Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris

Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris
Kerjasama Bisnis


__ADS_3

Alex sudah tahu apa tujuan Margareth mendatangi Restorannya. Dia segera memasak Dua Mangkuk Bakso untuknya dan Evelyn.


Hannah kemudian membawa Dua Mangkuk Bakso itu ke meja Margareth yang langsung melirik ke arah dapur dan bingung kenapa Alex belum keluar dari sana.


“Bos Alex sedang mempersiapkan contoh produk yang ditunjukkan pada Nona Margareth,” kata Hannah setelah selesai menyajikan hidangan untuk mereka.


Margareth mengangguk pelan dan menatap hidangan baru bernama Bakso di mangkuk. Dia tidak menyangka Alex akan menyuguhkan makanan yang tidak pernah ia lihat, sehingga membuatnya penasaran dengan indentitas Alex. Evelyn sudah mencoba mencari tahu identitas Alex, akan tetapi tak ada informasi apapun tentang dirinya kecuali ia datang ke Kota Perdamaian Empat tahun yang lalu.


Sama seperti Uran dan Leonardo, Evelyn dan Margareth merasa tubuh mereka lebih berenergi serta men.de.sah kenikmatan. Keduanya tampak malu setelah mengeluarkan suara de.sa.han itu, untung saja Alex masih berada di dapur.


“Kenapa kamu tidak memperingatkan kami, Sarah?” kata Margareth menatap Sarah yang tertawa terkekeh-kekeh.


“Kalau Sarah memberitahu Kakak Margareth, maka Kalian akan mengantisipasinya sehingga tidak akan tersipu malu,” sahut Sarah yang masih tertawa terkekeh-kekeh.


Margareth menggelengkan kepala dan tidak menyangka ada makanan yang dapat membuat seseorang men.de.sah kenikmatan.


Alex datang dari dapur membawa nampan berisi piring berisi Mie Instan rasa Mie Goreng Original dan mangkuk berisi rasa Soto Lamongan. Dia juga meletakkan di piring terpisah Mie Instan yang tidak dimasak beserta bumbu-bumbunya.


“Apakah ini produk yang akan kita produksi massal itu?” selidik Margareth, karena Hannah sudah memberitahunya kalau Alex sedang mempersiapkan produk percontohan itu di dapur.


Margareth melihat itu mirip dengan Mie pada Bakso yang ia makan tadi. Namun, Mie yang dibawa Alex lebih tebal dan tidak memiliki bola Bakso tentunya.


Alex menganggukkan kepala, sudut bibirnya memancarkan senyuman tipis. “Benar sekali dan ini dinamakan Mie Instan, hanya perlu direbus dengan air panas saja; sudah dapat dimakan.”


Margareth terkejut mendengarnya, Mie Instan itu praktis sekali. Siapapun pasti dapat membuatnya tanpa harus memiliki skill memasak.


“Coba rasakan dulu, barulah kita berdiskusi tentang kerjasama bisnis kita,” kata Alex lagi sembari duduk di seberang Meja.

__ADS_1


Margareth mengambil Sendok dan mencoba Mie Instan rasa Mie Goreng Original lebih dulu.


Alis matanya mengkerut, terkejut rasa mie yang terlihat sederhana itu sangat enak sekali. Kemudian ia mencoba Mie Instan yang ada di mangkuk dan menghela napas panjang.


“Rasa Mie Goreng Original itu sangat nikmat. Aku yakin pasti banyak yang menyukainya dan yang di mangkuk itu mirip dengan Sup tetapi berbeda, tentunya sangat nikmat juga. Namun, Aku bingung apakah itu bisa dikemas dalam waktu lama?” kata Margareth setelah mencicipi Dua jenis Mie Instan itu.


Alex menyunggingkan senyuman penuh makna. “Solusinya ada pada bumbu-bumbu ini!” sahutnya sembari menunjuk bumbu yang berada dalam mangkuk kecil. “Untuk membuat Mie Instan rasa Mie Goreng Original, mie mentah ini dimasak beberapa menit di wadah air mendidih. Kemudian tiriskan airnya dan campurkan dengan kecap, bubuk cabai, minyak dan penyedap rasa.”


(Mie instan goreng yang biasanya dijual di luar Jawa itu tanpa saus)


“Sedangkan Rasa Soto Lamongan, menambahkan bumbu penyedap rasa, minyak, saus dan Koya,” kata Alex, “untuk Penyedap Rasa dan Koya, maka Aku yang akan menyuplai pada kalian agar tidak ada Karyawan yang menyelundupkan resepnya pada pihak lain. Namun, untuk yang lain kurasa itu hanya bumbu umum yang koki manapun dapat membuatnya, Aku hanya perlu menulis takaran penyajiannya saja.”


Alex terus menjelaskan bahwa Mie Instan ini sangat awet dan dapat bertahan selama Satu tahun setelah diproduksi. Dia juga menjelaskan bumbu-bumbu itu dikemas dalam kemasan plastik yang kemudian dimasukkan lagi dalam kemasan plastik berisi Mie mentah kering yang telah diberi gambar dan Merk serta cara pengolahannya.


