
Alex menggunakan Kekuatan Dewa Naga begitu keluar dari Kota Ravaryn, Sayap Naga muncul di punggungnya, kemudian ia terbang melintasi dataran rendah Therondia.
Dia melihat iring-iringan Pasukan Kekaisaran Hazel berjumlah Ratusan Pendekar bergerak menuju Kota Ravaryn. Sosok yang ia kenal menunggangi kuda paling depan.
Dia bernapas lega, Odesse ternyata masih hidup, karena ia mendengar kabar Odesse bergabung dengan Pasukan Jenderal August dan saat Jenderal August menyerang Selatan Kerajaan Orc, Pasukannya dihancurkan oleh mayat-mayat hidup, hanya segelintir orang saja yang berhasil kembali dengan selamat ke Kekaisaran Hazel.
Alex juga tidak menyangka Odesse sudah menjadi Jenderal dan memiliki Pasukan sendiri. “Aku berharap mereka tidak bertemu dengan Organisasi Hercules,” gumamnya tidak ingin sisa-sisa Prajurit Legiun Barat menghilang dan hanya meninggalkan dirinya yang dulu mereka perjuangkan mati-matian agar tetap hidup walaupun menghadapi gabungan Pendekar tingkat 10 dari seluruh Benua Grandland.
Namun, ada masalah lagi, Alex sudah mencapai dataran rendah Zenica dan dataran rendah itu sangat luas seperti dataran rendah Therondia. Dia bingung ke arah mana harus pergi dan tentunya tempat yang akan ia tuju itu akan dituju oleh Organisasi Hercules juga.
Karena masih malam, ia memutuskan terbang mengelilingi pegunungan yang mengapit dataran rendah Zenica. Mungkin saja seperti di Suku Harimau, Organisasi Hercules bersembunyi di goa-goa. Namun, menurut penelitian pakar intelijen Guild Pandora yang diterbitkan oleh Koran Guild Pandora, Organisasi Hercules selalu merubah taktik mereka saat menjalankan misi agar tidak terbaca oleh musuh.
Di dataran rendah Therondia misalnya, Organisasi Hercules melakukan serangan yang menghancurkan desa dan kota, tetapi di Suku lain mereka hanya menargetkan Pendekar tingkat tinggi dengan cara menyergapnya.
“Aku telah menelusuri semua pegunungan yang mengelilingi dataran rendah Zenica, tetapi tidak ada tanda-tanda pergerakan Organisasi Hercules. Apa tujuan mereka sebenarnya bukan kemari?” gumam Alex memutuskan berhenti mencari keberadaan Organisasi Hercules.
Dia merasa ngantuk berat, sehingga memutuskan tidur di dahan Pohon Cemara.
...***...
Di celah dua pegunungan sempit, Lima Pendekar Beasthuman Suku Ular sedang memeriksa karavan rombongan pedagang yang terdiri dari Dua Puluh gerbong Kereta Kuda.
“Apakah tidak apa-apa membiarkan mereka memasuki dataran rendah Zenica?” Pemuda berusia Dua Puluh tahun bertanya kepada Pendekar tingkat 10 yang menjadi Pemimpin grup yang mengawasi perbatasan antara Suku Ular dengan Suku Harimau.
“Kan, kita sudah memeriksa isinya, Varol. Mereka hanya membawa Gandum dari Kekaisaran Hazel,” sahut Pendekar tingkat 10 itu. “Oh, ya, Kamu dan Ayla sudah berjaga di sini selama satu bulan. Pulanglah sekarang, suruh Kepala Suku mengirim anggota baru menggantikan posisi kalian!”
__ADS_1
Ayla langsung tersenyum lebar, karena ia merasa tinggal di tempat terpencil ini seperti dikurung di dalam penjara saja. Mereka hanya duduk diam dan memeriksa gerbong Kereta Kuda yang lewat. Kalau sedang beruntung, beberapa anggota Karavan memberikan mereka tip makanan enak, tetapi yang sering terjadi malah mendapatkan keluhan karena mereka memperlambat perjalanan Karavan itu.
“Jangan lupa, berhati-hati lah saat perjalanan pulang nanti. Jangan mudah percaya dengan orang asing, bisa saja mereka adalah anggota Organisasi Hercules.” Pendekar tingkat 10 Suku Ular itu kembali mengingatkan Ayla dan Varol.
Ayla mendengus dingin, karena gara-gara huru-hara yang dilakukan oleh Organisasi Hercules itulah mereka ditugaskan ke perbatasan. Setiap kali mendengar nama Organisasi Hercules, rasanya ia ingin mencekik salah satu dari mereka.
“Tenang saja tuan, Aku akan menjaga gadis nakal ini agar tidak grasak-grusuk saat di perjalanan nanti ha-ha-ha.” Varol menertawai Ayla yang terkenal sering membuat ulah saat bertugas.
