
Ia segera mengambil roti cokelat yang sudah dibuka oleh Angel sebelumnya. Lalu Ia makan, Angel mengamati reaksi suaminya yang biasa saja. Malah kelihatan menikmati roti itu.
Angel langsung merengut. Ia menyalahkan dirinya sendiri sekarang. “Benarkan kataku barusan. Aku yang aneh. Kenapa aku muntah sedangkan kamu tidak?”
“Sayang, mungkin kamu memang tidak suka lagi dengan roti ini. Kalau menurut aku sendiri, roti ini masih sangat enak,”
“Ya memang, aku juga yakin soal itu. Aromanya saja tidak ada yang berubah, tadi aku juga sudah mencicipinya. Tapi aku malah mengeluarkannya,”
Andrean langsung menghampiri Angel dan mengusap puncak kepala Angel dengan lembut. “Ya sudah tidak apa-apa, Sayang. Ini bukan salah kamu. Manusia wajarlah berubah selera, ya ‘kan?”
“Tapi—“
“Aku saja terkadang berubah selera. Yang sebelumnya suka jenis makanan ini, lalu di lain waktu tiba-tiba aku tidak suka. Dan itu hal yang wajar menurutku, Sayang,”
“Tapi aku jadi tidak enak pada Mommy. Pasti Mommy kecewa karena roti yang diberikan olehnya malah aku buang, bukan aku makan,”
“Sayang, Mommy tidak mungkin kecewa. Aku yakin kamu juga tidak mau begini ‘kan sebenarnya. Ya tidak apa-apa, Mommy juga pasti paham. Bukan kesalahan kamu. Mungkin memang bahannya ada yang beda jadi kamu tidak suka,”
“Aku merasa bahwa roti itu sama saja, Ean. Enak, tidak ada kurangnya, tapi aku malah muntah,”
“Sayang, ya sudah jangan disesali. Ini bukan salah kamu, okay? Lanjutkan makannya, jangan merengut, jangan sedih. Mommy tidak akan kecewa, dan lagipula aku tidak akan cerita pada Mommy. Kamu pasti mau menjaga perasaan Mommy ‘kan? Aku juga akan melakukan hal yang sama,”
“Aku minta maaf ya, aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa seperti ini,”
“Angel, kamu kenapa minta maaf? Kamu tidak salah apapun, Sayang. Sudah aku katakan tadi, wajar orang berubah selera. Manusia saja bisa selingkuh, apalagi lidah,”
Angel langsung menatap suaminya dengan salah satu alis terangkat, semua wajah Angel murung, tapi sekarang justru kelihatan ketus.
“Maksud kamu?”
Andrean terkekeh seraya duduk lagi di sofa. Ia menggigit roti sebelum menjawab kebingungan Angel.
“Maksud aku adalah, manusia saja bisa selingkuh, apalagi lidah. Manusia yang selingkuh tidak dibenarkan, tapi kalau lidah yang selingkuh misalnya pernah suka roti coklat lalu tiba-tiba tidak suka lagi, itu tidak masalah karena hanya perkara selera makan,”
“Kenapa jadi bahas-bahas selingkuh ya? Kita sedang tidak membahas itu, Ean,”
“Iya aku tau, Sayang. Itu sebagai nasehat untuk kamu supaya kamu tidak merasa bersalah disaat kamu tidak lagi menyukai suatu makanan,”
“Ih aku paling tidak suka dengar perselingkuhan. Jangan bahas itu tolong,”
“Aku memberikan perbandingan sebenarnya. Tapi kalau kamu tidak suka ya tidak apa-apa,”
“Apa kamu punya—“
“Punya apa?”
Angel akan membuka mulutnya tapi tidak jadi, akhirnya Ia menggelengkan kepalanya. Andrean bingung jarena istrinya tidak jadi bicara padahal Ia penasaran apa yang ingin dikatakan oleh Angel.
__ADS_1
“Aku tidak boleh bicara seperti itu. Takutnya Ean tersinggung. Aku tidak punya hati kalau tiba-tiba bertanya seperti itu karena sama saja artinya aku sedang menuduh Ean dengan pertanyaan seperti itu,” batin Angel.
“Tidak punya apa, Sayang? Hmm? Kenapa tidak dilanjutkan ucapanmu?”
“Tidak jadi,”
“Punya selingkuhan ya maksud kamu?”
Angel menatap suaminya kaget. Ia kaget karena suaminya bisa menebak Ia akan berucap seperti itu. Angel langsung kelihatan gugup dan itu membuat Andrean terkekeh.
“Benar itu yang mau kamu tanyakan? Hmm? Kenapa tidak jadi ditanyakan? Supaya kamu tidak penasaran. Kamu menjaga perasaanku ya?”
