
Alex terkejut membaca Surat yang bertanda tangan Lord Michael tersebut dan tidak menyangka Nenek Eli telah tewas diserang oleh Pengikut Dewa Cthulhu.
Dia juga terkejut, Segel-Segel yang menyegel bagian tubuh Dewa Cthulhu di berbagai Hutan Monster telah dihancurkan. Kini hanya Segel di Kerajaan Naga dan Kekaisaran Hazel yang belum diketahui nasibnya.
Alex pun memutuskan menunda perjalanan menuju Kerajaan Iblis dan menuju Hutan Monster yang berada di Kerajaan Naga.
Alex menyuruh Pegasus terbang dengan kecepatan paling cepat.
Dia berdiri dengan kokoh dengan tangan menyilang di dada. Pikirannya melayang-layang jauh seperti Benua Grandland ini adalah tanggungjawabnya sendiri saja. Padahal ia tahu dirinya bukan Tokoh Utama dalam cerita dongeng yang dapat melakukan apa saja atau memberantas kejahatan hanya dengan jentikan jari tangannya.
“Pengikut Dewa Cthulhu telah bertindak lebih dulu!” keluh Alex mengerutkan keningnya menatap belasan Naga yang terbujur kaku di pintu masuk gua tempat disegelnya bagian tubuh Dewa Cthulhu.
Pegasus langsung menukik turun, saat ia hampir mencapai permukaan tanah; Alex melompat dari punggungnya dan Alex bergegas memeriksa para Naga itu. Namun, ternyata mereka sudah tewas.
Pria Naga yang tampak seusia dengan Alex keluar dari dalam gua dan alisnya langsung terangkat saat melihat sosok yang familiar di hadapannya itu.
“Pangeran Alex Acherron... seperti perkiraan tuan Mordor, Kamu pasti akan menyadari apa yang kami rencanakan.” Pria Naga itu tersenyum tipis dan berjalan dengan santai. “Bahkan Kamu tidak peduli dengan Kekaisaran Hazel yang hampir runtuh, bagaimana bila Ayahmu mati di sana?” Dia berkata dengan nada memprovokasi.
Alex tidak menanggapi perkataan provokatif Pria Naga itu. Dia memperhatikan Pria Naga itu dengan seksama, barulah ia berkata, “Sepertinya bagian tubuh Dewa Cthulhu telah menyatu denganmu!”
“Oh, Kau tahu juga tentang itu! Sungguh luar biasa ha-ha-ha.” Pria Naga itu tertawa. “Perkenalkan Aku Floyd, Naga biasa yang terlahir dari keluarga sederhana di pedesaan pinggiran Sungai Elbrus. Dulu, Aku selalu ingin berduel denganmu, tetapi Aku sadar diri karena tidak mungkin Naga biasa-biasa saja sepertiku akan menarik perhatianmu. Namun, siapa sangka, kini Kau malah datang ke hadapanku dengan sendirinya. Ini sungguh sebuah kehormatan bagiku, Pangeran!”
Kedua tangan Naga bernama Floyd itu tiba-tiba berubah menjadi Tentakel, kemudian ia berteriak keras.
Alex menutup telinganya karena suara teriakan Floyd membuat gendang telinganya bergetar dan dari lubang telinganya mengalir darah.
Alex segera mengalirkan Elemen Sihir Kehidupan mengobati telinganya, sehingga pendarahan pada telinganya berhenti.
__ADS_1
Tentakel tiba-tiba keluar dari dalam tanah yang langsung melilit kaki Alex. Namun, Alex segera mengaktifkan Kekuatan Dewa yang ia dapatkan di Kuil Dewa Gul'dan.
Tubuhnya tiba-tiba dibalut Jirah Perak yang membuatnya tampak seperti Kesatria Suci lengkap dengan helm yang hanya memperlihatkan kedua mata birunya.
Alex mengayunkan Pedang Meteor yang memancarkan sinar menyilaukan karena dialiri Elemen Sihir Kehidupan. Tentakel yang melilit kakinya langsung terpotong dan bagian Tentakel yang terpotong itu langsung berubah menjadi butiran debu.
Namun, seperti Dewa Cthulhu, regenerasi pemulihan Tentakel itu berlangsung cepat. Dalam sekejap, muncul lagi Tentakel dari dalam tanah.
Alex hendak menebasnya, tetapi Floyd sudah berada di depannya dan langsung meninju dada Alex.
Boooooommmmmm!
Alex terhempas jauh dan berguling-guling menabrak banyak pepohonan di Hutan Monster tersebut. Tubuhnya baru berhenti berguling setelah mencapai jarak Satu Kilometer dari Floyd.
