Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris

Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris
Gulai Asam Pedas Monster Hiu


__ADS_3

“Tu-tuan Alex tunggu!” Draven mengejar Alex. “Sebenarnya Kami memiliki beberapa Monster Tuna Sirip Biru. Aku akan menyuruh Troya mengantarnya ke Restoran Sarah, tapi maaf tuan ... Kami hanya bisa memberikan Dua Puluh Ekor saja ... itu tidak apa-apa, kan?”


Draven sebenarnya telah mengumpulkan Monster Tuna Sirip Biru dan Tuna-Tuna lainnya yang akan dibawa ke Istana Kerajaan Iblis. Namun, Koki Istana pasti tidak dapat memasaknya menjadi hidangan yang enak. Satu-satunya cara agar Tuna itu diolah menjadi enak adalah menunggu Alex merilis resepnya di Koran Guild Pandora.


Alex tersenyum lebar menatap Draven. “Dengan tulus Aku mengucapkan terimakasih, Pangeran Draven. Kamu sangat baik sekali, kalau Kamu menjadi Raja suatu hari nanti ... Aku yakin Anda akan menjadi Raja yang bijaksana dan baik hati.”


Draven mengerutkan keningnya, kenapa rasanya gaya bicara Alex seperti dirinya saja? Sehingga ia berpikir mungkin Alex sebenarnya tidak sebaik yang diberitakan oleh Koran Guild Pandora. Rasanya seperti dirinya sedang dipermainkan saja dan ia di sugesti tidak dapat melawan.


Alex menepuk pundak Draven yang terlihat linglung. “Jangan sampai tertinggal Pangeran, sebentar lagi Es-nya akan mencair. Apa Pangeran Draven ingin mandi malam-malam begini? Kalau iya Aku akan pergi lebih dulu.”


Draven hanya tersenyum masam, kemudian mempercepat langkahnya agar tidak tertinggal jauh dari Alex.


“Oh, ya, Putriku akan berulang tahun beberapa hari lagi, jadi ... antarkan Tuna Sirip Birunya lebih cepat, ya?” kata Alex lagi—yang membuat Draven terbatuk-batuk, karena ia menyangka diundang ke pesta ulang tahun Putri Alex. Eh, ternyata hanya ingin agar Tuna Sirip Birunya dikirim segera.


...***...


Hades sangat senang melihat Alex kembali ke Desa Iblis tua yang kini menjadi keluarga barunya tersebut. Dengan kedatangan Alex, berarti Monster-monster Ikan telah dikalahkan karena Pangeran Draven dan bawahannya ikut datang menemani Alex.


Walaupun bersama Alex hanya beberapa Jam saja, Hades sudah merasa Alex seperti Paman kandungnya saja—padahal mereka berbeda Ras.


“Paman, pakaianmu penuh dengan darah? Apakah Monster Hiu itu sangat kuat?” tanya Hades penasaran, beberapa bocah-bocah Iblis juga ikut mengerumuni Alex untuk mendengarkan bagaimana Alex menaklukkan Monster Hiu itu.


“Ah, Aku lupa membersihkan diriku,” sahut Alex tersenyum hangat. Kemudian ia menghela napas dalam-dalam dan berkata, “Pertarungan itu sangat sulit, Aku hampir dimakan oleh Hiu itu berkali-kali. Namun, setiap kali Aku hampir kalah, Aku teringat dengan kalian. Kalau Aku mati, siapa yang akan melindungi Pulau ini? Aku segera bangkit dan melawan serta terus melawan walaupun berkali-kali dihempaskan oleh Hiu yang sangat kuat itu.”


Draven dan para Pendekar Iblis mengerutkan kening mendengar cerita dramatis Alex. Bahkan beberapa Iblis menatap Draven, karena merasa tingkat akting Alex sudah melewati kehebatan Pangeran Draven.

__ADS_1


“Bagaimana Paman mengalahkannya?” tanya Hades sangat penasaran dan sudah tidak sabar ingin mendengar akhir pertarungan itu.


Alex menengadah menatap langit yang dihiasi kelap-kelip Bintang, kemudian menghela napas dalam-dalam. “Saat sedang merasa putus asa, sebuah suara muncul di benakku dan itu terdengar seperti suara Putriku. Oh, ya, namanya Sarah dan akan berusia Lima tahun beberapa hari lagi.”


“Yah!” Hades dan bocah-bocah Iblis lainnya kecewa, karena Alex malah membicarakan tentang Putrinya—padahal ceritanya hampir k.l.i.m.a.k.s.


Alex tersenyum lebar dan berkata, “Saat Hiu itu lengah, Aku memotong kepalanya dengan Pedang Meteor di punggungku ini. Kalian mendengar suara sambaran Petir memekakkan telinga, kan? Itu adalah Elemen Sihirku ha-ha-ha.”


