
Lilia dan Catherine terjebak dalam kerumunan pejiarah yang baru saja keluar dari Kuil Cahaya. Kereta Kuda yang membawa mereka terpaksa berhenti melaju.
Lilia menggeser kaca hitam gerbong Kereta Kuda karena mendengar suara tawa Sarah, gadis kecil yang ia temui saat sarapan pagi di Restoran.
Lilia melihat Sarah digendong oleh Pria yang kemungkinan besar adalah ayahnya. Sarah terus tertawa mendengar guyonan Pria itu.
“Eh, Pria itu?” Lilia merasa sangat familiar dengan Pria itu. Dia sangat mirip dengan Alex dan Lilia tiba-tiba teringat dengan kejadian empat tahun lalu; saat itu dikabarkan Alex tewas karena berusaha melindungi bayi hasil pernikahannya dengan Putri Mahkota Kerajaan Hutan Abadi.
“Ada apa, Ibu?” tanya Catherine terkejut melihat ibunya menitikkan air mata.
Lilia segera turun dari Kereta Kuda dan Catherine segera menyusulnya sembari menebak-nebak apa yang terjadi ada ibunya.
Lilia tidak dapat melihat lagi ke mana Sarah dan Pria itu pergi. Suara tawa Sarah juga tidak terdengar lagi.
“Ibu ....” Catherine memegang tangan Lilia. “Ada apa?” selidiknya.
“Ibu tadi melihat sosok yang mirip dengan Alex!” sahut Lilia sembari menyeka air matanya. “Saudaramu ternyata masih hidup dan dia adalah Ayah dari gadis kecil yang kita temui di Restoran tadi pagi.”
Lilia sangat senang, ternyata aura yang membangunkannya kemarin itu benar-benar milik Alex.
“Oh, ya... Sarah mengatakan kalau mereka tinggal di Kota Perdamaian. Ibu harus segera pergi ke sana untuk membujuk Alex agar kembali ke Istana Kekaisaran,” kata Lilia dengan semangat dan tidak sabar ingin segera bertemu Putra bungsunya itu.
Namun, Catherine menggelengkan kepala dan berkata, “Jangan lakukan itu, Bu!”
Lilia keheranan kenapa Catherine melarangnya bertemu dengan Alex.
“Dua saudaraku lainnya pasti akan mengira ibu pilih kasih bila pergi menemui Pangeran Ketiga,” kata Catherine lagi. “Pangeran Kedua saja tidak mau berjumpa dengan Ibu setelah Ibu muncul kembali dan Dia malah pergi ke Hutan Abadi untuk melakukan pernikahan politik dengan Helena.”
__ADS_1
Lilia semakin bingung, karena Helena adalah istri Alex. Kalau Lycus menikahi Helena maka Alex pasti akan marah dan kedua anaknya itu mungkin akan bertarung atau permusuhan diantara keduanya semakin memuncak serta berujung kematian pada salah satunya.
Catherine membawa Lilia kembali ke dalam gerbong Kereta Kuda dan berkata, “Ibu tenang saja. Aku akan diam-diam pergi ke Kota Perdamaian dan membujuk Pangeran Ketiga agar segera menjumpai ibu.”
Lilia menganggukkan kepala tanda setuju dengan ucapan Catherine. Dia menatap kosong ke arah kerumunan pejiarah dari jendela gerbong Kereta Kuda dan menghela napas dalam-dalam, dia merasa telah gagal menjadi ibu yang baik karena tidak dapat meredam pertikaian Ketiga Putranya.
...***...
“Ayah... Sarah mau itu!” kata Sarah menunjuk pada gerobak dorong yang menjual Telur Monster Wyvern yang mirip dengan Naga, tetapi tidak memiliki kecerdasan seperti Ras Naga atau dapat berubah wujud seperti Manusia.
“Sarah masih belum kenyang?” Alex terkejut, padahal Sarah telah membeli berbagai jenis jajanan Kota Ella.
Sarah tersenyum lebar dan berkata, “Aku hanya ingin mencicipi sedikit saja dan Ayah yang akan menghabiskan sisanya.”
“Ehhhhhhh? Sarah curang!” Alex menggelitik Sarah sehingga Sarah tertawa terkekeh-kekeh. “Ya, demi Putri ayah yang cantik ini, maka Ayah akan membantumu mengabiskan semua sisa jajananmu,” katanya lagi sembari menghela napas panjang.
“Putrimu cantik sekali, tuan!” kata penjual Telur Monster Wyvern pada Alex yang berjalan ke arah gerobaknya.
