
Inarius berjalan menuju meja Kasir ketika Delilah masih melamun memikirkan apakah akan meminta bantuan kepada sosok yang mirip dengan Malaikat Inarius di lukisan Kuil Matahari tersebut.
Sarah yang menjadi Kasir dadakan, karena Alex masih berada di dapur memasaknya mie Aceh yang asli, bukan Sarahmie Goreng Aceh. Sarah langsung tersenyum cerah saat Inarius berhenti di depan meja Kasir.
“Ambil saja kembaliannya gadis cantik,” kata Inarius meletakkan Satu Koin Emas diatas meja Kasir. Sudut bibirnya memancarkan senyuman tipis dan mengedipkan sebelah matanya pada Sarah.
Sarah secara spontan mengedipkan kedua matanya berkali-kali, sehingga para pelanggan Restoran Sarah tertawa terkekeh-kekeh melihat tingkah lucunya itu.
Seperti saat terakhir kali Inarius datang ke Restoran Sarah, ia kembali membuat kehebohan dengan berjalan dengan santai di udara dan menghilang entah ke mana perginya.
“Eh, dia telah pergi,” gumam Delilah menghela napas panjang dan berpikir akan memilih menyimpan rahasia tentang Inarius. Dia menduga Inarius mungkin sedang menyelidiki rahasia Alex dan suatu hari nanti akan menyerang Alex. Saat itu terjadi, ia dan rekan-rekannya akan membantu Inarius mengalahkan Pendekar Benua Grandland. “Hmm, aroma lezat apa ini?”
Delilah mencium aroma makanan yang menggiurkan. Tiba-tiba Alex lewat di hadapannya membawa Piring berisi mie berwarna Kuning dan tebal serta ada irisan daging, udang dan cumi diatas mie tersebut.
“Bos, apakah itu Sarahmie Mie Goreng Aceh?” tanya Ron sembari menyeka air liurnya. “Atau itu adalah menu baru lagi?” tanyanya penasaran.
Alex tersenyum lebar saat menoleh ke arah Pengusaha bertubuh gemuk yang merupakan pelanggan awal Restoran Sarah tersebut. “Ini memang versi asli Sarahmie Goreng Aceh, aku memberinya nama Mie Aceh saja karena ada beberapa variannya. Ini adalah varian kering, yang lain ada varian basah dan nyemek. Namun, Aku membuat ini karena Sarah ingin makan mie, sementara Kami tidak memiliki simpanan Sarahmie ... makanya Aku membuat Mie Aceh ini.”
“Buatkan saja Bos!” seru Ron dengan semangat dan mata berkaca-kaca. “Aku akan langsung memesan varian kering, nyemek, dan basah agar tidak terbawa ke alam mimpi.”
Alex mengerutkan keningnya mendengar perkataan Ron. “Jangan bertingkah imut! Bukannya terlihat menggemaskan, Kamu malah terlihat menjijikkan!”
Ron tertawa terkekeh-kekeh dan berhenti bertingkah imut. “Tapi ... Bos Alex akan membuatkan Aku tiga varian mie Aceh itu, kan?” sahutnya, “tidak apa-apa Satu variannya 100 Koin Perak. Itu adalah harga yang wajar bila dimasak langsung oleh Koki Legendaris seperti Bos Alex.”
__ADS_1
Ron sengaja menyebutkan harga termurah di Restoran Sarah agar Alex tidak membuat harga yang lebih tinggi, mengingat Alex selalu membuat harga yang mahal untuk setiap menu di Restoran Sarah walaupun harga wajar di Restoran lain jauh lebih murah.
Gado-gado misalnya, di Restoran Sarah harganya adalah 100 Perak. Sementara di Restoran di wilayah Barat Kota Perdamaian harganya hanya 10 Koin Perak saja.
Alex berpikir sejenak. “Sepertinya itu adalah ide yang bagus dan akan menjadi daya tarik tersendiri Restoran Sarah ini, mengingat pelanggan kami semakin berkurang karena semakin berjamur Restoran yang mirip dengan Restoran Sarah dengan harga yang jauh lebih murah.”
Bahkan di wilayah Timur banyak Restoran baru yang memiliki nama yang mirip dengan Restoran Sarah, seperti Restoran Salah, Restoran Sarrah, Restoran Sarah anak Bu Ivankof dan sebagainya. Hal itu membuat wisatawan dari luar Kota Perdamaian kebingungan, untung saja para Kusir Kereta Kuda memberitahu mereka Restoran Sarah yang asli ada di wilayah Barat.
