Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris

Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris
Hukuman Dari Helena


__ADS_3

Helena menggelengkan kepala mendengar kalimat kotor yang keluar dari mulut para Preman itu. Dia kemudian mencabut rumput di pinggir jalan, karena ia tidak membawa Pedangnya.


Levi dan para Preman keheranan melihat gadis Elf itu mencabut rumput, mereka berpikir mungkin gadis Elf itu sebenarnya bukan berpura-pura sok misterius. Namun, ada salah dengan otaknya atau mungkin otaknya sedikit miring sehingga aslinya dia hanya wanita gila berwajah cantik saja.


“Bawa para gadis-gadis itu ke rumah bordil dan kita akan berpesta menikmati tubuh mereka hingga puas tanpa perlu mengeluarkan bayaran!” seru Levi setelah menilai kalau gadis Elf di hadapannya adalah Elf yang berpikiran tidak waras setelah Elf itu mencabut rumput.


Helena yang baru saja mencabut rumput keheranan melihat perubahan sikap para bandit yang begitu tiba-tiba.


“Elf cantik... sini Paman peluk he-he-he ....” Preman bergigi emas karena tidak pernah menyikat giginya menyeringai lebar di hadapan Helena dan hendak memeluknya lebih dulu dari rekan-rekannya yang terlambat berlari lebih dulu darinya.


“Ara... ara... Paman nakal sekali, apa Paman gigi emas tidak takut suamiku akan marah?” sahut Helena malah tertawa sembari menutup mulutnya, sementara tangan kirinya menjentikkan sehelai rumput itu ke arah Preman tersebut.


Elemen Sihir Kehidupan yang sangat besar mengalir ke arah rumput itu dan membuat sehelai rumput itu tumbuh, serta membesar menjadi tanaman merambat.


Seringai jahat Pria bergigi emas itu langsung memudar digantikan ekspresi wajah ketakutan. Mulutnya terbuka lebar hendak mengucapkan sesuatu, tetapi tanaman merambat itu melilit lehernya dan terdengar suara tulang lehernya yang remuk.


Wajah Levi menjadi muram, sebagai satu-satunya Pendekar diantara para Preman itu—hanya dirinya yang mengetahui kalau Helena ternyata memiliki Dua Elemen Sihir, makanya sehelai rumput itu bisa berubah menjadi tanaman merambat yang mematikan.


Ander yang hampir mendekati Viola segera berlari ke arah Levi. Dia tahu, dirinya pasti akan bernasib sama dengan Preman bergigi emas itu bila menyentuh Viola.


“Aku harus mencari kesempatan melarikan diri dari sini,” gumam Ander setelah menilai Pamannya sepertinya tidak percaya diri mampu mengalahkan Elf itu.


Namun, saat Ander melangkah beberapa langkah saja, tiba-tiba tanaman merambat menggeliat seperti ular menembus dada Preman di sebelahnya.

__ADS_1


Ander panik dan menoleh ke belakang, keningnya langsung mengkerut karena salah satu tanaman merambat melesat ke arahnya. “Bibi Rosa! Tolong selamatkan Aku... Aku Ander anak Bertha!”


“Ander?”


Viola langsung mengenali pemuda itu karena saat ia kecil, mereka sering bermain bersama. Namun, saat menginjak usia remaja—Ander mulai bergaul dengan para Preman sehingga hubungan pertemanan mereka menjadi renggang.


Akan tetapi satu tahun terakhir Ander ingin menjadikan Viola sebagai kekasihnya. Namun, Viola tidak mau menjadi kekasihnya karena teman masa kecilnya itu menjadi Preman.


“Bibi Rosa—”


Tanaman merambat menembus perut Ander, seteguk darah menyembur dari mulutnya dan air matanya mengalir deras saat merasakan rasa sakit yang menyakitkan.


Rosa diam membisu menatap Ander yang tersungkur di permukaan jalan. Entah mengapa, ia tidak merasa kasihan walaupun Pemuda itu adalah Putra dari Nenek Bertha yang merawatnya saat dirinya sakit, mungkin itu karena Ander beberapa kali menyiksanya saat berhubungan badan di rumah bordil.


