
Alex yang sedang menenggak Teh hangat langsung tersedak mendengar perkataan Einar, sehingga Uran harus menepuk-nepuk pundaknya.
“Apa Kamu gila! Kau kira 100.000 Koin Emas gampang mendapatkannya?” gerutunya.
“Berarti Kamu sebenarnya tidak sungguh-sungguh membantu Kekaisaran Hazel. Apa Kamu tega membiarkan tanah kelahiranmu—”
Sebelum Einar menyelesaikan perkataannya, Alex langsung mengangkat tangannya. “Baik-baik! Aku akan berusaha mendapatkan uang sebanyak itu. Mungkin Aku akan mengirimnya setara bertahap, karena sebagian laba Restoran Sarah telah digunakan membiayai pembangunan Sekolah Harapan, sementara Dividen dari Perusahaan Margareth dan Vera Voldemort baru keluar akhir tahun nanti.”
Alex tidak ingin mendengar ceramah tentang nasionalisme atau membawa nama orangtua mereka. Setelah pernah menjalani hidup di Bumi, pola pikir Alex sebenarnya lebih condong ke Liberal. Dia akan memihak kepada yang lebih menguntungkan dirinya, walaupun sebenarnya Liberal kelas kakap justru memanfaatkannya juga. Bahkan ia sadar telah dimanfaatkan oleh mereka, tetapi ia tidak dapat melawan sistem tersebut dan hanya bisa berusaha mendapatkan sedikit keuntungan dari mereka.
“Baiklah, Aku akan pergi menemui Dewan Kota Milles untuk mengundurkan diri dari pekerjaanku, kalian lanjutkan saja pembahasan mengenai dana proyek tersebut!” Uran segera beranjak dari tempat duduknya, karena tidak ingin mendengar perdebatan mengenai sumber dana yang akan digunakan dalam penelitian mesin Lokomotif tersebut.
Dia hanya m.a.n.i.a.k permesinan, mendengar perdebatan mereka mengenai uang membuatnya pusing saja, makanya ia memilih untuk segera pergi.
Alex juga segera berdiri dan berkata, “Aku akan memasak ke dapur. Bila Kakak ingin istirahat, maka pilih saja salah satu kamar yang tidak dikunci di lantai atas.”
“Terimakasih, tetapi Aku juga masih ada pertemuan dengan Tujuh Kelurga Pengusaha,” sahut Einar ikut berdiri dari tempat duduknya. “Jangan lupa kirim uangnya, karena Aku akan segera kembali ke Kota Ella setelah menyelesaikan tugasku. Dan ... tolong jaga Ibu dengan baik, katakan padanya Aku buru-buru pulang dan tak sempat menjemputnya ke sini!”
Alex mengangguk setuju, karena ia tahu saudara tertuanya itu sengaja meninggalkan Ibunya di sini agar Ibu mereka bisa beristirahat sejenak.
Di Istana Kekaisaran, Lilia selalu sibuk membantu Kaisar melakukan pekerjaan administrasi walaupun Kaisar telah merekrut banyak pegawai baru. Walaupun Kaisar memintanya untuk menyerahkan tugas itu pada mereka, Lilia tetap bersikeras agar dirinya dilibatkan dalam pekerjaan itu sehingga ia semakin kurus karena kurang beristirahat.
Saat Catherine mengajak Lilia ikut ke Kota Perdamaian, Einar sebenarnya sangat senang sekali dan sudah berniat dari awal akan meninggalkan Ibunya bersama Alex.
__ADS_1
“Hmm, sampai jumpa!” Einar segera berbalik badan dan meninggalkan Restoran Sarah.
Alex yang hendak menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan segera tersenyum masam dan menaruh tangannya ke belakang. “Ya, hati-hati di jalan, Kak!”
Einar menoleh ke belakang dan mengangguk pelan. Tiba-tiba kenangan saat Alex dan Lycus masih muda muncul di benaknya. Kalimat hati-hati di jalan adalah kalimat yang sering diucapkan Dua bocah itu saat dirinya hendak berangkat ke Akademi Kekaisaran Hazel.
Masa depan memang tidak dapat diprediksi, semua dapat berubah seiring berjalannya waktu. Bahkan tak ada yang mengira Alex dan Lycus yang waktu kecil saling mengasihi akan saling membunuh saat mereka Dewasa.
Setelah punggung Einar menghilang di balik pintu Restoran, Alex segera menuju dapur untuk berdiskusi dengan Helena; pesta seperti apa yang akan mereka buat untuk merayakan hari ulang tahun Sarah yang Kelima.
...***...
Burung Nasar atau Burung pemakan bangkai hinggap di hamparan tanah gersang Selatan Benua Vlorien. Mereka memakan mayat-mayat Penyihir yang tewas dibunuh oleh Kesatria Suci Kekaisaran Suci Kuil Matahari.
