Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris

Pangeran Terkuat Menjadi Koki Legendaris
Tiga Menu Baru Restoran Sarah


__ADS_3

“Pagi yang cerah.” Alex menghirup udara segar musim semi pertama.


Alex kemudian berjalan ke halaman Restoran dan menyapunya, tetapi sesaat kemudian Kereta Kuda Rambo berhenti di depan halaman Restoran Sarah.


Sarah melompat turun dari gerbong Kereta Kuda dengan senyum cerah. “Ayahhhhhhhhhh! Sarah pulang!” sapanya.


Alex merentangkan kedua tangannya untuk membiarkan Putri imutnya itu memeluknya, kemudian mencium pipinya. “Bagaimana kabar Jessica dan bibi Irina, apakah mereka baik-baik saja?”


“Mereka baik-baik saja, sekarang ada bibi Rosa di sana. Oh, itu adalah Ibu Kak Viola!” sahut Sarah bercerita dengan semangat.


“Betulkah? Ayah dan Ibu harus mengunjunginya nanti!” Alex berpura-pura terkejut, padahal ia sudah tahu kalau Ibu Viola tinggal bersama Irina. “Baiklah, mari kita sarapan. Ayah telah membuat hidangan baru lagi, namanya Pempek Palembang, Gado-gado, dan Tempoyak Ikan Patin.”


“Umm, bukankah Gado-gado sudah sering kita makan di Hutan Abadi, Ayah?” sela Sarah.


“Ya, tapi Kak Hannah, Kak Eva, Kak Viola, Kak Lilith, dan Kak Elenna belum pernah mencicipinya, jadi anggap saja hidangan baru,” sahut Alex tersenyum hangat.


“Wah, Bos akan merilis Tiga menu baru sekaligus,” kata Hannah sudah tidak sabar ingin mencicipinya.


“Ya, kan ... sudah lama Restoran Sarah tidak merilir menu baru lagi,” sahut Alex.


Saat mereka masuk ke dalam Restoran, Helena baru saja selesai menyusun piring di atas meja yang membuat Hannah dan yang lainnya tercengang; sejak kapan Nyonya Bos menjadi rajin memasak.

__ADS_1


Alex tahu apa yang mereka pikirkan, kemudian ia berkata, “Gado-gado itu dibuat oleh Nyonya Bos kalian, begitu juga dengan nasi putihnya ha-ha-ha.”


Helena mengerutkan keningnya dan berkata sinis, “Nasi putihnya tidak perlu disebutkan juga lah!” Kemudian ia meraih Sarah dari pelukan Alex dan memeluk serta mencium pipi mungil Sarah. Namun, tatapan mata Sarah malah tertuju pada hidangan di atas meja, air liurnya hampir menetes sudah tidak sabar ingin mencicipi makanan itu.


Hannah segera duduk dan tatapan matanya tertuju pada Tempoyak Ikan Patin, sementara Elenna tertarik dengan Gado-gado dan Eva menunjukkan minat pada Pempek Palembang. Viola dan Lilith malah bingung mau makan yang mana lebih dulu.


“Silahkan makan sebanyak-banyaknya, sarapan pagi juga menjadi pesta karena Dunia telah Damai. Tak akan ada lagi Perang dan tak akan ada lagi yang terluka serta gugur di medan Perang,” kata Alex.


Lilith teringat dengan Hades, Pemuda Iblis yang sering mencuri-curi pandang padanya. Dia menghela napas dalam-dalam dan berharap Pemuda itu tenang di Surga, sementara Eva teringat dengan Ayahnya yang juga gugur dan diubah menjadi mayat hidup Naga oleh Mordor. Dia berdoa dalam hatinya agar Ayahnya dipertemukan dengan ibunya di Surga.


“Umm, enaknya!” Sarah tiba-tiba memudarkan keheningan dan mereka pun tertawa serta mulai sarapan pagi yang bahagia.


Setelah sarapan pagi, Helena mengantar Sarah ke Sekolah Harapan dan Alex membuka pintu Restoran sembari menyambut beberapa pelanggan yang telah mengantri di luar.


