Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris

Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris
Hutan Abadi III


__ADS_3

Alex tidak langsung menuju rumah Pohon Helena saat sampai di ibukota Kerajaan Hutan Abadi. Dia justru menuju Kuil Dewi Luna untuk mencari keberadaan Kekuatan milik Dewi Luna yang kemungkinan besar tersimpan di sana.


Ekspresi wajah Alex langsung mengkerut menatap Patung Dewi Luna yang berpose seperti idol; mengedipkan sebelah matanya dan jari tangan membentuk tanda cinta atau love. (❤️)


“Apa Dewi ini juga bereinkarnasi atau diisekai seperti Dewa Hercules?” gumam Alex, “sepertinya Aku tidak perlu masuk ke dalam Kuil. Seperti Dewa Hercules, Dewi Luna mungkin juga menyimpan kekuatannya pada tempat yang paling nyeleneh.”


Alex menendang Patung Dewa Luna tepat di wajahnya yang tersenyum manis dan Patung itu langsung hancur berkeping-keping.


Para Elf yang sedang berkunjung ke Kuil Dewi Luna terkejut dengan tindakan yang dilakukan oleh Alex. Mereka mengutuknya dan menyerang Alex bersama-sama.


Namun, dentuman Petir memekakkan telinga membuat langkah mereka terhenti. Sesaat kemudian mereka tidak melihat keberadaan perusuh yang merusak Patung Dewi Luna tadi.


“Cepat cari Pria tadi! Jangan sampai murka Dewi Luna menghancurkan bangsa Elf kita!”


“Oh, Dewi Luna... tolong ampuni kami karena tidak dapat melindungi Kuil dengan baik!” Gadis Suci menangis di depan puing-puing Patung Dewi Luna.


Saint atau Pemimpin Suci Kuil Dewi Luna keluar dari Kuil dan langkahnya terhenti di depan puing-puing Patung Dewi Luna.


Semua Elf bertekuk lutut menghadap ke arah Saint berwajah cantik itu.


Saint itu tersenyum hangat yang membuat amarah para Elf itu segera memudar. Kemudian ia menjentikkan jarinya dan puing-puing Patung Dewi Luna tiba-tiba menyatu kembali seperti semula.


Semua Elf senang melihatnya, tetapi saat Saint itu berjalan kembali ke dalam Kuil terdengar suara helaan napas panjang.

__ADS_1


“Apakah ramalan itu segera terjadi?” gumam Saint itu dan ekspresi wajahnya menjadi sedih. “Semoga saja ramalan itu tidak terjadi,” pikirnya lagi sembari menatap lukisan yang terpahat di dinding Kuil—yang menggambarkan bencana mengerikan menimpa Hutan Abadi.


Kabar tentang kejadian di Kuil Dewi Luna sampai juga ke istana Kerajaan Hutan Abadi. Tetua Agung Elf terkejut mendengarnya dan memerintahkan Puluhan Pendekar menjaga keamanan Kuil itu. Dia tidak ingin Dewi Luna akan murka bila kejadian serupa terulang kembali.


Sementara itu, Lycus merasa ada yang aneh karena Patung Dewa Hercules juga dihancurkan dan waktunya hanya berjarak satu hari saja dengan kejadian di Kuil Dewi Luna.


“Apa yang spesial dengan Kedua Patung itu? Apakah itu menyimpan kekuatan Dewa?” gumamnya berspekulasi karena Wakil Kepala Akademi Kekaisaran pernah berkata padanya bahwa ia sedang meneliti tentang buku Kuno yang menceritakan tentang Dewa Hercules dan Dewa Cthulhu. Namun, saat itu Hendrix belum menemukan petunjuk apapun hingga tiba-tiba ia telah dibunuh oleh Alex. “Ian... cari tahu apa yang terjadi di Kuil Dewi Luna dan temukan juga siapa pelaku pengrusakan Patung itu!”


“Baik Pangeran Kedua,” sahut Ian yang merupakan Assassin Pendekar tingkat 9 yang sangat ahli dalam mencari informasi dan penyelidikan.


Setelah Ian pergi, Lycus tetap berdiri di depan jendela kamar sembari menatap ke arah rumah Pohon Helena. Dia merasa Alex ada hubungannya dengan penghancuran Kedua Patung Dewa tersebut—yang berarti Alex sudah berada di Hutan Abadi.


“Tak salah lagi, pasti dia pelakunya!” gerutu Lycus segera keluar dari kamarnya dan disaat bersamaan Elf cantik hendak mengetuk pintu kamarnya. “Ada apa?” tanya Lycus penasaran dengan tujuan gadis Elf itu.


“Oh, kebetulan juga Aku ingin menemuinya,” kata Lycus dengan santai sembari berjalan menuju Aula utama Istana Kerajaan Hutan Abadi itu.


