
Sarah turun dari lantai atas mengenakan pakaian baru dan menyandang Tas berwarna Pink, senyuman cerah memancarkan dari wajahnya karena sudah tidak sabar ingin pergi ke Sekolah Harapan.
Matanya berbinar-binar saat tertuju pada mangkuk berisi makanan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Namun, ia meyakini makanan itu pasti nikmat sekali, sehingga air liurnya hampir menetes.
“Ayo sarapan dulu sebelum Ayah mengantarmu ke Sekolah Harapan!” seru Alex segera duduk di kursi. “Kalian juga, kenapa malah kebingungan di sana?” candanya pada Hannah dan Elenna yang berbincang-bincang di dapur.
“Hmmmm... enak sekali!” Tanpa berbasa-basi, Sarah lebih dulu menyendok Tinutuan ke dalam mulutnya.
Pipi Elenna dan Hannah memerah setelah mengunyah Tinutuan, entah mengapa mereka merasa ada energi tak kasat mata yang membuat kulit mereka menjadi lebih halus dan lembut.
“Tinutuan ini pasti akan laris nanti,” kata Hannah tersenyum lebar. “Apakah si Leonardo itu akan menirunya lagi, ya?” Dia langsung teringat dengan Koki yang mengaku sebagai pelopor pembuat Gulai Daun Ubi Tumbuk plus Sambal Tuk-Tuk dan Bakso tersebut.
Alex tertawa mendengar perkataan Hannah. “Tidak apa-apa mereka menirunya, itu akan bagus karena makanan yang kubuat lama-kelamaan dapat dinikmati semua orang,” sahutnya sembari menghabiskan Tinutuan di mangkuknya.
Setelah selesai sarapan, Alex dan Sarah segera meninggalkan Restoran.
Hannah akan memasak makanan untuk pelanggan selama dia meninggalkan Restoran. Namun, Alex sedikit khawatir bila pengunjung cukup ramai maka Hannah dan Elenna akan kewalahan, sehingga ia berpikir untuk menambah jumlah karyawannya lagi.
“Mungkin Dua Koki dan Tiga Pramusaji adalah jumlah karyawan yang ideal untuk Restoranku,” gumam Alex memutuskan menambah Tiga Karyawan lagi.
...***...
Jack menenggak anggur merah langsung dari botol, kemudian berteriak keras karena kesal bawahannya melaporkan bahwa pengunjung sudah mengantri panjang di depan toko-toko milik Margareth.
Jack yakin, dirinya sudah tidak dapat bersaing lagi memperebutkan posisi Pewaris Utama Kelurga Donovan. Di masa depan, dirinya hanya bisa menjadi Karyawan di Perusahaan Donovan serta kewenangannya akan dibatasi.
“Jangan menyerah dengan mudah, kawan!” Lancelot menyeringai tipis sembari menuangkan anggur merah ke dalam gelas kecil dan menenggaknya. "Ah, anggur yang sangat mantap... bagaimana kalau kamu mencari informasi tentang seorang Pria berusia Tiga Puluhan tahun yang memiliki anak setengah Elf berusia Empat tahun untukku. Kalau Aku puas dengan informasi itu, maka Aku akan membunuh keponakanmu itu dan kamu dapat merebut Pabrik Sarahmie itu.”
Jack menatap Lancelot dengan mata menyipit. Sosok yang dicari oleh temannya dari Kota Ella ini sebenarnya sangat mudah dicari, karena hanya Pemilik Restoran Sarah yang memiliki anak setengah Elf dan usianya juga terlihat seperti berusia Tiga Puluhan tahun. “Kau tidak berbohong, kan?” selidiknya.
__ADS_1
“Hei, untuk apa Pendekar tingkat 10 berbohong?” sahut Lancelot tertawa terkekeh-kekeh. “Selama itu tidak berurusan dengan Lord Michael, Aku akan membantumu melenyapkan musuh-musuhmu. Namun, kamu harus mendapatkan informasi tentang sosok yang kuinginkan itu,” katanya lagi.
Jack merasa Lancelot tidak mungkin berbohong. Dia juga tahu kalau Lancelot adalah bawahan Pangeran Kedua yang merupakan salah satu calon pewaris tahta Kaisar Kekaisaran Hazel, yang berarti Lancelot sudah pasti bukan Pendekar tingkat 10 biasa.
“Sosok itu sebenarnya sangat gampang dicari,” sahut Jack dengan sudut bibir menyeringai lebar. “Datangi saja Restoran Sarah di dekat Pabrik milik Dewan Kota Milles!”
“Oh, sepertinya kau sudah mengenali sosok yang kucari, coba ceritakan tentang dirinya!” seru Lancelot meletakkan gelas diatas meja dan menatap Jack yang mulai bercerita tentang sosok Alex yang cukup misterius tersebut.
Lancelot tersenyum puas dan meyakini Pemilik Restoran itu sudah pasti adalah Pangeran Alex Acherron walaupun wajah mereka hanya sedikit mirip saja. Dia yakin, Alex mungkin merubah wajahnya dengan ramuan herbal.
