
“Ternyata Paman Manusia itu adalah Pendekar yang sangat hebat,” bisik Tom pada Ibunya. Orc kecil itu tidak menyaksikan pertarungan Alex melenyapkan mayat-mayat hidup sebelumnya, karena saat itu ia dan ibunya berlari dengan tergesa-gesa bersama ribuan Orc lainnya.
Ibu Tom hanya tersenyum saja, raut wajahnya menandakan ia senang ada Pendekar kuat yang mengawal perjalanan mereka menuju Ibukota Kerajaan Orc.
“Ayo bergegas, Kita tidak tahu apakah Kekuatannya itu dapat bertahan lama. Kalau Kita ketinggalan, mungkin saja Kita harus berenang melewati arus deras ini!” seru Ibu Tom melangkahkan kaki di atas permukaan sungai yang menjadi Es tersebut.
Setelah semua Orc menyeberang ke sisi lain Sungai, Alex pun menghilangkan Elemen Sihir Es-nya setelah tiba di seberang dan air sungainya kembali mengalir seperti sebelumnya.
Tak ada rintangan yang menghadang mereka selama perjalanan menuju Ibukota Kerajaan Orc.
Namun, Alex dan para pengungsi tampak bingung saat melihat Puluhan Ribu Orc ternyata telah mendirikan kemah di luar benteng yang mengelilingi Ibukota. Bahkan ada ruang kosong berjarak Satu Kilometer dari Benteng, yang membuat Alex penasaran; kenapa hal seperti itu diberlakukan.
“Kalian pengungsi yang baru datang!” seru Pendekar tingkat 10 pada kerumunan Pengungsi Orc. “Kalian hanya boleh mendirikan kemah di area ini dan tidak boleh mendekati dinding benteng. Bila kalian berani mendekati Benteng, maka para prajurit yang berjaga di sana akan membunuh kalian!”
Salah satu pengungsi Orc mengangkat tangannya dan berkata, “Tetapi Kami tidak memiliki tenda untuk membuat kemah, tuan?”
Pendekar Orc itu menatap sinis Orc yang bertanya padanya. “Itu bukan urusanku, kalian bisa tidur diatas rumput atau Pohon. Dan... Makanan hanya tersedia setiap pagi saja, serta harus mengantri dengan teratur atau Prajurit yang berjaga akan membunuhmu!”
Setelah mengatakan hal itu, Pendekar tingkat 10 itu segera pergi dan tidak peduli apakah pengungsi lain mendengar perkataannya atau tidak.
Para pengungsi Orc mulai mengeluh dan mengutuk Kerajaan Orc karena tidak peduli dengan nasib mereka.
Tom menggenggam erat tangan ibunya yang terlihat cemas. “Apakah Kita akan tidur diatas rumput lagi, Bu?”
__ADS_1
Ibu Tom tersenyum lembut tanpa menjawab pertanyaan Tom. Ibunya membawa Tom berkeliling ke tenda-tenda pengungsian lainnya. Dia berusaha membeli tenda milik pengungsi Orc yang lebih dulu sampai di sini, tetapi harga yang mereka tawarkan terlalu tinggi, sehingga ia harus menyerah membeli tenda dan hanya membeli Dua Selimut seharga 10 Koin Emas atau setengah dari jumlah uang yang ia miliki.
Uang itu adalah hasil tabungan yang ia kumpulkan bersama suaminya selama Delapan tahun dan rencana akan digunakan untuk membeli Tanah serta membangun Rumah. Namun, akibat perang yang tiba-tiba muncul ini, rencana itu berakhir menjadi angan-angan saja, bahkan suaminya tewas saat mencoba menyelamatkan mereka dari sergapan bandit yang ingin merampas uang mereka.
Ibu Tom memutuskan tetap berada dikerumunan pengungsi agar mereka tetap aman atau setidaknya Petugas Keamanan akan melihat bila ada Orc jahat yang berusaha menyakiti atau merampas hartanya.
“Ke mana Paman Manusia itu, ya?” Tom teringat dengan Alex, tetapi Alex tiba-tiba menghilang begitu saja saat Pendekar tingkat 10 Orc muncul.
“Mungkin Dia sudah pergi,” sahut Ibu Tom mengelus kepala Tom. “Kalau Tom sudah Dewasa nanti, Kamu harus meniru sifatnya itu. Selalu berbuat baik dan menolong yang lemah.”
Tom menganggukkan kepala dan dalam benaknya, ia juga ingin menjadi Pendekar sekuat Manusia itu.
