
Setelah selesai membentuk bola-bola daging yang cukup banyak, Alex segera menyimpannya ke dalam mesin pendingin. Dengan pelanggan Restoran yang masih sedikit, ia meyakini stok Bakso itu cukup untuk pasokan satu bulan lebih.
“Nah, aku akan membuat Mie sekalian saja membuat Mie yang menjadi item percontohan untuk diperlihatkan kepada Margareth,” gumam Alex yang berencana akan menjajakan Mie Instan ke Benua Grandland.
Sudut bibirnya memancarkan senyuman lebar saat membayangkan pundi-pundi uang yang mengalir ke sakunya tanpa bekerja, karena ia memiliki 35% Hak Kepemilikan (Saham) Perusahaan baru Margareth itu.
Kota Perdamaian memiliki populasi 1.300.000 Jiwa dan Satu Juta diantaranya itu tinggal di wilayah timur. Bila mereka menjual satu bungkus Mie Instan 10 Koin Perak dan penjualan sehari 100.000 bungkus saja, maka mereka akan menghasilkan 1.000.000 Koin Perak atau 1.000 Koin Emas.
Anggap saja Koin Emas Benua Grandland sama dengan Koin Emas Solidus (Era Romawi), maka beratnya berarti 4,5 gram dan Satu gram emas Antam saat ini adalah 1.0052.000 Rupiah, maka penghasilan penjualan mie instan mereka setara dengan 4,5 Milyar lebih bila diuangkan ke mata uang Rupiah.
“Ha-ha-ha... padahal Aku pernah menjadi Pangeran yang tidak pernah kekurangan uang, entah kenapa aku tetap sangat senang sekali, mungkinkah karena selama Empat tahun terakhir kami menjalani kehidupan yang sangat sulit?” Alex tertawa, akan tetapi air matanya mengalir membasahi pipinya. “Helena... Aku harap kamu tidak menderita karena kehilangan kami. Setelah Aku Kaya, Aku berjanji akan menjemputmu ke Kerajaan Hutan Abadi,” gumamnya lagi sembari menyeka air matanya.
Setelah membuat Mie yang dikhususkan untuk hidangan Bakso, Alex kembali membuat Mie yang dikhususkan untuk Mie Instan yang mirip dengan Mie Instan di kehidupan sebelumnya.
Untuk percontohan nanti, Alex hanya membuat Rasa Mie Goreng Original dan Soto Lamongan. Saat pesaing mulai meniru produk mereka, barulah Alex memunculkan satu persatu Ras Mie Instan lainnya.
Menjelang malam, Sarah turun dari lantai dua Restoran dan langsung mencari Alex walaupun Dia masih terlihat mengantuk. Namun, aroma kuah Bakso mungkin membangunkannya.
“Putri Ayah yang sangat cantik telah bangun tidur rupanya,” goda Alex mencubit pipi mungil Sarah.
__ADS_1
Namun, mata biru gadis kecil setengah Elf itu berkelana mencari sumber aroma makanan yang sangat menggiurkan tersebut dan akhirnya tatapannya tertuju pada Panci diatas Kompor bertenaga Inti Monster tersebut.
Perut Sarah tiba-tiba berbunyi sehingga Alex langsung tersenyum. “Duduklah di sana dan Ayah akan menyajikan Bakso untukmu.”
Sarah tersenyum lebar dan segera berlari ke kursi yang berada dekat dari dapur, tak lama kemudian Alex datang dari dapur membawa mangkuk berisi Bakso dan Mie.
...***...
Belasan Pendekar tingkat 10 berkumpul di Kastil milik Pangeran Kedua di pinggiran Selatan Kota Ella, Ibukota Kekaisaran Hazel.
Pangeran Kedua tampak murung duduk di Singgasananya, sedangkan Belasan Pendekar tingkat 10 itu saling berbisik-bisik apa yang membuat mereka dikumpulkan dan kenapa Sang Pangeran tampak murung.
Setelah hening cukup lama, akhirnya Pangeran Kedua menghela napas panjang dan merobek kertas ditangannya.
“Sosok yang mirip Alex sudah ditemukan di Kota Perdamaian dan Dia juga memiliki anak setengah Elf berusia Empat tahun,” kata Pangeran Kedua dengan nada datar.
