
Hari ini Lovi mengajak Angel untuk datang mengecek toko rotinya. Ketika diajak, Angel senang sekali. Ia ada kegiatan, tidak di rumah saja.
Andrean bekerja seperti biasa sementara Angel untuk sementara waktu ini benar-benar tidak bekerja lagi atas permintaan suaminya.
Angel mengikuti kemanapun langkah kaki Lovi. Dari mulai ke dapur untuk memgecek produksi, sampai ke gudang bahan-bahan pembuatan. Ketika Lovi berbicara dengan salah satu stafnya, Angel memutuskan untuk duduk di kursi untuk pengunjung dan mengamati suasana sekitar.
“Nyaman sekali di sini, sepertinya enak ya kalau punya usaha sendiri. Aku sempat punya cita-cita seperti itu tapi aku tau diri. Mana mungkin aku bisa menciptakan usaha sendiri. Bisa makan hari ini saja aku sudah sangat bersyukur,” batin Angel sambil mengamati sekeliling. Di dalam toko roti Lovi, Angel benar-benar merasa nyaman. Tokonya bersih, tertata dengan rapi, kalau yang Angel lihat pelayannya juga melayani dengan baik.
“Sayang, kamu mau roti atau kue yang mana? Silahkan pilih, mau makan di sini boleh, dibawa pulang ke rumah juga boleh,”
“Roti cokelat mau? Kamu ‘kan suka roti cokelat,”
“Hmm tidak usah, Mom. Nanti Mommy rugi,”
Tawa Lovi pecah, mana mungkin Ia mengalami kerugian hanya karena menantunya membawa beberapa jenis menunyang ada di toko miliknya.
“Nggak ada cerita rugi, Sayang, apalagi untuk cucu Mommy. Jadi kamu mau yang mana? Ayo pilih, jangan sungkan,”
Lovi mengajak menantunya untuk segera menilih beragam jenis roti maupun kue di dalam etalase.
Angel langsung diserang rasa bingung. Smeua kelihatan enak, jadi Ia bingung mau memilih yang mana.
“Duh, aku lebih baik tidak usah, Mom, daripada harus bingung memilih,”
“Roti cokelat, Sayang. Kamu menyukainya ‘kan?”
Angel diam sebnetar laku tersenyum. Angel memang memyukainya, tapi itu sebelum hamil. Setelah hamil entah kenapa Angel malah jadi mual kalau makan roti cokelat yang menjadi menu best seller di toko milik mertuanya itu.
“Hmm yang lain saja, Mom,”
Tapi Angel tidak mau memberitahu bahwa Ia pernah muntah hanya karena menyantap roti cokelat.
“Okay silahkan pilih sendiri, Sayang,”
Angel memilih roti dengan selai blueberry. Dan itu membuat Lovi bingung. “Kenapa hanya satu? Ayo ambil lagi, jangan cuma satu lah,”
“Tapi ini sudah cukup, Mom,”
“Tidak, jangan cuma satu. Kamu harus dengar apa kata Mommy,”
“Iya, Mom,”
Akhirnya Angel kembali memilih menu yang lainnya tapi masih roti. Ia pilih roti dengan selai strawberry dan juga kacang.
“Sekarang kue,”
“Mom, terlalu banyak. Ini saja sudah cukup,”
“Ayo pilih kue, Sayang. Jangan sungkan, ‘kan sudah Mommy bilang tidak ada cerita rugi kalau untuk menantu dan cucu sendiri,”
“Tapi aku bingung mau pilih yang mana, Mom,”
“Okay Mommy bantu pilihkan kalau begitu ya,”
Lovi tidak akan membiarkan menantunya hanya membawa roti saja ke rumah. Akhirnya Ia pilihkan menu lain setelah itu barulah Ia bertanya apda Angel mau makna di toko atau di rumahs aja. Dan Angel pikir lebih menyenangkan makan di toko, belum pernah Ia langsung makan di toko.
“Okay jalau begitu kita jangan pulang dulu, kamu makan dengn santai di sini ya. Mau minum apa, Sayang? Mommy juga mau minum dan makan roti sama seperimu,”
“Yeay kita makan bersama ya, Mom?”
“Iya, kapan lagi kita makan roti berdua di sini ‘kan. Kamu mau minum apa?”
“Apa saja, Mom,”
“Kalau matcha latte panas sama seperti Mommy mau?”
“Iya boleh, Mom. Aku suka semua yang ada di toko Mommy,”
“Wow pandai sekali memuji mommy ya,”
“Memang benar, Mom. Aku suka smeua menunyang Mommy jual, roti, kue,m yang basah maupun yang kering, minuman juga seperti itu,”
“Syukurlah kalau kamu menyukainya,”
Lovi segera memanggil salah satu pelayan. Ia ninta tolong dibuatkan minuman untuknya dan iuga sang menantu.
