
“Oh, kukira tuan Rolf belum pernah memakannya,” sahut Hades kembali tersenyum lebar. “Sebagai Pemburu sungguh ter.la.lu... bila tuan Hades belum pernah memakan Sarahmie yang harganya cuma 10 Koin Perak ini. Bahkan para penduduk di wilayah timur termiskin saja pernah memakannya he-he-he.”
Rolf ikut tertawa dan berkata, “Istriku memakannya dengan menambahkan Nasi dan Aku juga menirunya—”
Sebelum Rolf yang berbicara dengan bangga itu selesai berbicara, Hades malah menyelanya. “Bos Alex sudah lebih dulu menggunakan cara itu dan ternyata pelanggan lain juga memiliki pemikiran yang sama. Aku mencobanya di rumah dan Aku menghabiskan Dua piring nasi!”
Rolf mengerutkan keningnya, ternyata bukan istrinya saja yang memakan Sarahmie dengan nasi. Bahkan Iblis ini menghabiskan Dua Piring Nasi.
“He-he-he... Airnya sudah mendidih!” Hades segera memasukkan Sarahmie ke dalam Panci.
Rolf menyadari ada yang kurang. “Kita tidak memiliki piring, bagaimana Kita memakannya? Apa bergantian menggunakan Panci itu?”
Hades menggelengkan kepala dan berkata, “Panci ini akan menjadi wadah Sarahmieku, sedangkan tuan Rolf menggunakan bungkusnya. He-he-he... tenang saja, Aku membawa Dua sendok, kok!”
“Apaaaaa?” Rolf mengerutkan keningnya.
Hades memindahkan sebagian Mie ke dalam bungkus Sarahmie, kemudian menyerahkannya pada Rolf. “Hati-hati masih panas.”
Rolf mendengus dingin sembari menerima bungkus Sarahmie itu dan mengambil sendok yang terletak diatas daun pisang. “Kami Beasthuman sudah terbiasa makan makanan panas!” gerutunya langsung menyendok Mie ke dalam mulutnya.
Hades tercengang dan mengacungkan jempol pada Rolf. Dia juga tidak mau kalah dan menyendok Mie langsung dari Panci. “Hah... p.a.n.a.s tapi tetap enak.”
Keduanya pun tertawa terkekeh-kekeh, sementara itu tidak jauh dari sana rekan-rekannya berwajah murung karena takut mayat-mayat hidup tiba-tiba menyerang mereka.
“Apakah ada yang melihat Hades dan Rolf?” Seseorang bertanya dan yang lainnya langsung menjawab tidak melihat keduanya.
__ADS_1
...***...
Pegasus mengitari Ibukota Kerajaan Goblin yang kini menjadi puing-puing bangunan saja. Terlihat beberapa Goblin mengais-ngais puing-puing bangunan itu mencari apa saja yang dapat di makan.
Mereka adalah Goblin yang berhasil selamat dari serbuan mayat-mayat hidup.
Alex membuka matanya setelah selesai menyerap Kekuatan Dewa Gul'dan. Keningnya langsung mengkerut saat menyadari Kerajaan Goblin telah dihancurkan oleh mayat-mayat hidup.
Pegasus menurunkan Alex di depan Kuil Dewa Gollum yang telah hancur berkeping-keping, bahkan Patung Dewa Gollum juga hancur berkeping-keping. Namun, karena dulu Alex pernah mengunjungi tempat ini, ia tetap teringat seperti apa bentuk Patung tersebut.
Dewa Gollum itu mirip dengan Gollum dalam film Lord Of The Rings yang ia tonton dalam kehidupannya yang sebelumnya.
“Apa nama mereka kebetulan sama atau ... ah, apa yang kupikirkan,” gumam Alex memeriksa puing-puing Patung Dewa Gollum itu.
“Apa Botol Ramuan berisi Kekuatan Dewa Gollum itu telah diambil oleh Pengendali mayat-mayat hidup yang menyerang Ibukota Kerajaan Goblin ini?” gumam Alex menjadi cemas, mungkin Kekuatan Dewa di Kerajaan lainnya sudah diambil oleh Pengendali lainnya.
Namun, tiba-tiba ia melihat sebuah cincin hitam dengan ukiran hexagram mengelilingi cincin itu.
Alex kembali teringat dengan Gollum di novel Lord Of The Rings yang juga memiliki cincin, walaupun cincin itu pada akhirnya diambil Bilbo Baggins.
Alex memasukkan cincin itu ke jarinya dan tiba-tiba tubuhnya memudar. Alex tentu terkejut dan tertawa saat melihat Pegasus berkeliling mencari keberadaannya.
