Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris

Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris
Pendekar Tingkat 10


__ADS_3

Saat Alex sedang berhadapan dengan entitas asing di Kerajaan Iblis, Sarah justru duduk melamun di kursi Kasir.


“Ada apa, Sarah? Kenapa Kamu melamun saja?” Helena membelai rambut perak putrinya itu. Biasanya Sarah selalu tersenyum cerah dan akan bertingkah lucu agar diberikan tip oleh pelanggan Restoran.


Sarah menghela napas panjang yang membuat beberapa pelanggan tersenyum dengan tingkah lakunya itu, seolah-olah ia seperti orang Dewasa saja. “Apakah kini Ayah sedang memukuli para penjahat, Bu? Aku juga ingin ikut memukul para penjahat. Tanganku mulai gatal karena sudah lama tidak meninju wajah orang jahat!”


Helena mengerutkan keningnya mendengar perkataan putrinya itu serta berpikir apa yang telah diajarkan oleh suaminya, sehingga Sarah sangat senang berkelahi atau tidak takut terhadap para Pendekar yang jauh lebih tua darinya.


“Mungkin ayahmu telah memukul orang-orang jahat di sana, tetapi Kamu belum boleh ikut bertarung. Musuh ayah itu adalah Pendekar tingkat 10 dan mungkin saja ada yang sekuat ayah juga,” sahut Helena sembari mencubit pelan pipi mungil Sarah.


“Ta-tapi Aku sudah mencapai Pendekar tingkat 10, Bu!” kata Sarah dengan semangat sembari mengepal tinju mungilnya.


“Apaaaaa?” Helena terkejut mendengarnya, selama tinggal di Kota Perdamaian ini ia tidak pernah memperhatikan level Pendekar Sarah, karena yang ia inginkan hanyalah hidup bahagia bersama suami dan putrinya itu.


Sarah tersenyum lebar dan berkata, “Kak Zelma memberikan Aku Buku mantera Sihir dan tiba-tiba saja aku sudah menjadi Pendekar tingkat 10.”

__ADS_1


“Semudah itu?” Helena langsung keheranan, karena ia butuh waktu lama agar dapat menjadi Pendekar tingkat 10—begitu juga dengan Alex yang kini mengukir namanya sebagai Pendekar terkuat di Benua Grandland dan juga Pendekar yang telah mengalahkan Dewa Cthulhu. “Apakah Sarah benar-benar Putriku? Tapi mata dan rambutnya sama denganku, kelakuannya juga mirip dengan ayahnya,” pikirnya malah meragukan identitas putrinya itu.


“Lihat ini, Bu!” Sarah merapalkan mantera Sihir, kemudian lingkaran Sihir muncul di hadapannya. “Ini adalah mantera Sihir yang Aku pelajari dari buku yang diberikan oleh Kak Zelma. Katanya bila Aku menguasai semua rapalan mantera Sihir itu, maka Aku akan menjadi Penyihir terkuat di Dunia.”


Dari lingkaran Sihir itu muncul burung-burung kecil berwarna warni. Setiap warna burung itu mewakilkan elemen Sihir. Burung berwarna merah mewakili elemen Sihir Api, Burung warna Putih mewakili elemen Sihir Angin, begitu juga dengan yang lainnya.


Helena teringat kalau Putrinya adalah Penyihir Agung dan berspekulasi mungkin itulah mengapa Sarah dengan mudah menjadi Pendekar tingkat 10. Namun, bukankah itu putrinya seperti mahkluk kesayangan Dewa-Dewi.


“Bagaimana Bu? Apakah Sarah sudah boleh membantu Ayah memukuli orang-orang jahat?” Sarah membuyarkan lamunan Helena yang secara tidak sengaja menganggukkan kepalanya. “Horeeeeee! Aku akan pergi bertarung melawan penjahat. Oh, ya, Aku akan menulis surat kepada Sekolah Harapan agar tidak dianggap bolos sekolah.”


“Eh, tung ....” Helena hendak mengatakan tunggu, tetapi Sarah sudah terbang ke lantai atas Restoran—sehingga Helena semakin tercengang melihat kemampuan aneh putrinya itu. Dia kemudian menghela napas panjang dan bergumam, “Sepertinya mau tak mau, Kami harus terjun ke medan perang juga.”


