
“Kamu cantik sekali, Ros.” Alex memuji gadis kecil Suku Ular berusia Empat Tahun yang mengenakan gaun biru dan rambut dikepang dua. “Jangan takut, Aku adalah Pria paling baik di dunia,” katanya lagi memuji dirinya sendiri sembari menggendong Ros yang menatap Alex dengan ekspresi wajah kebingungan.
“Ya, Paman itu sangat baik, kita akan makan malam enak berkat resep rahasia yang diberikan oleh Pangeran Alex untuknya,” sahut Ayla tersenyum cerah sembari membawa wajan yang cukup besar itu. “Valor, bawakan Piring dan Kentang rebus!”
Valor merasa tiba-tiba dirinya seperti asisten Koki saja dan Ayla adalah Kepala Koki, sementara Alex adalah Bos-nya.
“Eh, Ros tersenyum!” Valor berteriak yang mengagetkan Alex dan Ayla. Namun, mereka kemudian tertawa setelah melihat Ros memang tersenyum di pelukan Alex.
Anak-anak Suku Ular langsung berhenti bermain setelah Ayla keluar dari dapur membawa wajan berisi daging sapi Belacang khas Nusa Tenggara Timur tersebut.
Mereka segera duduk di kursi yang mejanya memanjang dan Ayla meletakkan wajan diatas meja, sementara Valor membagikan piring pada anak-anak beserta Dua buah kentang rebus.
Ayla kemudian menuangkan daging sapi Belacang ke piring-piring anak-anak yang langsung tertawa bahagia.
Valor memimpin doa sebelum makan, dia berdoa kepada Dewa Beasthuman agar Kerajaan Beasthuman menjadi damai dan Organisasi Hercules lenyap selamanya.
Alex sangat senang melihat anak-anak Suku Ular makan dengan lahap.
...***...
“Eden menunda penyerangan terhadap Kota Ardotalia karena anggota Organisasi Hercules Kita yang berada di Suku Harimau tak kunjung datang serta tidak memberikan kabar apapun,” kata Lycus yang berada di Suku Singa yang juga salah satu Suku Beasthuman terkuat. Namun, sejak kedatangan Lycus dan Organisasi Hercules-nya, Suku Singa telah dimusnahkan.
“Apakah Odesse mengalahkan mereka?” tanya salah satu Pendekar tingkat 10 yang selalu mengikuti Lycus ke manapun ia pergi.
Lycus menggelengkan kepala dan berkata, “Kalau hanya menghadapi Odesse, maka salah satu dari mereka pasti dapat melarikan diri. Namun, mereka telah dimusnahkan, kemungkinan besar Alex telah datang ke Kerajaan Beasthuman ini.”
__ADS_1
“Oh, Dia bergerak cukup gesit juga,” sahut Nathan yang dulu melenyapkan Iblis Satu Pulau di Kerajaan Iblis.
“Kirim pesan pada seluruh anggota Organisasi Hercules untuk meninggalkan Kerajaan Beasthuman!” seru Lycus masih belum ingin bertarung secara langsung melawan Alex.
Dia masih menunggu beberapa tahun lagi sebelum memutuskan bertindak melawan Alex secara langsung, karena ia masih penasaran apakah perkataan Mordor benar kalau ada Benua lain selain Benua Grandland dan di sana Ras Manusia lah Ras tertinggi.
“Ke mana kita akan pergi Yang Mulia Lycus?” tanya Nathan penasaran, karena ia sudah tidak sabar ingin bertarung melawan Pendekar tingkat 10 Ras lainnya.
Selama penaklukan Suku Singa, Nathan berduel melawan Panglima Perang Suku Singa. Butuh waktu setengah hari bagi Nathan hingga akhirnya memenangkan pertarungan itu dan sekujur tubuhnya dipenuhi luka tebasan serta cakaran.
Namun, Nathan tetap bangga dan bahagia karena dapat mengalahkan Panglima Perang Suku Singa alias yang terkuat di Suku Singa tersebut tanpa bantuan rekan-rekannya di Organisasi Hercules.