“Tolong buatkan matcha latte panas dua gelas ya,”
“Baik, Nyonya. Ditunggu sebentar,”
Setelah pelayan pergi Lovi langsung menggenggam tangan Angel yang belum puas mengamati suasana di toko roti milik ibu dari suaminya.
“Sayang, kamu senang datang ke sini?”
“Senang sekali, Mom,”
“Berarti kalau Mommy sering mengajak kamu ke sini, kira-kira kamu keberatan tidak?”
“Tidak, Mom. Aku justru senang sekali. Terimakasih ya Mommy sudah mau mengajak aku ke sini jadi aku tidak bosan di rumah saja. Aku jadi punya kegiatan, yaitu menemani Mommy,”
“Mommy juga senang ditemani. Biasanya ‘kan cuma sendiri, Auris sibuk kuliah, terkadang disibukkan dengan tugas kuliah, atau justru pergi dengan teman-temannya jadi Mommy jarang bisa mengajaknya,”
Minuman mereka datang. Angel langsung nafsu menatap minuman di depannya yang masih mengeluarkan asap.
“Wow aku langsung merasa tidak sabar untuk menikmati minuman ini tapi masih panas sekali kelihatannya ya, Mom,”
“Iya hati-hati masih panas, Sayang. Nanti mulutmu jadi luka,”
“Aku bingung Ean belum pernah mengajakku ke sini padahal ini tempat yang luar biasa nyaman. Mau dikunjungi sendiri nyaman, mau dikunjungi berdua dengan pasangan juga nyaman,“
“Ean mungkin kurang suka ke sini, Sayang,”
“Kenapa, Mom? Padahal aku kalau jadi Ean akan setiap hari datang ke sini,“
“Mungkin karena dia terlalu sibuk ya? Jadi sekalinya ada waktu luan lebih baik dia pulang ke rumah menghabidkan eaktu dengan kamu, pergi ke tempat yang menurut dia lebih baik daripada di sini,”
“Iya daripada datang ke tempat lain menambah pemasukan untuk tempat itu, lebih baik datang ke sini menambah pemasukan tolo Mommy ini,”
Lovi tertawa mendengar niat Angel. “Jadi lebih mementingkan toko Mommy ya daripada yang lain?”
“Jelas, Mom. Lagipula aku juga sangat menyukai tempat sekaligus apa yang dijual di sini. Aku rasa setiap hari ke sini tidak akan bosan,”
“Mungkin suasana toko bikin bosan kalau disatangi setiap hari,”
“Iya menurut sebagian orang begitu, Mom. Tapi kalau aku sendiri, asal nyaman, orang-prang di sini baik, pelayannya ramah, aku tidak bosan. ‘Kan yang penting menunya beda-beda, banyak menunyang disediakan jadi kalau aku tidak akan bosan, Mom. Ya kalaupun bosan datang lagi saja ke toko Mommy yang lain, mkan duasana pasti beda karena tempatnya saja beda,”
“Hahaha anak ini mau menolong pemasukan sekali ya,”
“Karena aku juga suka sama toko Mommy. Hebat seklai bisa punya benerapa toko roti, punya butik juga. Aku pernah punya cita-cita seperti Mommy, punya usaha sendiri sepertinya enak ya, Mom?”
“Oh ya? Sampai sekarang masih punya cita-cita itu, Sayang?”
