Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris

Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris
Kedatangan Tamu Asing


__ADS_3

“Sebenarnya Aku tidak butuh istirahat, yang kubutuhkan adalah makan makanan enak. Perutku sudah berbunyi dari tadi.” Alex menanggapi perkataan Aragon dengan senyum lebar. “Oh, ya, Pendekar adalah pekerjaan sampinganku, pekerjaan utamaku sebenarnya sebagai Koki Restoran kecil di Benua Grandland. Bagaimana kalau Aku memasak Monster Landak itu untuk Kita semua.”


Aragon dan semua Penyihir yang berkumpul di sekitar Alex langsung tercengang serta merasa perkataannya itu hanya bualan saja. Bagaimana mungkin sosok kuat yang mengalahkan Monster level diatas Penyihir tingkat tinggi dengan mudah itu—sebenarnya adalah Koki. Lebih tepatnya, Koki adalah pekerjaan sampingannya.


“Kalau begitu, Aku juga akan menyuruh beberapa Penyihir memotong-motong Monster Landak itu,” sahut Aragon menoleh ke arah Pipins dan Isen. “Hilangkan Perisai yang melindungi Menara Sihir ini dan panggil Koki Kita untuk memotong-motong tubuh Monster itu!”


“Jangan hilangkan Perisai Sihirnya,” sela Alex, “sejak kedatanganku ke Benua Vlorien ini, mereka sudah tahu Aku di sini. Seperti kata pepatah, sediakan payung sebelum hujan.”


“Ya benar, mungkin saja mereka tiba-tiba akan menyerang tempat ini,” sahut Aragon setuju dengan pendapat Alex.


Apalagi sejak kemunculan Alex di Benua Vlorien, tiba-tiba saja muncul mahkluk aneh yang belum pernah mereka lihat sebelumnya dan Monster itu sebenarnya telah tinggal bersama mereka selama ini.


Aragon membawa Alex menuju gedung utama Menara Sihir Tanah Tandus Ujung Barat tersebut. Kini yang tinggal di gerbang masuk Menara Sihir hanya Pipins dan Isen saja.


Keduanya saling berpandangan, tiba-tiba suasana menjadi canggung.


Beberapa saat yang lalu, Pipins mengaku menjadi kekasih adik perempuan Isen dan mereka akan menikah setelah Pipins kembali ke Menara Sihir Utama.


“Aku akan memanggil Koki ke dapur Menara Sihir,” kata Pipins tersenyum tipis sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan langsung pergi tanpa menunggu jawaban Isen.

__ADS_1


Melihat calon suami adik perempuannya itu pergi, Isen menghela napas panjang dan menengadah menatap langit dengan melankolis. Dia membayangkan tahun depan, anak kecil akan memanggilnya Paman.


Isen kemudian mendekati mayat Monster Landak di depannya. Itu dua kali lebih besar dari Menara Sihir Tanah Tandus Ujung Barat. Butuh peralatan masak yang besar untuk memasak Monster sebesar bukit kecil tersebut.


Isen merapalkan mantera Sihir Sabit Angin memotong duri-duri Monster Landak itu.


Butuh waktu beberapa menit memotong semua duri-duri itu, karena itu sama saja seperti memotong pohon-pohon disebuah bukit kecil, di mana ia harus bergerak mengitarinya agar Sihir Sabit Angin dapat memotong semua duri-duri itu.


Bagian memotong tubuh Monster Landak dilakukan oleh Koki Menara Sihir. Pipins dan Isen bertugas memotong-motong daging Monster Landak sebesar dadu atau kotak-kotak kecil sesuai dengan instruksi dari Alex. Sementara daging yang bagus dipotong lebih besar, karena akan dijadikan Rendang dan kata Alex itu adalah masakan yang tahan lama.


“Kakak Ipar lihat itu!” seru Pipins menarik tangan Isen yang sedang sibuk memotong-motong daging Monster Landak.


Isen kesal dengan ulah calon adik iparnya itu, tetapi saat tatapannya tertuju ke arah yang ditunjuk oleh Pipins. Isen langsung mengerutkan keningnya, karena dikejauhan tampak seseorang yang mengenakan pakaian Kesatria Suci berjalan di udara dan menuju ke arah mereka.


