Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 159


__ADS_3

“Tidak-tidak, silahkan dibuang saja kiriman itu. Menantuku tidak boleh memakannya karena itu tidak jelas siapa pengirimnya,”


Pagi-pagi Lovi sudah dibuat khawatir karena ada kiriman berupa makanan yang datang untuk Angel, menantunya. Angel tidak hamil saja Ia ingin menjaga Angel dengan baik dan sepenuh hati, apalagi saat ini Angel sedang mengandung cucu pertamanya. Ia tidak akan membiarkan Angel makan sesuatu yang tidak jelas siapa pengirimnya. Mungkin itu berbahaya untuk Angel ataupun bayinya. Kehidupan Angel bisa dibilang sangat kompleks, ada saja yang mau berniat jahat bahkan kakaknya sekalipun.


“Baik, Nyonya, apakah bisa saya buang sekarang?”


“Iya tentu, dibuang saja ya, dan lain kali jangan menerima apapun yang tidak jelas siapa pengirimnya,”


“Maaf sebelumnya Nyonya, saya sudah menolak, bahkan saya suruh pergi pengirimnya. Tapi dia tetap saja meletakkannya di pos saya. Kemudian dia pergi dengan motornya begitu cepat,”


“Oh begitu, ya sudah tidak apa. Lain kali tidak perlu diterima kalau ada kiriman yang tidak jelas datangnya darimana dan yang mengantarnya menimbulkan kecurigaan,”


“Baik, Nyonya,”


Lovi masuk ke dalam istananya setelah menyiram tanaman. Tak sengaja bertemu dnegan Angel dan Andrean yang sudah siap untuk berangkat.


“Angel ke kafe hari ini?”


“Iya, Mommy,”


“Okay hati-hati ya, barusan Mommy dapat informasi ada yang mengirimkan makanan untukmu. Tanpa menunggu wajtu lama, langsung Mommy tolak makanan itu jarena pengirimnya tidak jelas. Sudah ditolak juga, tapi pengirimnya tetap mninggalkan makanan itu, mencurigakan sekali bukan? Mommy sudah ingatkan penjaga supaya lebih hati-hati tidak sembarangan menerima apapun yang tidak jelas siapa pengirimnya,”


Angel dan Andrean kompak mengernyitkan kening mereka. Ternyata ada kiriman yang datang untuk Angel, beruntungnya Lovi dnegan cepat mengambil langkah tegas dan Andrean sangat berterimakasih akan hal itu.


“Aku senang, terimakasih, Mom,”


“Sama-sama, Mommy harus memastikan Angel tidak dalam bahaya,”


Andrean tersenyum, Mommy nya benar-benar menyayangi Angel. Dari dulu sampai sekarang kasih sayang Lovi untuk Angel tidak pernah berkurang. Justru bertambah setelah Angel menjadi bagian dari keluarga mereka dan Angel kini mengandung cucu pertamanya.


“Ya sudah, kalian hati-hati di jalan ya. Jangan lupa kabari Momny,”


“Iya, Mom, kami berangkat dulu,”


Andrean dan Angel berpamitan setelah itu berangkat ke dengan mobil yang sama tapi punya tujuan yang berbeda. Angel akan ke kafenya, sementara Andrean ke kantornya.

__ADS_1


“Kira-kira siapa ya pengirim itu?” Gumam Angel yang begitu penasaran.


“Mungkin kakakmu. Dia mau mencari masalah lagi. Dia tidak akan pernah membiarkan kamu hidup tenang, Sayang,”


“Andrean, jangan menuduh kakakku seperti itu. Belum tentu dia yang melakukannya tapi kamu sudah punya dugaan kalau itu dia,”


“Ya karena kalau bukan dia siapa lagi yang punya niat jahat? Aku rasa makanan itu ada ‘sesuatu’ kamu paham maksudku ‘kan?”


“Barangkali itu dari orang lain dan niatnya tidak jahat,”


“Ya kalau memang itu dari orang lain yang tidak punya niat macam-macam, seharusnya beritahu saja siapa namanya. Jadi kita tidak bingung dan menebak-nebak. Kalau tidak jelas seperti itu pengirimnya, tentu saja Mommy cemas,”


“Oh iya, kalau bukan dari kakakmu, mungkin itu dari ayahmu?”


Angel berdecak pelan kemudian menatap suaminya dari samping yang sedang fokus menyetir mobil.


