
“Aku sudah menduga Kamu akan berhasil meloloskan diri dari jebakan yang kubuat, Oliver.” Owen menyeringai tipis sembari menjentikkan jari tangannya dan ratusan mayat-mayat hidup mengepung reruntuhan bangunan tempat Oliver dan gadis Orc remaja bersembunyi.
Oliver mengerutkan keningnya begitu menyadari dia sudah tidak dapat melarikan diri lagi. Kemudian ia menatap tajam Owen yang melangkah perlahan-lahan ke arahnya. “Kenapa menjual jiwamu pada musuh umat manusia?” tanyanya penasaran kenapa Owen rela membunuh rekan-rekannya yang telah berjuang bersama dengannya, bahkan beberapa mayat hidup itu adalah teman masa kecil Owen.
Owen mengangkat bahunya dan menghela napas panjang. “Aku juga tidak memiliki pilihan,” sahutnya, “kalau Kamu berada di posisiku, Kamu juga akan memilih menjadi penyembah Dewa Cthulhu dari pada menjadi mayat hidup.”
Perkataan Owen membuat Oliver akhirnya memahami bahwa Owen pasti telah bertemu dengan Mordor selaku—pelaku utama yang menyebarkan Kekuatan Elemen Sihir Kegelapan di seluruh Benua Grandland.
“Berarti bukan hanya Kamu saja, kan... yang diam-diam menyusup ke Pasukan Legiun Barat atau mungkin kalian telah menyusup ke seluruh Legiun Militer?” selidik Oliver penasaran.
Owen tertawa terkekeh-kekeh dan berkata, “Dalam situasi diujung tanduk begini, jiwa intelijenmu masih bekerja dan mencoba mencari tahu sesuatu yang membuatmu penasaran.”
Oliver hanya mengerutkan keningnya dan berpikir apa yang dikatakan oleh Owen benar juga, untuk apa ia bertanya padahal sebentar lagi ia akan segera menjadi mayat hidup seperti rekan-rekannya yang lain.
”Baiklah, Aku akan mengatakan bahwa bukan hanya ditubuh militer Kekaisaran Hazel saja Kami menyelinap, Kami ada di seluruh Benua Grandland dan akan mengejutkan kalian semua saat Dewa Cthulhu Yang Agung memberi perintah untuk menjadikan seluruh Benua Grandland menjadi tanah suci milik pengikut Yang Agung Dewa Cthulhu,” kata Owen dengan semangat membara.
Oliver menarik napas dalam-dalam dan menoleh ke arah gadis Orc remaja yang masih memegang ujung bajunya. ”Segeralah melarikan diri saat Aku mulai bertarung melawan mayat-mayat hidup itu,” bisiknya.
Gadis Orc remaja itu tercengang mendengar perkataan Manusia tampan di hadapannya itu, ia tidak menyangka masih ada Manusia yang peduli dengan Ras yang telah dianggap musuh abadi mereka tersebut.
__ADS_1
Saat Legiun Barat memasuki Desanya, mereka tanpa ampun membunuh siapapun yang terlambat melarikan diri, bahkan mereka tidak peduli walaupun Orc itu anak-anak atau wanita. Para Manusia itu hanya ingin membalaskan kembali apa yang terjadi pada mereka Seratus tahun yang lalu, di mana saat itu Orc juga membantai lebih dari Dua pertiga Ras Manusia.
”Lariiiiiiiiii!”
Oliver berteriak keras sembari mengayunkan belatinya ke arah mayat hidup yang melesat ke arah mereka.
Gadis Orc remaja itu menatap Oliver dengan ragu, ia menggertakkan giginya dan segera menarik bahu Oliver yang membuat Oliver dengan bingung menoleh ke arahnya.
”Aku akan mencari bantuan untuk menyelamatkanmu! Berjanjilah untuk tetap hidup!” kata gadis Orc remaja itu sembari menitikkan air mata. ”Tanamkanlah namaku di hatimu, namaku adalah Chicie,” katanya lagi.
“Oliver,” sahut Oliver. Namun, ia menyadari kenapa ia harus membalas ucapan gadis Orc remaja ini dan diapun mendorong Chicie agar menjauh darinya. ”Cepatlah lari, Chicie!”
Namun, Chicie sekali lagi menarik bahunya yang membuat Oliver menjadi jengkel dan hendak membentak gadis Orc itu serta mengatakan tidak mau lagi membantunya agar dapat kabur, tetapi ia tiba-tiba merasakan sensasi aneh di bibirnya dan sesaat kemudian menyadari kalau Chicie ternyata menciumnya dengan buas.