“Kita akan menyebar untuk sementara, karena semua entitas kuat di Benua Grandland pasti mewaspadai kehadiran Kita di wilayah mereka. Bagi yang ingin kembali ke keluarganya maka silahkan pergi, anggap saja Kita sedang memasuki hari libur. Namun, yang masih ingin menyergap musuh, maka lakukan saja tetapi kalian harus berpindah-pindah tempat,” sahut Lycus.
...***...
Eden merenung sejenak setelah membaca pesan yang dibawa oleh burung merpati kepadanya. Dia bingung membuat keputusan, apakah akan meninggalkan Kota Ardotalia malam ini atau menunggu waktu hingga beberapa hari lagi.
Jika mereka berangkat malam ini, maka penjaga gerbang Kota akan mencurigai mereka adalah anggota Organisasi Hercules karena para pedagang biasanya akan berangkat saat pagi hari.
Dia juga merasa sosok kuat yang mengikuti mereka sudah berada di dalam Kota Ardotalia dan sosok itu mungkin sedang mencari keberadaan mereka walaupun tak tanda-tanda Pendekar Suku Ular melakukan pencarian terhadap mereka di dalam Kota Ardotalia, yang berarti Suku Ular tidak mengetahui siapa pelaku pemusnahan Desa yang mereka hancurkan.
“Aku akan menunda kepergian Kami,” gumam Eden sembari memusnahkan secarik kertas di tangannya. Neil dan yang lainnya tidak boleh mengetahui informasi itu agar mereka tidak mendesak untuk meninggalkan Kota Ardotalia.
Eden meraih gelas di atas meja dan menenggak anggur merah yang telah dituangkan oleh Pelayan wanita.
__ADS_1
Eden menghela napas dalam-dalam, tetapi detak jantungnya terus berdebar setelah matahari terbenam. Tanda-tanda seperti itu biasanya rombongannya akan bertemu musuh kuat.
Dia memutuskan merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan memejamkan matanya untuk menghilangkan kegelisahan yang melandanya.
Neil berbisik pada Pelayan wanita yang keluar dari kamar Eden, menanyakan apa yang dilakukan oleh Bos-nya itu.
Pelayan wanita itu hanya mengatakan kalau Eden telah tertidur setelah menenggak beberapa teguk anggur merah.
Sudut bibir Neil menyeringai tipis, ia masih penasaran dengan wanita cantik Suku Ular yang ia temui di jalan tadi Sore. Apalagi saat menjarah Desa di dekat Kota Ardotalia itu, ia hanya dapat menikmati Satu Wanita Suku Ular saja, karena Eden tiba-tiba merasakan firasat buruk bahwa akan datang musuh yang kuat. Namun, menurut Pelayan Pria tua yang membelikan mereka makan malam, desas-desus yang beredar di Kota Ardotalia hanya seputar kejadian di Desa itu dan penjagaan di tembok Kota diperketat. Tak desas-desus yang mengatakan kalau Organisasi Hercules telah menyusup ke dalam Kota.
Neil kemudian mengenakan jubah bertudung kepala dan diam-diam menyelinap keluar dari rumah persembunyian itu.
Rekan-rekannya sebagian besar tergeletak di halaman rumah karena terlalu mabuk setelah kebanyakan menenggak anggur merah.
“He-he-he ... gadis cantik, Aku akan datang menghangatkan ranjangmu,” gumam Neil tersenyum lebar mempercepat langkahnya. Dia masih ingat di mana rumah wanita cantik itu, karena ia mengikuti Kereta Kudanya saat wanita Suku Ular itu pulang ke rumahnya.
Namun, semakin mendekat ke rumah Wanita Suku Ular incarannya itu, detak jantung Neil semakin berdebar kencang. Dia bingung kenapa ia merasa tidak nyaman, seolah-olah sepasang mata telah mengawasinya.
Neil melompat ke atap rumah penduduk dan memperhatikan sekelilingnya apakah ada seseorang yang telah mengikutinya.
Dia berdiam diri cukup lama, tetapi tidak ada gerakan yang mencurigakan di sekitarnya. Dia pun memutuskan melompat ke halaman rumah yang terlihat cukup megah.
Rumah tersebut merupakan rumah yang dimasuki oleh wanita cantik Suku Ular yang ia intai tadi sore.
“Aku datang menghangatkan ranjangmu, sayang ....” Neil menyeringai lebar sembari berjalan menuju pintu.
__ADS_1