Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris

Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris
Sosok Misterius Di Dahan Pohon


__ADS_3

Varol menarik tangan Ayla dan bersembunyi di balik Pohon Cemara, sebelum Ayla marah; Varol menunjuk ke arah dahan Pohon Cemara, di mana ada seorang berpakaian serba hitam yang terbuat dari kulit Monster tidur di dahan itu.


Dari kualitas kulit pada pakaian orang tersebut, Varol menilai orang itu hanyalah Pendekar biasa walaupun ia tidak dapat mengukur level Pendekar-nya.


Bukannya mendengarkan penjelasan Varol, Ayla malah tertawa pelan sembari menutup mulutnya. “Lihat itu, air liurnya menetes dari sudut bibirnya bahkan tidur dengan mendengkur. Apakah ia benar-benar tim mata-mata Organisasi Hercules? Jangan-jangan Dia hanya Pendekar pemula yang ingin mencari pengalaman hidup dengan berkelana di hutan,” bisiknya.


“Justru itu akan memudahkan kita menangkapnya bila memang dia hanya Pendekar pemula. Kita bilang saja dia adalah musuh yang menyusup ke dataran rendah Zenica. Kita pasti mendapatkan hadiah walaupun tidak sebesar menangkap anggota Organisasi Hercules,” sahut Varol segera menampakkan diri dan mengambil Batu, kemudian melemparnya ke arah sosok misterius yang tidur di dahan pohon Cemara tersebut.


Batu melesat ke arah wajah sosok misterius itu, tetapi tiba-tiba tangan sosok misterius itu menangkap batu.


“Hei, bocah nakal? Apa kalian belum bosan melemparku sekali dan masih ingin mengulangnya?” gerutu sosok misterius itu sembari menyeka air liurnya. Dia kemudian memasang penutup wajahnya yang sengaja ia lepas sebelum tidur, karena tidak ingin penutup wajah itu basah oleh air liurnya.


“Dia mengenakan penutup wajah, berarti Dia adalah tim pengintai Organisasi Hercules!” teriak Ayla menghunus pedangnya.


Varol juga segera memasang kuda-kuda beladiri dan Elemen Sihir Angin menyelimuti bilah Pedangnya.


“Aku bukan anggota Organisasi Hercules, Aku adalah Pendekar yang dikirim oleh Kekaisaran Hazel untuk mencari keberadaan Organisasi Hercules,” sahut sosok misterius itu.


“Kami tidak percaya! Mana buktinya?” sahut Ayla.


“Betul! Kami tidak percaya! Buktinya Kau memiliki penutup wajah seperti Organisasi Hercules!” seru Varol juga.


Sosok misterius itu menghela napas dalam-dalam. “Lihat dengan jelas, penutup wajahku tidak memiliki motif tengkorak seperti Organisasi Hercules.”


Varol menoleh ke arah Ayla untuk memastikan apakah perkataan sosok misterius itu benar. Namun, Ayla mengangkat bahunya, karena ia juga tidak tahu seperti apa ciri-ciri anggota Organisasi Hercules kecuali mereka selalu mengenakan penutup wajah dan membunuh semua orang kecuali Ras Manusia.


“Baiklah, karena kalian meragukan identitasku, maka Aku akan menunjukkan pada kalian lencana militerku,” sahut sosok misterius itu.


Varol menangkap Lencana Emas yang memiliki lambang Pedang dan Perisai, kemudian ia mengangguk pelan.


“Bagaimana, apakah kalian percaya padaku?” tanya sosok misterius itu.


“Apakah ini asli?” Varol malah bertanya pada Ayla.


“Aku tidak tahu, kan ... Aku cuma Pendekar yang berkelana disekitar dataran rendah Zenica saja, bagaimana Aku tahu atribut militer?” sahut Ayla.


Sosok misterius itu mendengus kesal oleh ulah Kedua Beasthuman Ular itu, Dia melompat turun dari dahan pohon.


“Sial! Aku menggunakan Kekuatan Dewa Helzvog untuk meniru lencana militer Kekaisaran Hazel, tetapi bocah-bocah Suku Ular ini ini ternyata Katak dalam tempurung,” keluh Alex menancapkan Pedang Meteor ke permukaan tanah. “Hei, Nak! Kalian ingin menguji kesabaranku, ya? Apakah kalian tahu bilah Pedang ini telah merenggut nyawa Hiu sebesar Pulau? Kalau kalian ingin hidup damai, maka tolong jangan bercanda lagi!”


Namun, Ayla dan Valor malah tertawa terkekeh-kekeh mendengar perkataan Alex, karena mereka merasa bualannya terlalu tinggi.

