
Catherine terus menempel di sekitar Alex selama saudara laki-lakinya itu sibuk dalam membuat Ayam Betutu. Dia tidak menyangka Alex benar-benar hebat sebagai Koki, padahal awalnya ia mengira saudaranya itu hanya mencatut gelar Koki saja dan dibalik kesuksesan Restoran Sarah sebenarnya dikomandoi oleh Hannah dan Eva.
Namun, setelah melihat secara langsung Alex dengan teliti menyiapkan bahan-bahan serta bumbu halus sebelum dilumuri ke seluruh Ayam Betutu, mau tak mau Catherine menjadi tercengang.
Pikiran Catherine melayang pada sosok Pria tua yang mengajari Koki Istana membuat Bebek Panggang dan ia yakin Alex belajar memasak dari Koki Legendaris itu.
”Apakah Kak Alex kini menjadi Koki Legendaris?” Catherine akhirnya bertanya setelah menjadi gadis pendiam selama Alex sibuk membuat Ayam Betutu.
Alex menatap wajah Catherine sembari tersenyum hangat. ”Mungkin kini Aku adalah Dewa Koki atau Dewa Makanan, mungkin juga Dewa Kuliner,” candanya.
Catherine mengerutkan keningnya dan langsung mencubit pinggang Alex sehingga Alex menjerit kesakitan, kemudian keduanya tertawa terkekeh-kekeh.
Selain Catherine, semua karyawan Restoran Sarah sangat sibuk melayani pelanggan dan menyiapkan pesanan Kastil Pemimpin Kota yang cukup banyak, sehingga Helena yang biasanya hanya menjadi Kasir terpaksa ikut membantu begitu juga dengan Miranda.
”Apakah daun pisangnya cukup?” tanya Alex datang ke dapur membawa ember berisi Ayam Betutu yang telah matang dan terbalut dengan daun pisang.
Alex menyuruh mereka membungkus pesanan berisi Rendang dan Ayam Crispy dengan daun pisang ala rumah makan Padang di kehidupannya yang sebelumnya. Selain menghemat biaya, tentunya itu lebih praktis karena tidak perlu membungkus Nasi dan lauknya secara terpisah.
“Cukup,” sahut Helena, “untung saja tadi pagi Aku meminta Rambo membeli ratusan helai daun pisang ke pasar.”
Alex sangat senang mendengarnya, inilah kelebihan memiliki istri. Padahal tadi pagi, tidak sempat terpikirkan olehnya kalau stok daun pisang di gudang penyimpanan tidak akan cukup membungkus semua pesanan ini, karena stok daun pisang itu hanya diperuntukkan untuk membalut Ayam Betutu saja.
__ADS_1
”Akhirnya selesai juga!” Catherine duduk bersandar pada dinding di dapur setelah membawa Dua Ember besar berisi Ayam Betutu.
”Sekarang kamu harus segera mandi, karena kamu juga akan menghadiri pertemuan di Kastil Pemimpin Kota itu!” seru Helena yang membuat Alex terkejut mendengarnya.
”Kenapa Aku harus ikut?” Alex bingung, karena utusan Lord Michael semalam tidak ada mengatakan tentang dirinya akan ikut dalam pertemuan itu.
“Beberapa jam yang lalu, tuan Jonathan datang membawa surat undangan dari Lord Michael!” sahut Helena, ”karena Kamu sibuk di dapur, tuan Jonathan memintaku untuk memberikan surat undangan ini setelah pesanan mereka selesai dibuat.”
Alex berpikir sejenak, apakah ia akan menghadiri pertemuan itu atau tidak.
Dia sebenarnya tidak tertarik menghadiri pertemuan itu, karena dirinya akan menatap wajah-wajah yang tidak ingin ia lihat lagi. Apalagi di sana ia akan bertemu lagi dengan saudara tertuanya yang terkenal sangat licik tersebut.
Namun, bila ia menolak undangan Lord Michael, ia takut Lord Michael akan kecewa padanya dan tidak mau lagi berbagi informasi tentang Dewa Cthulhu maupun Mordor yang kini entah di mana keberadaannya.
Helena hanya tersenyum hangat dan mengikuti Alex ke lantai atas Restoran Sarah. ”Aku juga berkeringat, mandi bersama sepertinya akan membuat tubuhku menjadi segar,” sahutnya.
Sudut bibir Alex memancarkan senyuman tipis yang mencurigakan dan Hannah serta Catherine bertanya-tanya dalam benak masing-masing, kenapa Alex malah tampak bersemangat hanya mandi bersama dengan istrinya.
...***...
Pelanggan terakhir Restoran Sarah akhirnya pergi dan Viola segera menutup pintu serta membalikkan tulisan buka menjadi tutup. Dia menghela napas lega saat duduk di kursi.
__ADS_1
”Pekerjaan hari ini sangat melelahkan, ya,” kata Lilith ikut duduk di dekat Viola.
”Iya, eh... kenapa Nyonya Bos belum turun dari tadi?” Elenna kebingungan, bahkan ia terpaksa menjadi Kasir padahal ia juga sibuk melayani pelanggan.
Catherine juga merasa ada yang salah, karena sudah satu Jam Alex dan Helena mengatakan akan pergi mandi bersama.
”Aku akan memanggil mereka, mungkin saja mereka ketiduran!” Catherine langsung berlari menuju tangga.
Hannah hendak menghentikan Catherine, tetapi sudah terlambat karena Catherine sudah berada di lantai atas Restoran Sarah.
Di benak Hannah kini, Alex dan Helena mungkin sedang bergulat panas di kamar karena saat ini Sarah masih di Sekolah Harapan dan saat seperti ini lah momen yang tepat untuk saling mencurahkan segala sesuatu yang terpendam lama.
”Kenapa Kamu berdiri di pintu Kamar? Apa Kamu ingin—” Alex yang hanya mengenakan handuk menegur Catherine yang berdiri di depan kamarnya.
“Ke mana saja kalian, kenapa lama sekali?” sela Catherine dengan gugup dan keningnya langsung mengkerut saat menoleh ke arah Helena di belakang Alex yang juga hanya mengenakan handuk.
Matanya langsung terbelalak saat menatap gundukan yang hampir lepas dari ujung handuk Helena. Tanpa sengaja ia malah memegang dadanya sendiri dan merasa ukuran miliknya jauh lebih kecil.
Alex mengerutkan keningnya melihat reaksi adiknya itu. ”Jangan khawatir, itu akan tumbuh lebih besar bila kamu rajin makan daging,” candanya sembari mendorong Catherine menjauh dari pintu. ”kalau tak ada yang penting, kembalilah ke bawah dan bantu Viola mencuci piring serta menyapu halaman!”
Helena tersenyum menepuk pundak Catherine dan berbisik, ”Tidak perlu khawatir, selama kamu cantik... pasti banyak pemuda yang ingin menjadi suamimu dan... Ukurannya tidak terlalu buruk, kok, masih indah dipandang.”
__ADS_1
Catherine terbatuk-batuk mendengarnya dan merasa pasangan suami istri ini memiliki kepribadian aneh, makanya mereka serasi. Dia pun memutuskan segera turun ke lantai bawah karena tidak ingin pikirannya terkontaminasi oleh kegilaan mereka.