
Zeldeth merasa ada yang aneh dengan perubahan Kekuatan milik Alex. Seingatnya Alex hanya memiliki Elemen Sihir Api dan Es serta gabungan keduanya yang menciptakan Elemen Petir. Namun, kenapa Elemen Sihir Kehidupan yang sangat melimpah memancar darinya.
Hutan Abadi yang telah gelap karena matahari sudah terbenam di ufuk Barat tersebut tiba-tiba menjadi sangat terang.
Para Elf dan Pendekar Manusia yang tergeletak karena terluka, tiba-tiba saja luka-luka yang mereka derita sembuh dengan sendirinya, bahkan yang nyawanya sudah diujung tanduk kembali pulih seperti sedia kala.
“Kamu pasti telah mendapatkan Kekuatan milik Dewi Luna!” gerutu Zeldeth tidak terima kenapa Kekuatan Dewi Luna malah jatuh pada Ras Manusia, padahal yang menyembah-Nya adalah Ras Elf. Seharusnya dirinya atau Elf lainnya yang mendapatkan Kekuatan tersebut.
Dengan amarah menggebu-gebu Zeldeth mengayunkan pedangnya ke arah Alex. Elemen Sihir Kegelapan yang sangat besar memancarkan Aura mencekam melesat ke arah Alex.
Namun, Aura Kegelapan itu terkorosif oleh Cahaya yang terpancar dari tubuh Alex hingga akhirnya saat Zeldeth tiba di depan Alex; semua Elemen Sihir Kegelapannya telah memudar, bahkan Pedang hitam yang ia bentuk dari Elemen Sihir Kegelapan sudah tidak ada lagi.
“Dewa Cthulhu... Kamu ternyata berbohong padaku, Kekuatan-Mu ternyata bukanlah yang terkuat!” Zeldeth mengumpat pada Dewa Cthulhu sesaat sebelum bilah Pedang Meteor membelah tubuhnya.
Para Elf terkejut melihat Zeldeth tewas ditangan Alex.
“Tetua Agung dan Tetua Zeldeth telah tewas! Hutan Abadi akan binasa!”
“Apa yang akan kita lakukan? Kerajaan Orc pasti akan menyerang kita setelah mendapatkan kabar tentang kematian Tetua Agung!”
“Oh, Dewi Luna... Tolong selamatkan Elf, kami mungkin aka menjadi budak Ras lain!”
Dari sebuah Rumah Pohon yang tidak jauh dari Istana Kerajaan Hutan Abadi, muncul sinar terang berwarna emas yang membuat semua Elf menoleh ke arah sana.
Salah satu Tetua Elf tersenyum lebar walaupun air matanya mengalir membasahi pipinya. “Yang Mulia Ratu telah kembali!”
__ADS_1
“Yang Mulai Ratu tolong selamatkan tanah Elf!” sahut Tetua Elf lainnya bertekuk lutut menghadap ke Rumah Pohon itu dan semua Elf mengikuti gerakannya, hanya Alex yang masih berdiri di depan mayat Zeldeth.
Alex menarik napas dalam-dalam, setelah melepaskan Elemen Sihir Kehidupan yang sangat besar; kebencian dalam hatinya telah memudar dan ia tidak berminat lagi mencari para Elf yang terlibat dalam penyergapan terhadap dirinya saat malam mencekam itu, karena ia tahu mereka sebenarnya terpaksa mengikuti perintah Tetua Agung.
Alex segera melarikan diri dari sana tanpa ada Elf yang menyadari kepergiannya karena mereka terlalu fokus menyambut kembalinya Ratu Elf.
Wanita cantik yang mirip dengan Helena keluar dari Rumah Pohon yang bersinar terang tadi. Wanita itu menatap lembut pada semua Elf dan tiba-tiba tatapannya tertuju pada punggung Alex.
“Tolong jaga Helena baik-baik,” gumamnya sembari menghela napas dalam-dalam. “Putriku pasti sangat menderita saat Aku bermeditasi dan tidak dapat menolongnya saat adikku menyakitinya serta memaksanya untuk membuang bayi yang baru ia lahirkan.”
Ratu Elf tidak tahu bagaimana nanti cara meminta maaf kepada Helena, karena sebenarnya ia bermeditasi bukan untuk meningkatkan kekuatannya agar mencapai Pendekar tingkat 11. Namun, ia ingin menyembuhkan luka dalam yang ia terima saat bertarung melawan Raja Orc saat Perang Rasial Seratus tahun yang lalu.
Akan tetapi luka dalam itu tiba-tiba sembuh saat Alex melepaskan Elemen Sihir Kehidupan yang sangat besar saat melawan Zeldeth tadi.
