
Angel ada jadwal di kampusnya pukul sembilan. Maka dari itu usai memasak, Ia segera beranjak ke kamarnya.
Dengan cepat gadis itu merampas handuk di stand hanger kemudian menerobos pintu kamar mandi dimana ada suaminya yang sedang mengikat tali kimono di pinggangnya.
Angel membulatkan matanya. Ia langsung kikuk dan cepat-cepat meminta maaf.
"Andrean, ma--ma--maaf, Aku tidak sengaja,"
Andrean terlihat santai. Jauh berbeda dengan Istrinya yang kini merona di bagian pipinya. Angel merutuki kebodohannya. Saat tangannya akan menutup pintu kamar mandi, Andrean menahan.
"Masuk saja. Lagipula aku sudah selesai,"
Andrean keluar dari kamar mandi. Angel mengangguk, dengan gugup Ia masuk ke dalam kamar mandi lalu menguncinya. Jangan sampai kejadian yang dialami Andrean tadi dialami juga oleh dirinya.
Andrean memasuki walk in closet dan mendapati kenyataan bahwa sang istri belum menyiapkan keperluannya berangkat kerja.
Angel mungkin sedang tergesa-gesa terlihat dari kesalahan yang Ia lakukan tadi. Andrean menduga usai Angel memasak, Angel langsung bergegas ingin mandi.
******
Adrian tersenyum jahil menatap kembarannya dan sang istri. Mereka berdua sama-sama ke ruang makan dengan rambut basah.
"Aduh pagi-pagi rambut sudah basah ya. Aku bahkan belum mandi," godanya pada sepasang suami istri itu.
Andrean tak menanggapi adiknya seperti biasa. Ia duduk di tempatnya. Disusul Angel yang duduk di sampingnya.
"Berhubung kemarin kamu tidak jadi mengantar aku ke bookstore. Hari ini bisa mengantar aku 'kan?"
"Lebih baik denganku saja, Auris. Aku tidak ada jadwal hari ini,"
Auristella menatap kakak keduanya tajam. Kemarin Ia mengajak Adrian tapi lelaki itu ada jadwal kuliah.
"Okay, sepulang aku kerja,"
"Thank you, Ean,"
Auristella tersenyum senang setelah Andrean menginterupsi tatapan tajamnya pada Adrian.
"Kenapa tidak dengan aku saja sih? Biar aku tidak bosan di rumah,"
"Aku inginnya dengan Andrean. Berhubung kemarin dia lebih mementingkan Angel daripada aku," rajuk gadis itu.
"Auris, jangan seperti itu,"
Auristella mengerucutkan bibirnya saat Devan menegur. Salahkah Ia kalau merasa kesal dengan Andrean?
Ini sebabnya Ia sulit sekali menerima Andrean ataupun Adrian punya pasangan. Ia akan di nomor duakan.
Padahal Auristella sudah cukup dewasa untuk membedakan posisinya dengan pasangan-pasangan kakaknya.
__ADS_1
"Hari ini sepertinya kamu ingin pergi lagi, Angel? Kemana?"
"Kuliah, Mom. Dan setelah ya akan mencari pekerjaan lagi,"
"Astaga, belum menyerah rupanya,"
"Kenapa bekerja sih? Memang apa yang diberikan kakakku kurang atau kamu yang tidak bersyukur?"
Devan berdehem menatap tajam putrinya yang kelepasan bicara seperti itu pada Angel. Auristella terlalu kesal dengan Angel yang tiba-tiba saja ingin bekerja lagi.
"Biarkan saja, itu pilihan Angel," tekan Devan pada Auristella.
Walaupun Ia sempat bingung juga dengan keputusan Angel, namun Devan tidak ingin ikut campur. Angel sudah memiliki kehidupan berdua dengan Andrean dan mereka telah dewasa.
"Iya, Dad. Maaf, aku hanya tidak habis pikir saja dengan Angel. Apa kamu tidak lelah nantinya? Kuliah, mengurus Andrean, lalu harus bekerja juga,"
Angel tersenyum, Ia ingin sekali menjawab bahwa semua itu sudah biasa Ia lakukan dalam satu waktu. Kalau ditanya lelah, pasti lelah. Tapi Ia tidak ada pilihan lain.
*****
Otaknya habis dipacu dengan pembelajaran, dan sekarang Angel sudah memacu dirinya untuk segera mendapatkan pekerjaan. Karena dari semalam baik kakak maupun ayahnya sudah terus-terus menekannya.