Tiba-tiba Tom melihat sosok yang mirip dengan Pendekar Manusia itu lewat dengan mengenakan jubah lusuh dan menutup wajahnya yang hanya menampakkan matanya saja. Namun, Tom yakin dari sorot matanya itu, Dia adalah Pendekar Manusia baik hati itu.
Tom tersenyum cerah dan ingin memanggilnya, tetapi ia urung melakukannya karena Pendekar Manusia itu terus berjalan menuju ke arah Benteng, area terlarang bagi para pengungsi tersebut.
Tom menggelengkan kepala dan tersenyum lebar. Namun, sebenarnya ia tersenyum karena melihat Alex tiba-tiba melesat seperti Kilat dan telah mencapai atas Benteng tanpa ada yang menyadarinya.
...***...
Alex mengerutkan keningnya saat menatap pemandangan di balik Benteng atau Ibukota Kerajaan Orc tersebut.
Para penduduk Ibukota Kerajaan Orc tampak beraktivitas dengan normal. Toko-toko tetap buka dan Kereta Kuda mewah tetap lalu lalang. Pemandangan ini sangat bertolak belakang dengan hamparan pengungsi Orc diluar Benteng, yang bahkan kekurangan makanan dan sebagian tidur beralaskan tanah saja.
__ADS_1
Alex menggelengkan kepala dan melompat turun dari Benteng. Dia langsung berjalan menuju Kuil Dewa Gul'dan untuk mencari Kekuatan yang ditinggalkan oleh Dewa Gul'dan, Dewa yang disembah oleh Ras Orc tersebut.
“Hei, lepaskan tudungmu!”
Tiba-tiba seruan keras menghentikan langkah kaki Alex. Dia menoleh ke belakang, Dua Pendekar Orc telah memegang Pedang mereka dalam mode siap tempur.
“Nak, tolong jangan persulit kami! Lepaskan tudungmu dan tunjukkan Kartu identitasmu, maka Kami tidak akan menahanmu!” Salah satu Pendekar Orc mendekati Alex secara perlahan-lahan.
“Hati-hati Dazor... mungkin saja Dia adalah Pengikut Dewa Cthulhu yang menyusup ke dalam Kota,” bisik Pendekar Orc yang satunya lagi.
Alex hendak melumpuhkan mereka, tetapi tiba-tiba dari arah lain Ibukota Kerajaan Orc itu; asap hitam membumbung ke langit dan dari Monster-monster mayat hidup Elang berhamburan mayat-mayat hidup Orc.
“Ibukota telah diserang oleh pengikut Dewa Cthulhu sialan itu!” Dazor mengumpat dan berlari ke arah tengah Kota bersama rekannya. Keduanya langsung mengabaikan Alex yang masih tertegun menatap mayat hidup Monster Elang yang terus berdatangan membawa mayat-mayat hidup Orc.
Alex menarik napas dalam-dalam dan dalam benaknya muncul senyuman cerah Sarah, Putrinya. Dia mulai khawatir, apakah Kota Perdamaian juga diserang oleh pengikut Dewa Cthulhu.
Namun, selama yang menyerang Kota Perdamaian bukan Mordor, maka Alex yakin Helena dapat melindungi Sarah, karena Helena telah mencapai Pendekar tingkat 11 setelah memakan Daun Ubi Tumbuk plus Sambal Tuk-Tuk beberapa kali.
Karena para Pendekar Orc fokus melawan serbuan mendadak Pasukan Mayat hidup dari pengikut Dewa Cthulhu, Alex tidak perlu lagi menyembunyikan identitasnya.
Dia langsung membuang jubah lusuh yang ia kenakan dan menekan kakinya dengan kuat, sesaat kemudian terdengar suara dentuman Petir yang memekakkan telinga.
Alex melesat dengan kecepatan tinggi ke arah Kuil Dewa Gul'dan, sementara bekas pijakannya tadi hancur berkeping-keping meninggalkan lubang menganga lebar.
__ADS_1
“Hmm, kenapa pose Dewa yang disembah oleh Orc terlihat lebih berwibawa dari Dewa Hercules?” gumam Alex memandangi Patung setinggi Sepuluh Meter di halaman Kuil Dewa Gul'dan.
Tidak seperti Dewa Hercules yang terlihat seperti binaragawan yang memamerkan ototnya, Dewa Gul'dan justru mengenakan Jirah Perak menggenggam gagang Pedang besar seperti Pemain bisbol yang hendak memukul bola.