
Lycus mengerutkan keningnya, ternyata Cake Caprese tidak dapat meluluhkan hati Helena.
“Apakah Kamu masih marah karena Aku memaksa menikahimu?” Lycus berkata dengan suara rendah—hampir tak terdengar ditelinga para Pendekar Elf yang berjaga di sekitar Rumah Pohon Helena. “Apakah hatimu masih terikat dengan Alex? Kalau iya, maka lupakan saja dia karena dia telah melakukan huru-hara di Kota Ella dan Kaisar pasti akan menangkapnya.”
Helena yang mendengar Alex akan ditangkap oleh Kaisar langsung menitikkan air mata. Dia takut mereka tidak akan bisa bertemu lagi.
Dadanya terasa sesak dan bertanya-tanya bagaimana nasib Sarah nantinya bila Alex ditangkap oleh Kaisar? Apakah mereka akan memperlakukan Sarah seperti anak berdarah campuran lainnya, yang dikucilkan oleh orang-orang disekitarnya.
Helena meraih kertas berisi lukisan wajah Sarah yang tersenyum cerah yang dikirim oleh Damian dari Kota Perdamaian beberapa hari yang lalu.
Dalam surat yang dikirim oleh tangan kanannya itu, Alex kini menjadi Koki dan memiliki sebuah Restoran yang sangat terkenal di sana.
Saat pertama kali membaca surat itu, Helena sangat senang dan tak sabar ingin berjumpa dengan suami dan putrinya itu. Namun, Tetua Agung tiba-tiba memperketat penjagaan di Rumah Pohonnya sehingga ia tidak bisa melarikan diri dari Hutan Abadi.
Helena juga curiga kalau Tetua Agung akan memaksa dirinya menikah dengan Lycus saat Lycus mengetuk pintu rumahnya. Dia tentu menolak keras gagasan pernikahan itu, sementara suaminya sendiri masih ada dan bahkan bila Alex telah tewas dirinya tetap tidak akan mau menikah dengan Pria manapun.
Helena menghela napas dalam-dalam karena mendengar suara Lycus yang membuatnya jijik tersebut. “Lycus... tolong jangan ganggu Aku lagi.”
Lycus akhirnya tersenyum lebar setelah mendengar suara Helena yang telah lama tak terdengar di telinganya. Dia hendak mengetuk Rumah Pohon Helena, tetapi ia urung melakukannya karena untuk melelehkan hati seorang wanita tidak dapat dilakukan dalam sekejap. “Baiklah Helena... Aku akan menaruh Cake Caprese di depan rumahmu dan makanlah walaupun satu gigitan saja agar kamu tidak sakit,” sahut Lycus sembari berbalik badan dan menjauh dari rumah Pohon Helena.
Setelah Rumah Pohon Helena dijaga ketat oleh Pendekar Elf, Helena sudah tidak pernah mencicipi makanan lagi. Dia selalu menolak membukakan pintu rumahnya sehingga para Pelayan Elf terpaksa membawa kembali makanan yang mereka bawa untuknya.
“Cih, lebih baik aku mati daripada menuruti keinginan kalian!” Helena mencibir Lycus dan Tetua Agung Elf.
__ADS_1
...***...
Alex tidak menyangka perbatasan Kerajaan Hutan Abadi dengan Kekaisaran Hazel dijaga ketat oleh Pendekar tingkat tinggi. Dia curiga ucapan Damian memang benar kalau Helena akan dipaksa menikahi Lycus.
“Terbang yang tinggi, Pegasus!” seru Alex agar para Pendekar di perbatasan itu tidak menyadari keberadaan mereka.
Pegasus langsung terbang menjulang tinggi ke balik awan di langit.
“Lycus... sepertinya hubungan persaudaraan kita cukup sampai di sini saja! Salah satu diantara kita harus meninggalkan Dunia ini selamanya,” gumam Alex dan tiba-tiba darahnya langsung mendidih sehingga elemen apinya bergejolak yang membuat tubuhnya dipenuhi kobaran api.
“Eh, Ayah... kamu terbakar!” teriak Sarah sembari menempelkan telapak tangannya di dada Alex, kemudian semburan air yang sangat deras menghempaskan Alex dari punggung Pegasus.
Butuh beberapa tarikan napas bagi Alex untuk menyadari apa yang terjadi padanya, kemudian ia berteriak keras agar Pegasus menangkap tubuhnya yang sedang jatuh dengan kecepatan tinggi.