“Ternyata Kau juga memiliki Kekuatan Dewa!” cibir Floyd melayang dalam bentuk tubuh Naga di atas Alex yang berusaha untuk berdiri kembali.
“Dugaan Yang Agung Dewa Cthulhu memang benar Kau mengunjungi setiap Kuil Dewa untuk mendapatkan kekuatan yang ditinggalkan oleh mereka. Namun, Aku bingung kenapa Yang Agung Dewa Cthulhu tidak menyuruh Kami mencegahmu melakukannya?” Floyd kebingungan.
Alex tersenyum tipis dibalik helm Perak yang ia kenakan tersebut dan berkata, “Karena ia ingin menyerap Kekuatan para Dewa itu. Dulu ia gagal melakukannya karena para Dewa bersatu melawannya dan akhirnya menyegelnya. Kini ia yakin setelah para Dewa sudah tidak ada lagi, bila tubuhnya menyatu kembali maka ia tidak akan terkalahkan.”
“Analisa yang brilian,” sahut Floyd, “inilah perbedaan antara berdarah biru dengan rakyat jelata. Pengetahuan kami terbatas dan dangkal.”
“Namun, itu tidak masalah... selama Aku kuat, maka Aku dapat menaklukkan siapa saja dan membuat mereka bertekuk lutut di hadapanku!” cibir Floyd lagi dan melesat ke arah Alex.
Wujud Naga Floyd tiba-tiba berganti menjadi Manusia bertangan Tentakel.
Tangan Tentakel itu memanjang dengan diameter Sepuluh kali Pohon Kelapa dan melesat ke arah Alex.
__ADS_1
Tidak seperti sebelumnya, kini Alex lebih siap atau tidak lengah. Pedang Meteor berayun ke arah depan dan melepaskan cahaya menyilaukan berbentuk Bulan Sabit.
Tentakel itu hancur berkeping-keping seperti Ubi yang dimasukkan ke dalam mesin penggiling daging, tetapi Tentakel itu terus beregenerasi dengan cepat sehingga Cahaya menyilaukan berbentuk Bulan Sabit itu tertahan di tengah-tengah antara Alex dan Floyd.
“Hmm?” Alex tidak menyangka Elemen Sihir Kehidupan setara dengan kecepatan pemulihan Tentakel itu.
Alex menggosok Cincin yang ia dapatkan dari Kuil Dewa Gollum atau Dewa yang disembah oleh Ras Goblin.
“Ke mana Dia?” Floyd tercengang dan segera mundur sembari berubah wujud ke bentuk Naga, kemudian terbang tinggi Ratusan meter dari permukaan tanah.
Namun, tiba-tiba dadanya terasa sangat sakit dan darah menyembur deras. Sesaat kemudian, dari kehampaan muncul sosok Alex berserta Pedang Meteor yang bersarang di dada Floyd.
Suara Dewa Cthulhu muncul di benak Floyd yang memberitahu kalau Alex menghilang karena menggunakan Kekuatan Dewa Gollum, serta Zirah Perak itu dulu digunakan oleh Dewa Gul'dan, sementara Sayap Putih di punggung Alex mirip dengan Dewa Naga.
Floyd mengerutkan keningnya karena tidak menyangka Kekuatan para Dewa dapat digabungkan menjadi satu dan Alex belum menggunakan semua Kekuatan Dewa itu, masih ada Dewa yang disembah oleh Ras Beasthuman, Iblis, Dwarf, dan Duyung.
Dengan panik, Floyd membalut Pedang Meteor dengan Tentakel, kemudian mendorong tubuhnya agar Pedang itu keluar dari dadanya.
Luka tusukan di dadanya itu segera menutup dengan sendirinya walaupun rasa sakit akibat ditusuk Pedang Meteor itu masih terasa. Floyd menarik napas dalam-dalam dan menatap Alex dengan tatapan waspada, takut ia menghilang lagi.
Dia tidak tahu kalau cincin itu hanya berfungsi selama 30 detik saja dan jeda waktu agar berfungsi lagi—butuh waktu selama Satu Jam.
Namun, tetap saja Floyd kini merasa seperti sedang berhadapan dengan malaikat pencabut nyawa saja.
Tiba-tiba Alex mengangkat Pedang Meteor secara vertikal, seperti Pemain bisbol yang menunggu Pitcher melempar bola. Hal itu membuat tubuh Floyd gemetar dan secara refleks mundur ratusan meter.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Alex melesat mengejar Floyd sembari mengayunkan Pedang Meteor yang dari bilahnya melesat cahaya menyilaukan berbentuk Bulan Sabit.
__ADS_1