Para Penyihir mengalami kekalahan telak, karena jumlah Kesatria Suci jauh lebih banyak dari mereka. Setiap Penyihir harus berhadapan dengan Sepuluh Kesatria Suci, makanya Penyihir dikalahkan dengan mudah.
Para Penyihir mencoba mencegah Penyihir Agung Xavier menyerahkan diri, tetapi ia menggunakan Sihirnya mendorong para Penyihir yang menghalangi jalannya.
Xavier memutuskan menyerahkan diri agar Saint Suci Kuil Matahari berhenti menyerang Penyihir, karena dengan kematiannya maka Saint Suci akan menganggap Penyihir yang masih hidup tidak akan menjadi ancaman besar bagi Kuil Matahari.
Sejak ribuan tahun lalu, Kuil Matahari selalu mengurangi jumlah Penyihir dan akan berhenti menyerang bila hampir semua Penyihir tingkat tinggi terbunuh.
“Jangan bersedih, ini sudah takdir kita menjadi alat latihan bagi Kesatria Suci melatih keterampilan tempur mereka,” kata Xavier tersenyum hangat. “Tetaplah berlatih dengan giat hingga suatu hari nanti salah satu dari kalian akan melepaskan belenggu takdir tersebut dan mengusir pengikut Dewa Matahari dari tanah air kita.”
__ADS_1
“Masa itu pasti akan tiba!”
“Putriku ... Ayah datang menemuimu di Surga,” gumamnya teringat dengan wajah mungil putrinya sebelum mereka berpisah saat tiba-tiba ia dapat menggunakan Sihir. Sejak saat itu mereka tidak pernah bertemu lagi dan tiba-tiba ia mendapat kabar kalau Putrinya juga telah menjadi Penyihir. Namun, sayang sekali ia tertangkap oleh Kesatria Suci dan tak lama setelah itu, terdengar kabar lagi kalau putrinya telah dieksekusi mati yang membuat hatinya hancur.
Xavier keluar dari Perisai yang merupakan pertahanan terakhir para Penyihir, kemudian ia melihat hamparan Kesatria Suci yang mengenakan Zirah Emas menunggangi Kuda-Kuda yang juga dilapisi Zirah Emas dan di langit melayang Kapal-Kapal terbang Sihir yang moncong meriamnya diarahkan ke Perisai tempat pertahanan terakhir para Penyihir.
“Aku Xavier, Penyihir Agung XXVII Vlorien akan menyerahkan diri!” Xavier mengangkat kedua tangannya dan membuang tongkat sihirnya.
Di Kapal Terbang Sihir berukuran paling besar, seorang Kesatria Suci berlari ke salah satu ruang kerja di Kapal tersebut. “Kesatria Suci tertinggi ... Penyihir Agung menyerahkan diri!” lapornya.
Kesatria Sihir Sandor membuka pintu sembari tersenyum lebar dan berjalan keluar dari dalam Kapal. Kemudian ia melompat turun dari Kapal Terbang Sihir dan mendarat di depan Penyihir Agung Xavier.
Pasir dan debu berterbangan saat Sandor mendarat dengan keras di permukaan tanah yang gersang tersebut. Tombak Emas tertancap di permukaan tanah dan sesaat kemudian debu-debu itu menghilang dalam sekejap.
Sandor melepas helmnya, sudut bibirnya menyeringai tipis menatap Xavier yang tersenyum hangat menatapnya.
“Sesuai tradisi, Kami akan membiarkan ternak di dalam sana berkembang biak dan suatu hari nanti anak cucu Kami akan memburu mereka ha-ha-ha.” Sandor tertawa terkekeh-kekeh. “Seperti catatan sejarah, Penyihir Agung selalu terlihat tegar walaupun kematian sudah didepan matanya. Aku Sandor Barriston, Kesatria Suci Kuil Matahari akan tercatat dalam sejarah Benua Vlorien karena berhasil memenggal kepala Penyihir Agung XXVII.” Dia berkata dengan semangat.
Xavier hanya tersenyum menanggapi perkataan Sandor, tetapi dari balik Perisai terdengar suara tangisan para Penyihir dan tangisan itu semakin kencang.
Sandor mencabut tombaknya yang tertancap di permukaan tanah dan mengangkat tombak itu yang ujungnya menghadap Matahari, pantulan cahaya matahari dari bilah Tombak Emas itu membuat Xavier menyipitkan matanya.
“Apakah ada pesan terakhir yang ingin Kamu sampaikan, Xavier?” tanya Sandor.
__ADS_1
Namun, Xavier menggelengkan kepalanya, senyuman hangat di wajahnya tidak memudar walaupun Tombak Emas Sandor mulai berayun ke arah lehernya.
Kepala Xavier menggelinding di permukaan tanah dan tubuhnya tetap berdiri kokoh. Dia menggunakan Sihirnya untuk membuat bagian tubuhnya tetap berdiri kokoh. Itu adalah filosofi bahwa para Penyihir akan selalu bangkit di masa depan dan akan sejajar dengan Kesatria Suci.