
Raut wajah Owen berubah masam menatap sosok yang sangat familiar yang keluar dari puing bangunan. Dia tidak menyangka akan bernasib sial hari ini, padahal ia baru saja mengumpulkan mayat-mayat hidup berlevel tinggi yang kemungkinan dapat melawan satu grup besar Pasukan militer.
Namun, di hadapan sosok ini, kepercayaan dirinya langsung luntur seketika dan di benaknya hanya ada pikiran bagaimana cara melarikan diri dari sosok menakutkan tersebut.
“Aku tidak menyangka Mordor telah selangkah di depanku dan menyusupkan antek-anteknya ke seluruh militer di seluruh Kerajaan.”
Oliver terkejut melihat yang ditakutkan oleh Owen itu ternyata adalah Alex dan tiba-tiba ia menoleh ke arah Pedang besar yang tergeletak di dekatnya. “Berarti itu adalah Pedang Meteor yang legendaris itu, yang telah mengalahkan musuh tak terhitung jumlahnya,” pikirnya.
Owen tidak menanggapi perkataan Alex, ia justru mengangkat tangannya dan seluruh mayat-mayat hidup menerjang ke arah Alex seperti kerumunan semut yang mencoba mendapatkan sebutir beras.
Oliver hendak mengambil Pedang Meteor dan mengantarnya ke Alex. Namun, Pedang itu melesat dengan sendirinya ke arah Alex yang merentangkan tangan kanannya.
Dalam sekejap, Pedang Meteor telah di genggam oleh Alex dan Cahaya menyilaukan terpancar dari bilahnya. Kemudian, tiba-tiba terdengar suara dentuman Petir yang memekakkan telinga dan sosok Alex langsung berubah seperti Halilintar.
“Alex sialan ini ternyata sudah melampaui Pendekar tingkat 10!” gerutu Owen panik, mayat-mayat hidupnya yang sebagian diantaranya adalah Pendekar tingkat 10 dengan mudah dilenyapkan oleh Alex.
Owen juga berpikir tidak akan mungkin bisa melarikan diri, karena Alex bergerak dengan kecepatan kilat dan hanya dalam beberapa tarikan napas saja, sudah sepertiga mayat-mayat hidupnya berubah menjadi butiran debu.
Tatapan Owen tiba-tiba tertuju pada Oliver. Sudut bibirnya langsung memancarkan seringai tipis dan berpikir bila ia menjadikan Oliver mayat hidup, maka ia dapat melarikan diri dari Alex.
Owen melesat ke Oliver yang sedang asyik menonton pertarungan Alex melawan mayat-mayat hidup. Namun, matanya langsung terbelalak melihat Owen telah muncul di hadapannya.
Terlambat sudah untuk mengaktifkan Elemen Sihir Bayangan, Oliver mengayunkan belatinya dan berharap setidaknya melukai Komandannya itu sebelum kematian merenggut nyawanya.
“Jangan sakiti Oliverkuuuuuuuu!”
__ADS_1
Chicie tiba-tiba muncul sembari melempar Batu besar ke arah Owen yang membuat Oliver terkejut dan mengutuk gadis Orc itu, kenapa ia malah kembali hanya untuk menyelamatkan dirinya karena itu akan membawanya ke dalam lembah kematian juga.
Chicie menoleh ke arah Oliver sembari tersenyum manis walaupun wajah Orc terlihat sangar karena tubuhnya sangat besar dan berotot.
Oliver ikut tersenyum, tetapi senyumannya langsung memudar karena lemparan batu besar Chicie hanya membuat Owen berhenti sejenak.
“Tidakkkkkk... awas Chicieeeeeee!” Oliver berteriak histeris.
Pedang Owen menghujam punggung Chicie dan ujung pedangnya tembus ke perutnya. Semburan darah langsung mengalir dari perut dan punggungnya saat Owen menarik kembali Pedangnya itu.
Owen menatap sinis tubuh Chicie yang langsung ambruk ke permukaan tanah dan mencibir, “Dasar Monster bodoh! Menghalangi jalanku saja, untuk apa Kau berkorban nyawa demi menyelamatkan Oliver. Kalaupun ia berhasil selamat dari sini, maka ia akan melupakanmu dengan mudah seperti semudah mengedipkan mata!”
Mata Chicie yang terbelalak menitikkan air mata karena merasa ucapan Owen ada benarnya, untuk apa ia sebenarnya mengorbankan diri menyelamatkan Manusia yang tidak akan mungkin menyukai Orc yang mereka anggap lebih mirip Monster tersebut.