Ayla kembali mendengus dingin dan menatap tajam kearah Varol, tetapi Varol tetap tertawa mengejek dirinya. Kalau saja ia lebih kuat dari Varol, maka ia akan memukul Pemuda Suku Ular yang juga tetangganya itu.
“Ayo pergi, kekasihku Pio pasti senang melihatku pulang,” kata Ayla sengaja menyebut nama kekasihnya karena Varol tidak memiliki kekasih. Hanya dengan cara itu ia dapat mengejek Varol.
“Baiklah,” gerutu Varol mengikuti Ayla. “Mungkin saat ini Pio telah tidur bersama wanita lain,” cibirnya dengan suara pelan.
Keduanya kemudian berjalan tanpa berbicara, hanya suara burung yang terdengar dari atas Pohon Cemara.
Mereka tidak berjalan melewati jalan utama yang dilalui oleh Karavan Pedagang. Mereka justru berjalan di pinggiran pegunungan, karena Desa mereka terletak di pinggir dataran rendah Zenica. Berjalan di bawah Pohon Cemara juga lebih aman dari pada berjalan di padang rumput, karena bila ada musuh yang mengejar mereka maka mereka tidak bisa bersembunyi di padang rumput tersebut.
“Bagaimana pendapatmu tentang Pio? Apakah dia melakukan sesuatu yang jahat di belakangku?” Ayla memutuskan berbicara setelah perjalanan mereka cukup sunyi selama beberapa Jam. Selama perjalanan itu, terngiang-ngiang di benaknya tentang perkataan Varol yang mengatakan Pio mungkin tidur bersama wanita lain.
Pio sendiri Pemuda tampan dimata Ayla yang tinggal di Kota Ardotalia, Kota terbesar yang terletak di tengah-tengah dataran rendah Zenica dan juga tempat tinggal Kepala Suku Ular.
“Kalau kamu penasaran, selidik saja secara diam-diam apa yang ia lakukan di Kota Ardotalia,” sahut Varol dengan tatapan ke segala arah untuk memastikan perjalanan mereka aman. Dia tidak ingin lengah dan disergap oleh Organisasi Hercules.
Mendengar jawaban tersirat Varol, Ayla sudah mengetahui jawabannya. Dia menggertakkan giginya dengan keras sehingga Varol mendengar suara gertakan gigi tersebut, tetapi Varol berpura-pura tidak menyadari rekannya itu sedang kesal.
__ADS_1
Ayla mengambil batu gunung sebesar kepalan tangan dan melemparnya ke pucuk Pohon Cemara.
“Hei, jangan melempar sembarangan, nanti malah mengenai Hantu penunggu Hutan!” tegur Varol yang percaya dengan keberadaan sosok mistis tersebut.
“Cih, Kamu percaya dengan Tahayul, Varol? Hantu itu tidak ada, itu hanya imajinasi seseorang yang merasa ketakutan. Sebagai Pendekar seharusnya pemikiranmu lebih rasional, yang Kita takutkan itu adalah Organisasi Hercules. Mereka jauh lebih menakutkan dari Hantu!” Ayla mencibir Varol.
“Akhhhhhh! Siapa yang melemparku?”
Ayla melompat ke pelukan Varol setelah mendengar suara itu, sementara Varol berlari kencang sembari memegang bokong Ayla dengan erat.
“Apa yang kau pegang sialan!” Ayla marah dan menampar pipi Varol.
“Ah, maaf, Aku tidak sengaja!” sahut Varol yang tetap tidak mengendurkan cengkraman tangannya. “Sial! Kan, hantu itu benar-benar ada!” keluhnya.
Ayla merenung sejenak dan mengingat dari mana sumber suara itu. Dia merasa itu berasal dari Pohon Cemara yang ia lempar dengan Batu.
“I-itu adalah musuh yang mengintai kita, tetapi sepertinya Dia hanya sendirian saja!” seru Ayla.
Varol mengerem mendadak, dedaunan kering berterbangan oleh sandal kulitnya. Dia menjatuhkan Ayla dari pelukannya dan menghunus pedangnya.
“Ayo Kita tangkap Dia, kalau Kita berhasil menangkap anggota Organisasi Hercules, maka Kepala Suku pasti akan memberikan hadiah besar untuk Kita,” kata Varol dengan semangat.
Namun, Ayla mengeluh kesakitan karena bokong menghantam permukaan tanah dengan keras. Akan tetapi Varol lebih mementingkan bagaimana cara mereka menangkap anggota Organisasi Hercules tersebut.
Keduanya kemudian kembali ke tempat di mana Ayla melempar Batu. Kemudian mencari di mana anggota Organisasi Hercules itu bersembunyi.
__ADS_1