“Sudah aku kubur cita-cita itu, Mom. Karena akuntau tidak akan terwujud, aku lebih cocok kerja dengan orang sepertinya,”
“Sayang, cita-cita yang kamu punyanitu jangan dikubur, kamu bisa mewujudkannya, kamu harus yakin itu. Dan tadi kamu bertanya enak punya usaha sendiri? Jawabannya iya, karena kita punya tantangan yang berat banget, orang mungkin berpikir enaknya punya usaha senidri itu tinggal duduk saja nanti uang akan datang sendiri. Tapi konsepnya tidak sederhana seperti itu, Aayang. Kita harus mau dibuat pening kalau misal target tidak sesuai, kita harus pintar memikirkan bagaimana strategi pemasaran yang baik, kita harus memikirkan nasib karyawan kalau seandainya target tidak penuhi, kita harus mau lelah memikirkan kira-kira apalagi inovasi baru yang bisa lita hadirkan di usaha yang kita buat netah itu usaha makanan atau yang lain-lain,”
“Iya Mommy benar sekali. Aku setuju dengan perkataan Mommy. Tantangannya berat walaupun keliahatan dari luar enak punya usaha sendiri,”
“Sebenarnya smeua pekerjaan itu ada sisi tidak enaknya masing-masing, Sayang. Tidak ada pekerjaan yang hanya ada sisi enaknya saja, tiba-tiba langsung dapat uang, tanpa ada risiko, tanpa ada lelah, itu tidak mungkin. Pasti semua pekerjaan punya itu,”
“Iya, Mom,”
“Dan kamu kalau punya cita-cita, jangan dikubur, kamu masih punya banyak waktu, banyak kesempatan untuk mewujudkan cita-cita kamu itu. Mommy selalu dukung kamu, Sayang,”
“Kamu bisa bicarakan ini pada Andrean, Mommy yakin dia apati juga setuju, dan mendorongnkamu dalam mewujudkan cita-cita kamu itu. Kamu bisa minta bantuan dia bahkan, jangan sungkan. Kamu istrinya, dan Ean pasti tidak ragu untuk memberikan bantuan dalam hal apapun itu untuk istrinya yang punya cita-cita dan berharap itu bisa terwujud,”
“Aku mengubur cita-citaku karena aku tau tidak akan pernah terjadi, Mom. Aku tau sampai kapanpun aku tidak akan bisa membuka usaha sendiri apapun itu bentuknya. Jadi daripada mimpi terlalu tinggi, lebih baik lupakan saja. Aku tidak mau menyusahkan siapapun, Mom. Kalaupun aku ingin cita-citaku terwujud, aku merasa semua jalannya harus aku yang mengusahakan, bukan orang lain,”
“Hei, Ean itu suamimu, Angel. Jangan sungkan untuk meminta dukungan dari dia. Misalnya kamu mau buat usaha bakery sendiri, kamu bisa meminta pendapat Ean, sekaligus bantuan Ean. Dia tidak akan ragu membantu kamu,”
“Hmm nanti aku pikirkan dulu, Mom. Aku sungkan untuk meminta bantuan siapapun. Lagipula itu ‘kan cita-citaku, jadi sudah seharusnya aku yang berusaha untuk mewujudkan, bukan orang lain,”
Andrean sudah membuat hidupnya jauh lebih baik. Untuk meminta lebih rasanya sangat segan. Andrean sudah membuat Ia merasa bahagia, nyaman, semua yang Angel perlukan eicukupi, kalau untuk minta bantuan supaya cita-citanya terpenuhi, terkesan Ia tidak tahu diri. Walaupun yang dikatakan Lovi benar. Andrean suaminya dan Andrean pasti tidak akan ragu memberikan bantuan.
*******
“Duh yang pegang bucket bunga. Untuk soapa itu? Untuk Drina? Ah berlebihan! Belum apa-apa sudah mau kasih bunga? Tapi kenapa tidak langsung diberikan saja ke rumahnya? Kemapa malah dibawa ke rumah kita?”
Auristella bingung ketika melihat Adrian membawa bucket bunga masuk ke dalam rumah. Auristella menduga kalau Adrian akan memberikan bucket bunga itu utuk Adrina.
“Apa? Ini bukan punyaku! Ini untuk kamu, dari Revano,”
“Hah?”
“Hah heh hah heh saja kamu ya. Dal rangka apa dia memberikan bunga untuk kamu? Kenapa romantis sekali? Katanya cuma bersahabat tapi kenapa ada kirim-kirim bunga begini?”
“Aku—aku juga tidak tau kalau Revano mengirimkan bunga untukku, Ian. Aku benar-benar tidak tau,”
“Hah mana mungkin tidak tau? kamu dan dia sudah resmi jadi sepasang kekasih ya?”
“Astaga, tidak sama sekali! Hih kamu jangan suka mengarang ya. Nanti kalau didengar pleh Daddy atau Mommy, aku bisa ditegur,”
“Mommy Daddy belum sampai di rumah. Ini terima bunga dari pangeranmu,”
Adrian menyerahkan bucket bunga yang Ia pegang kepada sang adik sebagai pemilik. Setelah Auristella menerimanya Adrian menatap sang adik dengan sinis.
