
Xavier menghela napas dalam-dalam setelah melihat semua Penyihir menatapnya seolah-olah mereka ingin dirinya membuat keputusan yang akan membawa semua Penyihir keluar dari lubang neraka ini.
“Menurutmu keputusan apa yang akan kita buat, tuan Austin?” Xavier bertanya kepada Penyihir tua itu.
“Kita sebaiknya menggunakan Kapal Sihir yang baru saja selesai dibuat oleh Penyihir Leo dan menemukan Benua itu lebih dulu dari tim ekspedisi Kuil Matahari,” sahut Austin.
“Kapal itu?” Xavier terkejut mendengarnya, karena Kapal Sihir itu akan digunakan untuk mencari Benua tak berpenghuni untuk didiami para Penyihir muda agar mereka dapat berlatih Sihir tanpa khawatir diserang atau ditangkap oleh Kesatria Suci. “Kita cuma memiliki Kapal Sihir itu satu-satunya yang dapat menjelajahi samudera ganas itu.” Xavier enggan mengirim Kapal Sihir tersebut.
“Aku setuju Kita mengirim tim ekspedisi menemukan lebih dulu Benua itu, kalau Kuil Matahari menemukan Benua itu lebih dulu maka mungkin Kita semua akan dibinasakan karena mereka sudah menemukan mainan baru mereka!” sela Penyihir Leo, Penyihir yang membuat Kapal Sihir tersebut.
Xavier merasa perkataan Leo memang benar, Kesatria Suci adalah sekelompok pejuang yang haus akan pertempuran, bahkan mereka telah menghancurkan banyak Monster di Samudera hanya untuk memuaskan h.a.s.r.a.t bertarung mereka.
“Siapa yang akan pergi dalam ekspresi ini?” Xavier menatap para Penyihir muda di hadapannya.
“Aku akan pergi, Penyihir Agung!” sahut Penyihir berusia 27 tahun bermata biru dengan rambut Putih dan berwajah tampan, kalau saja ia berada di dalam dunia dongeng maka ia mungkin akan menjadi Protagonis Utama.
Dia bernama Ulrich, sudah membangkitkan Kekuatan Sihir saat berusia 15 tahun dan membunuh Sepuluh Kesatria Suci yang hendak menangkapnya, kemudian ia melarikan diri ke wilayah Selatan dan menjadi salah satu Penyihir muda terkuat saat ini.
“Aku juga, Penyihir Agung!” sahut Penyihir wanita yang tampak berusia 13 tahun berkacamata bulat besar dan berambut hitam serta bermata coklat, tetapi sebenarnya usianya sama dengan Ulrich dan selain menjadi Penyihir yang cukup berbakat, dia juga ahli dalam astronomi.
__ADS_1
Setelah itu semakin banyak yang mengajukan diri, tetapi pada akhirnya Xavier hanya menunjuk 15 Penyihir yang ikut dalam ekspedisi itu dan Ulrich yang menjadi Pemimpinnya.
Walaupun sedih atas kematian Putrinya, Xavier tetap berpura-pura tegar dan menasihati kelompok Ulrich agar segera melarikan diri saat bertemu dengan tim ekspedisi Kekaisaran Suci Kuil Matahari. Dia juga meminta agar mereka berprilaku baik saat berinteraksi dengan penduduk Benua baru itu dan mencari cara agar dapat berkomunikasi dengan sosok terkuat di sana serta memberitahu tentang ancaman besar dari Kekaisaran Suci Kuil Matahari.
Leo memberikan cetak biru Kapal Sihir pada Penyihir William, Pemuda gendut berusia 19 tahun yang sangat mahir dalam bidang mekanik.
Setelah mengisi persediaan makanan yang mungkin cukup untuk terbang selama Satu tahun, Kapal Sihir yang dikapteni oleh Ulrich pun terbang menuju Samudera.
...***...
Agar tidak bermain-main terus sepanjang hari, Helena memasukkan Sarah ke Akademi Kerajaan Hutan Abadi dan dia akan belajar Elemen Sihir Kehidupan serta Elemen Sihir Kayu untuk sementara waktu di sana.