“Yang Mulia Ratu... Hutan Abadi—” Salah satu Tetua Elf hendak menjelaskan apa yang terjadi di ibukota Kerajaan Hutan Abadi tersebut, tetapi Ratu Elf mengangkat tangannya.
“Baik Yang Mulia Ratu!” sahut Tetua Elf itu segera memerintahkan para Pendekar Elf melaksanakan perintah Ratu Elf.
Ratu Elf berjalan mendekati rumah Pohon Helena yang telah hancur berkeping-keping. Dia berdiri di sana tanpa mengucapkan sepatah katapun, hanya butiran air mata yang jatuh membasahi bekas Rumah Pohon Helena itu.
...***...
Alex melesat dengan kecepatan tinggi ke arah Hutan Kesunyian, karena di sanalah ia memerintahkan Pegasus untuk menunggunya.
Saat mendekati tempat itu, ia mendengar gelak tawa Sarah dan suara Helena yang sedang menceritakan kisah tentang masa lalu Alex.
__ADS_1
“Ibu... bagaimana kalian akhirnya mengalahkan Monster Kingkong itu? Kan, Ayah telah ditinju hingga terhempas menabrak dinding tebing?” tanya Sarah penasaran, karena menurut rumor yang beredar tentang kepahlawanan Pangeran Alex itu; Sang Pangeran tidak terkalahkan dan menaklukkan semua lawan-lawannya dengan mudah.
Sarah juga tidak menyangka ternyata Ayahnya adalah orang yang sama dengan sosok Pangeran Alex yang ia idolakan itu.
Helena juga telah menceritakan kenapa Kekuatan Alex tiba-tiba melemah selama Empat tahun terakhir. Namun, ia tidak dapat menjelaskan kenapa Alex menjadi ahli dalam menciptakan makanan baru.
“Tentu saja Ibu membantu Ayahmu dan apakah Kamu tahu bagaimana Ibu menaklukkan Monster Kingkong itu?” sahut Helena sembari tersenyum bahagia.
Alex tidak langsung menghampiri mereka, Dia bersembunyi di balik Pohon dan mendengarkan percakapan Ibu dan Anak yang tidak pernah bertemu selama Empat tahun tersebut atau setelah Sarah dilahirkan ke Dunia ini karena Tetua Agung langsung memisahkan mereka dan menjadikan Sarah sebagai pancingan agar Alex datang ke tempat penyergapan yang dipersiapkan oleh Lycus.
“Ibu pasti memotongnya dengan Pedang! Sat-set-sat-set... Boommm! Terbelah dua lah Kingkong itu,” kata Sarah sembari memperagakan gerakan menebas menggunakan Pedang Kayu miliknya.
Helena tertawa dengan tingkah lucu putrinya itu. Dia segera memeluk Sarah dan menciumi kedua pipinya hingga Sarah mengeluh karena dicium terus-menerus.
“Ibumu hanya mengedipkan matanya dan Kingkong itu tiba-tiba memukul-mukul dadanya sendiri dengan batu besar hingga akhirnya Kingkong itu tumbang dan tidak sadar diri,” sahut Alex akhirnya menampakkan dirinya.
“Eh, Ayah ternyata diam-diam mendengarkan percakapan kita, Bu!” Sarah tersenyum lebar menatap Alex. “Berarti Ibu lebih kuat dari Ayah, dong?” Sarah penasaran siapa yang lebih kuat Ayahnya atau Ibunya.
“Tentu Aku lebih kuat!” Helena dan Alex menjawab bersama-sama.
Namun, Helena memelototi Alex—sehingga Alex tersenyum masam dan berpura-pura menoleh ke arah lain.
“Cih, kalau begitu kita kembali saja ke Hutan Abadi supaya seseorang itu bisa bermain-main dengan para gadis-gadis peliharaannya!” Helena berkata sinis.
“Gadis-gadis peliharaan?” Alex kebingungan dan sesaat kemudian teringat dengan Hannah dan karyawannya lainnya. Dia curiga Sarah telah menceritakan tentang mereka pada Helena dan istrinya itu berpikiran aneh-aneh tentang dirinya dengan gadis-gadis cantik dari berbagai Ras itu.
__ADS_1
Alex segera memikirkan solusi mengatasi kesalahpahaman ini secepat mungkin, atau dirinya yang sudah puasa selama Empat tahun lebih tersebut tidak mendapatkan jatah nanti malam, bahkan mungkin akan ada bantal guling yang memisahkan mereka saat tidur bersama lagi.