Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 113


__ADS_3

“Dia bahkan pulang ke rumah tanpa menghubungi aku, padahal aku sudah berpesan tadi supaya dia mengabari aku dan aku akan menjemputnya di kafe, lalu mengantarnya pulang ke rumah,”


Rasa kecewa Andrean bertambah setelah tahu istrinya sudah pulang tanpa meminta dijemput olehnya. Foto itu sudah membuat Andrean tidak tenang. Andrean emosi, di otak Andrean foto itu selalu hadir.


Andrean berniat akan menanyakan langsung soal foto itu pada Angel. Ia ingin meminta penjelasan. Tapi disaat Ia sedang panas seperti ini, Ia jadi ragu untuk membicarakan foto tersebut. Ia takut malah tidak bisa bicara baik-baik pada Angel karena sudah terlanjur dikuasai oleh rasa kesal dan tidak terima setelah tahu istrinya berinteraksi fisik dengan lelaki asing itu lumayan intim. Sebenarnya Amdrean bukan tipe orang yang mudah marah, mudah terpengaruh, mudah percaya dengan hal-hal jelek yang baru Ia lihat sekali menggunakan matanya tanpa mendengar penjelasan rinci terlebih dahulu.


Tapi ini tentang hati. Andrean selalu percaya dengan kata hatinya. Entah kenapa Andrean yakin kalau foto itu bukanlah hasil edit. Hatinya meyakini itu.


Ia sangat mempercayai Angel. Jadi ketika sekali saja melihat foto mesra Angel dengab lelaki lain, walaupun Angel belum konfirmasi apapun, dada Andrean sudah langsung panas.


“Ya Tuhan, aku cemburu, aku marah, dan aku butuh penjelasan Angel. Tapi apa aku bisa kuat mendengar penjelasan Angel?”


*******


“Kerjamu bagus. Terimakasih ya, tidak sia-sia aku menggunakan uang yang harusnya aku apkai untuk senang-senang malah digunakan untuk membayar jasamu,”


“Aku hampir saja berhasil didapat oleh teman adikmu itu. Beruntungnya lariku lebih cepat daripada dia,”


“Kamu memang hebat, terimakasih ya,”


Gesty tersenyum sinis sambil menepuk bahu Alex setelah itu mempersilahkan Alex untuk pergi karena tugas Alex sudah selesai dan Ia juga sudah membayar jasa Alex yang sudah menjadi bagian dari rencana jahatnya ingin membuat rumah tangga adiknya berantakan.


******


“Aku sudah menjemput kamu, aku menunggu di mobil sampai satu jam, bisa-bisanya kamu lupa kalau kamu akan pulang denganku, Drina? Ya Tuhan,”


Adrian sudah mengejar waktu selepas mengisi acara langsung datang ke kampus untuk menjemput Adrina kebetulan Adrian tak ada jam kuliah hari ini.


Sebelumnya juga Adrian sudah memberitahu Adrina kalau Ia akan menjemput Adrina, dan gadis itu sudah mengiyakan. Adrian tunggu di area parkir selama satu jam, Adrina belum datang juga. Awalnya Adrian berpikir positif mungkin Adrina belum selesai. Tapi bagi Adrian yang orangnya tidak bisa diam, dan mudah bosan kalau sudah di dalam mobil menunggu satu jam itu sudah terbilang lama. Akhirnya Adrian telepon Adrina.


Adrina mengatakan sudah pulang dnegan teman-temannya. Adrian tentu kesal. Ia merasa kedatangannya sia-sia sekali.


“Iya aku minta maaf, Ian. Aku lupa, sungguh. Aku tidak ada maksud mengerjai kamu,”


“Kamu sengaja. Kamu sudah bilang iya ketika aku bilang akan menjemput, lalu tiba-tiba setelah aku menunggu satu jam lebih kamu bilang sudah pulang. Kalau aku tidak menghubungi, aku rasa kamu lupa kalau aku masih menunggu kamu di area parkir. Harusnya kamu beritahu aku kalau kamu sudah di rumah,”


“Ian, aku minta maaf. Jangan kesal, aku lupa kamu mau memjemput aku dan aku lupa memberitahu kamu kalau aku sudah di rumah,”


Adrian berdecak pelan lalu mengakhiri pembicaraan mereka yang melalui sambungan telepon.

__ADS_1


“Aku kesal sekali dengar jawaban santainya. Ya memang dia tidak minta dijemput, tapi kalau seperti ini kesannya dia tidka menghargai aku. Erghh! Kenapa manusia harus dibuat pelupa?!“


*******


“Ya ampun, dia marah? Ini serius dia marah?”


Adrina bertanya sambil menatap ponselnya sendiri. Sambungan telepon mereka diakhiri begitu saja oleh Adrian dan Adrina langsung terkejut.


“Huh! Ian terlalu berlebihan. Lagipula kenapa sih dia jemput aku? Giliran aku lupa, jadi kesal sendiri ‘kan. Padahal aku memang benar-benar lupa,” ujar Adrina seraya meletakkan ponselnya dengan kasar di atas bantal.