Penjual Telur Monster Wyvern itu mengerutkan keningnya mendengar jawaban Alex itu. “Ada yang bisa kubantu, tuan?” katanya lagi langsung mengalihkan topik perbincangan mereka.
“Telur rebusnya satu, Paman!” sahut Sarah sembari menyerahkan Dua Puluh Koin Perak.
Penjual Telur Monster Wyvern itu mengangguk pelan dan menyimpan Koin Perak pemberian Sarah. Kemudian ia mengambil Satu Telur Monster Wyvern dari Panci besar dan mengelupas cangkang Telur Monster Wyvern.
Mata Sarah berbinar-binar menatap Telur Monster Wyvern itu dan berkali-kali menelan ludahnya karena sudah tidak sabar ingin mencicipi Telur Monster Wyvern itu.
Penjual Telur Monster Wyvern meletakkan Telur sebesar tiga kepalan tangan Pria Dewasa itu ke atas daun pisang dan menyerahkannya pada Sarah. “Hati-hati masih panas!”
__ADS_1
“Terimakasih Paman!” sahut Sarah langsung mengigit Telur Monster Wyvern itu. “Ummm, enak sekali!”
Alex hanya tersenyum saja, karena semua makanan yang masuk ke mulut Putrinya itu pasti ia katakan enak walaupun rasanya biasa-biasa saja menurut standar lidah Alex.
Hal itu wajar sekali karena dulu Sarah hanya memakan Roti Kering setiap hari dan hanya sesekali memakan makanan yang cukup enak pemberian Guru Isabella.
Setelah menghabiskan setengah Telur Monster Wyvern, Sarah memberikan sisanya pada Alex. Dia kemudian menunjuk ke arah Restoran yang cukup ramai dikunjungi pejiarah.
Alex tentu menuruti keinginan Sarah dan segera menuju Restoran itu sembari menghabiskan Telur Monster Wyvern yang ternyata rasanya cukup asin.
...***...
Di Pulau yang direbut dari Kerajaan Iblis, Pangeran Pertama membaca pesan yang dikirim oleh bawahannya dari Kota Ella. Dia tidak menyangka Alex masih hidup dan membunuh banyak Pendekar tingkat 10 tadi malam.
Sudut bibir Pangeran Pertama memancarkan seringai tipis. “Pesaing paling menjengkelkan kembali muncul. Namun, ini akan menarik karena si bodoh Lycus akan memancing amarah Alex,” gumamnya.
“Aku tidak menyangka Kaisar akan mengatakan bahwa kejadian itu terjadi karena Alex melakukan balas dendam pada para Pendekar yang menyergapnya empat tahun yang lalu, dan memastikan Alex tidak akan menyerang penduduk yang tidak terlibat dengan peristiwa itu,” kata Jenderal yang duduk di sebelah Pangeran Pertama.
“Itu wajar saja,” sahut Pangeran Pertama. “Kaisar tahu para penduduk mengidolakan Alex. Untuk menenangkan mereka, maka ia mengatakan hal itu karena pikiran rakyat biasa itu sangat sederhana dan mudah dimanipulasi.”
Bukan hanya rakyat biasa, Pangeran Pertama juga berhasil memiliki pengaruh kuat di militer karena ia mencitrakan dirinya adalah sosok yang tegas dan berani, sehingga kalangan militer merasa Pangeran Pertama lah yang cocok memimpin Kekaisaran Hazel.
Jenderal yang duduk disebelah Pangeran Pertama akhirnya mengerti kenapa Kaisar tidak memburu Alex setelah Alex membuat huru-hara di Kota Ella.
“Apa kita akan menyerbu Pulau Tengkorak Merah?” tanya Jenderal itu.
Pangeran Pertama menggelengkan kepala dan berkata, “Kaisar menyuruhku kembali ke Istana Kekaisaran. Aku tidak tahu apa yang hendak ia katakan, kemungkinan besar Perang melawan Kerajaan Iblis akan ditunda karena Kaisar lebih memilih untuk menaklukkan Kerajaan Orc lebih dulu.”
__ADS_1
Jenderal itu berpikir sejenak dan berkata, “Aku akan menyuruh Pendekar tingkat 10 terbaik mengawal perjalanan Pangeran Pertama menuju Kota Ella.”
Dia khawatir Kerajaan Iblis menyergap Pangeran Pertama saat berlayar ke Kekaisaran Hazel, apalagi Iblis lebih menguasai medan di lautan daripada Pasukan militer Kekaisaran Hazel yang terbiasa bertarung di daratan.