
Api Biru berbentuk Bulan Sabit selebar Satu Kilometer melesat ke arah Tujuh Malaikat Penjaga.
Malaikat Penjaga juga melakukan serangan balasan, Cakram Raksasa, Tombak Emas Emas dan berbagai macam senjata lainnya melesat ke arah Alex.
Karena Malaikat Penjaga telah setara dengan Dewa, Alex tidak dapat melukai mereka dengan mudah.
Untuk mengalahkan mereka, Alex harus menghentikan Kekuatan Malaikat Penjaga yang dapat meningkatkan Level para Malaikat Penjaga. Apalagi Monster-monster yang dipanggil oleh Lila dan para Kesatria ciptaan Neptunus sangat merepotkan Alex, karena level mereka setara dengan Malaikat. Mereka kini, tidak akan hancur dibekukan oleh Elemen Sihir Es-nya.
Alex terus bertarung Tujuh Hari Tujuh Malam tanpa beristirahat. Pikirannya menjadi lelah, ekspresinya menjadi dingin.
Lila telah menghabiskan 90% Monsternya, sementara Neptunus mulai kehabisan Sihir Suci dan tidak dapat menciptakan Kesatria Suci lagi. Kalau pertarungan mereka terus berlarut-larut, maka mereka pasti akan kalah.
“Kita harus mengalahkannya dalam waktu Tiga Hari ke depan,” kata Malaikat Penjaga yang menggunakan Kekuatan Sihir Sucinya meningkatkan level rekan-rekannya menjadi setara dengan Dewa. “Sihir Suciku hampir habis, kalau Kita tidak bisa mengalahkannya dalam waktu Tiga Hari, maka Kita harus mundur. Butuh waktu beberapa hari untuk memulihkan Kekuatanku,” katanya lagi.
Inarius menghela napas dalam-dalam dan berusaha memikirkan cara mengalahkan Alex. Yang membuat mereka kesulitan mengalahkan Alex adalah Alex dapat menghilang secara tiba-tiba, itu telah melukai mereka berkali-kali dan menghancurkan para Monster dan Kesatria Suci ciptaan Neptunus.
“Sudahlah, kalian tidak perlu lagi berjuang melawannya.” Sebuah suara menggema dibenak Tujuh Malaikat Penjaga. “Dari awal Aku sudah mengatakan kalau Manusia itu adalah lawanku. Namun, kalian malah mengabaikan seruanku, makanya Aku tidak membiarkan kalian merasakan Kekuatannya. Ha-ha-ha ... jangan bersedih Malaikat Penjaga-Ku, kalian telah berjuang dengan gigih. Sekarang giliranku yang akan melawannya!”
Cahaya menyilaukan muncul di langit yang membuat Alex dan para Malaikat Penjaga menutup mata.
Dewa Matahari melayang dengan Tiga Bola Matahari berukuran kecil melayang di belakangnya. Dia tersenyum lebar menatap Alex yang tetap dengan ekspresi wajah dingin.
__ADS_1
“Apa Kamu kelelahan? Berapa lama Kamu membutuhkan waktu memulihkan Kekuatanmu?” Dewa Matahari berbicara dengan santai pada Alex yang berdiri di atas permukaan tanah dan menengadah menatap Dewa Matahari. “Tenang saja, yang kuinginkan adalah pertarungan yang adil. Serangan mereka itu bukan atas kehendakku,” katanya lagi.
Alex tidak menjawab perkataan Dewa Matahari. Dia berjalan beberapa langkah dan mengambil segenggam daging Monster yang tergeletak di atas permukaan tanah.
Dia kemudian menggunakan Elemen Sihir Air membersihkan daging tersebut, kemudian memanggangnya dengan Elemen Sihir Api.
“Apakah kalian memiliki garam?” Alex bertanya pada Malaikat Penjaga yang tampak keheranan mendengarnya. “Oh, tidak ada, ya? Sayang sekali, seandainya ada sedikit garam maka rasanya akan lebih enak.” Dia kemudian mengunyah daging Monster tersebut.