Kemarin Andrean menjemputnya. Usai membuatkan suaminya teh hangat, Ia segera membersihkan tubuhnya. Barulah berkutat dengan internet untuk mencari peluang untuk bekerja. Ia mendapatkan tiga tempat.
Ia berharap ketika dikonfirmasi langsung hasilnya tidak mengecewakan seperti kemarin.
Angel benar-benar bersyukur ketika harapannya itu terjadi. Akhirnya Ia mendapatkan pekerjaan tanpa perlu dibantu Andrean yang semalam mengatakan ada beberapa posisi kosong di perusahaan aplikasi belajar online miliknya.
Kafe atau restoran menjadi incaran Angel karena sebelumnya Ia sudah berpengalaman. Angel terlalu takut untuk mencari tempat bekerja dimana Ia belum pernah mendapatkan pengalaman. Katakanlah Angel belum berani keluar dari zona nyaman nya.
Ia bahagia sekali ketika lamaran yang Ia ajukan secara online semalam diterima kemudian begitu Ia datang ke kafe untuk konfirmasi, namanya sudah benar terdaftar di kafe tersebut menjadi salah satu pegawai. Yang Ia dapati begitu datang ke kafe bukan kata 'mohon maaf' seperti kemarin melainkan 'selamat'.
Orang pertama yang Ia kabari mengenai berita bahagia ini tentu saja sang suami.
"Hallo, Angel. Ada apa?"
"Aku mengganggu kamu?"
"Tidak, kenapa memangnya?"
"Aku berhasil dapat pekerjaan. Menjadi barista di Mc Cafe,"
"Benarkah?"
"Iya, mulai besok bekerja,"
"Kalau begitu selamat. Semoga itu yang terbaik untukmu,"
"Terimakasih ya, Andrean,"
__ADS_1
"Untuk?"
"Hmm...untuk semuanya. Meskipun kamu ingin aku tidak bekerja tapi kamu tetap mendukung keputusan aku ini,"
Andrean tersenyum tipis. Tak dipungkiri Ia tidak sepenuhnya menerima kalau Angel memutuskan untuk bekerja namun Ia senang saat istrinya itu senang dan keinginannya terpenuhi.
"Aku hanya ingin memberi tahu itu saja. Maaf sudah mengganggu waktu mu. Sampai jumpa di rumah ya,"
"Langsung pulang sekarang? Mulai kerja besok 'kan?"
"Iya, aku langsung pulang,"
"Aku jemput ya,"
Andrean tidak bertanya melainkan memberi tahu bahwa Ia akan menjemput istrinya itu.
"Tidak usah. Aku pulang sendiri saja. Lagipula kamu harus pergi dengan Auris juga. Jangan buat dia kecewa lagi, Andrean,"
Andrean baru ingat kalau Ia memiliki wacana untuk pergi dengan adik bungsunya usai Ia selesai bekerja.
"Baiklah, kalau begitu aku tutup telepon nya,"
*****
Auristella dan kakak sulungnya sudah tiba di sebuah bookstore yang sering dikunjungi oleh mereka.
Andrean hanya berdiri di depan bookstore. Tautan tangan mereka dilepas oleh Auristella. Gadis itu menepuk lengan kakaknya hingga menoleh.
"Kenapa diam? Ayo, masuk ke dalam,"
"Kamu saja, aku tunggu di sini,"
"Apa?"
Auristella menatap Andrean tak percaya. Bisa-bisanya Andrean hanya mengantar tanpa menemani.
"Kamu bukan driver ya, Ean! Kamu harus temani aku ke dalam! Ayo,"
Tanpa aba-aba, Auristella menarik lengan kakaknya dengan perasaan jengkel.
"Biasanya juga kamu ikut masuk ke dalam. Kenapa sekarang begini? Oh karena sudah ada istri jadi malu kalau jalan dengan aku ya?"
Andrean mendelik ke arah adiknya itu. Hari ini Ia sedang malas saja masuk ke dalam bookstore. Lagipula tidak ada buku yang sedang dicarinya.
Tapi kalau adiknya sudah merajuk seperti itu, maka tak ada pilihan lain. Ia harus mengiringi setiap langkah Auristella berburu buku.
"Angel tidak suka membaca buku?"
"Tidak tahu,"
__ADS_1
Auristella mendengus mendapat jawaban tak acuh kakaknya. "Tidak tahu? Dia istrimu,"
"Kami belum lama menikah, Auris. Perlu waktu untuk saling mengetahui kesukaan masing-masing,"