
Alex menghunus Pedang Meteor dari sarung pedang di punggungnya, kemudian mengayunkannya ke arah Kelelawar Api.
Api Biru berbentuk Bulan Sabit selebar Satu Kilometer melesat ke arah depan. Semua Kelelawar Api itu langsung hancur lebur dan hanya meninggalkan seorang Kesatria Suci Wanita yang melayang di udara.
“Api Biru?” gumam Aragon terkejut melihatnya. “Itu adalah Api terpanas yang pernah kulihat dan hanya ada dalam catatan Kuno!”
Kalau Aragon mengetahui Penyihir Agung mereka yang baru memiliki Elemen Sihir Api yang lebih kuat, mungkin ia akan jatuh pingsan. Karena Elemen Sihir Api Sarah adalah Api Putih yang panasnya setara dengan Inti Matahari.
Alasan Dewi Sihir memilih Sarah menjadi Penyihir Agung kemungkinan karena Elemen Sihir Api Sarah lah yang dapat melawan Dewa Matahari saat Sarah nanti mencapai Level tertinggi, baik itu sebagai Penyihir Agung maupun sebagai Pendekar.
“Kau memiliki Aura Sihir yang mirip dengan Inarius si Malaikat Penjaga yang doyan makan itu,” kata Alex terbang sejajar dengan Wanita cantik yang melayang di udara.
“Pantas saja Monster yang telah kupelihara selama Jutaan tahun tiba-tiba lenyap, ternyata Kamu adalah pelakunya, Alex dari Benua Grandland si pembunuh Dewa Cthulhu,” sahut wanita itu tersenyum tipis. “Oh, ya ... karena Kamu sudah mengetahui siapa Aku, maka Aku tidak perlu menyembunyikan identitasku.”
Wanita cantik itu melepaskan Jubah Kesatria Suci Kuil Matahari yang ia kenakan dan memperlihatkan penampilannya yang dibalut gaun merah serta menggenggam Cambuk di tangannya.
“Aku adalah Malaikat Penjaga seperti Inarius,” kata Wanita cantik itu sembari mengayunkan Cambuknya. Ruang hampa tiba-tiba dirobek oleh Cambuk tersebut, dari celah ruang hampa itu berhamburan Monster-monster dengan berbagai macam ukuran dan bentuk yang aneh-aneh.
“Hati-hati Pendekar Alex!” seru Aragon setelah mendengar wanita cantik itu memperkenalkan dirinya. “Dia adalah Malaikat yang dapat mengubah hewan menjadi Monster dan mengendalikan mereka sebagai senjatanya!”
Dalam catatan sejarah era Perang Dewa, Lila sangat berperan penting dalam menghancurkan musuh-musuh yang berani menentang Dewa Matahari. Hanya dengan dirinya saja, sebuah Kerajaan dan penduduknya dilenyapkan dalam sekejap saja.
__ADS_1
Aragon tidak menyangka Kuil Matahari akan meminta pada Dewa Matahari untuk menurunkan Malaikat Penjaga, hanya untuk melawan Alex yang telah mengalahkan utusan Kuil Matahari yang pergi ke Benua Grandland. Namun, tiba-tiba ia teringat dengan perkataan Lila yang menjuluki Alex sebagai pembunuh Dewa Cthulhu.
“Sepertinya Aku pernah mendengar nama Dewa Cthulhu itu?” gumam Aragon mencoba mengingat seperti apa Dewa Cthulhu itu. “Ah, Aku ingat! Tapi bagaimana bisa Pendekar Alex mengalahkan Dewa yang dapat beregenerasi itu, sehingga Dewa Matahari hanya mengusirnya saja dari Benua Vlorien karena tidak dapat dibunuh!”
Aragon kini semakin penasaran dengan Kekuatan yang dimiliki oleh Alex dan akhirnya mengerti kenapa Dewa Matahari tiba-tiba turun ke Dunia ini setelah Jutaan tahun menghilang secara misterius.
“Percuma saja mengeluarkan koleksi Monster imut-imut itu. Lebih baik panggil seluruh Malaikat Penjaga atau sekalian saja panggil juga Dewa Matahari, sehingga Kau tidak perlu berlama-lama di sini.” Alex mencibir Lila yang menatapnya dengan sudut bibir menyeringai lebar, hanya karena mengeluarkan ribuan Monster dari retakan ruang hampa. “Sarah pasti merindukan Aku, putri imutku itu pasti merindukan masakan buatanku! Mungkin saat ini ia sedang bersedih karena tidak melihatku selama Satu Bulan.”
