Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris

Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris
Perang Melawan Kesatria Suci Kuil Matahari III


__ADS_3

Sudut bibir Adrian memancarkan seringai tipis, puas melihat para Iblis itu bertumbangan oleh serangan Meriam Sihir. Bahkan Satu Raja telah tewas, kini ia hanya perlu menargetkan Raja dan Ratu lainnya agar semangat juang musuh melemah.


“Aku akan menghancurkan kalian, b.a.j.i.n.g.a.n!” teriak Pangeran Draven mengepal erat tangannya dan tatapan matanya tertuju ke arah Adrian yang sedang menyeringai.


“Draven ... Kita harus mundur dan menjauh dari jangkauan meriam Sihir Kapal terbang Sihir itu!” seru Pangeran Gray Pendragon terbang mendekat ke arahnya.


Puluhan Naga juga telah tewas saat mencoba menyerang Kapal Terbang Sihir itu, Laser-Laser Sihir itu terlalu hebat dan sulit dihindari karena jauh lebih cepat dari mereka.


“Tidak bisa! Aku harus menghancurkan Kapal Terbang Sihir itu!” Dengan tegas Pangeran Draven menolak seruan Pangeran Naga tersebut.


“Kalau Kamu mati juga, maka siapa yang akan memimpin Pendekar Iblis? Apakah Kamu ingin nasib Ras Iblis sama dengan Ras Goblin?” tegur Pangeran Gray Pendragon menarik tangan Draven dan melemparnya ke punggungnya. Mereka harus segera terbang secepat mungkin sebelum Laser Sihir melesat lagi ke arah mereka, karena saat ini Laser Sihir melesat ke arah Pendekar Iblis yang berkerumun tak jauh dari mereka.


“Kejar mereka!” seru Adrian yang sudah tahu tujuan pihak musuh menjauh agar tidak berada dalam jangkauan tembakan Meriam Sihir.


Kapal terbang Sihir Kedua hendak melesat, tetapi Kapal Terbang Sihir berukuran lebih kecil menembakkan Laser Sihir berkekuatan lemah, sehingga itu membuat Kapal Terbang Sihir Kedua gagal melesat mengejar musuh.


Kapal Terbang Sihir Ketiga berhenti melaju, Kapten Kapalnya hendak datang membantu. Namun, Adrian menyuruhnya untuk mengejar musuh yang melarikan diri.

__ADS_1


“Kau akhirnya menampakkan batang hidungmu juga Penyihir menjijikkan! Apa kalian benar-benar ingin dimusnahkan selamanya? Padahal Kami telah memberikan ampunan kepada Penyihir, karena Penyihir Agung kalian merelakan kepalanya sebagai upeti agar kalian dibiarkan tetap hidup!” Adrian mencibir Ulrich yang berdiri diujung Kapal Terbang Sihirnya.


Ulrich menggertakkan giginya mendengar cibiran Adrian dan menghela napas dalam-dalam untuk menenangkan amarahnya.


Dia tidak menyangka Penyihir Agung Xavier akan tewas mengenaskan demi keselamatan para Penyihir.


“Moncong Meriam Sihir mereka telah mengarah pada Kita, apa yang akan Kita lakukan Kapten Ulrich!” teriak William yang mengemudikan Kapal Terbang Sihir tersebut.


“Tabrakkan Kapal ini ke Kapal Terbang Sihir mereka!” sahut Ulrich sembari menghunus pedang dari sarung pedang di punggungnya. “Rapalkan Mantera Sihir pada Kapal ini,” katanya lagi.


“Dewi Sihir Limpahkan lah Kapal Kami dengan Sihir Angin Tornado!”


“Dewi Sihir Limpahkan lah Kapal Kami dengan Sihir Penguatan!”


“Dewi Sihir Limpahkan lah Kapal Kami dengan Sihir Besi!”


Semua Kru Kapal Terbang Sihir yang dikapteni oleh Ulrich tersebut merapalkan Mantera Sihir, sehingga Kapal Terbang Sihir mereka diselimuti berbagai macam Sihir.

__ADS_1


Boooooommmmmm!


Kapal Terbang Sihir Pertama langsung mengalami retakan saat bertubrukan dengan Kapal Terbang Sihir Penyihir, tak lama kemudian Kapal Terbang Sihir berukuran besar itu terbelah dua dan menghantam permukaan tanah dengan keras.


“Kurang ajar kalian Penyihir sesat!” Adrian murka, karena sahabatnya masih berada di dalam ruang medis—entah bagaimana nasibnya sekarang setelah Kapal Terbang Sihir Kedua terbelah dan jatuh ke permukaan tanah.


Para Kesatria Suci segera mengepung para Penyihir yang jumlahnya hanya puluhan tersebut, sementara Kesatria Suci yang ada di Kapal Terbang Sihir Kedua berjumlah Ratusan, dan sebagian besar dari mereka telah turun ke Pulau lebih dulu untuk bergabung bersama Organisasi Hercules melawan para Pendekar Benua Grandland.


“Gunakan formasi Sihir bertahan!” seru Ulrich.


William dan Penyihir lainnya langsung membentuk posisi melingkar dan mengeluarkan Kristal Sihir yang mereka simpan di saku masing-masing, kemudian mereka merapalkan mantera Sihir Perisai.


“Cih, kubah lemah itu tidak akan dapat melindungi kalian!” cibir Adrian segera menerjang ke arah Perisai Sihir itu sembari mengayunkan pedangnya.


Saat perang melawan Penyihir di Benua Vlorien, hanya Perisai Sihir di menara Sihir saja yang tidak dapat dihancurkan oleh Kesatria Suci, makanya berlindung di sana setelah mereka selalu kalah melawan Kesatria Suci. Namun, bila terus digempur maka Perisai itu pasti akan hancur juga, itulah sebabnya Penyihir Agung Xavier mengorbankan dirinya demi keselamatan Penyihir yang tersisa.


“Cobalah kalau bisa,” sahut Ulrich yang merupakan Penyihir muda terkuat di Benua Vlorien, sayangnya saat Menara Sihir diserang oleh Kesatria Suci Kuil Matahari; ia telah meninggalkan tempat itu dan sedang dalam perjalanan menuju Benua Grandland. “Dewi Sihir Limpahkan lah Pedangku dengan Sihir Angin Tornado; Bilah Tornadoooooooo!”

__ADS_1


Dari bilah Pedang Ulrich melesat angin sepoi-sepoi yang dalam sekejap berubah menjadi sabit angin berputar-putar membentuk Tornado—yang langsung melesat ke arah Adrian.


Cahaya menyilaukan berwarna emas melesat dari bilah Pedang Adrian, permukaan tanah langsung bergetar hebat dan hancur berkeping-keping saat cahaya emas itu melesat ke arah kubah Perisai Sihir yang melindungi para Penyihir.


__ADS_2