“Cincin ini tidak akan mengendalikan diriku, kan? Atau tidak mungkin ada Sauron di Dunia, kan?” gumam Alex tersenyum pahit, karena beberapa karakter fiksi di Bumi muncul di sini.
Dewa Cthulhu misalnya adalah Dewa jahat yang berasal dari novel jadul barat H.P Lovecraft tahun 1928, Dewa Gollum yang mirip dengan karakter fiksi di novel Lord Of The Rings, Dewa Hercules yang berasal dari Dunia lain atau Dewi Luna yang berpose layaknya Idol girlband Korea.
__ADS_1
Tiba-tiba tubuhnya kembali terlihat dan Pegasus langsung terbang ke arahnya dengan raut wajah kebingungan. Kalau saja ia bisa berbicara, maka ia akan bertanya pada Alex; kenapa ia tiba-tiba menghilang dan muncul lagi di sana.
“Cincin ini dapat membuatku menghilang, tetapi hanya bertahan selama 30 detik saja dan tidak bisa digunakan lagi. Mungkin ada jeda waktu untuk penggunaannya, Aku akan terus mengaktifkannya hingga memahami berapa kali dapat digunakan dalam sehari,” kata Alex dan Pegasus langsung menganggukkan kepala tanda memahami perkataan tuannya itu.
“Oh, ya... Apa yang ditulis oleh Helena dalam suratnya?” Alex mengambil surat yang terselip pada paruh burung merpati yang sedang bersantai diatas punggung Pegasus.
Alex segera membaca surat itu dan ia langsung terkejut, Mordor telah memulai Perang melawan Benua Grandland. Namun, hanya Kota Perdamaian dan Kerajaan Naga yang bergabung bersama Kekaisaran Hazel, sementara Kerajaan lainnya memilih melawan serangan mayat-mayat hidup di wilayah mereka.
Helena juga menuangkan pendapatnya dalam surat itu, di mana ia curiga Perang ini hanyalah pengalihan perhatian saja dan tujuan Mordor sebenarnya adalah merusak Segel di berbagai Hutan Abadi. Helena juga menyampaikan, kalau ia telah menyuruh Damian mengawasi Segel Hutan Monster di Hutan Abadi.
Alex menjadi bimbang, apakah ia akan membantu Kekaisaran Hazel atau melanjutkan misinya mengambil semua Kekuatan Dewa.
“Kalau Aku menunda misi ini, Aku takut Pengikut Dewa Cthulhu akan mengambil Kekuatan Dewa lainnya,” gumam Alex menghela napas panjang. “Semoga saja Kekaisaran Hazel dapat bertahan lebih lama, Aku harus mengambil semua Kekuatan Dewa agar memiliki Kekuatan melawan Dewa Cthulhu di masa depan!”
Dia kemudian menyuruh Pegasus terbang ke Utara. Tujuannya adalah Kerajaan Beasthuman dan Kerajaan-kerajaan yang ada di sana, kemudian ia akan kembali ke Kota Perdamaian untuk menyerahkan Monster tingkat 10 agar Hannah dan Eva dapat membuat Rendang. Setelah itu, ia akan menuju Kerajaan Naga dan Kerajaan Iblis, kemudian akan bergabung melawan Mordor di Kekaisaran Hazel.
Secara teori, rencana itu terlihat sederhana. Namun, dalam prakteknya nanti bisa saja hal yang tak terduga akan terjadi. Oleh karena itu, Alex memutuskan tidak akan membantu Kerajaan lain melawan mayat-mayat hidup seperti yang ia lakukan di Kerajaan Orc agar waktunya tidak tertunda.
Pegasus mendengus dingin mendengar rencana brilian yang disusun Alex itu. Kalau ia dapat berbicara, maka ia akan mencibir, “Mana mungkin Pahlawan kesiangan sepertimu tidak turun tangan saat melihat orang lain ditindas atau menderita!”
Alex mengerutkan keningnya mendengar dengusan Pegasus. “Kenapa Kamu mendengus? Apa Kamu iri Aku sekuat Dewa saat ini?”
Pegasus menggelengkan kepala dan melesat dengan kecepatan tinggi yang membuat rambut Alex berkibar serta mulutnya terbuka lebar, kalau ia tidak mencengkram erat bulu punggung Pegasus—maka ia sudah terjungkal ke belakang.
“Pewlan... peulwan dasar Kwuda siiiaaalaannnn!” Alex mengumpat marah.
__ADS_1