Alex menggambar kemasan Mie Instan dari ingatan di kehidupan sebelumnya pada kertas bergambar.


Awalnya ia mengira kerjasama dengan Alex hanya sebatas menargetkan pasar Kota Perdamaian saja. Namun, kini ia ingin memasok ke seluruh Benua Grandland dan akhirnya ia mengerti kenapa Alex menyuruhnya untuk membuat Perusahaan yang lepas dari bayang-bayang Keluarga Donovan. Alex tidak ingin kerja kerasnya malah diambil oleh Paman-Paman Margareth di masa depan.


“Kira-kira berapa biaya produksi membuat satu bungkus Mie Instan?” tanya Margareth merasa Alex sangat jenius dan memiliki perhitungan yang matang.


Alex tersenyum tipis, masalah seperti itu bukan keahliannya makanya ia menyerahkan ide membuat perusahaan pada Margareth, karena ia tidak berpengalaman dalam bidang bisnis.


“Aku hanya mengabiskan 5 Koin Perak untuk semua ini, karena sebagian bahannya sudah tersedia di dapur. Namun, untuk menjangkau masyarakat bergaji rendah maka sebaiknya harganya berkisar 10 Koin Perak saja,” sahut Alex memperhatikan tanggapan Margareth yang sedang tertegun. “Karena memproduksi dalam jumlah besar maka biaya produksi pasti akan lebih rendah lagi. Kamu mengambil tenaga kerja dari wilayah timur saja, hanya dengan Satu Koin Emas maka pasti banyak anak-anak muda yang akan mendaftar.”


“Benar juga, Aku akan mengikuti saran tuan Alex,” sahut Margareth.


Biasanya Perusahaan Keluarga besar selalu mempekerjakan anggota keluarga mereka saja sehingga Perusahaan akan menggaji mereka lebih tinggi dari Upah Minimum Kota Perdamaian. Namun, bila ia memperkerjakan tenaga kerja dari wilayah timur maka itu akan menghemat pengeluaran Perusahaan dan tentunya akan mendatangkan keuntungan lebih besar serta akan memperkuat posisinya dalam persaingan menuju tampuk pimpinan Keluarga Donovan.

__ADS_1


Margareth mengeluarkan kertas berisi perjanjian kerjasama mereka dan Alex akan menjadi Pemilik 35% Hak Kepemilikan Perusahaan Margareth tersebut.


Margareth bahkan menambahkan hak istimewa untuk Alex, di mana ia dapat mengintervensi keputusan Perusahaan bila ia merasa itu tidak bagus.


Keduanya kemudian berjabat tangan, Margareth akan segera membangun Pabrik di wilayah pinggiran wilayah timur dan merekrut ribuan tenaga kerja dari wilayah timur.


“Oh, ya... apa nama brand Mie Instan itu nantinya?” tanya Margareth yang telah berjalan menuju pintu Restoran.


“Itu adalah hak Nona Margareth,” sahut Alex mengangkat bahunya. “Anda adalah pebisnis, tentu lebih tahu tentang strategi pemasaran,” katanya lagi sembari tersenyum tipis.


“Bagaimana Sarahmie saja?” sahut Sarah yang sedang asyik memain-mainkan Koin Perak di laci meja Kasir.


“Nama yang bagus!” seru Margareth tersenyum lebar menatap Alex yang tampak menggelengkan kepala. “Sarahmie Goreng Original dan Sarahmie Soto Lamongan terdengar keren, kok,” katanya lagi sembari meninggalkan Restoran Sarah.


Hannah dan Sarah tertawa terkekeh-kekeh mendengar nama brand Mie Instan itu, sedangkan Alex hanya bisa pasrah saja nama Putrinya akan menjadi Merk Mie Instan.


...***...


Ron dan Uran kembali datang saat makan malam, begitu juga dengan Margareth walaupun ujung-ujungnya mereka membahas tentang pendirian Perusahaan.


Setelah mereka meninggalkan Restoran, tak ada lagi pelanggan yang datang hingga akhirnya Alex menutup pintu Restoran pada pukul 9.00 malam.


Tengah malam, setelah Sarah terlelap tidur, Alex keluar dari kamarnya dan melompat ke atap Restoran.


“Kamu akhirnya keluar juga,” kata Elizabeth yang berdiri di punggung Monster Bangau Putih tingkat 9.


“Ini demi keselamatan Putriku,” sahut Alex melompat ke punggung Monster Bangau Putih.

__ADS_1


Mordor kemungkinan telah menjadi pengikut Dewa Cthulhu dan Dia mengincar Sarah untuk dijadikan sebagai wadah, itulah mengapa Alex ingin melihat langsung bagian tubuh Dewa Cthulhu yang tersegel di Hutan Monster tersebut dan mencari cara untuk melenyapkannya.


__ADS_2