“Ian, kamu kenapa sih? Aku tidak tau kalau Revano mengirim bunga ini. Dia tidak berkata apapun padaku. Tapi aku serius, aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa,”
“Aneh ya, sudah mengejek aku, bilang ini bunga untuk Adrina, padahal inid ari Revano untui kamu. Huh makanya jangan banyak omong dulu sebelum tau kebenarannya,”
“Ya karena kamu oegang bunga, aku pikir itu untuk Adrina ternyata untuk aku. Akhirnya aku diberikan bunga juga,”
“Heh! Kamu itu sering ya minta dibelikan bunga oleh aku, atau Ean, atau Daddy. Jangan berlebihan dapat bunga begitu saja , reaksinya seperti dapat sertifikat rumah sebanayk lima unit,”
“Hahahahaha itu berlebihan. Aku rasa bahagiaku biasa saja,”
“Sudah, cium-cium saja bunga itu, lalu kamu foto, posting di sosial media bilang itu dari kekasihmu. Aku mau kembali ke kamar. Nanti aku laporan pada Daddy kalau kamu dapat bunga dari kekasih, yaitu Reva—“
“Aku tidak akan melakukan itu! Awas ya kalau kamu laporan yang aneh-aneh pada Daddy. Kita bermusuhan kalau kamu—“
“Aku tidak peduli,”
“Ian jangan macam-macam ya! Revano bukan kekasihku,”
__ADS_1
Auristella berseru kesal pada Adrian yang sudah menaiki tangga. “Ian awas ya kalau kamu laporan pada Daddy,”
“Kalau aku tetap melaporkannya bagaimana?”
“Tidak boleh! Aku saja tidak berharap dikirimi bunga. Dan aku tidak tau apa-apa soal bunga itu,”
Adrian menghentikan sebentar langkahnya dan langsung memejammam mata pura-puta tidur dan itu membuat Auristella menggeram.
“Ian kamu benar-benar menyebalkan. Awas ya! Kita musuhan mulai sekarang,”
“Simpan baik-baik bunga milikmu, Ris. Takut diambil Daddy,”
Adrian tertawa setelah berkata seperti itu meninggalkan adiknya yang menggertakkan gigi kesal.
Ia menyesali kenapa Adrian yang menerima bunga? Kenaoa bukan dirinya langsung? Dan yang paling penting kenapa Revano harus mengirimkan bunga? Padahal Ia tidak minta, dan Revano juga tidak mengatakan apa-apa sebelumnya.
“Lebih baik aku simpan bunga ini di kamar sekarang,”
Auristella langsung bergegas ke kamarnya senidri untuk menyimpan bunga pemberian Revano lalu Ia menghubungi Revano.
“Halo, Revano. Kamu kenapa mengirimkan bunga ke rumahku? Kakakku jadi salah paham ‘kan. Dikiranya kita lebih dari teman, jelas-jelas kita hanya teman. Aku diauruh fokus pendidikan dulu, jangan macam-macam lah,”
“Kamu ulang tahun ya besok?”
“Hah? Aku ulang tahun tiga lagi, bukan besok! Tau darimana kalau aku ulang tahun besok? Kenapa ridak tanya dulu ke aku? Akhirnya salah ‘kan?”
“Astaga, aku malu. Jadi ternyata aku salah ya? Okay lah tidak apa-apa kalau aku berikan bunga lebih cepat,”
Auristella tertawa mendnegar jawaban Revano yang pastah. Entah dapat informasi darimana temannya itu kalau Ia ulang tahun besok.
“Padahal jelas-jelas aku ulang tahun nanti tiga hari lagi, bukan bwsok. Kamu tau darimana kalau aku ulang tahun besok, sumber informasimu berbohong, Rev,”
“Iya sepertinya, atau mungkin aku yang tidak paham ya? Aku salah memahami. Mungkin dia bilang tiga hari lagi tapi aku yang salahxl
“Terlalu baik dan berpikiran positif. Iya aku senang punya teman begitu. Tapi terimakaish ya kamu sudah memberikan bungauntukku.nya walalun Adrian jadi salah paham. Dia mengira kita sudah lebih dari teman hanya karena kamu mengirimkan bunga. Apdahal ya, mengirimkan bunga boleh ke siapa saja. Ke teman, ke orangtua juga boleh,”
“Maaf ya, apa kamu dimaarhidimarahi oleh Ian?”
“Tidak, hanya saja dia mengancamku akan melaporkan soal bunga ini pada Daddy. Tapi kamu tenang saja, Daddy tidak akan marah paling nanti tanya baik-baik dulu, Daddy ingin tau sudah sejauh mana aku dan kamu punya hubungan. Aku rasa Daddy akan termakan ucapannya Ian yang pasti nanti bicara ke Daddy kalau aku dan kamu sepasang kekasih. Aku bisa jelaskan pada Daddy kalau kamu mengirimkan bunga ini karena kesalahpahaman. Kamu pikir aku ulang tahun besok padahal masih tiga hari lagi,”
“Iya bagus kamu jelaskan begitu supaya Daddymu tidak marah dan mengira yang bukan-bukan. Tapi bungaku tidak sibuang ‘kan, Ris?”
“Ya mana mungkin aku buang? Aku simpan lah, tenang saja. Aku tidak pernah menyia-nyiakan pemberian orang lain apapun itu bentuknya,”
“Aku lega dnegarnya. Aku pikir kamu akan membuangnya,”
Auristella tertawa, Ia tidak akan melakukan itu karena Ia menyukai bunga, jadi rasnaya bahagia sekali ketika dapat bunga. Apalagi bunga yang diberikan oleh Revano sangatlah cantik.
