
Kris segera mengeluarkan Sarah dan Irina dari dalam kereta kuda. Dia langsung tersenyum lebar menatap Sarah yang tetap terlihat kesal menatapnya.
Jean sangat senang akhirnya ada juga anggota Keluarga Pengusaha yang mau menumpas para bandit yang telah meresahkan masyarakat.
Jean tidak tahu sebenarnya tujuan Margareth bukan untuk melindungi masyarakat, akan tetapi ia ingin menyenangkan hati Alex agar kerjasama diantara mereka berjalan lancar.
“Hmm, gadis itu sudah seperti para Oligarki di kehidupanku sebelumnya saja,” gumam Alex yang bersembunyi diatas atap rumah warga tanpa disadari oleh mereka, bahkan Evelyn yang merupakan Pendekar tingkat 8 juga tidak menyadarinya. “Jiwa bisnisnya memang hebat, sepertinya Aku tidak salah memilih berkerja sama dengannya. Selama saling menguntungkan, maka Margareth pasti akan mencoba melakukan yang terbaik membantuku di masa depan,” pikirnya lagi.
Alex berlari ke arah mereka dan berpura-pura cemas menatap Sarah yang terlihat santai walaupun ditangkap oleh Petugas Keamanan.
“Sarah! Apakah kau baik-baik saja, Putriku tercinta?” Alex segera memeluk Sarah.
“Ayah... pakaianmu basah,” sahut Sarah segera mendorong tubuh Alex agar menjauh darinya. Kemudian ia tersenyum lebar dan berkata, “Sarah telah memukul orang-orang jahat yang menggangu Ibu Ham.”
Alex tersenyum tipis dan membelai rambut perak gadis kecil setengah Elf itu. “Bagus, Kamu telah melakukan hal yang benar dan menjunjung tinggi keadilan,” sahutnya bangga dengan apa yang dilakukan oleh Sarah.
Jean tidak menyangka Ayah dari gadis setengah Elf itu ternyata Manusia biasa saja, padahal ia mengira Ayah Sarah adalah Pendekar tingkat tinggi karena telah memiliki anak Pendekar tingkat 4 diusia yang masih belia.
Kalau Alex hanya manusia biasa maka Jean berpikir mungkin Ibu dari gadis kecil setengah Elf itulah yang merupakan Pendekar tingkat tinggi. Dia tidak menyangka Alex sangat beruntung sekali mendapatkan istri Elf yang terkenal tidak mau berbaur serta menikah dengan Ras lain itu.
“Hmm, Dia cukup tampan dan mirip dengan Pangeran Alex,” pikir Jean menebak Elf itu mungkin penggemar Pangeran Alex dan kebetulan Pria dihadapannya ini mirip dengan Pangeran Alex makanya Dia mau menikah dengannya.
“Terimakasih Nona Margareth telah membantu melepaskan putriku dari penahanan Petugas Keamanan,” kata Alex menundukkan sedikit kepalanya pada Margareth.
Kris segera melambaikan tangan dan berkata, “Petugas Keamanan hanya ingin mengambil keterangan saja dan tidak berniat menahannya.” Dia terlihat cemas dan ketakutan.
__ADS_1
“Aku hanya kebetulan lewat dan mendengar kabar kalau Sarah ditangkap,” sahut Margareth tersenyum hangat. “Kebetulan Aku mengenal baik Komandan Jean dan segera menghubunginya dan memintanya melepaskan Sarah.”
Padahal sebenarnya ia sedang memeriksa tempat yang baru saja ia beli dengan harga murah. Tanah itu cukup luas dan mungkin cocok dibangun Pabrik kalau ia berhasil melakukan kerjasama dengan Alex. Kalau kerjasama itu gagal maka ia memutuskan akan menjadikannya sebagai lahan pertanian.
“Kenapa pakaian tuan Alex sampai basah?” tanya Irina karena saat cuaca di Kota Perdamaian sangat cerah, bagaimana bisa pakaiannya malah basah kecuali ia menceburkan diri ke Sungai Elbrus.
Alex berdehem dan menjawab, “Saat Aku mendengar kabar Sarah ditangkap Petugas Keamanan, Aku segera berlari kencang dan tak diduga kakiku tersandung batu, kemudian jatuh ke dalam parit.”
Semua orang tertawa mendengarnya, hanya Evelyn saja yang mengerutkan keningnya karena ia masih menduga kalau Alex sebenarnya adalah Pendekar yang menyembunyikan kekuatannya, sebab ia tadi tidak menyadari kedatangan Alex. Sebagai mantan Assassin, ia biasanya akan menyadari keberadaan orang disekitar mereka hingga jarak Dua Ratus Meter, akan tetapi hal itu tidak berlaku untuk Alex.
