Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris

Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris
Memasuki Rumah Wanita Suku Ular Yang Cantik


__ADS_3

Tak ada siapapun di ruang tengah rumah wanita Suku Ular yang diincar oleh Neil. Dia kemudian memeriksa kamar-kamar yang ada di rumah itu, karena ia tidak tahu di kamar mana wanita cantik itu tidur.


“Rasanya aneh sekali, kenapa kamar-kamar di sini hampir semua kosong? Apakah ia tidak memiliki pelayan atau suami maupun anak?” gumam Neil berjalan ke arah kamar terakhir yang belum ia periksa. “Apakah ia dan keluarganya sedang berpergian?” pikirnya lagi.


Neil memutar gagang pintu dan ternyata pintu kamar lagi-lagi tidak terkunci. Namun, kamar terakhir ini ternyata lampunya menyala, kemudian tatapan mata Neil tertuju ke atas tempat tidur.


Seseorang sepertinya sedang tidur di balik selimut tebal.


Neil memperhatikan kondisi kamar tersebut, ada beberapa pakaian wanita tergantung di dinding. Ada juga kosmetik diatasi meja depan cermin, yang berarti kamar ini adalah milik wanita Suku Ular incarannya.


Sudut bibir Neil menyeringai lebar, tanpa basa-basi ia melepaskan pakaiannya. Kemudian ia merangkak naik ke atas ranjang dengan lidah terjulur keluar.


“Ayo bangun sayang ... waktunya bersenang-senang,” bisik Neil menarik selimut.


Namun, senyuman lebar Neil langsung memudar digantikan kerutan masam dikeningnya.


“Halo sayang,” sahut seseorang di balik selimut itu. “Sayang-sayang matamu!” Dalam sekejap, sosok itu malah menggerutu dan mencolok kedua mata Neil dengan dua jari tangannya.


“Akhhhhh! Sakittt!” Neil mengusap air matanya yang bercampur dengan darah.


Neil melompat mundur dari atas ranjang sembari memasang kuda-kuda beladiri walaupun tanpa mengenakan pakaian, begitu juga dengan senjatanya yang tertinggal di rumah persembunyian.


Neil tidak membawa senjata karena tidak ingin menarik perhatian Pendekar Suku Ular, lagi pula wanita Suku Ular incarannya bukan seorang Pendekar—sehingga wanita itu tidak mungkin dapat melawannya.

__ADS_1


Namun, siapa sangka ternyata yang tidur dibalik selimut itu adalah Pria Manusia yang langsung mencolok matanya tanpa memberikan peringatan terlebih dahulu.


Yang membuat Neil keheranan adalah dia tidak dapat menyadari gerakan cepat Pria itu, padahal tidak ada jejak aura Pendekar darinya.


“Ke mana wanita itu?” tanya Neil tidak menggunakan gerakan kuda-kuda beladiri lagi setelah menyadari Pria di hadapannya hanyalah Manusia biasa saja.


“Maksudmu dia?” sahut Pria itu membuang selimut dan langsung terlihat seorang wanita yang sedang diikat, bahkan mulutnya juga disumpal kain makanya tidak terdengar suara wanita di kamar itu. “Sedangkan yang lain ada di dalam lemari. Silahkan lihat!” katanya lagi dengan santai.


Neil mengerutkan keningnya dan berpikir apakah Pria ini berasal dari Organisasi Hercules grup lain yang kebetulan juga mengincar wanita cantik Suku Ular incarannya. Namun, Pria itu bukan Pendekar kecuali level Pendekar-nya lebih tinggi darinya, makanya ia tidak dapat mengukur kekuatan Pria itu.


“Dari grup mana Kamu?” selidik Neil kembali mundur hingga ke dekat pintu dan memasang kuda-kuda beladiri.


“Grup?” sahut Pria itu tersenyum tipis. “Aku bawahan Bos Riley. Kamu dari grup mana?”


Neil ingat Riley adalah grup Organisasi Hercules yang akan menyusul mereka ke Kota Ardotalia dari dataran rendah Therondia. Namun, grup itu tak kunjung datang dan tidak mengirim pesan bagaimana kondisi mereka di sana. Yang jelas adalah Pasukan Kekaisaran Hazel di bawah pimpinan Jenderal Odesse telah sampai ke sana.


“Pakai dulu pakaianmu baru Kita berbicara,” kata Pria itu sembari menunjuk ke arah pakaian Neil yang tergeletak di lantai.


