Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris

Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris
Monster Dari Samudera


__ADS_3

Saint Duyung tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Ratu Duyung saat ini. Dia pun berkata, “Selain bahaya Monster dari Samudera. Yang Aku takutkan adalah entitas kuat yang mengusir Dewa Cthulhu ke Benua Grandland. Aku takut mereka datang ke Benua Grandland dan Kita tidak dapat melawan mereka karena para Dewa telah lama meninggalkan Kita.”


Ratu Duyung akhirnya mengerti apa yang dikhawatirkan oleh Saint Duyung, satu-satunya Duyung yang tetap hidup dari era Dewa masih ada di Benua Grandland tersebut.


“Lalu apa yang akan kita lakukan?” Ratu Duyung kebingungan, menghadapi Monster dari laut dalam saja Kerajaannya kesulitan apalagi harus bertarung melawan entitas yang sekuat Dewa Cthulhu.


Saint Duyung teringat perkataan Ratu Duyung sebelumnya, bahwa telah muncul Dewa di Benua Grandland dan Dewa itulah yang mengalahkan Dewa Cthulhu. Namun, ia ragu Dewa itu asli, karena Dewa Poseidon mengatakan Dewi Luna telah meramalkan akan muncul Pendekar yang dapat menggunakan semua Elemen Sihir di masa depan dan sosok itulah yang mungkin dapat mengalahkan Dewa Cthulhu bila menyerap Kekuatan yang mereka tinggalkan.


“Siapa kini Pendekar terkuat di Benua Grandland?” tanya Saint Duyung curiga Pendekar itulah yang mengaku sebagai Dewa tersebut.


“Menurut informasi yang dikirim oleh Dewan Kota Avena, Pendekar Manusia bernama Alex lah yang terkuat saat ini. Dia telah melampaui Pendekar tingkat 10 dan Elemen Sihir Kehidupan yang ia gunakan saat melawan pengikut Dewa Cthulhu mirip dengan yang digunakan oleh Dewa misterius tersebut,” sahut Ratu Duyung.


Saint Duyung merasa, tak salah lagi bahwa Pendekar Manusia itu adalah sosok yang sama dengan Dewa yang mengalahkan Dewa Cthulhu.


Saint Duyung kemudian mengeluarkan botol kaca kecil berisi cairan yang diberikan oleh Dewa Poseidon padanya. “Berikan ini pada Pendekar Alex itu dan juga beritahu pada seluruh Kerajaan di Benua Grandland untuk bersiap-siap menghadapi musuh yang datang dari lautan.”


Dengan hati-hati Ratu Duyung menerima botol kaca itu, kemudian ia berjanji akan memberitahu akan memberitahu kalau Perisai yang melindungi Benua Grandland telah lenyap.


Ratu Duyung juga langsung menyuruh Pendekar Duyung terkuat mengantar botol kaca itu ke Kota Perdamaian dan meminta Dewa Kota Avena memberinya pada Alex Acherron.


***


Sementara itu, di Pulau terluar Kerajaan Iblis, Lycus sangat senang Nathan berhasil menemukan apa yang mereka cari. Dia juga memuji anggota Organisasi Hercules termuda yang menjadi Pendekar tingkat 10 tersebut.

__ADS_1


“Yang Mulia lihat itu!” seru bawahannya yang lain menunjuk ke arah lautan.


Dari arah Samudera tampak Monster Hiu sebesar Pulau kecil berenang ke arah Pulau. Gelombang setinggi Pohon Kelapa lebih dulu menghantam Pulau akibat Monster raksasa itu berenang di laut dangkal.


“Panggil tunggangan kita,” sahut Lycus, “biarkan saja Kerajaan Iblis yang mengatasi Monster-monster yang muncul dari Samudera. Justru Monster-monster itu membantu meringankan tugas kita melenyapkan Ras Iblis.”


Lycus tersenyum lebar, karena Kerajaan Iblis terdiri dari Ribuan Pulau di sepanjang Barat Benua Grandland. Sementara Ras Manusia mungkin tidak akan terlalu disibukkan oleh ancaman Monster-monster itu, karena ujung selatan Kekaisaran Hazel adalah dataran Es yang membeku sepanjang masa dan bagian timur berbatasan dengan Kerajaan Orc, kemudian pantai Barat Kekaisaran Hazel akan terlindungi oleh Pulau-Pulau Kerajaan Iblis.


“Yang Mulia Lycus, tunggangannya sudah mendarat di halaman Kuil!” Nathan memanggil Lycus yang fokus menatap Monster Hiu yang hampir mencapai Pulau.