Namun, Sarah yang dibicarakan oleh Alex itu saat ini sedang bermain bersama teman-temannya di Sekolah Harapan dengan bahagia, bahkan ia hanya bertanya sesekali saja pada Helena—apakah ayahnya sudah pulang atau tidak. Sepertinya ia sudah terbiasa ditinggal pergi oleh Alex secara mendadak tanpa berpamitan padanya.
“Kamu terlalu sombong, Alex! Jangan samakan aku dengan gurita lemah itu!” cibir Lila. Gurita yang ia maksudkan adalah Dewa Cthulhu yang telah dikalahkan oleh Alex.
Alex segera mengayunkan pedangnya yang langsung diselimuti oleh Elemen Sihir Es.
Ribuan Monster yang melesat ke arah Alex langsung membeku oleh Elemen Sihir Es yang sangat dingin tersebut.
Lila mengerutkan keningnya, terkejut Sihir Suci Api Putih yang panasnya setara dengan Inti Matahari tersebut dipadamkan oleh oleh Elemen Sihir Es yang keluar dari bilah Pedang Meteor.
Aragon dan para Penyihir yang berada di Menara Sihir Tanah Tandus Ujung Barat juga tercengang, dinding Es setinggi Ratusan Meter muncul di depan Menara, sehingga mereka tidak tahu apa yang terjadi pada pertarungan antara Pendekar Alex dengan Malaikat Penjaga tersebut. Namun, kini mereka tidak mendengar lagi suara menyeramkan dari Monster-monster yang dikeluarkan oleh Lila dari retakan ruang hampa.
Cambuk Lila mulai membeku, sesaat kemudian bilah Pedang Meteor memotong Cambuk itu menjadi dua bagian.
__ADS_1
“Tidakkkkkkkkkkkkk!”
Lila panik tangannya membeku dan tidak dapat digerakkan lagi, apalagi bilah Pedang Meteor akan mencapai tubuhnya. Bila ia tidak dapat mengelak, maka tubuhnya akan terpotong menjadi dua bagian.
Kenangan saat dirinya melenyapkan Jutaan makhluk hidup dari berbagai Ras tiba-tiba muncul dibenaknya. Kini ia berpikir, seperti inikah rasanya tidak berdaya? Jeritan putus asa para korbannya membuatnya semakin takut akan kematian. Air matanya tiba-tiba mengalir deras membasahi pipinya, bilah Pedang Meteor hanya berjarak satu jengkal saja dari tubuhnya.
Lila menutup matanya serta mencoba mengingat kenangan indah yang telah ia lupakan.
“Liliaaaaaaaaaa!”
Terdengar suara Inarius dan Malaikat Penjaga lainnya berteriak memanggilnya. Lilia menoleh ke belakang dengan ekspresi wajah terkejut, karena yang ia lihat adalah Enam Malaikat Penjaga yang masih berusia belia yang tinggal di Kuil Matahari—yang letaknya di pedesaan yang dipenuhi ladang bunga Matahari.
Masa itu adalah masa paling indah dalam hidupnya. Mereka bertujuh adalah yatim-piatu yang dibuang sejak masih bayi dan dibesarkan di Kuil kecil itu. Namun, masa indah itu hanya bertahan hingga usia mereka menginjak Sembilan tahun, kemudian tiba-tiba gerombolan Orc membakar ladang bunga Matahari dan menghancurkan Kuil Matahari.
Kesatria Suci Wanita yang membesarkan mereka di p.e.r.k.o.s.a oleh gerombolan Orc tersebut. Saat mereka hendak dilenyapkan juga, sekelompok Penyihir datang menghancurkan gerombolan Orc tersebut. Namun, sudah jatuh—tertimpa tangga juga, mereka malah dijual sebagai budak oleh para Penyihir tersebut.
Untung saja Saint Agung membeli mereka dan mendidik mereka menjadi Kesatria Suci yang sangat kuat. Sejak saat itu, mereka telah melalui berbagai pertempuran melawan Ras lain dan para Penyihir—hingga akhirnya Dewa Matahari menganugerahi mereka Kekuatan Suci dan diangkat menjadi Malaikat Penjaga.
“Selamat tinggal semua ... Aku akan bertemu Kesatria Suci Lily lebih dulu. Ah, aku merindukan pelukan hangatnya dan juga kentang rebusnya,” kata Lila.
Pemandangan ladang bunga Matahari dan Kuil kecil ditengah-tengahnya itu tiba-tiba runtuh. Lila tahu inilah saatnya perjuangannya sebagai Malaikat Penjaga berakhir.
__ADS_1