Neil menatap Pria itu dengan ragu-ragu, setelah merasa tidak ada niat membunuh dari Pria itu. Dia kemudian mengambil pakaiannya yang tergeletak di lantai dengan cepat dan kembali mundur ke dekat pintu.


“Pakailah! Apa Kamu ingin menodai mata wanitaku ini?” Pria itu tersenyum lebar sembari menatap wanita cantik Suku Ular di sebelahnya.


“?????????”

__ADS_1


Wanita Suku Ular itu mengatakan sesuatu yang terdengar tidak jelas di telinga Pria itu. Namun, dari tatapan matanya yang tajam, sepertinya ia mengumpat atau memarahi Pria itu.


Pria itu mengelus pipi wanita itu dengan lembut dan berkata, “Tenang saja sayang ... tidak perlu marah, toh Aku tidak melakukan apa-apa padamu. Bagaimana kalau Pria b.e.j.a.t itu yang lebih dulu sampai ke sini, maka Kamu akan bernasib sama dengan para wanita malang di luar sana yang telah ia nodai.”


Neil mengerutkan keningnya mendengar perkataan Pria itu. Kini ia semakin ragu kalau mereka berada di pihak yang sama.


“Tolong jangan beritahu orang lain tentang kejadian hari ini, ya? Kalau istriku tahu, entah apa yang akan terjadi nanti.” Pria itu membayangkan medan perang yang mengerikan serta senyuman tipis yang penuh makna tersirat dari istrinya. Kemudian ia melihat Neil telah selesai mengenakan pakaian. “Di mana tempat persembunyian kalian? Bawa Aku ke sana, karena Aku akan memberikan informasi penting untuk Bosmu dari Bosku.”


Neil tidak langsung menjawab, ia hanya memperhatikan Pria itu dengan seksama. Detak jantungnya berdetak normal yang menandakan ia tidak gugup, karena orang yang berbohong biasanya detak jantungnya akan berdebar kencang—sebab takut kebohongannya terbongkar.


“Katakan saja padaku,” sahut Neil, “jangan khawatir ... Aku adalah tangan kanan Bosku. Situasi di Kota Ardotalia saat ini tidak menguntungkan Organisasi Kita, jadi Bosku mengatakan setiap grup akan bersembunyi di persembunyian masing-masing dan akan bergerak bila ada perintah dari pusat Organisasi.”


Neil tidak menyebutkan nama lengkap Organisasi Hercules karena masih khawatir Pria di hadapannya itu adalah Pendekar tingkat 10 dari intelijen Kekaisaran Hazel, yang mencoba mengorek informasi darinya. Itu juga yang membuat Neil tidak membawa Pria itu ke tempat persembunyian grupnya.


Pria itu tersenyum mendengar jawaban Niel yang sangat berhati-hati tersebut. “Kamu tidak percaya padaku, kan?” katanya dengan santai.


Niel tersenyum masam dan berkata, “Itu adalah perintah mutlak dari Bosku. Kita akan bergerak bila ada perintah dari pusat Organisasi.


“Hmm, merepotkan sekali, sepertinya kalian di Organisasi Hercules memang keras kepala. Riley bahkan rela mati agar informasi tentang kalian tidak bocor,” kata Pria itu menghela napas panjang dengan melankolis sembari menengadah menatap bola lampu bertenaga Kristal Sihir di langit-langit kamar.


Butuh beberapa tarikan napas bagi Niel mencerna perkataan Pria itu hingga akhirnya ia memahaminya. Neil langsung mengerutkan keningnya dan berlari ke arah jendela.


Dia akhirnya menyadari, kalau Pria itu sebenarnya adalah Pendekar tingkat 10 karena mampu mengalahkan Bos grup Organisasi Hercules di dataran rendah Therondia, mungkin juga dialah sosok kuat yang dimaksud oleh Eden itu.

__ADS_1


“Lah, kok, kabur?” Pria itu berpura-pura terkejut, kemudian menatap wanita cantik Suku Ular yang masih terikat di sebelahnya. “Hmm, ikatan ini mengingatkan Aku film unik saat masih tinggal di Bumi,” pikirnya sembari memberikan Pisau kecil pada wanita itu. “Maaf, Aku harus segera pergi ... jadi, buka saja sendiri dan mintalah kompensasi atas kejadian ini pada Kepala Suku Ular dan katakan yang menyuruhmu adalah agen intelijen Kekaisaran Hazel.”


Wanita Suku Ular itu kembali mengatakan sesuatu yang tidak dimengerti oleh Pria itu. Namun, Pria itu melambaikan tangan dan melompat ke arah jendela kamar.


__ADS_2