“Hei, cepat kembalikan Aku ke punggungmu atau kita akan ketahuan oleh para Pendekar di bawah sana!” gerutu Alex, tetapi Pegasus tetap menyeringai dan terbang sejajar dengannya. “Baiklah, saat kita kembali ke Restoran Aku akan membuatkanmu gulai Daun Ubi Tumbuk satu ember besar.” Terpaksa Alex menuruti kemauan Pegasus agar dirinya dikembalikan ke punggung Monster peliharaannya itu.
“Wah, selamat Pegasus... akhirnya Ayah mau membuatkanmu Daun Ubi Tumbuk,” kata Sarah ikut bahagia mendengarnya.
Alex bernapas lega setelah kembali ke punggung Pegasus. Andai saja dia jatuh dari ketinggian ini, mungkin tubuhnya akan hancur berkeping-keping walaupun dirinya Pendekar yang memiliki fisik diatas rata-rata penduduk biasa.
Namun, ia sedikit penasaran; apakah fisiknya bertambah kuat setelah menyerap kekuatan Dewa Hercules? Akan tetapi ia tidak berani melompat dari ketinggian saat ini untuk membuktikannya.
Setelah terbang selama Tiga Puluh menit di wilayah Hutan Abadi, Alex menyuruh Pegasus mendarat di tempat yang sangat sunyi atau tidak ada Elf yang berkeliaran di sana.
__ADS_1
“Ikutilah kami dari langit dan saat Aku bersiul, segeralah datang menjemput kami!” seru Alex pada Pegasus yang langsung menganggukkan kepala tanda memahami perkataan Alex. Kemudian Pegasus terbang dan menghilang di langit.
Alex menambahkan telinga karet pada telinganya agar terlihat mirip dengan telinga Elf yang runcing, sedangkan untuk Sarah tidak perlu ditambahkan lagi karena fisiknya serupa dengan Elf.
“Ayo kita menjemput Ibumu, Sarah!” Alex menggendong Sarah yang terlihat gugup dan terdengar jelas suara detak jantungnya berdebar kencang.
“Seperti apa wajah Ibuku, Ayah? Apakah dia mirip dengan Sarah?” sahut Sarah bertanya pada Alex dan pertanyaan itu sudah keseribu satu kali ia tanyakan.
Alex tersenyum hangat dan menjawab seperti biasanya, “Ibumu secantik dirimu dan dia juga sangat baik sekali. Dia tidak bisa datang menjumpaimu karena ada kendala yang membuatnya tertahan di Hutan Abadi.”
Biasanya Sarah akan senang setelah mendengar jawaban Alex. Namun, kali ini ia malah tertegun.
Alex menduga Sarah sangat gugup dan tidak dapat memikirkan apa yang akan ia ucapkan nanti saat bertemu Helena, apalagi ini adalah pertemuan pertama mereka setelah ia dipisahkan dari Helena ketika baru saja dilahirkan ke dunia ini.
Alex mencubit pipi mungil Sarah sembari tersenyum hangat dan berkata, “Jangan khawatir... Ayah akan membantumu agar akrab dengan ibumu.”
Sarah menatap wajah Alex dengan mata berbinar-binar. “Baik, Ayah!”
Suara dentuman Petir tiba-tiba memecahkan kesunyian hutan di sana dan bayangan hitam melesat di atas pepohonan yang melaju ke arah ibukota Kerajaan Hutan Abadi.
“Hmm, cuaca sedang cerah, kenapa terdengar suara dentuman Petir? Apakah akan segera hujan?” gumam Pendekar Elf tingkat 2 yang sedang bersembunyi di semak-semak menunggu Monster yang lewat. “Ha-hantu!” Dia terkejut melihat bayangan hitam melintas di depannya dan juga terdengar suara tawa anak-anak yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Pemuda Elf itu segera berlari tunggang-langgang dan beberapa kali tersungkur saking takutnya. Dia akhirnya mengerti kenapa tempat ini dinamakan Hutan Kesunyian, itu karena Hutan ini sangat angker dan ada Hantu yang menghuninya.
__ADS_1
“Oh, Dewi Luna tolong selamatkan Aku!” Pemuda Elf itu berdoa dalam benaknya. “Bila Aku berhasil keluar dari Hutan Kesunyian maka Aku akan mengunjungi dan berdoa di Kuil-Mu setiap hari,” katanya lagi.