
“Aku akan mencari Zelma, Bos!” Eva langsung berlari menuju pintu Restoran Sarah, kemudian berubah wujud menjadi Naga.
Namun, saat ia hendak terbang, Zelma dan Delilah turun dari gerbong Kereta Kuda Rambo.
Eva kembali ke wujud Manusia dan berlari menghampiri Zelma. “Kak Zelma ... cepat ikuti Aku, Bos kecil tiba-tiba tegang dengan tatapan kosong. Mungkin itu berhubungan dengan energi Sihirnya!” seru Eva menarik tangan Zelma yang mungil dan itu hampir membuat Zelma tersungkur, karena Eva berjalan dengan cepat.
Delilah membayar ongkos mereka pada Rambo, kemudian menyusul Eva dan Zelma ke dalam Restoran Sarah.
Di meja kasir, karyawan dan pelanggan Restoran Sarah tampak berkerumun dan ekspresi wajah mereka terlihat panik, ada juga yang menangis—khawatir Bos kecil yang selalu riang dan tersenyum cerah itu menderita sesuatu yang buruk atau mengakibatkan kehilangan nyawanya.
“Kak Zelma sudah kembali!” seru Eva.
Kerumunan pelanggan Restoran Sarah segera memberikan ruang agar Eva, Zelma, dan Delilah dapat mencapai meja Kasir dengan cepat.
“A-ada apa dengannya, Zelma? Sarah tiba-tiba saja begini.” Alex bertanya dengan suara serak, air matanya mengalir deras membasahi pipinya.
Zelma memegang pergelangan tangan Sarah. “Tidak ada yang aneh dengan energi Sihirnya. Ini aneh sekali, kenapa bisa begini?” katanya dengan ekspresi kebingungan.
Sarah tiba-tiba mengedipkan matanya, ia menatap dengan ekspresi bingung pada semua orang yang tampak gelisah menatapnya.
“Kenapa Ayah dan Ibu menangis?” tanya Sarah.
Semua orang langsung bernapas lega dan tersenyum bahagia.
“Kamu tiba-tiba saja mematung, makanya kami khawatir!” sahut Helena segera mencium kening putrinya itu.
__ADS_1
Alex juga ingin mencium putrinya itu, tetapi Helena sepertinya tidak akan melepaskan pelukannya dari Sarah. Jadi, ia hanya mengelus-elus tangan Sarah saja.
“Apa Kamu tahu, apa yang terjadi padamu, Sarah?” tanya Alex setelah Sarah mulai tersenyum, yang berarti ia tidak mengalami gejala yang membuat tubuhnya menderita sesuatu yang berbahaya.
“Ah, iya ... tadi tiba-tiba Aku memasuki ruang yang gelap dan seberkas cahaya menuntunku menuju tempat yang indah,” sahut Sarah berbicara dengan semangat. “Awalnya Kami menuju tempat gersang, ada gurun pasirnya, dan gunung-gunung batu menjulang tinggi. Ada sebuah tempat dengan bangunan menjulang tinggi dan banyak orang yang mengenakan pakaian seperti Kak Zelma di sana. Kemudian tiba-tiba pemandangan berubah menjadi hamparan bunga-bunga indah dan Kota yang sangat megah, ada sebuah tempat yang di mana banyak orang mengenakan pakaian seperti Kak Delilah.”
Zelma dan Delilah saling berpandangan, keduanya merasa Sarah menceritakan tentang Benua Vlorien. Namun, apa seberkas cahaya itu sehingga dapat membuat Sarah melihat pemandangan Benua Vlorien.
Sesaat kemudian, Zelma dan Delilah menebak itu mungkin sisa-sisa Kekuatan Dewi Sihir. Hanya Penyihir Agung dan Saint saja yang dapat berkomunikasi dengan Dewa di manapun itu tempatnya.
“Semua orang tiba-tiba bersujud,” kata Sarah dan wajahnya tiba-tiba memucat.
Padahal biasanya ia tidak pernah takut pada siapapun, karena ia yakin Ayah dan Ibunya dapat mengalahkan mereka. Namun, pemandangan yang satu ini telah membuat Sarah ketakutan.
“D-Dewa Matahari dan Tujuh Malaikat Penjaga telah turun ke Dunia ini!” seru Delilah, sehingga semua mata tertuju padanya.
“Apakah Kamu yakin?” sahut Alex dengan tatapan tajam dan tangannya terkepal erat, karena tidak menyangka Dewa akan turun tangan hanya untuk menghukum dirinya yang telah mempermalukan utusan Kuil Matahari.