“Tadi kakak, sekarang ayah, kenapa kamu mengira bahwa itu mereka lah yang mengirimkan? Sudah aku katakan barusan, barangkali orang lain,”


“Aku rasa bukan orang lain. Itu mereka yang melakukannya, entah mereka berdua atau bisa salah satu saja,”


“Aku tidak menuduh, aku hanya menyampaikan dugaanku saja. Jangan matah, Angel. Kamu tau kan alasan aku berpikir bahwa mereka lah yang mengirimkan makanan itu?”


Angel berdecak kemudian mengalihkan pandangan ke luar mobil, dan mengunci mulutnya. Ia selalu tidak senang atau tidak terima kalau Andrean seolah menyalahkan kakak ataupun ayahnya. Ia tahu mereka berdua memang terkenal jahat dan tega di mata siapapun terhadap dirinya, tapi belum entu semua perlakuan buruk atau yang membahayakan dirinya itu berasal dari mereka berdua.


“Sudah terlalu sering mengetahui fakta bahwa mereka ingin kamu mati, celaka, membuat aku selalu berpikir bahwa kamu aman selalud alam bahaya bersama mereka. Apaoun situasi membahayakan yang kamu hadapi, selalu nama mereka yang terbesit dalam pikiranku. Sebelumnya aku minta maaf kalau ygapanku ini menyinggung perasaanmu, Sayang. Tapi kamu tahu sendiri, aku sering dikecewakan oleh mereka. Setiap kali mereka menyakiti kamu, tentu aku akan ikut merasakannya juga,” ujar Andrean dengan lembut tanpa bermaksud untuk membuat Angel merasa sakit hati. Ia hanya mengungkapkan apa isi hatinya.


“Sudahlah, jangan membahas kakak dan ayahku lagi,”


Andrean menghembuskan napas pelan. Angel sendiri juga tahu kalau dirinya tak pernah dihargai, jadi sudah seharuskan memaklumi sikap yang diambil oleh Andrean. Tapi sayangnya Angel memilih untuk menutup mata.


*****


“Mom, Dad, jadi bagaimana menurut kalian? Aku sepertinya tidak bisa lana-lama memberikan jawaban atas permintaan Adrian,”


Di tengah jalan paginya bersama kedua orangtua, tiba-tiba Adrina membahas soal pembicaraan Adrian beberapa waktu lalu yang mengajaknya untuk menikah.

__ADS_1


“Sedari awal, kami berdua menyerahkan seluruhnya ke kamu, Sayang. Jadi kamu lah yang memutuskan. Kami sebagai orangtua hanya mendukung saja apapun pilihan anak. Kami tau, kamu itu sudah dewasa, sudah bisa memilih jalan hidup sendiri, sudah bisa menilai mana yang terbaik untuk diri kamu, jadi kami hanya mendukung saja. Tapi kalau pendapat dari kamu, ya tentu kami setuju. Bukan karena Ian adalah anak dari orang yang kita kenal dan dekat dengan kita, bukan hanya tentang itu saja. Tapi kita sudah sama-sama tau Adrian orangnya seperti apa, kita sudah mengenal Adrian cukup lana, bahkan mengenal keluarganya pun begitu, dia baik, kesimpulannya begitu. Jadi kalau kamu bersama dia, kami setuju. Tapi keputusan ada di tanganmu, Sayang,” ujar Sheva seraya mengusap puncak kepala anak satu-satunya itu dengan lembut.


“Jadi Mommy dan Daddy setuju?”


“Ya sejak awal memang tidak ada penolakan,”


“Iya benar, tapi aku perlu penegasan,”


“Kami setuju, Drina. Kami mengenal Adrian adalah sosok laki-laki yang baik, tahu latar belakangnya itu juga penting, jadi tidak ada keraguan untuk kami mengatakan setuju, benar begitu, Dad?”


Jino langsung menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Kalau putrinya dekat dengan laku-laki lain, entah kenapa Ia berat sekali untuk menerima, posesifnya meronta-ronta, tapi dengan Adrian, Ia seolah langsung percaya saja kalau Adrian bisa menjaga Adrina. Mengenal Adrian sudah cukup lama, mungkin karena itulah rasa percayanya pada Adrian jauh lebih besar ketimbang rasa percayanya pada teman-teman Adrina yang lain.


“Ketika aku dekat dnegan yang lain, Daddy dan Mommy tidak kelihatan sebagagia sekarang, tidak menunjukkan keyakinan seperti sekarang, giliran aku diajak nikah oleh Ian, kenapa beda ya?”


