
Lilia hanya tersenyum menanggapi keluhan Catherine, hatinya terasa rapuh karena teringat Tiga anak laki-lakinya tidak ada yang akur, bahkan sampai saling membunuh.
“Ibu?” Catherine merasa bersalah karena mengungkit tentang Kakak-kakaknya yang akan selalu membuat ibunya tampak sedih dan menghela napas panjang.
“Aku baik-baik saja, Catherine,” sahut Lilia menoleh ke sebelahnya dan tercengang melihat gadis kecil itu telah melahap Kue Pai dengan rakus. “Ha-ha-ha... kamu lucu sekali, Nak!” Lilia tertawa sembari menutup mulutnya dengan tangannya.
Sarah menoleh ke arah wanita cantik yang memancarkan yang membuatnya merasa seperti memiliki ikatan dengannya itu, ia merasa wanita itu memiliki aura yang mirip dengan ayahnya.
“Kuenya sangat enak,” sahut Sarah sembari menoleh ke kiri dan ke kanan, kemudian berbisik pada Lilia, “tapi makanan buatan ayahku jauh lebih enak.”
Lilia tersenyum lebar dan berpura-pura tercengang. “Betulkah? Apa Ayahmu adalah Koki, di mana Restorannya? Aku akan mencoba mencicipi makanan buatan ayahmu juga,” bisik Lilia.
Catherine menutup mulutnya menahan tawa melihat tingkah lucu Sarah.
“Restoran Sarah, seperti namaku dan letaknya di Kota Perdamaian,” kata Sarah dengan bangga. “Bibi tidak akan menyesal bila makan di sana, Ayah akan memasak Ayam Crispy, Rendang, Nasi Goreng, Bakso, Bubur Tinutuan, Soto Banjar, dan Ayah akan menciptakan makanan baru yang sangat enak lagi.”
“Bakso?” Catherine terkejut mendengarnya.
“Oh, kamu pernah memakannya?” tanya Lilia penasaran seperti apa bentuk makanan yang disebutkan oleh Sarah itu.
Catherine mengangguk dan berkata, “Restoran Wilson beberapa hari yang lalu merilis menu baru bernama Bakso itu. Kalau ibu mau, kita akan mampir ke sana, rasanya sangat enak; itu adalah bola-bola daging dan mie yang dituang dalam mangkuk berisi kuah yang mirip kuah sup.”
“Mwehehe... itu diciptakan oleh Ayahku,” sahut Sarah sembari menyendok bubur kacang ijo ke dalam mulutnya. “Ummm, enaknya!” Perhatiannya langsung teralihkan ke bubur kacang ijo dan Cake Caprese serta Susu Kambing, sehingga ia langsung mengabaikan Lilia dan Catherine.
Lima menit kemudian, Sarah menepuk perutnya yang menggembung. “Ah, kenyang,” gumamnya dan tiba-tiba ia teringat telah meninggalkan ayahnya di penginapan tanpa berpamitan lebih dulu. “Sampai jumpa bibi dan Kakak cantik, Aku dan Ayah akan pergi berjiarah ke Kuil Cahaya!”
__ADS_1
Sarah melompat turun dari kursi sembari melambaikan tangan pada Lilia dan Catherine, tetapi saat ia melompat; tudungnya juga terjangkat sehingga memperlihatkan telinganya yang runcing.
Lilia terkejut melihatnya. Dia tadi tidak memperhatikan aura gadis kecil itu karena lebih fokus pada sikapnya yang menggemaskan. “Seharusnya gadis kecil itu lebih condong ke Elf dan menyembah Dewi Luna yang disembah para Elf, bukan Dewa Hercules yang disembah oleh Manusia.”
Sarah berlari menyeberangi jalan dan tiba-tiba Pria gemuk menabraknya, tetapi Pria gemuk itu yang terpental karena Sarah langsung mendorongnya menggunakan telapak tangannya.
Lilia kembali dibuat terkejut, karena ia samar-samar merasakan Elemen Tanah dari telapak tangan mungil Sarah itu.
Sarah mengabaikan Pria gemuk yang tersungkur di jalan itu. Dia langsung masuk ke dalam Penginapan dan menyapa para Karyawan Penginapan sembari mendaki tangga ke lantai atas.
Sarah membuka pintu pelan-pelan dan mengintip celahnya. Dia langsung bernapas lega, ternyata Alex masih tertidur pulas dan mengeluarkan dengkuran serta air liur menetes dari sudut mulutnya.