“Ya, di Kuil Matahari ada lukisan tentang Dewa Matahari dan Tujuh Malaikat Penjaga yang telah mengalahkan banyak Dewa di era Perang Dewa Satu Juta Tahun yang lalu,” sahut Delilah dengan semangat. Namun, tiba-tiba ia menyadari semua orang tampak gelisah, sehingga ia segera menundukkan wajahnya.
Zelma langsung terkulai lemah, Eva segera memapahnya menuju kursi. “Semua Penyihir di Menara Sihir pasti akan dibinasakan,” katanya dengan suara pelan, kemudian ia mulai menangis.
Helena menatap Alex, seperti ia sedang menunggu tanggapan dari suaminya itu tentang musuh yang mustahil dapat dikalahkan oleh Pendekar seperti mereka, walaupun Alex sebenarnya telah membuktikan bahwa ia dapat mengalahkan Dewa Cthulhu setelah mengumpulkan semua Kekuatan yang ditinggalkan oleh Dewa Benua Grandland.
Alex memaksakan diri untuk tersenyum walaupun detak jantungnya berdebar kencang, ragu apakah dirinya dapat mengalahkan Dewa yang telah mengalahkan banyak Dewa tersebut. Sementara untuk mengalahkan Dewa Cthulhu saja, dirinya hampir tewas kala itu.
__ADS_1
“Selama ada Aku semua akan baik-baik saja,” kata Alex, “Dewa Cthulhu saja mudah kukalahkan, mengalahkan satu Dewa lagi bukan masalah untukku.”
Para pelanggan Restoran Sarah langsung bernapas lega dan senang mendengarnya, hanya Helena dan karyawan Restoran Sarah saja yang tetap terlihat dengan ekspresi wajah khawatir.
“Iya, Ayah pasti dapat mengalahkannya!” seru Sarah mengulurkan tangannya ke arah Alex. Bola cahaya menyilaukan tiba-tiba muncul di atas telapak tangan mungilnya. “Dewi Sihir baru saja mengatakan Dia memberikan Kekuatan ini untuk Ayah. Setelah Ayah menyerapnya, maka Kekuatan Dewa yang Ayah miliki akan dapat digunakan berkali-kali tanpa harus menunggu jeda satu Jam lagi.”
Alex mengulurkan tangannya ke arah telapak tangan mungil Sarah dan tiba-tiba cahaya menyilaukan itu menghilang di telapak tangan Alex.
“Terimakasih Dewi Sihir,” kata Alex dengan suara pelan.
“Dewi Sihir sudah tidak ada lagi, katanya tadi adalah perpisahan Kami,” sahut Sarah kembali menunjukkan ekspresi wajah sedih. “Pasti gara-gara Pria itu yang membuat Dewi Sihir menghilang selamanya,” katanya lagi.
Pria yang dimaksud Sarah adalah Dewa Matahari yang ia lihat turun di Kuil Matahari, Benua Vlorien.
Alex tersenyum lebar dan mengelus pipi mungil Sarah. “Ayah akan memukul orang jahat itu hingga babak belur!”
Delilah tiba-tiba batuk-batuk, tidak menyangka Alex ingin memukul Dewa yang ia sembah. Kalau saat ini posisinya bukan tawanan, maka ia sudah pasti akan memarahi Alex.
“Ada apa, Delilah? Kamu tidak percaya Aku dapat memukul Tuhanmu?” kata Alex dengan sombong. “Asal Kamu tahu, Aku pernah membaca sebuah buku yang mengisahkan tentang Pria setengah Dewa yang dapat mengalahkan para Dewa. Itu adalah kisah yang hebat.”
Delilah hanya mengangguk pelan saja. Dia tidak ingin berdebat dengan Alex maupun para penduduk Kota Perdamaian yang sudah pasti lebih mendukung Alex dari pada musuh seperti dirinya.
Sebenarnya buku yang dibaca oleh Alex itu tidak ada, karena yang ia maksud Manusia setengah Dewa itu adalah kisah Hercules dalam mitologi Yunani kuno.
“Baiklah, Restoran akan tutup lebih awal hari ini. Jangan lupa besok datang lagi, karena menu baru ... Mie Aceh akan dimasukkan ke dalam daftar menu.” Alex membubarkan kerumunan pelanggan Restoran Sarah.
__ADS_1