“Ya sudah kalau begitu nanti saat aku ulang tahun kamu tudak perlu memikirkan ingin memberi ini itu lagi karena kamu sudah memberikan bunga untuk aku. Terimakasih ya, aku sangat nenyukai bunga yang kamu kirimkan karena sangat cantik,”
“Sama-sama, ya harus cantik lah biar sama cantiknya dengan yang menerima,”
“Maksudmu Ian cantik?”
“Eh bukan Ian maksud aku. Tapi kamu, kenapa kamu berpikir yang aku bicarakan itu Ian sih
“Ya karena kamu bilangnya biar cantik sama seperti yang menerima bunga dari kamu ‘kan? Berarti Ian? Karena yang menerima itu Ian, bukan aku,”
“Tapi setelah ada di tangan Ian, berakhir di tangan siapa? Dan aku niatnya mau memberikan bunga itu untuk siapa?
“Ya…untuk aku ‘kan?”
“Iya jadi kenapa Ian? Yang penerima aslinya itu kamu. Ian hanya tidak sengaja meneyima. Mungkin karena kebetulan lagi di luar ya jaddi ketika bunga itu datang, Ian lah yang terima,”
“Iya tadi dia dari luar,”
“Nah ya sudah berarti Ian tidak sengaja menerimanya,”
“Ya sudah kita sudahi dulu ya obrolan kita kali inia. Terimakasih seklai lagi, akus angat menyukai bunga itu,”
“Sama-sama,”
*******
“Tuan Andrean sudah keluar dari kantor sejak tadi. Hanya sebentar saja datang ke kantor mengurus pekerjaan setelah itu pergi, Nyonya,”
Lovi dan Angel saling menatap satu sama lain. Mereka bingung ketika mendengar dari staf Andrean bahwa Andrean sudah sejak tadi meninggalkan kantor.
“Baik kalau begitu, terimakasih ya,”
Niat hati ingin mengajak Andrean pulang bersama tapi ternyata Andrean sudah meninggalkan kantor.
“Kira-kira Ean kemana ya, Mom? Kenapa dia tidak ada di kantor?”
“Iya Mommy juga bingung, Sayang. Mommy tidak tau Ean kemana. Biasanya dia di kantor terus. Oh atau mungkin memang ada urusan peekrjaan di luar kantor ya?”
“Iya, Mom. Ya sudah sekarang kita pulang ke rumah ya, Mom?”
“Iya kita langsung pulang saja berarti,”
Jujur Angel jadi memikirkan keberadaan suaminya sepanajng perjalanan. Dimana suaminya? Kenapa sudah meninggalkan kantor sejak pagi? Angel benar-benar bingung kemana perginya sang suami.
“Coba kamu tanya Ean, Sayang,”
“Tentus aja kamu tidak mengganggu. Kamu ‘kan istrinya, wajar kalau kamu ingin tau keberadaan suami kamu,”
“Okay aku coba hubungi Ean ya, Ma,”
Sempat terbesit di benak Angel untuk menghubungi sang suami namun Ia pikir-pikir itu akan mengganggu Andrean yang mungkin saat ini sedang sibuk di luaran sana. Tapi ternyata Lovi punya pemikiran yang sama.
Angel menggubungi Andrena dan langsung dijawab oleh suaminya itu. “Halo, Sayang,”
“Ean, maaf aku mau tanya. Tadi aku dan Mommy dari toko roti Mommy langsung ke kantor kamu tapi ternyata kamu sudah tidak ada lagi di kantor. Aku boleh tau kamu dimana? Kamu baik-baik saja ‘kan?”
“Iya aku baik-baik saja, Sayang. Aku lagi ada urusan pekerjaan di luar kantor, Sayang. Memang kenapa kamu dan Mommy datang ke kantorku?”
“Tidak apa, kami hanya ingin pulang bersama kamu tadinya,”
“Oh begitu, iya aku minta maaf lagi di puar kantor,”
“Nanti langsung pulang atau singgah dulu ke kantor?”
“Mungkin akan langsung pulang ke rumah, Sayang,”
“Ya sudah kalau begitu aku tutup teleponnya. Hati-hati ya, aku lagi di jalan pulang bersama Mommy,”
“Iya kamu dan Mommy juga hati-hati,”
Sambungan telepon berakhir, Angel langsung menyimpan ponselnya di dalam tas yang Ia bawa.
