
Andrean tak sengaja bertemu adiknya di undakan tangga terakhir. Ia akan melangkah menuju kamarnya sementara sang adik terlihat akan pergi.
Andrean menatap adiknya dari atas sampai bawah. Adrian menatapnya dengan sorot menyebalkan. Kedua alis Adrian naik turun dan Ia tersenyum menggelikan ke arah Andrean.
"Aku tampan 'kan?"
"Kemana?"
"Ah penasaran sekali kamu. Kenapa? Mau ikut? Sayang sekali, tidak bisa. Aku akan pergi bersama Angel malam ini,"
Satu alis Andrean menukik bingung. "Kemana?" Ia mengulangi pertanyaan yang tadi. Rasa penasaran muncul saat nama gadis yang akan menjadi istrinya disebut oleh Adrian bahkan adiknya itu mengatakan mereka berdua akan pergi.
Tiba-tiba saja Adrian terbahak. Ia hanya bercanda. Bukan Angel yang akan pergi bersamanya, melainkan Adrina. Tapi sang kakak sepertinya tidak terima sekali.
"Kamu sudah ada rasa untuk Angel. Benar?"
Andrean hanya mendengus lalu melanjutkan langkahnya. Ia hanya bertanya, kalau tidak dijawab pun tidak masalah. Kenapa Adrian jadi membawa-bawa rasa?
"Tenang, Andrean. Aku bukan pergi dengan Angel, tapi Adrina. Kamu terlihat panik sekali,"
Andrean menoleh saat adiknya makin gencar menggodanya hingga rasa kesal dalam dirinya semakin melonjak.
"Siapa yang panik? Kamu mau mengajak dia pergi juga tidak masalah. Hanya pergi 'kan?"
Adrian mengangguk-anggukan kepalanya. Oh jadi kalau hanya pergi boleh. "Kalau hal yang lain nya tidak boleh?"
Suara Adrian bertambah kencang karena langkah Andrean sudah semakin menjauh.
"Sudah aku katakan, jangan brengsek. Cukup satu, dan pastikan itu bukan Angel. Bagian mana yang tidak kamu pahami?"
Setelah mengatakan itu punggung Andrean sudah menghilang dari pandangan Adrian.
"Wohooo dia cemburu? Dia sudah jatuh cinta? Ck! Andrean sudah besar. Eh bukan sudah besar lagi. Dia bahkan sudah tua. Usianya 29 tahun,"
__ADS_1
"Sialan! Aku kan juga,"
Adrian mengumpat sendiri. Kemudian Ia melirik jam yang melingkar di tangannya.
"Astaga, sepertinya aku terlambat sedikit. Pasti kembaran beda rahim sudah menungguku sekarang," ujarnya membayangkan betapa kesal Adrina nanti bila Ia terlambat untuk datang.
******
"Adrina, ada Adrian menunggu di ruang tamu,"
Sheva mengetuk pintu kamar anaknya yang Ia ketahui akan pergi bersama Adrian malam ini untuk menghadiri sebuah pesta ulang tahun teman mereka.
Sheva membuka pintu kamar sang putri dan Ia terkejut karena melihat Adrina yang ternyata belum siap dengan penampilannya. Adrina masih bergelung di atas tempat tidirnya seraya bermain ponsel.
"Adrina, Kamu belum siap juga?"
Adrina menghembuskan napas pelan. Ia menggeleng, "Belum, Mom. Aku bingung jadi pergi atau tidak," ujar gadis itu.
Entah kenapa pergi sekali ini membuat Ia ragu. Sebelumnya pergi bersama Adrian adalah hal yang biasa baginya. Sejak obrolannya dengan Andrean kemarin, Ia jadi sulit sekali untuk bertemu dengan Adrian. Ia sendiri juga tidak tahu kenapa. Padahal Adrian saja terlihat biasa saja. Lelaki itu juga tidak menampilkan sikap yang sejalan dengan ucapan kakaknya.
"Lalu apa benar Adrian sedih setelah mengira bahwa belakangan ini Ia dekat dengan lelaki lain?"
"Diantar pulang oleh teman sekelas memangnya bisa dikatakan dekat?"
Piiirannya dipenuhi berbagai pertanyaan yang dia sendiri sulit mencari jawabannya.
"Adrina, hey. Cepatlah bersiap. Adrian sudah menunggu kamu,"
"Menurut Mommy, aku pergi tidak?"
Alis Sheva menukik bingung. Biasanya Adrina tidak pernah ragu kalau ingin pergi dengan Adrian. Bahkan mereka bisa menghabiskan waktu lama hanya untuk sekedar makan, ke bioskop atau mall, berdua, layaknya sahabat pada umumnya.
"Bukan saatnya bertanya begitu. Adrian sudah datang ke sini untuk menjemput kamu,"
__ADS_1
*****
Adrian menggerutu di sepanjang perjalanan. Ia kira Adrina sudah siap untuk pergi sampai-sampai Ia merasa bersalah karena merasa sudah terlanbat menjemput Adrina. Ternyata begitu Ia sampai di rumah gadis itu, Ia masih harus menunggu kurang lebih tiga puluh menit karena Adrina belum bersiap sama sekali ketika Ia datang, begitulah yang diucapkan Sheva ketika wanita itu memintanya sabar menunggu Adrina selesai bersiap.
"Lain kali jangan membuat aku menunggu lagi ya,"
"Ck! Kamu saja sering datang terlambat. Tidak usah berisik, bisa tidak?!"
Adrian mendelik saat Adrina memarahinya balik. Ia menggeleng pelan. Daripada mood Adrina buruk ketika sampai di tempat party nanti, lebih baik Ia diam sekarang. Lagipula Ia juga sudah sejak tadi menggerutu.
Ketika sampai, Adrian turun lebih dulu dan menunggu Adrina tak jauh dari mobilnya. Adrina sedang memastikan kembali penampilannya jadi masih berada di dalam mobil.
Setelah yakin bahwa penampilannya tak berubah selama perjalanan, Ia keluar dengan cepat karena Ia bisa melihat Adrian yang sudah berjalan menghampirinya untuk memintanya segera turun.
Kepalanya tidak sengaja terantuk mobil ketika keluar dari kendaraan beroda empat itu. Adrina meringis seraya mengusap kepalanya.
Adrian menutup pintu yang baru saja dibuka Adrina. "Sudah jangan merengek, ayo masuk ke dalam," ujar Adrian setelah sebelumnya spontan menyentuh singkat kepala Adrina yang terantuk.
"Siapa yang merengek sih?"
Adrina dibiarkan berjalan seorang diri sementara Adrian sudah melangkah lebih dulu.
"Lebih baik pergi sendiri-sendiri saja, Adrian, kalau kamu---"
Adrian menghembuskan napas kasar lalu berbalik mendekati gadis yang baru saja mencibir itu.
"Mau digenggam tangannya? Tinggal katakan saja, pasti akan aku turuti," goda lelaki itu sembari meraih tangan Adrina.
Gadis itu segera menarik tangannya. Adrina melotot tajam ke arah Adrian yang kebingungan. Dia salah lagi?
"Tadi aku jalan lebih dulu, kamu marah-marah. Sekarang, aku--"
"Tidak perlu pegang tanganku juga!"
__ADS_1
Adrian lagi-lagi menghembuskan napas kasar. Ia mengangkat kedua tangannya seperti penjahat yang menyerahkan diri.
"Okay, bisa kita masuk sekarang? Sudah terlalu lama kita berdebat di parking area ini,"