Pipins juga segera meraih gagang ember di sebelahnya dan berlari mengikuti Isen. Koki-koki Menara Sihir ikut berhamburan, ketakutan melihat Kesatria Suci yang muncul di kejauhan tersebut.


Lonceng peringatan kembali menggema di Menara Sihir Tanah Tandus Ujung Barat tersebut, gerbang masuk juga tertutup begitu Koki terakhir masuk ke dalam Menara Sihir.


“Apa yang terjadi, tuan Aragon?” tanya Alex yang sedang duduk santai di ruang tamu Menara Sihir. Seorang Penyihir menghampiri Aragon sesaat setelah Lonceng peringatan terus berbunyi.

__ADS_1


“Kesatria Sihir dengan level Kekuatan yang tidak dapat diukur muncul di depan Menara Sihir,” sahut Aragon.


“Ooh,” sahut Alex yang sebenarnya sudah merasakan keberadaan sosok misterius tersebut. Sosok misterius itu mempunyai energi Sihir yang mirip dengan Inarius, sehingga ia menduga sosok misterius itu mungkin salah satu dari Tujuh Malaikat Penjaga. Namun, tiba-tiba ia teringat dengan Monster Landaknya. “Bagaimana dengan daging Monster Landak Kita?” tanyanya dengan panik.


Alex sudah menahan lapar sejak tadi dan Menara Sihir Tanah Tandus Ujung Barat hanya menyuguhkan Roti kering serta segelas air putih saja untuk mengganjal cacing-cacing yang berdendang ria di perutnya m


Aragon terkejut melihat ekspresi wajah Alex yang justru mengkhawatirkan keadaan Monster Landak daripada keselamatan mereka, padahal yang muncul itu adalah Kesatria Suci Kuil Matahari yang tidak dapat dikalahkan oleh para Penyihir. Bahkan Penyihir Agung Xavier tak berdaya di hadapan Kesatria Suci tingkat tinggi Kuil Matahari.


“Sepertinya para Koki berhasil membawa beberapa ember berisi daging Monster, tetapi lebih dari setengahnya terpaksa ditinggalkan di luar Menara Sihir,” sahut Penyihir yang melapor kepada Aragon.


Menara Sihir tiba-tiba bergetar hebat, Ribuan kelelawar Api menabrakkan diri ke Perisai Sihir.


Aragon langsung berkeringat dingin, karena ledakan yang ditimbulkan oleh Kelelawar Api itu setara dengan Kekuatan Penyihir tingkat tinggi. Tak lama lagi, Perisai Sihir pasti tidak akan dapat menahan ledakan Api itu.


“Dagingku yang berharga!” bisik Alex mengigit bibirnya. “B.a.j.i.n.g.a.n mana yang menyia-nyiakan bahan makanan yang berharga itu, sebagai Koki Aku merasa seperti dihina olehnya!”


Aragon semakin dibuat bingung, hanya gara-gara daging Monster Landak; Alex dibuat murka oleh Kesatria Suci misterius tersebut.


“Pendekar Alex ....” Aragon hendak menenangkan amarah Alex dan mengajaknya berdiskusi tentang cara melawan Kesatria Suci tersebut. Namun, Alex sudah menghilang dari pandangannya hanya dalam satu kedipan mata saja dan menyisakan jendela kaca yang telah hancur berkeping-keping, kemungkinan jendela itu rusak ditabrak oleh Alex. “Panggil semua Penyihir tingkat menengah dan yang lainnya suruh bersembunyi di ruang bawah tanah!” seru Aragon pada Penyihir disebelahnya.

__ADS_1


“Baik Pemimpin Menara!” sahut Penyihir itu tiba-tiba memudar menjadi gumpalan Pasir, kemudian gumpalan Pasir itu melesat menuju pintu keluar ruang tamu.


Aragon segera merapalkan mantera Sihir Angin yang membuat dirinya dapat melayang di udara, kemudian ia melesat keluar dari jendela dan menuju ke arah gerbang Menara Sihir.


__ADS_2