
Inarius tidak menyangka Alex memiliki Kekuatan yang menurut penilaiannya hampir mendekati Kekuatan Dewa Matahari.
Dia juga lah yang membuat Adrian memiliki Kekuatan setara level Saint, tetapi Adrian langsung kalah hanya dengan sekali serang saja.
Dia berpikir misi membujuk Alex menjadi Saint di Benua Grandland tidak akan mudah. Dia pun mengurungkan niatnya itu dan menunggu perintah Dewa Matahari, apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
Sebenarnya ia ingin berduel dengan Alex, tetapi bila ia melakukannya maka ia tidak akan bisa lagi mencicipi makanan enak di Restoran Sarah. Kalau ia menang sih tidak akan ada masalah, tetapi bila ia kalah—itu akan membuat reputasinya jelek di mata Enam Malaikat lainnya dan akan mendapatkan olok-olokan dari mereka.
“Masih ada waktu luang sebelum mereka pergi ke Benua Vlorien, lebih baik Aku kembali ke Kota Perdamaian makan malam di Restoran Sarah,” gumam Inarius yang mengamati pertarungan antara Pendekar Benua Grandland melawan Kesatria Suci Kuil Matahari dari balik awan yang berjarak cukup jauh dari Pulau, makanya Alex tidak merasakan kehadirannya.
Sementara itu di Pulau Kerajaan Iblis itu, Pendekar dari luar Kerajaan Iblis segera kembali ke negera masing-masing. Alex telah memberikan jaminan kalau para tawanan tidak akan memberontak walaupun mereka tidak dikekang atau diawasi.
Raja Iblis yang baru hanya meninggalkan beberapa Prajurit yang bertugas menjaga Pulau itu, sementara yang lainnya kembali ke ibukota dan sebagian lagi bertugas mengawal kepulangan pengungsi ke wilayah-wilayah Kerajaan Iblis.
Alex, Helena dan Sarah juga pulang ke Kota Perdamaian, tetapi mereka lebih dulu menginap satu malam di Kerajaan Hutan Abadi untuk memuaskan kerinduan Ratu Elf terhadap cucunya.
Namun, ada yang membuat Alex kebingungan. Delilah yang selalu menatapnya dengan tatapan penuh kebencian terlihat akrab dengan Zelma dan keduanya ikut dengan mereka pulang ke Kota Perdamaian.
__ADS_1
“Hmm, enak sekali! Kalian hebat sekali membuat masakan selezat ini,” kata Delilah memuji Eva dan Hannah yang membuatnya Bakso.
“Semua makanan di Restoran ini diciptakan oleh Bos Alex,” sahut Hannah, “bahkan Bos Alex dengan sukarela membagikan resep masakan buatannya itu agar semua orang bisa memasak makanan lezat.”
Delilah tidak menanggapi sanjungan Hannah terhadap Alex. Mendengar nama Alex saja sudah membuat suasana hatinya berubah, Bakso yang awalnya terasa enak menjadi hambar secara tiba-tiba.
Hannah dan Eva tentu merasakan perubahan ekspresi wajah Delilah.
“Aku hanya kelelahan saja,” kata Delilah tidak ingin kedua gadis muda di hadapannya itu merasa sedih dan memaksakan diri melahap habis baksonya. “Ah, kenyangnya!”
“Kenapa Kamu memutuskan ikut dengan Pangeran Alex ke sini? Bukankah Kamu sangat membencinya?” selidik Zelma penasaran.
“Aku ingin melihat langsung seperti apa kehidupan di Benua asing ini.” Delilah berkata pelan, sudut bibirnya memancarkan senyuman tipis. “Ternyata berbagai Ras hidup berdampingan di sini. Pemandangan di sini sangat jauh berbeda dengan Benua Vlorien Kita.”
“Ya, mereka juga sangat baik, walaupun ada juga yang jahat seperti kalian!” sahut Zelma sembari menoleh ke arah Alex yang sedang memasakkan makanan untuk Sarah di dapur. “Seseorang yang Kami kira baik hati telah menolong Kami, eh ... ternyata dia adalah penipu, untung saja setelah itu Kami hanya bertemu orang-orang baik saja.”
Alex mengerutkan keningnya mendengar sindiran Zelma dan berpura-pura tidak mendengarnya.
__ADS_1
“Karena kalian akan tinggal di sini selamanya, maka cobalah berbaur dengan penduduk di sini. Jangan bersikap angkuh lagi seperti yang Kamu lakukan di Kekaisaran Suci Kuil Matahari.” Zelma menasehati Delilah yang menurutnya masih menaruh dendam terhadap Alex.
Delilah mengangguk pelan dan tatapan matanya tertuju pada sudut ruangan Restoran Sarah. Pria muda berambut pirang, bermata biru sedang asyik menyantap gado-gado.
Dia merasa pernah melihat Pria muda itu, ia juga terkejut tidak dapat mengukur Level Kekuatannya. Namun, ia merasa Pria itu memiliki energi Sihir yang mirip dengan Kesatria Suci.
Zelma menoleh ke arah Delilah menatap. Dia langsung tersenyum lebar dan berbisik, “Apa Kamu langsung jatuh cinta pada pandangan pertama?”
Delilah langsung salah tingkah, pipinya memerah dan berkata, “Bukan! Mana mungkin aku ....” Tiba-tiba ia teringat sahabatnya, Adrian. Kemudian ekspresi wajahnya kembali tampak sedih.
“Ah, maaf-maaf! Aku cuma bercanda saja,” kata Zelma karena Delilah malah terlihat sedih. “Pria itu sebenarnya orang yang misterius. Tidak ada yang mengetahui latar belakangnya, tetapi kata Bos Alex ... Dia itu sangat kuat dan dapat berjalan di udara. Kalau tidak salah ia mengatakan namanya adalah Inarius!”
“Apaaaaaaaaaaaa?” Delilah terkejut mendengarnya, semua pelanggan Restoran Sarah langsung menoleh ke arahnya. Dia tersadar telah membuat kehebohan, kemudian ia membungkukkan tubuhnya. “Maaf-maaf ... silahkan lanjutkan makan kembali!”
“Kenapa Kamu bereaksi begitu? Apa Kamu mengenalinya?” bisik Zelma penasaran siapa Pria tampan misterius itu.
Delilah teringat dengan wajah di lukisan-lukisan Kuil Matahari. Salah satu dari Tujuh Malaikat pada lukisan itu terlihat mirip dengan Inarius.
__ADS_1
Inarius juga digambarkan sebagai Malaikat paling menonjol pada era Perang Dewa. Saat medan Perang tiba-tiba menjadi gelap oleh Dewi Sihir, Cahaya emas menyebar dari tubuhnya menerangi medan Perang; bersama Jutaan Kesatria Suci, Inarius menerjang maju dan menghabisi pengikut Dewi Sihir dan pengikut Dewa-Dewa lainnya dengan mudah.
Delilah mengepal tangannya, muncul keraguan dalam hatinya. Apakah ia akan memberitahu identitas Inarius atau justru meminta bantuan padanya.