Chicie menyeka air mata yang membasahi pipinya dan dengan berat hati melarikan diri dari reruntuhan bangunan itu. Dia masuk ke dalam lubang bawah tanah yang digunakan oleh beberapa Orc melarikan diri dari pembantaian yang dilakukan oleh Legiun Barat.
Oliver menghela napas lega saat tubuh besar gadis remaja Orc itu telah menghilang dari pandangannya. Namun, ia merasa ada yang salah, kenapa ia malah merasa lega? Apakah ini yang dinamakan cinta beda Ras atau seperti kisah klasik “kisah cinta Pangeran tampan dan gadis buruk rupa miskin”.
Oliver menggelengkan kepala dan berpikir kenapa ia malah masih sempat-sempatnya melamunkan sesuatu yang aneh padahal nyawanya sudah diujung tanduk. Dia kemudian menusuk dada mayat hidup yang telah sampai di depannya.
__ADS_1
“Maaf Hans... Aku harus membunuhmu,” gumam Olivier mengalirkan Elemen Sihir Bayangan ke dalam bilah belatinya dan jantung mayat hidup itu langsung hancur berkeping-keping, kemudian rekannya di Legiun Barat itu langsung tersungkur dan tak bergerak lagi.
Namun, sebelum ia menghela napas lega, mayat-mayat hidup telah mengelilinginya dan menutup ruang untuknya melarikan diri.
”Semoga saja Kamu mati mengenaskan Komandan Owen sialan!” Oliver berteriak mengumpat Owen sembari mengaktifkan Elemen Sihir Bayangannya, tetapi tiba-tiba salah satu mayat hidup mengangkat tangan dan cahaya terang menghilangkan bayangan disekitar Oliver sehingga ia tidak bisa menyelinap kabur dari sana.
Mayat hidup di belakang Oliver memasang kuda-kuda beladiri dan sesaat kemudian melesat sembari mengayunkan Pedang yang dipenuhi kobaran Api.
“Sial!” Oliver menggertakkan giginya dan tiba-tiba teringat dengan Dewa Hercules, padahal selama ini ia jarang berdoa pada Dewa-Nya itu. ”Seandainya Dewa Hercules memberikan mukjizat padaku dan Aku berhasil selamat dari tempat mematikan ini, maka Aku akan menikahi Chicie,” gumamnya tiba-tiba teringat dengan gadis Orc remaja tadi. Namun, ia kembali merasa aneh, kenapa ia tidak berdoa menikahi gadis Manusia yang cantik saja atau sekalian saja Peri di Hutan Abadi.
Oliver tersenyum tipis dan menarik napas dalam-dalam, kemudian mengayunkan belatinya untuk menangkis tebasan Mayat hidup itu.
Boooommmmmmm!
Oliver terkejut, tiba-tiba saja Pedang berukuran besar menancap di dada Mayat hidup itu, kemudian Elemen Sihir Kehidupan memancarkan cahaya menyilaukan keluar dari tubuh mayat hidup itu. Dalam sekejap mayat hidup itu berubah menjadi butiran debu yang membuat Oliver tercengang.
“Apa Dewa Hercules telah mengirimkan mukjizat padaku?” gumam Olivier masih dengan raut wajah tercengang dan cahaya menyilaukan dari bilah Pedang itu juga melenyapkan beberapa mayat-mayat hidup yang mengepungnya. “Kelemahan mereka ternyata Elemen Sihir Kehidupan.” Oliver langsung menyimpulkan.
“Tunjukkan dirimu!” Owen berteriak marah sembari mencari keberadaan pemilik Pedang berukuran besar itu.
__ADS_1
Owen juga tidak menyangka mayat-mayat hidupnya dilenyapkan dengan mudah oleh Elemen Sihir Kehidupan itu. Keningnya berkeringat dingin dan detak jantungnya berdetak kencang, karena merasa Kekuatan dari Elemen Sihir Kehidupan itu milik Pendekar yang telah melampaui Pendekar tingkat 10, atau tidak menutup kemungkinan setara dengan Mordor.
“Cepat tunjukkan dirimu atau Aku akan mengirim mayat-mayat hidupku mencabik-cabik tubuh gadis Orc yang melarikan diri itu!” ancam Owen yang berpikir, kemungkinan besar musuh yang tak terlihat ini adalah Pendekar Orc, dan dia menolong Oliver sebagai balas budi—karena Oliver telah menolong gadis Orc tadi.