“Benar Ean lagi ada urusan pekerjaan di luar kantor, Mom. Makanya dia meninggalkan kamtor. Mungkin akan langsung pulang ke rumah katanya,”
“Oh begitu ya sudah. Mommy tenang mendengarnya,”
“Aku juga sempat kepikiran. Aku bingung kenapa Ean sudah meninggalkan kantor sejak pagi? Ternyata memang ada yang harus Ean urus, Mom,”
“Iya, Sayang. Yang terpenting kita sudah tau Ean baik-baik saja,”
*******
Suara ketukan pintu kamarnya membuat Auristella langsung beranjak meninggalkan ranjangnya. Ia juga menghentikan semnetara drama yang sedang Ia saksikan.
“Hai, Daddy. Wow Daddy sudah pulang ya?“Ya kalau Daddy belum pulang Daddy tidak akan mungkin ada di sini. Pergi dengan Daddy mau?”
“Kemana, Dad? Aku lagi sibuk menonton drama,”
Devan mendengus, menonton deama saja dijadikan kesibukan. Anak perempuannya itu membuat Ia kesal. Lebih mementingkan drama daripada langsung mengiyakan ajakan Daddy nya.
“Jadi lebih mengutamakan drama daripada Daddy ya, Sayang?”
“Tidak, bukan begitu maksudku, Dad,”
“Okay Daddy mau kemana?”
“Sebentar lagi kamu ulang tahun, mau dibelikan apa? Ayo kita pergi sekarang,”
Auristella menatap ayahnya dengan sorot nata ceria dan senyum sumringah. Ternyata tujuan Devan mengajaknya pergi untuk membelikan sesuatu yang Ia inginkan sebagai hadiah ulang tahun.
“Jadi Daddy mau mengajak aku untuk mencari kado ya?”
“Iya betul, kamu mau tidak?”
“Mau-mau,”
“Jadi bagaimana dengan drama yang kamu tonton?” Tanya Devan sambil bersedekap dada dan menaikkan salah satu alisnya.
“Nanti aku lanjutkan lagi setelah pergi, Dad,”
“Huh giliran hadiah langsung semangat ya, Sayang?”
“Hahaha selalu, Dad. Aku selalu semangat kalau urusan hadiah,”
“Ya sudah ayo kita pergi. Daddy ganti oakaian dulu ya, tidak mungkin Daddy ke mall dengan pakaian formal seperti ini,”
“Okay, Dad. Aku juga harus ganti baju,”
Devan bergegas ke kamarnya untuk memgganti pakai formalnya menjadi yang kesannya santai berhubung ingin mengajak anak perempuannya pergi ke mall.
Dan Auristella juga berganti pakaian di kamarnya sendiri dengan hati yang berbunga-bunga. Ia akan diberikan hadiah. Rasanya senang sekali. Walaupun sedikit tidak rela meninggalkan drama yang sedang Ia tonton tapi Ia sudah bertekat untuk langsung menonton lagi nanti kalau sudah sampai di rumah.
Setelah menggunakan parfum, mengambil tas kecil dan mengisinya dengan ponsel dan dompet setelah itu keluar dari kamar menunggu di ruang tamu, tidak lama kemudian Devan datang sudah dnegan penampilannya yang beda sekali.
“Daddy selalu kelihatan lebih muda kalau sudah lepas baju kerja,”
“Ah bisa saja pujianmu ya. Daddy jadi malu,”
“Aku serius, Dad. Kelihatan lebih tampan, lebih kelihatan muda kalau sudah mengenakan jeans panjang, kaos polos, apalagi kacamata hitam. Woah sepeeti belum punya anak,”
“Hahahha mana mungkin. Daddy ini sudah punya anak tiga yang sudah dewasa semuanya bahkan Daddy sebentar lagi punya cucu,”
“Iya tapi tetap terlihat muda. Berarti hidup Daddy bahagia ya? Karena katanya kalau awet muda hidupnya bahagia, tidak ada beban pikiran,”
“Ya kalau beban pikiran ada saja, Sayang. Namanya manusia pasti punya beban pikiran,”
__ADS_1
“Tapi jarang ya, Dad? Karena anak-anak Daddy smeuanya sudah dewasa, iang ada, rumah ada, tabungan ada, jadi apa yang Daddy pikirkan lagi? Oh paling pekerjaan ya, Dad?”
“Iya kamu benar, Sayang. Ayo kita pergi sekarang,”
Devan merangkul bahu anaknya tak sengaja mereka bertemu dengan Lovi dan Angel yang baru saja pulang.
“Wow kalian mau kemana? Kenapa tidak ajak Mommy? Daddy pulangnya cepat ya,”
“Mommy mau ikut? Ayo kalau begitu, ini mau mengajak Auristella beli hadiahnya sneidri, Mom. Tiga hari lagi ‘kan Auris ulang tahun,”
“Ayo Mommy ikut,”
“Yeayy Mommy ikut,”
“Angel mau sekalian ikut?” Tanya Auristella pada Angel.