“Manusia yang sangat unik ha-ha-ha.” Dewa Matahari tertawa terkekeh-kekeh mendengar perkataan Alex. Dia semakin bersemangat dan tidak sabar ingin segera bertarung melawan Manusia yang memiliki Kekuatan berbagai Dewa tersebut.
“Bolehkah Aku mengajukan syarat ... ah, bukan syarat sih, ini adalah permohonan dariku. Bisakah Kamu tidak mengusik Benua Grandland seandainya Aku mati di tanganmu?” kata Alex setelah beristirahat selama Lima menit. Waktu istirahat itu juga ia habiskan merenung dan memikirkan orang-orang yang ia sayangi di Benua Grandland.
“Hmm, biasanya pihak yang menang bebas melakukan apa saja pada pihak yang kalah,” sahut Dewa Matahari, “tapi bila pertarungan Kita sangat memuaskan. Aku akan menerima permohonanmu itu dan menjamin Kuil Matahari tidak akan menyentuh Benua Grandland.”
“Baiklah, mari Kita mulai!” seru Alex meraih gagang Pedang Meteor dan tiba-tiba keberadaannya memudar, sesaat kemudian ia muncul di atas Dewa Matahari. “Semoga ini memuaskanmu!” teriaknya.
Elemen Sihir Petir melesat ke arah Dewa Matahari dengan suara menggelegar, tetapi salah satu Bola Matahari yang melayang di belakang Dewa Matahari menghadang sambaran Petir tersebut.
“Lumayan!” sahut Dewa Matahari dengan sudut bibir menyeringai lebar. Tombak Cahaya berwarna Emas tiba-tiba muncul di tangannya, kemudian ia melempar Tombak itu ke atas.
Alex segera menggunakan Kekuatan Dewa Gollum, tubuhnya kembali menghilang. Sebuah Pulau yang terbuat dari besi muncul di langit, kemudian Pulau itu menghantam Dewa Matahari.
__ADS_1
Namun, Bola Matahari yang berada di punggung Dewa Matahari menghancurkan Pulau tersebut.
Bola Matahari itu tampaknya seperti pertahanan otomatis yang akan menghancurkan atau menghadang serangan musuh.
Dewa Matahari tiba-tiba melesat dan muncul di tempat seratus meter dari tempatnya melayang sebelumnya. Dia langsung mengayunkan tinjunya walaupun keberadaan Alex tidak terlihat.
Boooooommmmmm!
Permukaan tanah hancur berkeping-keping dihantam tubuh Alex.
“Sial! Dia dapat menebak di mana keberadaanku!” gerutu Alex menyeka darah yang menyembur dari mulutnya. “Dadaku remuk, rasanya menyakitkan sekali!”
Alex langsung menggunakan Elemen Sihir Kehidupan Dewi Luna, sehingga tubuhnya langsung pulih.
“Baiklah, tak ada gunanya bermain petak umpet melawanmu!” seru Alex mengalirkan Elemen Sihir Petir ke bilah Pedang Meteor. Sambaran-sambaran Petir menggelegar dari bilah Pedang Meteor.
Alex melesat ke terbang ke langit, sambaran-sambaran Petir dari bilah Pedang Meteor semakin besar; seolah-olah Naga Raksasa yang terbuat dari Elemen Sihir Petir melesat bersamanya.
“Kau akhirnya bertarung dengan serius,” kata Dewa Matahari tersenyum lebar.
Dia mengangkat tangannya, tiba-tiba Matahari yang menerangi Dunia ditarik olehnya. Dalam sekejap seluruh Dunia menjadi gelap gulita.
__ADS_1
“Kuharap Kamu tidak hancur oleh bola lampu lemah ini!” seru Dewa Matahari sembari tertawa terkekeh-kekeh.