“Baiklah, Mie Aceh akan dimasukkan ke dalam daftar menu dan juga mulai besok mie ayam serta mie ayam bakso akan masuk daftar menu,” kata Alex yang membuat Ron dan pelanggan lainnya senang. Beberapa pelanggan yang hendak meninggalkan Restoran segera kembali ke tempat duduknya untuk memesan mie Aceh.
Mereka sangat penasaran rasa mie Aceh buatan Alex tersebut dan meyakini itu pasti jauh lebih lezat dari Sarahmie Mie Goreng Aceh, karena Alex mengatakan itu adalah versi asli dari Sarahmie Mie Goreng Aceh.
“Yeay ... mie untuk Sarah sudah datang!” Sarah tersenyum cerah. “Terimakasih Ayah!” Dia mencium pipi Alex.
Sarah juga sengaja makan di meja Kasir agar semua pelanggan melihatnya memakan Mie Aceh dengan lahap.
Zelma melirik Delilah yang duduk disebelahnya, sudut bibirnya memancarkan seringai tipis.
Delilah keheranan melihat ekspresi wajah Penyihir yang terlihat seperti gadis remaja berusia 12 tahun tersebut, padahal usianya sebenarnya adalah 28 tahun atau seusia dengannya.
“Pinjam dulu uangmu Satu Koin Emas, Aku lupa membawa Kantongku,” bisik Zelma.
“Tapi Aku hanya memiliki Koin Emas Kekaisaran Suci Kuil Matahari, apakah itu dapat digunakan di Benua Grandland ini?” sahut Delilah.
__ADS_1
Zelma langsung menghela napas panjang, walaupun sama-sama Koin Emas. Namun, mata uang Benua Vlorien pasti memiliki lambang berbeda, sehingga tidak akan bernilai di Benua Grandland.
Namun, tiba-tiba Zelma mendapatkan ide untuk mendapatkan uang. Dia langsung menarik tangan Delilah dan berjalan keluar dari Restoran Sarah.
“Bos, Kami keluar sebentar, ya!” seru Zelma saat melewati Alex yang berdiri di sebelah meja Kasir.
Alex tidak menyangka dua gadis yang seharusnya bermusuhan itu akan berteman baik dengan mudah, karena di Benua Vlorien; Penyihir dan Kesatria Suci selalu bertikai.
“Ya, jangan lama-lama! Ingat, piring kotor sudah menumpuk di dapur!” sahut Alex yang membuat Zelma hampir terjungkal.
Ketika Zelma dan Delilah mengatakan akan ikut dengannya ke Kota Perdamaian, Alex langsung memberikan syarat bila mereka ikut maka mereka harus mencuci piring di Restorannya sebagai biaya menginap gratis dan sebagai bonusnya ia memberikan jatah makan gratis Tiga kali sehari.
“Tenang saja, Bos! Kami tidak akan kabur!” sahut Zelma terlihat kesal.
“Kita akan ke mana, Zelma?” bisik Delilah.
“Ke toko perhiasan untuk menukar uangmu dengan mata uang Benua Grandland,” sahut Zelma tersenyum lebar. “Setelah itu Kita akan makan mie Aceh,” katanya lagi.
Delilah terkejut mendengarnya, padahal ia mengira mereka akan menuju suatu tempat yang belum pernah ia kunjungi di Kota Perdamaian. Namun, ternyata tujuannya hanya ingin mendapatkan uang darinya dan Toko Perhiasan memang tempat paling tepat menukar Koin Emas Benua Vlorien, karena Toko Perhiasan itu akan melebur Koin Emas itu menjadi emas murni dan diolah menjadi perhiasan.
“Paman Rambo!” Zelma melambaikan tangan pada Rambo yang kebetulan menurunkan penumpang di depan Restoran Sarah.
“Nona Penyihir ... kalian mau ke mana?” sahut Rambo tersenyum hangat menyambut Zelma.
__ADS_1
“Bawa Kami ke Toko Perhiasan terdekat, Paman Rambo!” seru Zelma langsung naik ke dalam gerbong Kereta Kuda bersama Delilah.
“Asiapppppppp!” Rambo langsung melajukan Kereta Kudanya.