Hades dan bocah-bocah Iblis bersorak gembira setelah mendengar akhir pertarungan itu. Mereka tidak menyangka suara dentuman Petir memekakkan telinga tadi berasal dari bilah Pedang Meteor Alex.


Seorang Pemuda Iblis menghampiri Alex dan memberinya pakaian yang baru ia beli dari Toko Pakaian.


Saat Alex ingin memberinya Satu Koin Emas, Pemuda Iblis itu langsung menolaknya karena ia tulus membantu Alex. Dia juga mengatakan sangat senang dapat membantu idolanya tersebut, karena ia bercita-cita menjadi Pendekar terkuat di Benua Grandland.


Alex tentu memuji kebaikan Pemuda itu dan mengatakan selama ada kemauan, suatu hari nanti ia pasti akan menjadi Pendekar tingkat tinggi yang sangat kuat.


Dia juga meminta Pendekar Manusia berelemen Sihir Batu membuat tungku dan menyuruh Pendekar Iblis mengambil kayu bakar.


“Pangeran Draven! Tolong belikan Jeruk nipis, daun salam, serai, daun kunyit, asam Kandis, cabai merah ....” Alex menyuruh Pangeran Pertama Kerajaan Iblis itu berbelanja bumbu.


Draven yang tidak pernah memasak itu, langsung mengerutkan keningnya karena ia tidak dapat mengingat semua yang dikatakan Alex.


“Troya! Catat semua yang dikatakan oleh tuan Alex dan belikan semuanya!” seru Draven ke Troya yang berdiri di sebelahnya.


Troya menyesal tidak berpura-pura sedang sibuk agar tidak disuruh oleh Draven. Kini, ia terpaksa membeli semua yang dikatakan oleh Alex ke Toko terdekat.

__ADS_1


“Apakah daging Monster Hiu itu enak digulai Asam Pedas?” tanya Draven penasaran.


“Tentu saja enak,” sahut Alex dengan percaya diri, karena gulai asam pedas yang akan ia masak merujuk pada Asam Padeh Ikan Tongkol rumah makan Padang di Bumi.


Rumah makan Padang sangat terkenal dengan masakan khas Minang-nya dan ada di mana-mana di wilayah Indonesia.


Alex yakin, Asam Pedas Monster Hiu ini juga akan seenak Asam Padeh Ikan Tongkol rumah Padang asalkan bumbu yang digunakan untuk memasaknya sama.


“Kau! Masukkan air ke dalam Wajan itu!” seru Alex pada Pendekar Manusia yang duduk dengan santai di bawah Pohon Kelapa.


Alex yakin Pendekar Manusia itu sedang menunggu Asam Pedas Monster Hiu buatannya. Namun, Alex berpikir enak saja dia hanya makan gratis tanpa melakukan apa-apa, sementara Pangeran Draven dan warga Desa sibuk memotong-motong tubuh Monster Hiu menjadi potongan-potongan kecil.


Pendekar Manusia itu menunjuk dirinya sendiri. “Apakah Pangeran Alex menyuruhku?” sahutnya dengan senyum masam.


“Siapa lagi? Hanya Kamu yang rebahan di sana, kecuali ada Hantu bersamamu,” sahut Alex.


“Ba-baiklah Pangeran!” Pendekar Manusia itu tidak berani menolak perintah Alex dan segera mengambil ember, kemudian pergi ke sumur milik penduduk.


Iblis-Iblis wanita membantu Alex menggiling cabai merah dan membuat bumbu halus, sehingga ia hanya perlu mengatur takaran penggunaan bumbu saja saat dimasukkan ke dalam Wajan berukuran besar tersebut.


“Pangeran Draven! Kamu mau ke mana?” Alex memanggil Draven yang diam-diam berjalan menjauh dari Alex.


Draven menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Aku ingin membantu mengumpulkan kayu bakar untuk membuat Api unggun, tuan Alex!”


Perasaannya tak nyaman dan menduga Alex akan menyuruhnya mengerjakan pekerjaan remeh lagi. Padahal ia adalah Pangeran yang seharusnya duduk di singgasana dan para penduduk akan melayani keperluannya, tetapi di hadapan Alex, ia terlihat seperti asisten Koki saja.

__ADS_1


“Oh, bagus!” sahut Alex dengan sudut bibir menyeringai tipis—yang membuat detak jantung Draven berdegup kencang. “Bantu Aku memasukkan daging Monster Hiu ke dalam Wajan.”


“Apaaaaa?” Draven merasa harga dirinya turun drastis di hadapan Alex. “Baiklah,” katanya lagi sembari menghela napas panjang, berat rasanya untuk melangkahkan kakinya ke arah Wanita-wanita Iblis yang berusaha menahan tawa mereka.


__ADS_2