“Dari mana kamu mendapatkan Elemen Sihir Kegelapan itu?” selidik Helena hanya menyisakan Levi. Dia tidak menyerangnya karena Elemen Sihir Kegelapan Levi mirip dengan yang dimiliki oleh Zeldeth, Tetua Elf yang mengabdi pada Dewa Cthulhu.


Levi tidak menjawab pertanyaan Helena, dia teringat dengan perkataan sosok yang mengajarinya cara menyerap Kekuatan Dewa Cthulhu bahwa ada beberapa Pendekar yang mengenali Aura mereka dan bila sosok seperti itu bertemu dengannya, maka ia disarankan untuk melarikan diri kecuali ia telah mencapai Pendekar tingkat 11.


“Untuk apa kamu bertanya bila sudah mengetahui jawabannya,” cibir Levi menggenggam erat gagang Pedang Hitamnya.


Levi memutuskan melawan Helena walaupun dirinya hanya Pendekar tingkat 7 saja, karena bila memutuskan untuk melarikan diri juga percuma saja; jarak antara dirinya dengan Helena hanya beberapa langkah saja.


“Oh, ternyata kamu salah satu dari mereka yang merelakan jiwanya menjadi budak Dewa Cthulhu,” cibir Helena menjentikkan jari tangannya.

__ADS_1


Seluruh tanaman merambat melesat ke arah Levi yang langsung menebas tanaman merambat itu. Namun, setiap kali tanaman merambat terpotong, tanaman merambat itu kembali beregenerasi.


Levi menjerit kesakitan karena salah satu tanaman merambat menembus punggungnya, tetapi ia tetap berjuang melawan tanaman merambat itu. Jeritan kesakitan Levi kembali terdengar saat dada ditembus oleh tanaman merambat.


Keributan itu menarik perhatian para pejalan kaki, sehingga setelah Levi dan bawahannya tewas dibunuh oleh Helena, tempat kejadian itu dikerumuni oleh orang-orang yang penasaran melihat mayat Levi dan bawahannya.


Nenek Bertha dengan tertatih-tatih menuju kerumunan itu karena ia mendengar kabar Levi, adiknya telah tewas dibunuh oleh gadis Elf cantik.


Nenek Bertha membelalakkan mata saat melihat tubuh putranya tergeletak dengan kondisi mengenaskan. “Anderrrrr... Putraku!” Dia menjerit dan menangis histeris.


Jean dan Petugas Keamanan wilayah timur Kota Perdamaian baru saja sampai di tempat kejadian itu. Mereka meminta para kerumunan massa untuk menjauh dan meminta keterangan pada saksi-saksi untuk mencari tahu siapa pelakunya.


“Itu dilakukan oleh Elf dari Restoran Sarah!” seru Nenek Bertha mengadu pada Jean sembari menyeka air matanya. “Anderku yang malang... hanya karena ia mengungkapkan cinta pada Viola karyawan Restoran Sarah itu, Elf itu tega membunuhnya dan juga membunuh Pamannya serta yang lain!” Tangisan Nenek Bertha semakin keras sehingga seorang Petugas Keamanan terpaksa membantunya berjalan menjauh dari sana.


“Menurut salah satu saksi mata, Elf itu bersama Tiga wanita lainnya menuju ke arah pinggiran Sungai Elbrus, Komandan Jean.” Seorang Petugas Keamanan melapor. “Kalau kita mengirim beberapa Petugas Keamanan, maka masih ada kesempatan menangkap mereka!” katanya lagi.


Namun, Jean menggelengkan kepala. “Bersihkan saja tempat kejadian ini dan kubur mereka!” sahutnya segera berjalan ke arah Kereta Kuda.


Para Petugas Keamanan terkejut mendengar jawaban dari Jean, bahkan Nenek Bertha langsung jatuh pingsan karena tidak menyangka pembunuh anaknya akan dibiarkan bebas begitu saja.


Jean tahu mereka penasaran kenapa ia mengabaikan kasus ini, karena setiap kasus yang berhubungan dengan Alex serta orang-orang disekitarnya—maka Lord Torin yang akan menangani kasus itu.


Namun, Jean yakin seperti kasus kematian Lancelot dan Jack yang mengendap begitu saja, hal yang sama juga akan terjadi pada kasus pembunuh ini.

__ADS_1


__ADS_2