“Maaf, Auris, aku tidak ikut ya?”
“Iya tidak apa-apa,”
“Angel harus istirahat jangan sampai kelelahan,” ujar Lovi.
“Oh iya Angel baru juga sampai ya. Okay Angel istirahat saja di rumah,” ujar Adrina.
“Iya istirahat saja di rumah, sebentar lagi Ean mungkin datang, Ngel,”
“Iya, Dad,”
Angel melihat Auristella, Lovi, dan Devan pergi dulu barulah Ia bergegas ke kamarnya untuk membersihkan badan setelah itu istirahat.
******
“Aku pulang, terimakasih ya. Ternyata perkembangannya cepat juga. Sudah mau jadi saja,”
Andrean semakin tidak sabar ketika melihat kafe milik istrinya sudah hampir selesai. Cukup lama Ia mengamati, bahkan dari pagi sudah di lokasi, hanya sebentar di kantor. Setelah itu langsung ke kafe.
“Iya hati-hati, Andrean,”
Andrean langsung bergegas memasuki mobilnya. Dan melaju dengan kecepatan normal menuju kediamannya.
Ia sudah membuat istrinya bingung tadi, beruntung Ia bisa memberikan alasan yang masuk akal kepada Angel mengenai kenapa Ia tidak berada di kantor.
Di jalan Andrean membeli makanan. Ia berharap makanan itu tidak membuat istrinya mual. Ia suka membawa makanan selama Angel mengandung dan reaksinya cuma ada dua. Mual atau justru dimakan sampai habis. Selera Angel selama hamil sulit ditebak. Tapi Andrean memahami itu. Dimana-mana fakta yang Ia tahu, wanita yang sedang mengandung memang seleranya susah ditebak. Yang sebelumnya suka dnegan suatu makanan lalu tiba-tiba ketika mengandung tidak suka lagi.
*****
“Iya, terimakasih ya,”
“Sama-sama, Nona,”
Angel menikmati teh lemon hangatnya yang baru saja dibuatkan oleh maid. Kemudian Ia mengambil roti dan juga kue yang baru saja Ia ambil dari toko roti milik ibu mertuanya.
“Ya ampun, enak sekali yang blueberry ini,”
Angel begitu menikmati roti Angel sambil menilai. Menurutnya yang roti selai blueberry tidak mwmbuatnya mual sedikitpun.
“Hmmm aku lihat-lihat lagi ada yang sibuk menikmati roti ya?”
Angel tersentak kaget ketika tiba-tiba ada suara Andrean dan Ia dirangkul dari arah belakang.
“Kamu membuat aku kaget saja,”
“Aku minta maaf, Sayang,”
“Aku lagi makan roti, tadi aku dapat geatis tanpa biaya apapun dari Mommy,” ujar Angel seraya terkekeh.
“Aku membawa sesuatu untukmu, Sayang,”
“Wow apa itu?”
“Sup, Sayang. Semoga kamu mau makan ya. Sepertinya sih lezat,”
“Aku mau-aku mau,”
“Okay aku ambil mangkuk dulu sebentar,”
“Aku saja,”
Angel akan beranjak meninggalkan kursi namun Andrean melarang. “Aku saja yang mengambil mangkuknya, kamu tetap diam di sini,”
“Okay, terimakasih Andrean tampan suamiku,”
Andrean tersenyum sambil mengedipkan salah satu matanya. Lalu Ia bergegas mengambil mangkuk. Setelahnya Ia kembali ke meja makan.
“Ini dimakan, Sayang,”
“Yeayy terimakasih ya,”
“Sama-sama, biar aku yang buka kemasannya,” ujar Andrean supaya istrinya itu tinggal menikmati saja, dan Ia yang membuka kemasannya.
“Ya ampun, aku sudah seperti ratu saja,”
“Memang kamu ratuku,”
“Ah kamu bisa saja,”
“Sup ini campuran dari jagung, keju, dan susu, ada sayur dan dagingnya. Semoga kamu suka ya,”
Angel langsung mencicipinya dan Andrean harap-harap cemas menunggu reaksi sang istri. Ia takut istrinya itu tiba-tiba mual atau bahkan muntah.
Tapi satu menit Andrean menunggu tidak ada tanda-tanda Angel mual, justru Angel begitu mwnikmati makanan yang Ia belu.
“Sayang, makanannya enak?”
“Enak banget, makasih ya,”
“Serius? Kamu tidak mual ‘kan?”
