Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris

Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris
Pertarungan Melawan Malaikat Penjaga I


__ADS_3

“Lilaaaaaa!”


“Lilaaaaa!”


Lila kembali mendengar suara rekan-rekannya memanggil namanya. Dia membuka matanya dan terkejut melihat punggung Inarius dengan rambut putihnya berkibar di depannya.


“Kalian?” kata Lilia tersenyum hangat, walaupun air matanya tetap mengalir deras.


“Hei, jangan menangis gadis nakal! Mana mungkin Kamu membiarkanmu menyusul Kesatria Suci Lily lebih dulu,” sahut Inarius.


Setelah Lila meninggalkan Kuil Matahari, Inarius tiba-tiba merasa khawatir dengan keselamatan Malaikat Penjaga yang memiliki kemampuan mengubah binatang menjadi Monster tingkat tinggi tersebut.


Inarius kemudian menceritakan kekhawatirannya itu pada Malaikat Penjaga lainnya.


Awalnya mereka meyakini Lila pasti baik-baik saja, tetapi Inarius terus mengatakan kalau Alex itu sangat kuat. Dia juga mengatakan tidak mungkin Dewa Matahari turun tangan bila lawan yang ia hadapi sepadan dengan Kekuatannya.


Malaikat Penjaga lainnya pun memutuskan mengikuti ke mana Lila pergi. Namun, mereka menjaga jarak cukup jauh dengannya dan menonton pertarungan Lila melawan Alex.


Awalnya mereka meyakini Lila pasti dapat mengalahkan Alex saat Lila merobek ruang hampa dan Ribuan Monster tingkat tinggi tumpah ruah menyerbu ke arah Alex. Namun, siapa sangka, seluruh Monster itu tiba-tiba saja dibekukan oleh Elemen Sihir Es Alex.

__ADS_1


Inarius berkata kepada rekan-rekannya sudah saatnya mereka bergerak dan menyerang Alex dengan kekuatan penuh. Kalau mereka terlambat selangkah saja, maka Lila tidak akan dapat diselamatkan.


Malaikat Penjaga bernama Saturnus langsung melempar Cakram Raksasa ke arah Menara Sihir Tanah Tandus Ujung Barat.


Alex segera mundur ke Menara Sihir dan menangkis Cakram Raksasa yang diselimuti oleh Sihir Suci tersebut.


Alex tidak jadi menebas Lila dengan Pedang Meteor, karena lebih mengutamakan keselamatan para Penyihir di dalam Menara Sihir. Para Penyihir dan Perisai yang melindungi Menara Sihir tidak akan dapat menahan serangan Cakram Raksasa tersebut.


Piringan Cakram Raksasa itu dihempaskan kembali ke arah Malaikat Penjaga. Lubang cacing seperti aliran sungai yang panjang muncul di permukaan tanah yang dilewati oleh Cakram Raksasa tersebut.


“Oh, akhirnya kalian muncul juga, Malaikat Penjaga!” seru Alex tersenyum tipis menatap Inarius yang berdiri di depan Lila dengan Pedang Emas di genggaman tangannya.


Dengan penampilan Inarius seperti itu, ia memang cocok menjadi salah satu Malaikat Penjaga. Namun, sayang sekali—hanya Manusia yang menyembah Dewa Matahari yang menganggapnya sebagai Malaikat yang baik, sementara para Penyihir menganggap dirinya adalah Malaikat jahat.


“Tuan Aragon ... bawa semua Penyihir menjauh dari sini. Jangan lupa bawa juga daging Monster Landak tadi, sepertinya makan siang Kita tertunda dulu.” Suara Alex menggema di Menara Sihir Tanah Tandus Ujung Barat.


“Tidak ada yang boleh meninggalkan tempat ini!” sela Malaikat Penjaga bertubuh besar dan tingginya mencapai Sepuluh Meter.


“Jupiter!” Inarius hendak mencegah Jupiter menyerang para Penyihir yang berhamburan keluar dari Menara Sihir dan melarikan diri ke arah Timur. Namun, Jupiter telah melompat sebelum ia menyelesaikan perkataannya.

__ADS_1


Dari kepalan tangan Jupiter muncul bola Matahari yang merupakan Kekuatan yang dianugerahi oleh Dewa Matahari padanya.


Sebelum ia menjadi salah satu dari Tujuh Malaikat Penjaga, ia mengandalkan Kekuatan fisiknya saat menjadi Kesatria Suci dan telah mengalahkan Puluhan Ribu Penyihir serta Pejuang dari Ras lainnya.


“Bawa Lila menjauh dari sini, Aku akan membantu Jupiter!” seru Inarius sembari melesat dengan kecepatan tinggi menuju Alex.


“Jangan terburu-buru, Aku tidak akan ke mana-mana dan akan meladeni permainan kalian setelah semua orang pergi!” seru Alex dengan sudut bibir menyeringai tipis.


Dia menggunakan Kekuatan Dewa Helzvog, dalam sekejap saja; telah tertempa Jutaan Pedang, Tombak, dan Anak Panah yang langsung melesat ke arah Jupiter dan Inarius.


“Kekuatan yang sangat luar biasa,” gumam Isen takjub melihat Jutaan Pedang, Tombak, dan Anak Panah melesat bak hujan deras tersebut. Dia bahkan sampai lupa kalau diperintahkan untuk segera meninggalkan Menara Sihir.


“Kakak Ipar! Kenapa Kamu masih berdiri di sana? Apa Kamu ingin mati?” teriak Pipins yang membuat lamunan Isen buyar.


“Ah, ayo pergi!” sahut Isen sembari membawa ember berisi daging Monster Landak.


Cahaya menyilaukan yang disertai sengatan-sengatan listrik menghancurkan Pedang, Tombak, dan Anak Panah yang melesat ke arah Inarius dan Jupiter.


Tiba-tiba Bola Matahari melesat ke arah Isen dan Pipins yang langsung berteriak ketakutan. Sudah terlambat untuk merapalkan mantera Sihir Pertahanan.

__ADS_1


__ADS_2