Lancelot mengirim surat kepada Pangeran Kedua tentang penemuannya itu walaupun itu belum pasti Alex yang asli. Namun, Pangeran Kedua memintanya untuk mengirimkan pesan bila menemukan petunjuk tentang Alex walaupun itu hanya sedikit saja.
Jack sangat senang melihat Lancelot puas dengan informasi yang ia berikan. “Tolong ingat janjimu untuk melenyapkan Keponakanku,” katanya sembari menenggak anggur merah langsung dari botolnya.
“Itu mudah sekali... setelah Aku memastikan keaslian informasi yang kau berikan, Dia akan lenyap selamanya!” sahut Lancelot segera meninggalkan ruangan itu. Namun, ia tiba-tiba berhenti berjalan setelah mencapai pintu. “Faramir itu terlalu berhati lembut, lebih baik kau campakkan saja!” Tatapan matanya tertuju pada Faramir yang berdiri di belakang Jack.
Jack tidak menjawab dan hanya tersenyum saja. Dia juga tahu kalau Faramir selalu berhati-hati dalam bertindak, tetapi menurutnya itu sangat bagus karena menyeimbangkan tindakan dirinya yang selalu tergesa-gesa membuat keputusan, walaupun sebenarnya ia kecewa Faramir terlalu lunak saat berhadapan dengan Restoran Sarah.
...***...
“Apakah kami datang terlalu pagi?” sahut Alex karena belum melihat seorang pun murid-murid Sekolah Harapan.
Isabella menganggukkan kepala. “Iya, seharusnya kalian datang Pukul Delapan saja, tetapi tidak apa-apa... Aku akan menjaga Sarah dan tuan Alex dapat kembali ke Restoranmu,” katanya lagi.
Alex menatap Sarah yang langsung menganggukkan kepala tanda setuju dengan saran Guru Isabella.
“Kalau begitu Aku akan menitipkan Sarah padamu dan maaf telah merepotkan Guru Isabella,” sahut Alex tidak menyangka proses pendaftaran Sekolah di sini sangat mudah sekali. “Belajar yang baik ya, nanti siang Ayah akan menjemputmu lagi!” kata Alex pada Sarah.
“Baik Ayah, Aku akan belajar dengan giat dan menjadi Juara Satu di kelas,” sahut Sarah dengan semangat.
__ADS_1
Alex kemudian kembali ke Restoran Sarah, dia yakin Sarah pasti aman di Sekolah Harapan karena Kepala Sekolah dan Guru-guru Pendekar tingkat tinggi tinggal di sana, sehingga bila Mordor atau komplotannya muncul di sana maka Kepala Sekolah pasti akan bergerak mengusir mereka.
Walaupun belum pernah bertarung melawan Kepala Sekolah Harapan, Alex meyakini Dia sangat kuat. Kabarnya Dia pernah mengalahkan Lord Michael dalam sebuah duel saat keduanya masih muda dulu.
“Bos... tolong jangan pecat Aku!”
Tiba-tiba lamunan Alex dibuyarkan oleh gadis muda yang menangis di halaman Restoran Salsa yang hanya menjual hidanggan Ikan saja, baik itu Ikan bakar atau gulai Ikan Sungai dan Ikan Laut.
“Aku bersedia tidak digaji asalkan diberikan makan sekali sehari, Bos!” seru gadis muda itu memohon kepada wanita tua yang langsung menyeringai.
Alex mengerutkan keningnya dan curiga Bos Restoran itu sengaja menimpakan sebuah kesalahan pada gadis muda itu, agar ia tidak perlu membayar gajinya atau mendapatkan Koki gratis yang hanya perlu diberikan makan sekali sehari saja.
Karena tingkat kemiskinan yang tinggi di wilayah timur, banyak Pemuda di sana yang rela kerja hanya dibayar sesuap nasi saja dan Alex sudah merasakannya saat menjadi Penyapu jalan; bayarannya hanya cukup membeli Roti kering untuk sekali makan saja.
Gadis muda itu menyeka air matanya dan tersenyum cerah setelah mendengar jawaban dari wanita tua itu. “Terimakasih Boss—”
“Tunggu!” sela Alex tiba-tiba mendekati gadis muda itu.
Bos Restoran Salsa langsung mengerutkan keningnya, kesal Alex ikut campur dalam urusannya. Padahal gadis muda itu sudah mau digaji sekali makan setiap hari saja.
“Kami belum buka, menjauh dari tempatku!” cibir Wanita tua itu.
Alex mengerutkan keningnya dan tidak menanggapi perkataan wanita tua itu. Dia tersenyum hangat menatap gadis muda itu.
Alex sedikit terkejut, ternyata gadis muda itu memiliki darah campuran dengan Ras Naga. Pantas saja ia diremehkan, karena seseorang yang terlahir dari darah campuran itu tidak akan diterima oleh masyarakat atau mereka dianggap menjijikkan.
...***...
Gambar Ras Naga (Sumber Pinterest)
__ADS_1