana Ros? Cuma dia satu-satunya berhati murni di Restoran ini dan cuma dia yang tulus tersenyum hangat padaku.”
Valor dan Ayla tersenyum masam mendengar sindiran Alex.
Ros yang bermain boneka di ruang tamu segera datang setelah mendengar suara Alex menyebutkan namanya. Dia tersenyum hangat menatap Alex.
Alex menggendong Ros dan mencium pipinya. “Paman akan pergi sangat jauh. Suatu hari nanti Paman akan datang melihatmu bersama Putri Paman,” bisiknya.
Valor dan Ayla saling berpandangan, keduanya merasa nama yang disebut oleh Ros terdengar familiar.
“Baiklah, Paman pergi dulu! Ah, aku kelilipan! Kalian harus menjaga kebersihan dapur ini agar tidak menjadi sarang laba-laba,” keluh Alex sembari menyeka air matanya.
Ros tetap tersenyum hangat menatap punggung Alex yang berjalan ke luar dari dapur. Dia melambaikan tangan walaupun Alex tidak menoleh ke belakang.
Ayla menggendong Ros dan mencium pipinya. “Paman Alex pulang terlalu tiba-tiba. Anak-anak pasti sedih tidak berjumpa lagi dengannya,” kata Ayla menghela napas panjang. Anak-anak lainnya saat ini sedang pergi sekolah, hanya Ros saja yang tinggal bersama mereka.
__ADS_1
“Ya, walaupun Aku senang Paman Alex pergi, tetapi entah kenapa aku juga merasa sedih karena berkat dirinya lah Kita dapat membangun Restoran dan menyekolahkan anak-anak.” Valor menyeka air matanya, kini ia menangis tersedu-sedu, apalagi dalam sekejap Alex telah menghilang dari pandangan mereka.
Ros dengan ekspresi wajah kebingungan berkata, “Kata Paman Alex, kalau Kita rindu padanya maka Kita dapat datang ke Restoran Sarah. Paman Alex tinggal di sana bersama Bibi Helena yang merupakan Peri cantik dari Hutan Abadi.”
Dapur itu tiba-tiba hening, semua Pendekar di Benua Grandland pasti mengenal sepasang kekasih yang terkenal sebagai Pendekar terkuat di Benua Grandland tersebut. Yang Pria adalah Pangeran Ketiga dari Kekaisaran Hazel dan yang wanita adalah Putri Mahkota Kerajaan Hutan Abadi.
“Eeeeeeeeeeeeeeeeeeee! Paman itu adalah Pangeran Alex Acherron!”
Valor dan Ayla berteriak keras sehingga para pelanggan Restoran mereka ikut terkejut mendengarnya. Beberapa langsung mengatakan pantas saja makanan di Restoran mereka sangat enak dan ada juga yang kecewa karena Valor dan Ayla tidak mengatakan Koki Legendaris itu ternyata bersama mereka selama ini.
...***...
Di luar Kota Ardotalia, Puluhan Kereta Kuda melesat menuju arah Selatan. Laju Kereta Kuda itu sangat cepat, mereka seperti dikejar oleh gerombolan Serigala saja.
Yang memimpin rombongan Karavan Pedagang itu adalah Ares bersama seluruh anggota Organisasi Hercules, hanya Eden seorang yang tinggal di Kota Ardotalia.
Ares bersikeras membawa semua anggota Organisasi Hercules.
Ares juga berpura-pura menjadi Eden sehingga semua anggota Organisasi Hercules bersedia ikut menyelinap keluar Kota Ardotalia. Kalau mereka tahu Eden tetap tinggal, maka sebagian besar dari mereka pasti akan memilih untuk tinggal bersamanya, karena dengan bersamanya lah mereka akan tetap aman—sebab Eden memiliki Elemen Sihir yang dapat memprediksi kemungkinan yang akan terjadi di masa depan.
“Apakah Kita akan memberikan tanda kalau Suku Ular telah melonggarkan penjagaan di gerbang Kota?” Kusir Kereta Kuda bertanya pada Ares. Hanya Kusir itu yang tahu siapa yang berada di dalam gerbong Kereta Kuda itu.
__ADS_1
“Tidak! Sebelum Kita meninggalkan wilayah Suku Ular maka Kita tidak boleh mengirim pesan pada Bos Eden,” sahut Ares teringat dengan perkataan Eden yang menyuruhnya untuk menunda keberangkatan mereka, karena Eden tidak dapat melihat masa depan dengan Elemen Sihirnya. “Kenapa rasanya ada yang salah? Perjalanan kami terlalu mulus,” pikirnya karena mereka tidak mendapatkan rintangan apapun.