
Helena melihat Pegasus berbaring di bawah Pohon Kelapa setelah melesat sejauh dua ratus langkah, yang berarti Sarah telah pergi sendirian.
Helena semakin panik, ia takut putrinya akan terluka atau yang lebih menakutkan adalah tewas dibilah Pedang Kesatria Suci Kuil Matahari.
Helena mempercepat langkahnya dan melihat sekumpulan Pendekar Beasthuman mengikat Kesatria Suci—yang Jirah Emas mereka kenakan telah mengalami kerusakan seperti dihantam benda tumpul dan tentunya wajah mereka juga babak belur.
“Aku tidak menyangka bocah setengah Elf itu ternyata adalah Pendekar tingkat 10, belum lagi ia mengeluarkan Sihir setelah mengucapkan kalimat mantera Sihir seperti yang diucapkan oleh Penyihir Zelma.”
“Apakah Kita bisa juga menjadi Penyihir?”
“Mana mungkin Kamu bisa menggunakan Sihir, bocah itu mungkin anak yang dicintai oleh Dewa makanya ia bisa menjadi Pendekar dan Penyihir.”
“Benar juga, menjadi Pendekar tingkat tinggi diusianya semuda itu saja sudah tidak normal. Hanya mereka yang dicintai oleh Dewa saja yang mungkin menjadi entitas kuat seperti itu.”
Helena terkejut mendengar perbincangan para Pendekar Beasthuman tersebut. Dia langsung menebak, bocah yang mereka maksud pasti Sarah, putrinya.
“Ke mana Sarah pergi?” Helena bertanya pada para Pendekar Beasthuman tersebut. “Maksudku gadis kecil setengah Elf itu!” katanya lagi—karena mereka malah terlihat kebingungan.
“Maksud Putri Helena gadis kecil yang hanya mau dipanggil Bos kecil itu?” sahut salah satu Pendekar Beasthuman.
“Dia mengejar sisa-sisa Kesatria Suci ke arah sana!” sahut yang lainnya menunjuk ke arah Utara Pulau itu.
“Sial! Apa ia mengira peperangan ini sebagai ajang latihan beladiri atau main-main saja?” gerutu Helena melesat ke arah Utara.
__ADS_1
Semua Pendekar Beasthuman itu tiba-tiba mengingat kalau Helena memiliki anak yang seusia dengan bocah yang hanya mau dipanggil Bos kecil tersebut.
“Bos kecil itu adalah Sarah, anak dari pasangan Pangeran Alex dengan Putri Helena!” Mereka semua berkata bersama-sama dan kemudian tertawa terkekeh-kekeh. Pantas saja gadis kecil itu sangat kuat, ternyata ia anak dari Dua Pendekar yang juga tidak normal alias kekuatannya diluar nalar.
...***...
Kubah Perisai Sihir yang melindungi Ulrich dan kru-nya akhirnya dihancurkan oleh Adrian dan bawahannya setelah melakukan serangan secara bertubi-tubi.
“Mau berlindung di mana lagi kalian setelah cangkang sialan itu hancur lebur!” Adrian meledek Ulrich.
Ulrich menggertakkan giginya dan menatap tajam Adrian. Bagaimanapun, apa yang dikatakan oleh Adrian memang benar, mereka tidak akan dapat kabur dari kepungan para Kesatria Suci.
“Kalian sudah kalah! Pangeran Alex telah menghancurkan Kapal Terbang Sihir kalian, begitu juga dengan Sekutu kalian ... Organisasi Hercules itu!” sahut Ulrich mencoba menakut-nakuti Adrian agar tidak menyerang mereka.
“Mundurrrrrr!”
“Mundurrrrrr!”
Puluhan Kesatria Suci lari tunggang-langgang ke arah Adrian, sementara di barisan belakang terdengar teriakan kesakitan dan ada juga Kesatria Suci yang terlempar ke udara.
Adrian mengerutkan keningnya, walaupun ia sudah tahu mereka akan kalah—karena Lycus baru saja tewas ditangan Alex. Dia tidak menyangka Kesatria Suci akan lari tunggang-langgang dikejar oleh para Pendekar musuh, padahal hanya Alex musuh yang tidak jauh lebih kuat dari mereka dan saat ini Alex masih berdiri di bibir pantai setelah membunuh saudaranya sendiri.
“Apakah mereka Pasukan bala bantuan musuh?” tanya Adrian pada Kesatria Suci yang berlari ke arahnya.
__ADS_1
“Tidak! Dia gadis kecil yang sangat kuat!”
“Ya, dia adalah Monster!”
“Benua ini sangat mengerikan! Monster kecil itu juga dapat menggunakan Sihir seperti para Penyihir Benua Vlorien.”
Ulrich dan Kru-nya langsung tersenyum mendengarnya. Mereka langsung dapat menebak identitas anak kecil itu, dia pasti Penyihir Agung mereka.
“Omong kosong apa yang kalian katakan!” bentak Adrian, “Kita bunuh dulu para Penyihir ini ... baru Kita atasi bocah sialan itu!”
“Jangan takut! Penyihir Agung bersama Kita!” seru Ulrich segera memasang kuda-kuda beladiri dan merapal mantera Sihir.
Adrian melesat ke arah Ulrich, Cahaya menyilaukan berwarna emas menyelimuti Adrian.
“Mati kalian Penyihir sesat!” seru Adrian sembari mengayunkan pedangnya.
“Jurus Pedang Tempoyak Ikan Patin!” Tiba-tiba gadis kecil setengah Elf terbang diatas Adrian dan Ulrich yang sedang beradu Pedang. “Dewi Sihir ... Sihir Nasi Goreng!”
“Hah? Penyihir Agung malah mengucapkan mantera Sihir yang salah,” gumam William menepuk dahinya sendiri. Sarah hanya mengucapkan dua kata pada Mantera Sihir dan tiga kata terakhir malah tidak ada dalam kamus mantera Sihir.
Namun, pasir disekitar mereka tiba-tiba melayang dan sesaat kemudian melesat ke arah para Kesatria Suci.
“Eh, mantera Sihirnya berhasil! Bagaimana mungkin?” William terkejut.
__ADS_1
“Apakah karena dia Penyihir Agung, sehingga Dewi Sihir memberikan pengecualian!” sahut Beck, Koki di Kapal Terbang Sihir. “Nasi goreng kan terdiri dari banyak butiran nasi, jadi itu menjadi nama lain dari Sihir badai Pasir,” katanya lagi.