Alex tersenyum lebar dan berkata, “Tenang saja, Restoran Sarah hari ini merilis Tiga hidangan baru sekaligus dan ... walaupun Restoran lain memiliki menu yang sama dengan Restoran Sarah, hidangan kami tetap jauh lebih unggul karena menggunakan bahan-bahan berkualitas tinggi.”


“Ya, kami percaya itu, makanya Kami tetap setia datang kemari!” sahut Ron—Pengusaha bertubuh gemuk di belakang Uran, kemudian melakukan tos dengan Alex dan tertawa terkekeh-kekeh.


“Hei, sampai kapan kalian berdiri di depan pintu itu!” keluh Duduke, Dwarf yang juga rekan kerja Uran tersebut.


“Ya, ya ... Silahkan masuk!” Alex segera menyingkir dari depan pintu dan berjalan ke dapur Restoran Sarah untuk mengajari Hannah dan Eva cara memasak serta membuat Pempek Palembang, Gado-gado, dan Tempoyak Ikan Patin.

__ADS_1


Uran, Duduke, dan Ron duduk di meja makan yang sama. Ketiganya juga langsung memesan Ketiga hidangan baru yang disebutkan oleh Alex tadi. Mereka sangat senang harganya ternyata tidak semahal Rendang atau Ayam Betutu, Alex mematok harga 100 Koin Perak untuk Gado-gado yang sebenarnya dapat dijual seharga 20 Koin Perak tersebut. Pempek Palembang yang juga senilai 30 Koin Perak dijual seharga 100 Koin Perak dan Tempoyak Ikan Patin dijual seharga 200 Koin Perak.


Kereta kuda mewah berlambang Keluarga Voldemort berhenti di halaman Restoran Sarah dan disaat bersamaan Helena juga baru saja kembali dari Sekolah Harapan.


Helena mengerutkan keningnya saat melihat yang turun dari gerbong Kereta Kuda itu adalah wanita cantik yang dulu pernah datang untuk mencari suaminya.


Dia ditemani oleh pengawal pribadi Pendekar wanita cantik yang dulu ikut bersama Pemimpin Bank Voldemort tersebut dan Oliver yang bertemu dengannya saat dalam perjalanan menuju Hutan Abadi.


“Selamat pagi, Nyonya Bos Helena,” sapa Vera Voldemort tersenyum hangat pada Helena.


“Ya, selamat pagi juga Nona muda Vera,” sahut Helena tersenyum hangat juga, tetapi senyumannya itu membuat bulu kuduk Oliver berdiri. Entah mengapa ia merasa ada aura mematikan terpancar dari senyuman Helena itu dan berpikir apakah Bos barunya ini adalah wanita simpanan Pangeran Alex. Namun, ia merasa tidak akan ada wanita yang berani menggoda Alex selama Helena masih menjadi istrinya, karena wanita itu adalah Pendekar terkuat Kedua di Benua Grandland.


“Apakah Bos Alex ada di dalam? Aku ingin berdiskusi secara pribadi dengannya,” kata Vera Voldemort lagi dengan santai.


Oliver menelan ludahnya, terkejut dengan sikap santai Bosnya itu di hadapan Helena. Padahal ia yang merupakan Pendekar tingkat 10 saja, merasa lututnya lemas saat menatap senyuman penuh makna Helena.


Mungkin sebagai pebisnis paling sukses di Benua Grandland, mentalnya telah terasah saat berhadapan dengan tokoh-tokoh kuat, karena walaupun Vera bukan Pendekar, Koran terbitan Guild Pandora menetapkannya sebagai salah satu Wanita paling tangguh di Benua Grandland.


“Suamiku ada di dalam!” kata Helena sembari berjalan ke dalam Restoran Sarah. “Silahkan masuk Nona muda Vera, jangan melamun saja di sana!” candanya.


Vera Voldemort mengangguk pelan dan berjalan ke dalam Restoran Sarah, sementara Oliver yang masih melamun akhirnya tersadar saat Vera Voldemort telah berada di pintu masuk Restoran. Oliver kemudian berlari pelan menyusul Bos barunya itu.

__ADS_1


Vera duduk di meja yang berada di sudut ruangan Restoran, kemudian memesan Pempek Palembang serta jus jeruk.


Tak lama kemudian, Alex keluar dari dapur setelah Helena memberitahunya kalau Vera Voldemort ingin bertemu dengannya.


__ADS_2