
Satu Minggu setelah Perang melawan Mordor berkobar di Kekaisaran Hazel, Alex kembali ke Kota Perdamaian membawa Monster Rusa tingkat 10 sebesar Kerbau.
Mendengar suara Alex di dapur Restoran, Sarah yang baru saja bangun segera melompat dari tempat tidur.
“Ayaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!”
Sarah melompat ke dalam pelukan Alex dan mencium pipi ayahnya itu berkali-kali.
“Putri kecil Ayah yang imuttttttttttttttttttt!” Giliran Alex yang mencium pipi mungil Sarah. “Berpisah denganmu rasanya seperti ditinggalkan pergi selama Empat tahun saja. Sampai-sampai Ayah takut Sarah melupakan Ayah.”
Namun, tiba-tiba dapur itu menjadi dingin dan mata biru Elf berambut perak dibelakangnya seakan menandakan ia hendak menerkam Alex.
“Jadi, menurutmu selama Empat tahun kita berpisah Kamu menuduhku berselingkuh?” Helena berkata sinis.
Hannah dan Eva mundur perlahan-lahan, kemudian keduanya berpura-pura mengatur piring yang telah berjejer rapi di rak piring.
“Hah? Siapa yang mengatakan itu? Kurang ajar sekali!” Alex menyahut dengan berpura-pura marah.
Namun, Sarah malah menunjukkan jari tangannya ke pipi Alex. “Ayahhhhhhhhhh!”
Alex mengedipkan mata agar Sarah berpihak padanya, tetapi Sarah malah tertawa terkekeh-kekeh.
“Huh, tidak ada jatah malam untuk malam ini kecuali Kamu mengalahkan Mordor!” Helena mendengus sembari mengambil Sarah dari pelukan Alex. “Ayo kita mandi, Nak... Ayahmu akan pergi lagi karena masih ada keperluan yang harus ia selesaikan di Kerajaan Naga.”
Alex mengigit bibirnya sendiri dan berkata pelan, “Setidaknya kita bermain dulu satu ronde di Kursi Cinta.”
“Kursi Cinta? Apa itu Bos?” Eva penasaran.
Alex menjentik kening gadis setengah Naga itu dan berkata, “Anak bau kencur belum boleh menanyakan hal itu!”
Eva mengelus keningnya dengan ekspresi kebingungan. “Aku sudah Dewasa Bos!” keluhnya, tetapi Alex tidak berkata apa-apa lagi.
Alex segera pergi ke halaman belakang Restoran Sarah dan melompat ke punggung Pegasus. “Ayo terbang menuju Kerajaan Naga!”
Setelah Alex meninggalkan Restoran Sarah, Hannah mendekati Eva dan berbisik padanya bahwa Kursi panas yang dimaksud oleh Bosnya itu adalah Alex menunggangi Helena diatas ranjang.
__ADS_1
Wajah Eva memerah saat membayangkan adegan Bosnya dan Nyonya Bos melakukan adegan panas dengan liar.
“Hei, apa yang Kamu bayangkan?” Hannah menegur Eva yang berdiri dengan wajah memerah.
Eva tersenyum sembari menggelengkan kepala. “Ayo kita buat gulai Rendangnya. Beberapa hari terakhir banyak pelanggan yang menanyakan kapan menu Rendang ada lagi.”
...***...
“Bu, apa Ibu tidak melihat kalau Ayah memiliki cincin yang bagus di jarinya?”
“Cincin?” Tiba-tiba Helena menjadi panik. “Apa Kamu yakin Ayahmu mengenakan cincin? Kamu tidak salah lihat, kan?”
Sarah menggelengkan kepala dan berkata, “Aku melihatnya dengan jelas. Cincin itu memiliki pola-pola hexagram mengelilinginya. Tadi Aku ingin memintanya, tetapi Aku merasa Ayah sangat menyukai cincin itu... seperti ia tidak ingin berpisah darinya.”
Namun, dibenak Helena saat ini adalah Alex mungkin telah menikah dengan wanita lain. Apalagi beberapa hari yang lalu, Bos Bank Voldemort datang ke Restoran mencari Alex dan Dia adalah wanita cantik berusia Dua Puluh Tiga tahun.
Uran mengatakan wanita itu belum menikah, mungkin karena sibuk mengelola Bank Voldemort karena dia telah ditunjuk oleh Voldemort sebagai penerusnya.
Satu hari setelah kedatangan Bos Bank Voldemort itu, Margareth juga datang mencari Alex. Wanita cantik yang juga belum menikah itu ingin membahas bisnis dengan Alex yang membuat Helena bertanya-tanya, siapa diantara Keduanya yang menjadi selingkuhan Alex. Atau... jangan-jangan Keduanya adalah wanita simpanannya.
Helena mencium pipi mungil Sarah dan berbisik, “Saat kalian tinggal di wilayah timur. Apakah ada Wanita yang mendekati Ayah?”