Sarah melompat ke atas tempat tidur sembari berteriak, “Jurus membangunkan Ayah!”
Sarah tertawa terkekeh-kekeh dengan siku tangan menghantam Alex. “Ayah... para pejiarah sudah memadati Kuil Cahaya! Jangan tidur terus,” gerutunya.
Alex memegangi perutnya yang masih terasa sangat sakit dan berkata, “Apa kamu menggunakan elemen Sihir saat menimpuk Ayah?”
Kalau dirinya bukan Pendekar, mungkin ia akan langsung tewas saat ini juga karena tadi malam ia terlalu banyak menggunakan kekuatannya saat menyerang para Pendekar yang menyergapnya empat tahun yang lalu tersebut.
“Tidak kok,” sahut Sarah tersenyum cerah. “Tapi, Sarah sudah sarapan pagi di Restoran depan Penginapan,” katanya lagi.
“Ah, Sarah curang... kenapa kamu tidak mengajak ayah juga?” Alex menggelitik Sarah sehingga Sarah tertawa terkekeh-kekeh.
Alex kemudian mandi bersama Sarah dan setelah itu meninggalkan Penginapan mengenakan pakaian pejiarah Kuil Cahaya. Mereka berbaur dengan pejiarah lain memasuki Kuil Cahaya yang di halamannya ada Patung Dewa Hercules yang cukup besar dengan pose yang malah mirip pose binaragawan yang memamerkan otot lengannya.
__ADS_1
Karena telah memiliki ingatan masa lalu di Bumi, Alex langsung menahan tawa saat menatap Patung Dewa Hercules itu.
Para pejiarah diarahkan ke dalam Kuil Cahaya oleh para wanita cantik yang juga mengenakan jubah putih dengan tudung kerucut. Mereka dinamakan gadis suci yang pekerjaan membantu para pejiarah yang akan berdoa kepada Dewa Hercules.
Di dalam Kuil, ada Enam Patung Dewa Hercules setinggi Lima Meter yang terbuat dari bahan campuran emas dan sisa-sisa batu meteorit yang jatuh dari langit.
Tidak seperti Patung yang berada di halaman Kuil, Keenam Patung Dewa Hercules itu hanya berpose menggunakan Pedang, Tombak, Busur, Palu, Membaca Buku, dan mengulurkan tangan kanan sembari tersenyum, sementara tangan kirinya diletakkan di dada.
Di hadapan Patung-patung Dewa Hercules itulah para pejiarah berdoa.
Alex yang menggendong Sarah memilih berjalan ke dekat dinding Kuil Cahaya sembari memperhatikan lukisan-lukisan yang terpahat di dinding itu.
Saat menjadi Pangeran, Alex tidak pernah memperhatikan lukisan itu karena ia mengira itu hanyalah karya seni saja.
Namun, setelah diperhatikan dengan seksama ternyata lukisan itu mengisahkan masa sebelum Dewa Cthulhu menginvasi Benua Grandland serta mengisahkan perjalanan Dewa Hercules saat pertama kali muncul di Dunia ini.
Dewa Hercules muncul dari meteorit yang menghantam permukaan tanah yang dihuni oleh Manusia yang masih primitif, kemudian Dewa Hercules mengajari mereka peradaban baru dan beratus-ratus tahun kemudian berkembang menjadi peradaban maju hingga akhirnya muncullah Dewa Cthulhu yang hampir memusnahkan seluruh Manusia.
“Hanya itu saja?” gumam Alex mengerutkan keningnya, karena tidak ada lukisan tentang semua Dewa yang menyegel Dewa Cthulhu atau di mana Dewa Hercules menyimpan sisa kekuatannya. “Hmm, ada pintu di sana?” Tatapannya tertuju pada pintu tertutup rapat.
Alex perlahan-lahan menuju Pintu itu sembari berpura-pura berdoa, sementara Sarah menggumankan memohon kepada Dewa Hercules agar mempertemukan mereka dengan Helena.
Alex tersenyum tipis dan dalam benaknya berkata, “Kita pasti akan menjemput Ibumu, Sarah!”
Alex memperhatikan para pejiarah yang tampak khusyuk berdoa kepada Dewa Hercules sehingga tidak ada yang menoleh ke arahnya. Dia langsung mendorong pintu itu dan ternyata di balik pintu itu adalah lorong tangga menuju lantai bawah tanah Kuil Cahaya.
__ADS_1