
“Istrimu cantik, dimana kamu mendapatkannya?”
“Dia juga baik, hangat, dan sepertinya membuat siapapun yang ada di dekatnya merasa nyaman,”
Alih-alih senang mendnegar perkataan itu, Andrean justru kesal. Entah kenapa kalau ada orang lain yang jenis kelaminnya laki-laki memuji istrinya, Ia tidak senang mendengarnya padahal kenyataannya memang Angel cantik dan Angel juga sosok yang baik jadi wajar kalau ada yang memuji. Andrean langsung menatap ke arah istrinya dengan raut wajah masam seolah memberitahu Angel bahwa Ia tidak senang.
“Carikan aku juga, Andrean,” ujar rekannya itu
“Cari sendiri, pasti dapat,”
“Aku terlalu lemah kalau urusan cinta atau mencari jodoh, bantu aku lah,” pinta rekannya itu sambil tertawa.
“Aku berjodoh dengan Angel juga tanpa ada bayangan sebelumnya,”
“Aku mengincar pasangan yang seperti Angel. Selain cantik, sepertinya dia tak banyak menuntutmu ya? Tidak aneh-aneh dalam bersikap, sulit mendapatkan yang seperti itu,”
Andrean menyeruput minuman di depannya untuk mengusir atmosfer panas yang menyerangnya, kemudian Ia tersenyum jecil, senyum terpaksa lah yang Ia tunjukkan.
“Atau mungkin Angel punya teman yang seperti dirinya? Hmm tidak perlu sama persis juga tak apalah yang terpenting mirip, bukan hanya soal rupa yang cantik, tapi aku mencari perempuan yang baik, tidak banyak menuntut aku,”
“Tidak ada, istriku tak punya teman,” ujar Andrean yang langsung mengundang tawa Nathaniel selaku orang yang berharap dibantu oleh Andrean ataupun Angel dalam mencari pasangan hidup.
“Apa kamu pikir aku akan percaya ketika kamu berkata bahwa Angel tidak punya teman?
“Hahahaha perempuan tulus tidak mungkin tidak punya teman,” lagi-lagi Angel sipuji. Tadi tentang paras, dan sikapnya. Sekarang tentang ketulusannya yang tak mungkin tidak mengundang orang lain untuk menjadi temannya.
__ADS_1
“Ya sudah kalau tidak percaya,”
Angel menggerutu dalam hati. Karena mungkin selama ini Andrean jarang melihat Ia berinteraksi dengan teman, Andrean sampai menyangka bahwa Ia tak memiliki teman.
“Bisa-bisanya kamu bicara seperti itu. Aku punya teman, Ean! Erghh menyebalkan sekali sih!”
“Kalau kamu mendapat jodoh seperti Angel, maka kamu harus menjadi seperti aku dulu. Ya tidak perlu sama persis tidak masalah, yang terpenting mirip lah,”
“Aduh itu yang berat, aku jauh darimu, Andrean,”
“Ah terlalu merendah itu tidak bagus juga, Nath,”
******
“Ean, mukamu kenapa berbeda? Apa yang terjadi padamu? Silahkan cerita, barangkali aku bisa bantu. Atau mungkin kamu hanya perlu teman cerita tanpa berharap dibantu? Okay apapun itu terserah padamu. Aku siap untuk semuanya,”
“Hahahaha, bukan robot maksudku, Ean!”
Andrean mendekat pada istrinya secara tiba-tiba dan itu membuat Angel menelan salivanya gugup.
“Kenapa?”
“Aku akan memasangkan sabuk pengaman, Sayang. Jangan gugup seperti itu, tenang saja,” ujar Andrean sambil mengunci sabuk pengaman setelah itu mencium bibirnya singkat.
“Kamu berpikir aku akan melakukan apa, Sayang? Hmm?”
__ADS_1
“Hahaha tidak,”
“Hmm apa kamu berpikir kalau aku akan menciummu?”
“Sudah barusan,”
Andrean terkekeh kecil, sekali lagi dia mencium bibir istrinya setelah itu mulai melajukan mobilnya meninggalkan area parki tempat dilaksanakannya pesta ulang tahun Nathaniel.
“Aku lihat mukamu berubah,”
“Iya berubah sepeeti apa yang kamu maksud, Sayang?”
“Terlihat kesal,“
“Oh, iya memang. Aku kesal karena Nathaniel memuji kamu, Sayang. Ya walaupun kamu memang benar-benar cantik tapi aku tidak senang ketika ada yang memujimu selain aku, cukup aku saja,”
“Ya ampun, padahal dia tidak memujiku, aku rasa,”
“Dia menilai kamu cantik, itu memang kenyataan tapi aku kesal mendengarnya,”
“Cemburu? Hmm? Jangan cemburu lah, aku ini milikmu, Ean,”
“Iya aku tau, tapi wajar kan kalau aku cemburu?”
“Iya boleh saja cemburu, aku juga terjadang merasa cemburu tapi Nathaniel hanya bicara seperti itu, kenapa kamu sampai secemburu itu?”
__ADS_1
“Kamu memang cantik dan aku ingin hanya aku saja yang memuji kamu, hanya aku saja yang bisa menikmati kecantikan kamu,”
Setiap mengajak Angel pergi bersamanya untuk memghadiri acara yang dimana terdapat rekan-rekannya, Andrean memang harus siap menerima orang lain memuji istrinya entah itu perempuan atau laki-laki. Kalau perempuan, Andrean tidak masalah sama sekali. Tapi kalau laki-laki, hatinya tentu panas. Harusnya Ia memang merasa senang, akan tetapi Ia cemburu.