“Hmm?” Sarah berpikir sejenak. “Hanya Bibi Irina dan Bibi Jane yang mau menyapa Ayah. Tapi setelah kita pindah ke sini, banyak wanita yang menyapa Ayah. Saat Ayah mengantar Aku ke Sekolah, ibu teman-temanku juga selalu menyapa Ayah.”
Sarah memperhatikan Helena yang terdiam setelah mendengar perkataannya dan tiba-tiba ia teringat. “Oh, Ibu Kakak kelasku bernama Bertha pernah mengatakan pada Ayah; Hai, Tampan... jendela rumahku rusak, maukah Kamu memperbaikinya nanti malam?”
Sarah menirukan gaya wanita itu berbicara, termasuk mengedipkan matanya dan memonyongkan bibirnya serta mengigit sedikit bibirnya.
Helena mengerutkan keningnya, amarahnya kembali naik ke puncak Himalaya. Kalau saja ada Alex di dekatnya, maka ia akan mengigit leher suaminya itu.
“Terus... bagaimana respon Ayah?” selidiknya penasaran.
Sarah meniru gaya Alex berdiri dan tiba-tiba mengedipkan mata, kemudian tertawa. “Seperti itulah Ayah meresponnya,” jawabnya dengan bangga.
Namun, Sarah tidak mengetahui saat ini tiba-tiba Alex merasa pundaknya terasa berat dan berkali-kali bersin.
__ADS_1
“Kenapa Aku berfirasat karma buruk segera menghampiriku? Haccimmmmmmmmm!” Alex bersin untuk kesepuluh kalinya. “Sepertinya saat pulang ke Restoran, Aku harus menciptakan makanan baru lagi. Kalau tidak, rasa-rasanya aku seperti akan disuruh tidur diatas tumpukan salju,” pikirnya.
...***...
Pasukan gabungan Kekaisaran Hazel, Pasukan Kerajaan Naga, Pasukan Kota Perdamaian serta tim medis Elf telah mundur hanya berjarak Sepuluh Kilometer dari Kota Ella.
Jutaan penduduk di Ibukota Kekaisaran Hazel itu menjadi panik dan ketakutan. Mereka ingin melarikan diri dari sana, tetapi mereka takut di tempat lain mungkin akan diserbu oleh mayat-mayat hidup juga—sehingga mereka memutuskan tetap bertahan di Kota Ella.
“Bu, ikutlah denganku ke Kota Perdamaian... Kita akan aman di sana bersama Kakak Alex dan Kakak Helena.” Catherine membujuk Lilia.
Namun, Lilia menggelengkan kepala menolak ajakan Putrinya itu. “Maaf Catherine... Kalau Ibu pergi, siapa yang akan merawat Lycus? Ibu juga tidak bisa membiarkan Ayahmu sendirian menanggung beban berat yang menimpa Kekaisaran Hazel kita ini.”
Catherine menggenggam erat tangan Lilia yang kini berkeriput dan tampak jauh lebih tua. Hanya senyumannya saja yang tetap terlihat sama dan menghangatkan hati Catherine.
Lilia membelai rambut Catherine dan berkata, “Pergilah ke sana dan katakan kirim salamku pada Alex, Helena dan cucuku yang imut itu.”
Lilia langsung tersenyum karena mengingat momen pertemuannya dengan Sarah di Restoran dekat Kuil Cahaya.
“Seandainya Aku dapat bertemu dengannya lagi, apakah ia mau memanggilku, Nenek?” Lilia menghela napas panjang.
“Aku akan bertahan di sini bersama Ibu... Aku dan Miranda juga akan membantu memasakkan makanan untuk para Pendekar yang bertarung di garis depan,” sahut Catherine memilih untuk tetap tinggal juga, karena ibunya tidak mau meninggalkan Kota Ella.
“Hmmm, tapi berhati-hatilah! Kudengar para pengikut Dewa Cthulhu itu menyusup juga ke barisan Pasukan Kita,” kata Lilia dan Catherine langsung mengangguk setuju.
“Oh, ya... apakah Rendang yang kubawakan untuk Ibu itu sudah habis? Kalau habis Aku akan mengirim surat ke Kota Perdamaian agar Kakak Alex mengirim Rendang lagi untuk Ibu.” Catherine bertanya dengan antusias.
Lilia mengangguk pelan dan berkata, “Ayahmu dan Lycus sangat menyukainya. Keduanya akhirnya mau makan setelah cukup lama hanya memakan sedikit Roti saja.”
Catherine langsung cemberut karena Rendang itu ia bawa khusus untuk ibunya. Dia bahkan menolak permintaan Einar yang meminta beberapa potong Rendang untuknya.
“Baiklah, Aku akan menulis surat pada Kak Alex agar mengirim Rendang lagi untuk Kita,“ sahut Catherine sembari mencium pipi Lilia. “Bu, Aku pergi dulu. Jangan terlalu banyak bekerja, nanti kesehatan ibu menurun lagi.”
Catherine keluar dari kamar Lilia dan Miranda sudah menunggunya di depan pintu.
“Ayo menuju dapur umum!” seru Catherine dengan suara tegas.
__ADS_1