“Baiklah, kami akan pulang karena tubuhku sudah mengigil kedinginan,” kata Alex tidak ingin berlama-lama di sana—apalagi diminta keterangan di Kantor Keamanan, itu hanya membuang-buang waktu saja. “Besok datanglah ke Restoran kami Nona Margareth, Kami akan menyajikan hidangan baru,” katanya sembari melambaikan tangan pada Margareth.
Margareth tersenyum karena sebenarnya ia ingin ke Restoran Sarah setelah urusan pembelian tanah selesai untuk membicarakan tentang kerjasama mereka. “Baik tuan Alex... Aku berharap hidangan baru itu seenak Rendang kemarin,” sahutnya.
Alex, Irina, dan Sarah meninggalkan tempat itu. Margareth kemudian berpamitan pada Jean dan segera naik ke dalam Kereta Kuda.
“Baik Komandan Jean,” sahut mereka tidak berani membantah ucapan Jean walaupun mereka merasa tersinggung.
Setelah mengantar Irina ke rumahnya, Alex dan Sarah langsung pulang ke Restoran.
Karena Margareth telah membeli tanah baru, maka Alex menduga Margareth berhasil meyakinkan Dewan Kota Donovan untuk menjual Perusahaan Tranportasi mereka dan menyetujui Margareth membuat Perusahaan baru.
Alex sudah memikirkan produk apa yang akan mereka rilis nantinya. Dia berencana membuat produk percontohan untuk ditunjukkan pada Margareth. Namun, itu tidak berhubungan dengan hidangan baru yang akan ia rilis besok.
“Kami sudah menunggu Anda dari tadi, tuan!” seru Kusir yang membawa Monster Banteng dengan nada jengkel.
__ADS_1
Alex tersenyum dan meminta maaf. “Berapa yang harus kubayar?”
“Karena Banteng ini sangat besar maka ongkosnya Dua kali lipas dari harga normal,” sahut Kusir itu. “300 Koin Perak!” katanya lagi.
Alex langsung membayarnya dan mengangkat Monster Banteng ke dalam Restoran.
Mata biru Sarah langsung berbinar-binar, takjub melihat Ayahnya mengangkat Monster yang cukup besar tersebut.
“Sarah! Tolong geser meja dan kursi, agar Monster Banteng ini bisa masuk ke dalam!” seru Alex.
Sarah menganggukkan kepala dan mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Alex. Dia juga membuka pintu ruang belakang yang juga cukup lebar tersebut. Sepertinya pemilik Restoran sebelumnya sudah mempersiapkan halaman belakang sebagai tempat pemotongan Monster besar.
Sarah membantu Alex memasukkan potongan-potongan daging ke dalam ember besar. Tidak semua daging Banteng diolah untuk hidangan baru, sebagian besar justru disimpan ke dalam mesin pendingin.
“Apakah kamu ingin makan hidangan baru malam ini, Sarah?” tanya Alex menatap Sarah yang sangat bersemangat membantunya memasukkan potongan-potongan daging ke dalam ember.
Sarah menganggukkan kepala. “Hidangan apa yang akan Ayah masak?” tanyanya penasaran.
“Bakso,” sahut Alex sembari melirik Sarah yang tampak bingung karena belum pernah mendengar nama makanan itu. “Itu adalah bola-bola kecil mengandung rasa daging yang dihidangkan bersama Mie dan dituangkan kuah yang masih hangat. Kamu pasti menyukainya.”
Sarah membayangkan bola-bola daging dan Mie. Air liurnya mengalir dari sudut bibirnya sehingga Alex langsung tertawa terkekeh-kekeh.
Setelah menyelesaikan pemotongan Monster Banteng, Alex meremukkan (m.e.l.u.m.a.t/menghancurkan) daging Banteng dengan tangannya sendiri tanpa menggunakan mesin atau penumbuk.
“Wah, Ayah kuat sekali dapat meremukkan daging itu.” Mata biru Sarah berbinar-binar dan segera mengambil sepotong Daging, kemudian mencoba meremukkan juga dengan tangannya. “Akhhhhhhhh! Kenapa keras sekali?” gerutunya tak mampu meremukkan daging Monster tingkat 10 tersebut.
__ADS_1
Alex tertawa melihatnya. “Kamu tidak akan mampu melakukannya. Kamu pergi mandi saja dan tidur sebentar, nanti saat Kamu bangun Baksonya sudah siap dihidangkan.”
Sarah menganggukkan kepalanya dan segera meninggalkan dapur. Dia juga sudah mulai kelelahan dan mengantuk setelah bermain seharian serta menggunakan banyak kekuatan saat memukul para Preman yang mengusik Ibu temannya.