“Tidak, aku justru sangat menyukainya. Terimakasih sudah mau membelikan ini untuk aku,”
“Wow, aku senang mendengarnya. Iya samq-sama, Sayang. Aku tidak sia-sia membelikannya untukmu dengan perasaan yang takut sebenarnya. Mau tau karena apa?”
“Takut aku tidak suka ya? Takut aku mual,”
“Iya kamu benar, Sayang. Aku takut kamu tidak menyukainya, atau bahkan kamu muntah. Tapi ternyata tidak. Aku senang,”
*******
“Kamu mau hadiah apa?”
“Aku bingung, aku juga tidak tau mau hadiah apa?”
“Apa yang kamu butuhkan, Sayang? Kalau sdah tau apa yang dibutuhkan, kita tinggal kembelinya sekarang,”
Devan bingung sebab ke tempat baju, Auristella tidak mengambil apa-apa, ke tempat tas dan sepatu pun sama. Ia tidak tahu sebenarnya apa yang diinginkan oleh putrinya yang ternyata juga bingung ingin hadiah apa.
“Jadi ini kita sama-sama bingung ya?”
Auristella terkekeh dan menganggukkan kepalanya. Baju, tas, dan sepatu semua masih ada yang baru dan belum dipakai. Dan untuk punya yang baru lagi Auristella belum ada hasrat untuk membeli.
“Belilah baju atau sepatu, Ris. Untuk kamu kuliah,”
“Tapi tidak ada yang membuat aku tergoda untuk membelinya, Mom,”
“Beli alat pihat saja lah kalau begitu. Kamu sering mengeluh badanmu pegal-pegal kalau habis semalaman mengerjakan tugas, benar ‘kan?”
“Ah iya sepertinya itu menarik, Dad,”
“Serius mau beli alat pijat?” Lovi tidak yakin, anaknya yang masih sangat muda ini tidak tertarik beli barang-barang yang biasanya disukai, tapi kebih tertarik membeli barang yang dibutuhkan sebagai hadiah ulang tahunnya kali ini.
“Iya, Mom. Aku kau beli kursi pijat saka kalau begitu biar setiap aku merasa pegal, aku bisa langsung duduk, dan akan dipijat oleh mesinnya,”
“Tapi ‘kan punya Mommy dan Daddy ada di kamar, Ris. Pakai saja yang itu,”
“Aku mau punya sendiri, tidak boleh ya, Mom?”
Lovi menatap sang suami yang langsung menganggukkan kepalanya. Padahal menurut Lovi, selagi ada di rumah tidak perlu belu baru apalagi kursi pijat yang Lovi tahu harganya tidak murah.
Tapi suaminya setuju, dan anaknya juga kelihatan sangat berharap. Ini merupakan hadiah ulang tahun. Akhirnya Lovi menganggukkan kepalanya.
“Iya okay beli saja,”
“Yeayy terimakasih, Mommy, Daddy,”
“Iya sama-sama, Sayang. Ya sudah kalau begitu sekarang kita cari kursi pijat yang kamu inginkan ya,”
Auristella menganggukkan kepalanya. Keinginan Ia untuk memiliki kursi pijat sendiri akan dipenuhi oleh kedua orangtuanya dan Ia sangat bersyukur.
******
Angel menghampiri suaminya di ruang kerja. Ia ingin membahas perihal hadiah ulang tahun Auristella yang akan datang tiga hari lagi.
“Ean, aku boleh ganggu sebentar?”
“Ganggu lama juga tidak apa. Kemari, Sayang,”
Andrean mengisyaratkan Angel agar mendekatinya. Ia menepuk kedua pahanya supaya Angel mau dipangku namun Angel menggelengkan kepala karena Ia tahu diri.
“Aku berat, Ean. Tidak mungkin aku dipangku olehmu,”
“Ya memang kenapa, Sayang? Aku tidak masalah memangku kamu,”
“Tidak, aku duduk di depanmu saja,”
Angel duduk berhadapan dengan suaminya. Andrean terkekeh, mereka sudah persis seperti sepasang rekan kerja yang hendak membahas, duduknya berhadapan dan sama-sama tegap posisi duduk mereka.
“Okay apa yang mau kamu bahas denganku, Angel?”
“Kamu tidak lupa ‘kan kalau Auris sebentar lagi ulang tahun. Tiga hari lagi,”
“Astaga, aku lupa, Sayang,”
“Hah? Kenapa bisa lupa? Aku sudah ingat, lalu tadi diingatkan lagi saat Daddy dan Mommy menemani Auris mencari hadiah ulang tahun,”
__ADS_1
“Astaga aku benar-benar lupa, Sayang. Tapi masih banyak waktu untuk mencari hadiahnya, kira-kira apa ya hadiah ulang tahun untuk Auris