“Tentu saja, karena kami sudah mengenal anak itu cukup lama, bahkan mengenal ornagtuanya juga, kalian juga terbiasa beraama sedari dulu. Jadi wajar kalau ada perbedaan, Sayang. Bukan berarti teman-temanmu yang lain itu tidak baik, hanya saja ini soal hati. Entah kenapa kalau dengan Ian, rasanya Daddy jauh lebih tenang,”


“Huh! Apa rafun yang Ian berikan sampai Daddy sepeeti ini? Kemana Daddyku yang posesif itu?”


“Tenang, Daddymu yang posesif itu tidak akan hilang, hanya saja sedikit bersembunyi kalau kamu sudah bersama Ian, seperti yang Daddy katakan barusan. Rasanya lebih tenang kalau kamu bersama Ian,”


“Aku takut dikecewakan, takut disakiti oleh Ian, dia suka bercanda juga orangnya,”


“Sayang, orang yang humoris, suka bercanda, bukan berarti pintar menyakiti atau mengecewakan hati orang lain. Itu namanya kelebihan dalam diri dia. Seharusnya kamu bersyukur bisa dekat dengan orang yang membuat hari-harimu terasa menyenangkan nantinya. Takut dikecewakan, dibuat sakit hati? Daddy yakin suatu saat akan seperti itu jarena manusia tidak luput dari salah, nanti kamu pun bisa membuatnya kecewa atau sakit hati, hal itu tidak biaa dihindari, Sayang. Tapi ini soal menerima dan memaafkan. Selagi dia meminta maaf, mau memperbaiki kesalahannya, berusaha untuk menghilangkan kekecewaan itu, ya tidak ada alasan untuk mempertahankan kekecewaan atau sakit hati,”


“Iya betul kata Mommy. Daddy saja pernah buat Mommy sakit hati atau kecewa, bahkan sering, tapi karena Daddy meminta maaf, Daddy berusaha untuk tidak mengulangi, Daddy berusaha untuk menghilangkan kekecewaan Mommy, akhirnya semua baik-baik saja. Dalam pernikahan pasti ada masa-masa seperti itu, Drina. Kita tidak bisa menuntut pasangan kita untuk sempurna karena itu mustahil. Akan tiba saatnya kita dibuat kecewa oleh pasangan atau justru sebaliknya. Selagi bisa baik-baik saja, maka berusaha lah untuk itu. Maafkan, perbaiki, dan kalau bisa lupakan kemudian jalani lagi hidup seperti biasa. Dalam pernikahan pasti ada masalah, pasangan kita buat masalah hingga kita kecewa itu hal yang biasa,”


Adrina menganggukkan kepalanya pelan. Ternyata Ia terlalu menuntut Adrian menjadi sempurna padahal Ia sendiri belum tentu nantinya tidak akan pernah membuat Adrian sakit hati atau kecewa.


“Dia itu serius atau tidak sih mengajak aku menikah? Astaga, dia itu teman masa kecilku, tiba-tiba meminta aku untuk menjadi istrinya. Aku sangat terkejut mendengarnya,”


“Kalau dia sudah bicara empat mata denganmu ya itu artinya dia serius. Terlepas dari bagaimana dia bicara padamu, entah itu menggunakan cara yang romantis atau tidak, intinya dia sudah punya nyali untuk menunjukkan keseriusannya,”


“Yang ada dalam bayanganku ketika aku diajak menikah oleh seorang laki-laki adalah, dia berlutut di depanku sambil mengulurkan cincin atau bunga. Sementara Ian tidak begitu, Dad. Dia mengajak aku menikah tapi seperti mengajak aku bermain game ya walaupun dia sudah niat dengan membawa sebuah cincin. Dan sepertinya dia sempat lupa akan cincin itu karena baru dia berikan sesaat setelah dia mengajak aku menikah. Bisa-bisanya hampir lupa memberikan cincin yang sudah dipersiapkan. ‘Kan tidak lucu kalau sampai di rumah dia baru sadar cincin itu belum sampai di tanganku,”


Sheva dan Jhino tertawa mendengar ucapan Adrina. Sudah kedua kalinya Adrina menceritakan momen dimana Adrian memintanya untuk menjadi istri dan masih juga mengundang tawa mereka karena membayangkan momen itu.

__ADS_1


__ADS_2