__ADS_1


“Kalau ingin berlagak keren, tolong jangan terlalu hebat, lah ... masa, Kamu menyetarakan Kekuatanmu seperti Pangeran Alex Acherron saja. Ha-ha-ha ... lucu sekali Paman ini.” Ayla menertawai sosok misterius di hadapannya.


“Jadi, namamu pasti Alex, kan?” tanya Valor sebelum ikut tertawa terkekeh-kekeh.


“Ya, memang namaku adalah Alex,” sahut Alex dengan kening mengkerut masam. “Kalian membanding-bandingkan diriku sendiri, bocah-bocah ingusan,” gerutunya dalam benaknya.


Alex kemudian menghela napas panjang dan menengadah menatap langit dengan melankolis.


Valor menyeringai lebar mendekati Alex sembari menjilati bilah Pedangnya. “Hei, Paman! Menyerah lah atau ....”


Ayla juga ikut menyeringai nakal untuk menakut-nakuti mental lawannya. Namun, sebelum alisnya terangkat, Alex sudah menampar pipi Varol dan Ayla.


Teriakan kesakitan menggema di hutan itu, burung-burung pun berterbangan dari pohon-pohon Cemara.


“Sekarang kalian sudah percaya Aku bukan anggota Organisasi Hercules, kan?” Alex tersenyum lebar menatap Dua Pemuda Suku Ular yang sedang memegang pipi mereka yang membengkak tersebut.


“Tapi tidak begini juga caranya, Paman si—” Ayla hendak mengumpat pada Alex, tetapi Valor langsung menutup mulutnya sebelum mengucapkan kata sialan.


“Cepat jalan, menurut badan intelijen Kekaisaran Hazel, Organisasi Hercules telah memasuki dataran rendah Zenica,” kata Alex bertindak seperti Pasukan Kekaisaran Hazel.


Valor terkejut mendengarnya, karena menurut informasi dari Suku Ular—hanya dataran rendah Zenica satu-satunya wilayah Kerajaan Beasthuman yang belum didatangi oleh Organisasi Hercules.


“Kita harus menghentikan mereka, Paman Alex!” seru Valor sembari mengepal erat tangannya.


Sebenarnya para Pedagang wajar dikawal oleh Pendekar, tetapi bila jumlahnya banyak maka itu sangat mencurigakan—mengingat pedagang itu harus mengeluarkan biaya besar untuk upah mereka, sementara prinsip dasar pedagang adalah mendapatkan untung sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya, kalau bisa cukup dengan modal terimakasih saja.


“Kemarin hanya rombongan Karavan Pedagang saja yang lewat dengan Kereta Kuda yang cukup banyak, tetapi mereka hanya membawa Gandum dan hanya membawa Satu Pendekar tingkat 7,” sahut Ayla.


“Apakah mereka mengubah tempat tujuan mereka akibat kehilangan Pendekar yang mengacau di dataran rendah Therondia?” gumam Alex, karena Pasukan dibawah pimpinan Jeremy dan Riley telah musnah. “Baiklah, mari kita pergi ke Kota Ardotalia, tetapi kalian tidak perlu mengungkapkan identitasku pada Pendekar Suku Ular, karena Aku berada di unit pengintai sehingga identitasku harus tetap rahasia,” katanya lagi.


Ayla menutup mulutnya menahan tawa, sehingga Alex mengerutkan keningnya. Apa yang dipikirkan oleh gadis Suku Ular ini.


“Katanya di unit pengintai, tetapi ia memberitahu pada kita nama unitnya. Berarti itu bukan rahasia lagi,” bisik Ayla ke telinga Valor yang ikut tersenyum lebar.


Alex mendengar apa yang dikatakan oleh Ayla dan ia hanya bisa mengelus dada saja, kenapa bocah-bocah ini bisa bersikap santai, padahal mereka bertemu orang asing. Kalau mereka bertemu Organisasi Hercules, leher keduanya pasti sudah berpisah dari raganya.


...***...


Karavan Pedagang yang diperiksa oleh Valor saat melewati perbatasan kini telah mencapai bagian tengah dataran rendah Zenica, mereka hanya butuh waktu Tiga Jam lagi untuk mencapai Kota Ardotalia.


“Bos Eden, bagaimana kalau Kita beristirahat di Desa itu. Aku melihat Ular-Ular cantik di sana, sudah lama si kecilku tidak merasakan Ular betina he-he-he.” Kusir Kereta Kuda menjulur lidahnya saat menatap ke arah Desa kecil yang terletak di tengah-tengah dataran rendah Zenica tersebut.