“Baiklah, mari tinggalkan Pulau ini,” sahut Lycus berjalan menuju halaman Kuil dan naik ke punggung Monster Elang Hitam.


Tak berselang lama, Pulau itu tenggelam oleh ombak besar dan mulut Monster Hiu menganga lebar saat melompat tinggi di udara hendak menelan Monster Elang Hitam. Namun, Monster Elang Hitam melesat terbang dengan cepat menghindari terkaman Monster Hiu tersebut.


Lycus berpikir sejenak dan berkata, “Sulit menebak siapa diantara Kami yang akan menang bila Aku melawannya. Namun, bila Aku memiliki mayat-mayat hidup Monster Ikan, maka Aku pasti dapat mengalahkannya.”


Nathan tidak menyangka Lycus sekuat itu, padahal sebagai Pendekar tingkat 10 ia merasa tidak akan mampu melawan Monster Hiu itu walaupun Elemen Sihir Es-nya dapat membekukan air laut disekitar Monster Hiu.


...***...


Badai petir disertai hujan deras terjadi di tengah-tengah Samudera, ombak di lautan itu mencapai Ratusan Meter.


“Bunuh Monster Wyvern sialan itu!” teriak William yang sedang sibuk menambal lubang pada bagian bawah kapal.

__ADS_1


Sebuah Sambaran Petir gagal ditangkis oleh alat Sihir penangkal petir. Kalau lubang itu tidak ditambal, kemungkinan lubangnya semakin melebar dan merusak Kapal Terbang Sihir.


“Sepertinya Kita akan makan daging Monster malam nanti!” sahut Ulrich mengikat tubuhnya dengan tali dan melompat dari Kapal Terbang Sihir sembari mengayunkan pedangnya yang telah diselimuti Sihir. “Dewi Sihir Limpahkan lah Pedangku dengan Sihir Angin Tornado; Bilah Tornadoooooooo!”


Setelah rapalan mantera Sihir Ulrich diucapkan, dari bilah pedangnya melesat bilah-bilah angin berbentuk Tornado yang melesat ke arah Monster Wyvern, Monster yang mirip dengan Naga tersebut.


Monster Wyvern yang sibuk menganggu William terkejut melihat serangan Sihir Ulrich. Dia berusaha menjauh sembari mengepakkan sayapnya yang langsung melepaskan hembusan angin kencang. Namun, Ulrich adalah salah satu Penyihir terkuat di Benua Vlorien, sehingga menghadapi Monster Wyvern hanyalah seperti menghadapi burung merpati liar saja baginya.


Bulu-bulu Monster Wyvern langsung berterbangan, terpisah dari tubuhnya. Sesaat kemudian, sayapnya terkoyak-koyak begitu juga dengan tubuhnya.


Ulrich menangkap daging Monster Wyvern yang melesat ke arahnya, kemudian ia tersenyum lebar karena mereka akan maka daging Monster nanti malam. Namun, rekan-rekannya di atas Kapal Terbang Sihir mengutuknya karena menyia-nyiakan sebagian besar daging Monster Wyvern.


“Hei, Aku kesulitan melihat gara-gara darah Monster sialan ini!” William mengeluh dan menatap Ulrich dengan kesal, tetapi Ulrich hanya tertawa menanggapi keluhannya.


“Cepat perbaiki Kapalnya agar Kita dapat keluar dari badai petir ini!” seru Ulrich mengikat daging Monster Wyvern dan bergelantung dekat William untuk menjaganya, mana tahu masih ada Monster Wyvern di dalam badai petir.


“Alat Sihirnya mendeteksi daratan besar!” Seorang Penyihir berteriak keras dari atas Kapal. “Namun, Kita masih membutuhkan waktu Enam Bulan lagi bila terbang dengan kecepatan tinggi,” katanya lagi.


Ulrich sangat senang mendengarnya, akhirnya perjalanan panjang mereka membuah hasil. William juga semakin bersemangat menambal lubang di lambung kapal.


“Kalau saja kita dapat berkomunikasi dengan Penyihir Agung tentang kabar baik ini,” kata Ulrich sembari menghela napas panjang. “Entah apa yang terjadi di Selatan Benua Vlorien saat ini, entah mengapa Aku selalu merasa khawatir.”


“Jangan khawatir, rekan-rekan kita pasti baik-baik saja. Para b.a.j.i.n.g.a.n Ksatria Suci pasti sedang sibuk juga mencari Benua baru itu.” William menghibur Ulrich. “Woi, tarik talinya, aku harus segera mandi. Darah Monster sialan itu menjijikkan sekali!” gerutunya.

__ADS_1


__ADS_2