Gadis Elf itu menatap punggung Lycus dengan tatapan penuh kebencian, karena ia merasa Lycus tidak menunjukkan rasa hormat pada Tetua Agung yang merupakan sosok terkuat Kedua setelah Ratu Elf yang sangat mereka cintai tersebut.


Lycus hanya menyeringai saja menanggapi tatapan penuh kebencian gadis Elf itu. Kalau saat ini hanya kunjungan kenegaraan biasa saja, maka ia akan membunuh gadis Elf itu tanpa peduli tanggapan dari Kerajaan Hutan Abadi. Namun, sekarang tujuannya adalah ingin menikahi Helena sehingga ia harus menahan amarahnya agar Helena tidak semakin membenci dirinya.


Tetua Agung Elf tampak muram saat Lycus memasuki Aula utama dan duduk di kursi paling dekat dengan singgasana Tetua Agung.


“Ada apa, Tetua Agung?” Lycus berbicara lebih dulu.

__ADS_1


“Pengintai kami menemukan Ribuan Orc memasuki Hutan Monster kami dan berburu di sana,” kata Tetua Agung yang tampak sangat kesal dengan ulah Orc tersebut. “Aku yakin mereka ingin memancing amarah kami dan bila kami menyerang mereka maka mereka akan beralasan bahwa Hutan Abadi melanggar perjanjian Seratus tahun yang lalu, kemudian melakukan invasi militer.”


Lycus tidak terkejut mendengar kabar itu, ia malah senang karena merasa para Orc membantunya menekan Hutan Abadi sehingga Tetua Agung terpaksa mempercepat proses pernikahan dirinya dengan Helena.


Lycus tersenyum tipis dan berkata, “Kalau Aku telah menikahi Helena, maka Pasukan militer Kekaisaran Hazel akan langsung menyerbu Kerajaan Orc. Jadi, apa yang Tetua Agung takutkan?”


Tetua Agung menatap Lycus tanpa berkedip, sesaat kemudian ia menghela napas panjang. “Benar juga... Hutan Abadi dan Hazel telah bekerjasama,” katanya dengan suara pelan. “Baiklah, Aku akan ke Rumah Pohon gadis keras kepala itu dan memaksanya menikahimu.”


Lycus hanya tersenyum mendengar ucapan Tetua Agung Elf itu, kemudian ia berjalan kembali ke kamarnya untuk melihat dari jendela; bagaimana wanita tua itu dapat membujuk keponakannya itu untuk menikah dengan dirinya.


Para Pendekar Elf segera menunjuk sikap hormat saat Tetua Agung melintas di hadapan mereka. Namun, Tetua Agung Elf mengabaikan mereka dan tatapannya lurus ke arah rumah Pohon Helena.


“Cih, Ibu dan putrinya sama saja!” Tetua Agung Elf menggerutu. “Keduanya sama-sama mementingkan dirinya sendiri saja dan tidak peduli dengan masa depan Hutan Abadi. Bahkan ibunya tetap mempertahankan tahta Ratu Elf walaupun dirinya telah bertahun-tahun bermeditasi di Rumah Pohonnya.”


Walaupun Tetua Agung sangat keras kepala, sebenarnya ia adalah sosok yang paling mencintai Kerajaan Hutan Abadi. Namun, para Elf terlalu takut dengan sikapnya yang tegas dan tidak segan-segan mengeksekusi mati siapapun yang menurutnya tidak mencintai Hutan Abadi—termasuk Helena yang langsung ia kurung di rumah Pohon setelah mengetahui Helena melahirkan anak dari Pria Ras Manusia.


Telapak tangan Tetua Agung mengeluarkan sinar terang saat menyentuh rumah Pohon Helena dan tiba-tiba batang pohon yang besar itu membuka celah yang dapat dimasuki atau selebar pintu.


Helena yang sedang membaca buku langsung meraih Pedang yang tergeletak di atas meja. Dia tampak terkejut, tatapan matanya penuh dengan kebencian saat menatap wanita tua di depan Rumah Pohonnya itu.


“Helena... Hutan Abadi akan diserbu oleh Kerajaan Orc!” seru Tetua Agung melangkahkan kaki ke dalam rumah Pohon Helena. “Nasib Kerajaan ini ada di tanganmu, kalau kamu menikahi Pangeran Kedua maka Kekaisaran Hazel akan membantu kita mengusir Kerajaan Orc. Namun, bila kamu menolak, semua Elf mungkin akan diperbudak... termasuk Yang Mulia Ratu!”


Tetua Agung sengaja mengungkit tentang Ratu Elf, karena ia yakin hati Helena akan luluh saat memikirkan ibunya yang kini tidak pernah keluar dari rumah pohonnya itu.

__ADS_1


__ADS_2