__ADS_1


Eden menarik tirai jendela Kereta Kuda dan menatap ke arah Desa. “Kalian harus melenyapkan semuanya, jangan ada saksi mata yang tertinggal!” sahutnya dengan malas dan menutup matanya lagi.


Eden memiliki Elemen Sihir Kedua yang sangat spesial, di mana ia dapat menyembunyikan aura Pendekar-nya dan orang-orang yang ia kehendaki.


Saat melewati perbatasan yang dijaga oleh Satu Pendekar tingkat 10 dan beberapa Pendekar tingkat rendah, Eden menggunakan Elemen Sihir spesialnya itu makanya mereka memasuki dataran rendah Zenica dengan mulus.


Kereta Kuda pun memasuki Desa, para penduduk Desa keheranan kenapa banyak Kereta Kuda yang memasuki Desa mereka.


Pendekar tingkat 5 yang terkuat di Desa itu menyambut kedatangan Neil, Kusir Kereta Kuda Eden yang menyarankan untuk berhenti di Desa ini.


Pendekar tingkat 5 Suku Ular itu meletakkan tangan kanannya di dada untuk menunjukkan rasa hormat. “Kenapa tuan-tuan memasuki Desa kami? Apakah tuan tidak tahu jalan menuju Kota Ardotalia?” sapanya sembari tersenyum hangat.


Dia tidak merasakan Aura Pendekar dari Neil, begitu juga dengan Kusir Kereta Kuda lainnya makanya ia menyambut kedatangan mereka dengan santai.


Neil menyeringai lebar dan berkata, “Aku ingin bersenang-senang dengan gadis-gadis Ular dan menemaniku meliuk-liuk di atas ranjang.”


Pendekar Suku Ular itu mengerutkan keningnya mendengar perkataan Neil. Itu terdengar seperti merendahkan martabat Suku Ular saja.


“Hei, Manusia! Apakah Kamu tidak ingat di mana Kamu berada?” cibirnya menatap tajam Neil yang tetap menyeringai jahat.


“Apa Kamu tidak terima kalau Ras binatang rendahan seperti kalian harus bertekuk lutut di bawah kaki Kami?” sahut Neil menjentikkan jarinya, semburan Api melesat ke arah Pendekar Suku Ular itu.


Tanpa sempat melawan, Pendekar Suku Ular itu langsung berubah menjadi butiran debu, karena Neil adalah Pendekar tingkat 9. Sehingga melawan Pendekar tingkat 5 hanya seperti membalikkan telapak tangan saja baginya.


“Lariiiiiiiiiii!” Kepala Desa Suku Ular berteriak keras.


Warga Desa yang kebanyakan hanyalah Pendekar tingkat 1 segera berubah wujud menjadi Ular dan melarikan diri ke padang rumput.


“Kalian mau kabur ke mana? Ular kecilku belum bersenang-senang,” canda Neil mengejar Wanita Suku Ular yang cukup cantik saat dalam wujud Manusia.


Wanita Suku Ular yang telah menjadi Ular itu masuk ke dalam rumah melalui jendela. Neil menebas jendela rumah itu dan masuk ke dalamnya.


Namun, Ular kecil mendesis di dekat kakinya, kemudian Ular kecil itu mematuk pergelangan kaki Neil.


“Ular sialan!” bentak Neil marah oleh ulah Ular kecil itu, kemudian menendangnya dengan keras.


Ular itu berubah wujud menjadi gadis kecil berusia Lima tahun, dadanya hancur dan dari mulutnya menyembur seteguk darah.


“Tidakkkkkkkk!” Wanita Suku Ular yang melarikan diri dari kejaran Neil berteriak histeris. “Putriku!” Dia menangis tersedu-sedu, kemudian menatap tajam ke arah Neil.


Namun, saat ia menyerang Neil, dengan mudah Neil mencengkram erat rambutnya. Kemudian Neil membanting wanita ular itu ke atas Ranjang.

__ADS_1


Neil menyeringai nakal sembari menjulur lidahnya, kemudian ia menurunkan celananya dan melompat ke atas ranjang. Dia mem.per.ko.sa wanita Suku ular itu hingga puas, kemudian mencekik lehernya setelah merasa bosan.


“Cih, dasar Ular bekas, membosankan sekali!” cibir Neil meludahi mayat Wanita Suku Ular itu. “Ah, mudah-mudahan saja mereka masih menyisakan yang masih p.e.r.a.w.a.n untukku,” gumam berjalan melewati gadis kecil yang telah tewas di dekat ranjang.


__ADS_2