“Selamat datang di Kerajaan Iblis,” sapa Raja Iblis lebih dulu saat para Kesatria Suci Kuil Matahari keluar dari dalam Kapal Terbang Sihir.


Para Kesatria Suci itu tampak menatap jijik ke arah Raja Iblis, tetapi saat tatapan mata mereka tertuju pada Ratu Elf; mata mereka langsung berbinar-binar.

__ADS_1


Alex merasa perkataan Ulrich dan Zelma mungkin benar, kalau para Kesatria Suci Kuil Matahari tidak menyukai yang bukan golongan mereka atau yang menyembah Dewa Matahari. Mereka hanya senang melihat para gadis Elf karena Elf memiliki paras cantik.


“Aku tidak menyangka akan melihat pemandangan berbagai macam Ras dalam legenda berkumpul di sini, apakah kalian sudah mengetahui kabar tentang kedatangan Kami dari para Penyihir pengikut ajaran sesat tersebut?” sahut Adrian sembari tersenyum menatap Alex yang berdiri di sebelah Einar. Hanya Pria tampan itu yang tidak dapat ia ukur Kekuatannya, seolah-olah tembok besar menghalanginya untuk melihat energi Sihirnya.


“Kami hidup rukun dan selalu bersatu melawan pihak-pihak yang merusak kedamaian di Benua Grandland ini.” Ratu Elf menanggapi perkataan Adrian. “Dan ... Berkat kerjasama tersebut, baru-baru ini Kami bersatu melawan Dewa Cthulhu dan pengikutnya.”


Adrian menoleh ke arah Ratu Elf yang tetap terlihat cantik walaupun telah berusia Ratusan Tahun tersebut. Adrian bertepuk tangan sembari tersenyum tipis, belasan Kesatria Suci tingkat tinggi di belakangnya juga ikut tertawa seolah-olah meledek perkataan Ratu Elf.


“Selamat ... kalian telah berhasil mengalahkan Gurita bodoh itu,” sahut Adrian, “tujuan Kami bukan untuk mendengarkan omong kosong itu, Kami hanya datang berkunjung ke saudara sesama Manusia untuk memberitahukan kebenaran, bahwa hanya Dewa Matahari saja yang patut disembah. Dewa-Dewi lainnya itu hanyalah kenangan belaka dan tidak akan memberikan manfaat untuk kalian.”


Alex dan yang lainnya langsung mengerutkan kening mendengar jawaban angkuh Kesatria Suci dari Benua lain tersebut. Perkataan Ulrich dan Zelma memang benar, orang-orang asing ini datang dengan tujuan yang tidak baik.


Namun, Alex tetap berusaha untuk menahan amarahnya. Dia akan berusaha agar tidak terjadi perang, karena musuh yang akan mereka hadapi semuanya setara dengan Pendekar tingkat 10 dan beberapa orang terlihat lebih kuat dari Pendekar tingkat 10. Kalau terjadi pertikaian, maka kedua belah pihak akan sama-sama menderita walaupun kemungkinan besar ia dapat mengalahkan mereka semua.


“Oh, kalian datang untuk menyebarkan ajaran Kuil Matahari, ya ... mungkin Kami dapat menerimanya bila kalian tidak mengusik Ras lain dan tentunya Kami akan menawarkan kesepakatan kerjasama bisnis yang menggiurkan untuk Kekaisaran Suci Kuil Matahari,” kata Alex sembari tersenyum hangat dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.

__ADS_1


Adrian menatap tajam Alex sembari menepis uluran tangannya. “Ketahuilah tempatmu! Beraninya Kamu mengatur tindakan yang akan Kami lakukan?” sahutnya, “semua yang tidak menyembah Dewa Matahari akan dieksekusi mati. Jiwanya akan dipersembahkan kepada Dewa Matahari!”


Semua Pendekar segera mengalirkan Elemen Sihir mereka untuk bersiap-siap bertarung, tetapi para Kesatria Suci Kuil Matahari tetap berdiri dengan santai dan tersenyum lebar mengejek para Pendekar yang terlihat gugup tersebut.


__ADS_2