
Angel keluar dari toko roti dengan pangkah santai. Tujuannya setelah membeli roti adalah datang ke kantor suaminya.
Angel baru saja bekerja di kafenya sendiri, pekerjaannya setelah memiliki kafe sendiri jauh lebih ringan daripada ketika Ia masih menjadi pelayan di kafe milik orang lain. Jelas saja itu adalah tujuan Andrean membuatkan kafe untuknya. Setelah meluangkan waktu di kafe miliknya, Angel singgah di toko roti. Ia membeli beberapa menu roti untuk Andrean dan akan Ia antarkan langsung ke tempat kerja suaminya itu.
Angel keluar dari mobil setelah tiba di kantor Andrean. Dan Ia segera melangkah ke ruangan suaminya itu. Ia tidak memberitahu Andrean kalau Ia akan datang. Sengaja, supaya Andrean terkejut. Karena kalau Ia memberitahu Andrean, belum tentu Andrean mengizinkan mengingat saat ini Ia sedang mengandung dan sebaiknya mengurangi mobilitas. Datang ke kafe saja sudah membuat Angel lelah, begitu kata Andrean. Padahal menurut Angel tidak juga. Angel menikmati setiap hal yang Ia lakukan. Apalagi di kehidupannya yang saat ini jauh lebih baik daripada sebelumnya.
Ketika dipersilahkan masuk, Angel langsung tersenyum menyapa si pemilik tuangan yang saat ini hanya seorang diri menatap komputernya.
“Astaga, Angel? Kenapa kamu datang ke sini, Sayang? Dan kenapa kamu tidak memberitahu aku? Hmm?”
Andrean segera melangkah mendekati Angel yang datang dengan menjinjing satu paper bag.
“Apa aku mengganggu waktumu, Tuan Andrean yang tampan?”
Andreqn terkekeh mendengar kalimat itu. Ia langsung menggelengkan kepalanya dan menyematkan kecupan di kening Angel, tak lupa di perut Angel juga.
__ADS_1
“Tentu tidak, Sayang. Kamu tidak pernah mengganggu eaktuku. Tapi apa yang kamu lakukan? Hmm? Kamu tiba-tiba datang tanpa memberitahu aku, Astaga. Seharusnya tidak perlu, atau paling tidak kalau memang kamu mau datang, kamu beritahu aku supaya aku menjemputmu,”
“Tidak perlu khawatir. Aku bisa sendiri, aku wanita mandiri. Kamu tidak perlu menjemput aku. Oh iya, lagipula aku diantar driver seperti biasa,”
“Ya maksudku, aku menjemputmu di lobi, Sayang,”
“Tidak perlu, memang aku sepenting itu?” ujar Angel seraya terkekeh. Sebisa mungkin apapun yang bisa Ia lakukan sendiri maka Andrean tak perlu tahu apalagi melakukannya.
“Okay, ini apa yang kamu bawa?”
“Ya ampun, terimakasih, Sayangku,”
“Semoga kamu menyukainya,”
“Aku suka roti ini apalagi dibawakan olehmu. Oh iya, apa yang kamu inginkan sekarang? Biar aku minta seseorang untuk menyiapkannya. Kamu ingin makan atau minum sesuatu?”
__ADS_1
“Oh tidak-tidak, kamu tidak perlu melakukannya. Aku ini bukan tamu, Ean. Jadi untuk apa kamu melakukan itu? Lagipula aku sudah makan,”
“Benqrkah kamu dan anakku sudah makan?” Tanya Andrean seraya mengusap perut sang istri dengan lembut. Angel segera menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan sang suami.
“Aku membawa makanan dari rumah dan itu masakan Auristella,”
“Wow, anak itu memasak? Apa yang dia inginkan darimu? Hmm?”
Angel tertawa lalu memukul pelan bahu suaminya yang baru ingat belum membawa istrinya duduk, oleh sebab itu Ia rangkul pinggang Angel dan Ia mengarahkan Angel untuk duduk di sofa ruangannya.
“Dia tidka ingin apa-apa dariku, kamu jangan berprasangka buruk. Dia itu anak yang baik jadi hal normal kalau dia mau memasak sesuatu untuk aku kakak perempuannya. Tanpa aku suruh, dia memasak, lalu dia menawarkan aku untuk menikmati masakannya bahkan dia bawakan juga makanan itu untuk aku bekerja di kafe,”
“Hmm jangan bilang, dia sedang berusaha membujukmu secara halus supaya kamu bicara padaku agar aku setuju bila seandainya dia menjadi kekasih Revano,”
“Andrean! Jangan berpikir seperti itu,”
__ADS_1
“Bercanda, Sayang. Tapi sebenarnya aneh ketika aku tahu kalau Auris adikku yang manja itu bersedia memasak,”