“Mustahil!” sahut salah satu Pendekar tingkat 10 terkejut mendengarnya. “Malam itu Dia sudah tidak sadarkan diri saat dibawa kabur oleh sisa-sisa Legiun Barat.”
“Mungkin Dia meminum Ramuan Penyembuh, tetapi kenapa ia bersembunyi dan menurut Assassin yang kukirim ke sana; sosok yang mirip Alex itu hanyalah Manusia biasa yang mengelola sebuah Restoran,” kata Pangeran Kedua masih merasa dihantui perasaan Alex akan datang menuntut balas dendam padanya.
__ADS_1
Saat itu ia mengundang para Pendekar tingkat 10 dari seluruh Benua Grandland untuk melenyapkan Legiun Barat agar Kaisar menunjuknya sebagai Kaisar yang baru karena Kaisar sudah berusia 100 tahun dan sangat jarang keluar dari Istana. Roda pemerintahan sendiri dijalankan oleh para Menteri dan Dia hanya menerima laporan saja.
Namun, sudah Empat tahun setelah kejadian itu, Sang Kaisar belum juga menunjuk siapa penggantinya. Dia seolah-olah membiarkan para Pangeran bertikai, bahkan Dia tidak mencari keberadaan Alex setelah kejadian itu walaupun Alex terlihat seperti anak yang paling ia sayangi.
“Bagaimana kalau Aku akan pergi ke Kota Perdamaian melenyapkan sosok yang mirip Alex itu agar Pangeran Kedua fokus bersaing melawan Pangeran Pertama,” sahut Pendekar tingkat 10 bertubuh besar dan tinggi.
Pangeran Kedua merenung sejenak, pengaruh Pangeran Pertama memang semakin kuat saja. Akhir-akhir ini sudah Dua Keluarga Bangsawan yang menyatakan mendukungnya sebagai Kaisar berikutnya. Hal ini tidak bisa dibiarkan, untuk menjadi Kaisar dirinya juga membutuhkan dukungan Keluarga Bangsawan walaupun pengaruhnya sangat kuat di militer.
“Baiklah, Kamu akan ke Kota Perdamaian,” sahut Pangeran Kedua. “Namun, jangan langsung membunuh Pria itu. Selidiki dulu apakah ia benar-benar Alex atau bukan. Kita tidak boleh menyinggung Lord Michael, kalau Dia marah maka Kamu tidak akan sanggup mengalahkannya karena Alex saja seimbang bertarung melawannya.”
Tentu yang paling ia takutkan adalah Lord Michael mendukung Pangeran Pertama kalau Dia tahu yang mengirim Lancelot adalah dirinya. Walaupun Kota Perdamaian sangat kecil, tetapi orang-orang terkaya Dunia tinggal di sana yang tentunya melawan mereka sama saja menceburkan diri ke jurang kehancuran, karena orang-orang Kaya itu memegang kendali perekonomian Benua Grandland.
“Baik Pangeran... Aku akan berhati-hati saat mengorek informasi Pria itu,” sahut Lancelot dengan sudut bibir menyeringai tipis.
Lancelot tidak merasa khawatir dengan Lord Michael karena Dia sebenarnya memiliki teman di Kota Perdamaian dan temannya itu adalah Putra dari salah satu Dewan Kota.
Para Pendekar tingkat 10 itu kemudian membubarkan diri dan hanya meninggalkan Pangeran Kedua di sana.
“Helena... kenapa kamu masih memikirkan pecundang itu?” gumam Pangeran Kedua memejamkan matanya dan wajah Helena langsung muncul di pikirannya.
__ADS_1
Lima tahun lalu, Ratu Kerajaan Hutan Abadi berkunjung ke Kekaisaran Hazel bersama rombongan Bangsawan Elf. Saat itu Helena menyapanya dengan senyuman hangat yang membuat detak jantungnya berdebar kencang.
Mereka berteman baik dan melakukan latih tanding beberapa kali. Namun, tiba-tiba Alex datang dan tanpa berbasa-basi langsung menantang Helena berduel, kemudian entah bagaimana mereka menjadi semakin akrab dan akhirnya ia mendengar kabar kalau Helena hamil atau mengandung anak Alex, sehingga Pangeran Kedua sangat marah dan memutuskan melenyapkan adik kandungnya itu.