Namun, sesaat kemudian senyuman tipis terpancar dari sudut bibirnya, karena ia berpikir setidaknya sebelum ia mati dirinya telah menemukan pujaan hatinya dan mencium bibirnya yang lembut itu. Sesaat kemudian, Chicie memejamkan matanya dan kesadarannya pun menghilang.
“Membunuhku? Cobalah kalau bisa,” ejek Owen mengayunkan pedangnya yang dipenuhi oleh Elemen Sihir Kegelapan.
Area disekitar Owen tiba-tiba dilahap oleh Elemen Sihir Kegelapan dan keberadaan Oliver langsung diketahui oleh Owen.
Oliver tiba-tiba tidak dapat menggerakkan kakinya dan Elemen Sihir Kegelapan mulai menjalar dari kakinya menuju bagian atas tubuhnya.
Oliver mengerutkan keningnya, tidak menyangka Elemen Sihir Kegelapan dengan mudah menghilangkan Elemen Sihir Bayangan miliknya.
Oliver menatap Chicie yang terbujur kaku di atas permukaan tanah, air mata Oliver mulai menetes membasahi pipinya. “Maaf Chicie... Aku tidak dapat membalas dendam. Ah, kenapa Aku sangat lemah?” gumamnya menarik napas dalam-dalam, bayangan wajah senyum polos Chicie muncul di benaknya.
__ADS_1
“Kenapa tidak menungguku sebentar sebelum mulai bermain-main?”
Suara Alex membuyarkan lamunan Oliver dan terkejut Elemen Sihir Kegelapan yang hampir melahap seluruh tubuhnya tiba-tiba menghilang, serta Elemen Sihir Kehidupan telah membalut tubuhnya.
“Pa-pangeran Alex!” Oliver berseru dengan mata berbinar-binar dan tidak menyangka Owen yang sangat kuat itu lehernya telah dicengkeram oleh Alex. “Pangeran tolong selamatkan Chicie!” katanya lagi dengan ekspresi wajah panik.
Alex kebingungan mendengar nama wanita itu dan dia tidak melihat ada wanita disekitar mereka. “Eh, apa maksudmu gadis Orc itu?” tanyanya, karena hanya gadis Orc itu wanita disekitar mereka.
“Ya, Dia mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Aku!” sahut Oliver bergegas menuju tubuh Chicie.
Alex melempar tubuh Owen yang telah mati dan berjalan ke arah Oliver. “Apakah ini namanya cinta sejati yang tidak memandang fisik maupun harta?” gumamnya takjub dengan kesetiaan Oliver pada gadis Orc itu.
Elemen Sihir Kehidupan Alex kemudian menjalar ke seluruh tubuh Chicie, luka pada punggung dan perutnya langsung sembuh. Alex tidak menyangka raut wajah gadis Orc itu ternyata tersenyum hangat, seperti ia tidak menyesal telah mengorbankan dirinya demi menyelamatkan Oliver.
“Bagaimana Pangeran Alex? Apa Chicie masih dapat diselamatkan?” tanya Oliver tak sabar ingin mengetahui kondisi Chicie saat ini.
Alex menghela napas lega dan berkata, “Untung saja Pedang Komandanmu itu tidak mengenai jantungnya, sehingga ia hanya pingsan saja.”
“Syukurlah ....” Oliver menghela napas lega.
“Aku tidak menyangka Kamu memiliki kekasih yang sangat baik hati,” kata Alex sembari menepuk pundak Oliver dan tersenyum hangat, kemudian ia segera memeriksa tubuh Owen untuk mencari apakah ada petunjuk tentang pengikut Dewa Cthulhu lainnya.
Namun, Oliver tampak kebingungan karena Alex mengatakan memiliki kekasih yang baik hati. “Apakah Pangeran Alex mengira kami ini sepasang kekasih?” gumamnya sembari menatap wajah Chicie yang masih memancarkan senyuman hangat.
Oliver teringat dengan janjinya pada Dewa Hercules bahwa ia akan menjadi Kekasih Chicie bila dikirimkan mukjizat dan mukjizat itu adalah Alex muncul menyelamatkannya.
__ADS_1
“Seingatku Pangeran Alex tinggal di Kota Perdamaian yang menerima Ras apapun tinggal di sana, apa Aku membawa Chicie tinggal di sana saja?” gumamnya.
Sementara itu, Alex tidak menemukan petunjuk apapun dari barang-barang yang ditinggalkan oleh Owen. Dia hanya menemukan 50 Koin Emas dan kartu identitas Owen sebagai Komandan militer saja.