“Aku—aku minta maaf. Tapi aku tidak—“
“Tidak mencurigai aku? Iya aku tau. Kamu hanya sedang bingung mau tanya apa makanya keluarlah ide di otak kamu untuk bertanya hal seperti itu. Kebetulan topik pembahasan kita memang tepat ya. Tentang perselingkuhan kesetiaan manusia dan kesetiaan lidah kita terhadap selera makanan. Tidak masalah, Sayang. Aku akan jawab. Aku tidak punya perempuan idaman lain alias selingkuhan. Aku hanya punya kamu saja. Tidak ada yang lain. Tapi kalau selingkuh soal selera makanan, aku sering sekali. Jadi kamu tidak perlu merasa bersalah kalau seandainya kamu tidak menyukai roti Mommy lagi,”
“Aku suka! Tapi aku mau muntah. Kamu paham maksudku tidak?”
“Ya sudah, aku paham. Sekarang tidak usah dibahas lagi ya?”
Angel menyudahi makannya, Ia langsung mencuci tangan dan akan membawa piring kotor ke dapur namun suaminya melarang.
“Biar aku saja,”
“Aku boleh ikut turun tidak? Aku bosan di kamar terus,”
Andrean menyelipkan beberapa helai rambut Angel yang terlepas dari ikatannya di balik telinga sambil bertanya “Kamu yakin di kamar terus?”
“Tujuan kamu ke lantai bawah sekarang apa? Hmm?”
“Aku mau—ya aku mau jalan-jalan saja. Memang tidak boleh ya? Aku bosan di kamar terus,”
“Ya sudah kalau begitu aku bolehkan kamu keluar kamar,”
“Yeayy terimakasih. Keadaanku sudah jauh lebih baik, Ean. Jadi kamu tidak perlu khawatir ya,”
“Okay,”
Andrean mana tega mengabaikan permintaan istrinya yang sudah menatap dengan sorot mata memohon supaya diperbolehkan keluar kamar karena rasanya sudah benar-benar bosan.
******
“Kamu kenapa kelihatan tidak senang begini jalan denganku, Ian?”
“Ya memang tidak senang, karena kamu paksa, Ris,”
“Tapi biasanya juga senang kalau sudah sampai di mall, sekarang mukamu masih juga kelihatan beda. Sebenarnya kamu kenapa sih?”
__ADS_1
“Tidak apa-apa, Auris. Sudahlah kamu jangan cerewet. Nanti aku tinggal baru tau rasa,”
“Memang kamu tega meninggalkan aku di mall sendirian hah?”
“Tega lah, paling kamu gunakan kesemaptan yang ada untuk berduaan sama teman kamu si Revano itu, iya ‘kan? Jangan-jangan malah senang kalau aku pergi, jadi kamu bisa pergi dengan Revano,”
“Astaga, hahahaha mana mungkin aku dan Revano jalan diam-diam tanpa izin? Ya tidak lah, aku takut dimarahi Daddy,”
“Halah, takut-takut padahal sering melakukannya,”
“Ih kamu kenapa jadi menyebalkan begini sih? Kamu menuduh aku yang tidak-tidak! Padahal aku tidak begitu, Ian,”
“Ya sudah jangan merajuk lah,”
Adrian merangkul bahu adiknya yang baru meluapkan rasa kesal ketika dituduh yang tidak-tidak oleh kakaknya. Apa yang dikatakan oleh Adrian itu tidak benar, makanya Auristella tidak senang.
“Aku rasa kamu lagi ada masalah ya makanya mukanya merengut terus, dan bersikap menyebalkan dengan berpikir yang tidak-tidak tentang aku. Kamu jujur saja padaku, sebenarnya ada apa?”
“Adrina, aku lagi tidak habis pikir dengan dia,”
Auristella menyelipkan ranbutnya ke belakang telinga lalu mendekatkan telinganya ke arah Adrian.
“Kamu mau lamer rambut kamu habis dicreambath? Iya?”
Auristella tertawa mendengar ucapan Adrian yang sebenarnya salah. Ia hanya ingin menegaskan saja tadi. Benar atau tidak nama Adrina yang disebut.
“Supaya lebih yakin apa yang aku dengar tidak salah. Ada apa dengan Adrina? Hmm tapi aku mau bilang terimakaish dulu padamu sebelumnya karena kamu sudah menemani aku creambath tadi,”
“Sama-sama,”
“Ketus sekali menjawabku, benar lagi ada masalah ya? Makanya kamu badmood,”
“Diam anak cerewet,”
“Apa Adrina ada hubungannya dengan rasa kesal kamu sekarang? Sebabnya apa? Kamu boleh cerita padaku,”
“Tidak usahlah, aku tidak perlu teman cerita sekarang,”
Adrian membeli tiket untuk masuk bioskop. Loket kebetulan kosong makanya Ia bisa cepat mendapatkan tiket yang Ia inginkan setelah itu Ia mengajak adiknya untuk memasuki studio.
“Ian, kamu benar-benar tidak mau cerita padaku? Hmm?”
“Tidak,”
“Kenapa sih? Cerita saja lah, jangan sungkan,”
“Tidak perlu tau,”
__ADS_1
“Apa yang Adrina lakukan padamu? Biar aku temui dia,”
“Jangan macam-macam, Auris. Kamu tidak tau apapun, untuk apa menghampiri Adrina?”