“Sepertinya aku harus datang ke rumahnya langsung untuk meminta maaf. Aku sudah membuatnya kecewa dan akhirnya marah,”


Adrina langsung mengikat rambutnya lalu meriah ponselnya dan keluar dari kamar. Beruntungnya rumah Ia dan Adrian jaraknya sangat dekat jadi Ia bisa dengan mudah sampai ke rumah Adrian tanpa harus menghabiskan waktu yang lama.


*******


“Ian yang tampan dan baik hati, tolong jemput aku ya,”


“Aku sudah di jalan pulang,”


“Oh jadi tidak bisa jemput aku sebentar?”


“Di—restoran biasa kita sering makan,”


“Okay aku ke sana sekarang,”


“Yeayy terimakasih kakakku yang tampan,”


Auristella langsung meletakkan ponselnya di atas meja. Lalu tersenyum menatap Revano sebentar.


“Aku sudah minta dijemput oleh Ian. Jadi kamu jangan mengantar aku ke rumah,”


“Tapi aku ingin sekali mengantar kamu ke rumah. Aku ‘kan harus bertanggung jawab, mengajak kamu makan bersamaku, lalu mengantar kamu pulang ke rumah,”


“Nanti jadi panjang urusannya kalau kamu mengantar aku pulang ke rumah, Revano. Lagipula restoran ini dekat sekali dengan kampus kit, makanya aku mau. Kalau agak jauh, aku juga tidak akan mau. Dan kebetulan aku memang belum makan,”


“Kalau aku antar ke rumah, bakal panjang urusannya? Memang maksud kamu apa?”


“Kamu mau diwawancarai lagi oleh Ean, Ian, bahkan Daddyku? Hmm?”

__ADS_1


“Ya tidak apa. Mereka menyenangkan,”


“Dan menegangkan, benar ‘kan? Jujur saj, jangan ditutupi. Kamu sebenarnya mau bicara seperti itu tapi kamu mungkin sungkan ya padaku?”


“Tidak, memang mereka orang yang menyenangkan. Tidak semenyerankan yang aku pikirkan di awal setelah dengar ceritamu. Ya memang memang tegas, dan itu wajar. Karena yang mereka jaga itu adalah kamu. Tapi setelah kenal, ternyata mereka sangat baik,”


“Kamu pulang sekarang saja. Aku tidak mau Ian tau kalau aku makan berdua denganmu,” ujar Auristella yang siang ini makan dnegan teman dekatnya, tapi tidak mau ketahuan oleh kakaknya.


“Kamu serius tidak aku antar saja ke rumah?”


“Tidak, Revano. Aku ‘kan sudah minta tolong dijemput oleh Ian,”


“Ya sudah kalau begitu,”


Revano sudah selesai makan sejak lima menit yang lalu. Sebelum Revamo beranjak meninggalkan Auristella yang masih belum menghabiskan makanannya, Revano menyeruput minumannya dulu barulah Ia keluar dari restoran.


Revano masuk ke dalam mobil, dan tanpa sadar Ia sedang diamati oleh seseorang yang barus aja masuk ke dalam area parkir restoran.


“Wah wah wah, ternyata adikku itu makan dengan Revano? Hmm, menarik untuk dibahas hahaha,”


Adrian tertawa sendiri ketika melihat Revano masuk mobil dan langsung melajukan mobilnya itu meninggalkan restoran.


Adrian tidak menyangka akan bertemu dengan Revano. Ia langsung menyimpulkan Revano dan Auristella makan berdua. Karena tidak mungkin kebetulan mereka sama-sama di restoran itu, atau tidak saling melihat satu sama lain. Sudah pasti mereka memang sepakat untuk makan berdua.


Adrian memasuki restoran dan mengedarkan pandangan mencari sang adik yang ternyata sedang asyik makan sambil menonton melakui layar ponsel sepertinya karena ponselnya itu disandarkan pada gelas air minum.


Adrian segera datang ke meja Auristella sambil berdehem. “Oh sudah datang. Silahkan duduk,” ujar Auristella pada kakaknya yang datang senyum mencurigakan.


“Kamu sendirian saja di sini?”


“Iya, kamu bisa lihat kalau aku hanya sendirian ‘kan?”


Adrian menganggukkan kepalanya. Lantas Ia menatap meja. Bekas makan Revano sudah benar-benar bersih, tak ada piring ataupun sendok selain yang digunakan oleh Auristella. Tapi Adrian menemukan satu gelas kosong dan Adrian bisa simpulkan itu milik Revano dan mungkin lupa disingkirkan. Apdahal menyingkirkan alat makan ingat.


“Oh sendiri?”


“Iya, Ian. Jangan bertanya dua kali ya, padahal jelas-jelas aku sudah menjawabnya,”


“Hmm okay, tapi ini gelas punya siapa?”

__ADS_1


__ADS_2