Namun, para guru yang mengajar Sarah langsung angkat tangan, karena Sarah menyerap ilmu pengetahuan yang mereka berikan hanya dalam sekali mendengar penjelasan mereka saja, kemudian Sarah langsung dapat mempraktikkannya.
Beberapa teman Elf memohon pada Sarah agar mereka diberikan mencicipi bekal makanannya. Walaupun sedikit enggan, Sarah membolehkan mereka mencicipi Gado-gadonya dengan balasan sepertiga bekal makanan mereka harus diberikan padanya.
Sarah sangat senang mendapatkan banyak makanan, bahkan ia sampai sendawa berkali-kali saat berusaha menghabiskan seluruh makanannya itu.
“Sarahhhhhhhhh! Gawat!” Bocah Elf berusia Lima tahun datang dengan terengah-engah. “Sahabatmu dibegal oleh geng Kakak kelas tingkat akhir! Uang Lima Peraknya telah dirampas oleh mereka!” katanya lagi.
“Apaaaaaaa?” Sarah segera bangkit dari tempat duduknya. “Berani sekali mereka melakukan itu pada Kak Belle! Julian ... bawa Aku ke sana!” Sarah mengepal tangannya yang mungil dan memasang tampang marah, tetapi bila orang dewasa melihatnya maka mereka akan merasa itu sangat imut dan menggemaskan.
__ADS_1
Teman sekelas Julian yang jumlahnya Lima Puluh Elf berusia Lima tahun mengikuti Sarah, seolah-olah mereka adalah Penguasa Akademi Kerajaan Hutan Abadi. Mereka tentu merasa bangga memiliki teman sekelas sekuat Sarah sehingga Kelas lain tidak berani mengusik mereka. Bila ada yang berani mengusik mereka maka mereka akan mengadu kepada Sarah dan Sarah akan memukul musuh tersebut hingga babak belur.
“Minggir! Berikan Bos kecil jalan!” Julian berteriak keras pada sekelompok Elf berusia 14 tahun yang menghalangi jalan mereka.
Sekelompok Elf itu hendak memarahi Julian, tetapi saat melihat ada Sarah di sebelahnya mereka langsung menjauh agar tidak berakhir tragis di atas ranjang tabib Akademi.
“Cih!” Julian mencibir Elf berusia 14 itu dan melanjutkan perjalanan mereka.
“Hei, adikmu sekarang sudah berani padamu ha-ha-ha.” Sekelompok Elf itu tertawa pada Elf yang ternyata adalah saudara laki-laki Julian sendiri.
“Lihat saja, saat di rumah nanti Aku akan memukulnya hingga babak belur!” Saudara laki-laki Julian merasa malu menjadi bahan tertawaan teman-temannya.
Tak lama kemudian kerumunan bocah-bocah Elf itu berakhir di dekat toilet belakang Akademi Kerajaan Hutan Abadi, Lima Elf berusia Lima belas tahun yang sudah mencapai Pendekar tingkat 5 tampak sedang tertawa terkekeh-kekeh setelah mengambil uang milik Belle.
“Itu mereka! Dasar B.a.j.i.n.g.a.n tak bermoral!” Julian memaki Kakak kelasnya itu, padahal tadi ia hampir menangis saat mereka menghadangnya. Namun, kini ia tampak seperti Serigala ganas yang mengepung anak rusa.
“Hah? Kau bocah pendek! Bukannya Kau hampir menangis dan mengatakan bila Kami tak mengambil uang jajanmu, maka Kamu akan membantu Kami memberikan surat cinta pada Kakak perempuanmu?” sahut salah satu Elf Kakak kelasnya itu.
Julian menutup telinganya dan menoleh ke arah Sarah. “Lihat itu Bos kecil! Temanmu Belle tampak ketakutan, jangan-jangan mereka mencubitnya atau menciumnya!”
“Hei, Kami tidak akan sehina itu mencium gadis setengah Elf hitam itu!” gerutu Kakak Kelas Julian semakin kesal padanya.
__ADS_1
“Hei, Kau mau mengelak? Sini Kau! Biarkan kupatahkan lehermu itu!” gertak Julian sembari mundur ke belakang Sarah.