Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 56


__ADS_3

“Angel, ada apa denganmu?”


Angel tersentak kaget ketika suaminya menegur sambil mengusap lengannya dengan tangan yang terasa begitu dingin karena baru saja berenang.


Angel sebelumnya menahan kepala dengan kedua tangan yang Ia posisikan di atas meja. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan kakaknya yang sangat jahat kepada ayah mereka. Dan sekarang Ia kepikiran bagaimana ayahnya makan? Apa bisa buat makanan sendiri? Kalau saja ada dirinya di rumah mereka, Ia pasti tidak akan ragu untuk membuatkan makanan, bahkan tanpa disuruh terlebih dahulu.


“Tidak apa-apa, kamu sudah selesai berenang?”


“Iya sudah, ini sudah sore sekali, sudah mau gelap. Aku akan mandi,”


Angel menganggukkan kepalanya lantas berdiri. Andrean merangkul pinggangnya dan mereka jalan berdua menuju kamar mereka.


“Kamu seperti ada yang dipikirkan. Kalau boleh tau, apa? Kamu bisa cerita padaku kalau memang kamu siap,” ujar Andrean yang bisa mengenali bagaimana istrinya ini luar dan dalam. Ia sudah bisa membaca ketika istrinya bahagia, sedih, atau bahkan sedang kepikiran dengan suatu hal.


“Aku baik-baik saja,”


“Benarkah? Tidak sedang memikirkan sesuatu?”


“Tidak,”


“Kenapa tidak melihatku berenang tadi?”


“Karena aku—aku sedikit pusing saja,”


“Ya ampun, artinya kamu tidak baik-baik saja. Pusing kenapa? Kamu banyak beban pikiran ya? Atau—“


“Tidak-tidak, sebentar lagi jauh lebih baik,”


Andrean mengacak lembut ranbut istrinya. Dan begitu mereka tiba di kamar, Andrean mempersilahkan istrinya itu untuk istirahat di ranjang sementara Ia bergegas untuk membilas badannya dengan air hangat.


Angel menghela napas pelan. Suaminya semakin peka saja. Sudah bisa tahu kalau Ia tidak baik-baik saja. Dan kali ini karena memikirkan keadaan ayahnya yang entah sudah makan atau belum, entah sehat atau tidak, dan Ia juga dibuat hampir gila oleh kakaknya sendiri.


“Kamu itu hanya anak bodoh, yang kebetulan saja hidupnya beruntung. Kamu dipungut oleh Andrean dan keluarganya yang kaya raya itu. Seharusnya yang ada di posisi kamu itu aku! Harusnya aku yang beruntung!”


Ia bingung kenapa kakaknya begitu membenci dirinya. Padahal selama ini Ia tidak pernah membalas perlakuan jahat Gesty, bahkan tetap menyayangi Gesty. Kata-kata yang keluar dari mulut Gesty tidak pernah baik, selalu saja memakinya.


Barusan Ia dibilang anak bodoh yang kehidupannya beruntung setelah dijadikan bagian dari Andrean dan keluarganya.


“Tanpa ditegaskan berkali-kali, aku juga tau kalau aku ini perempuan yang hidupnya beruntung. Aku yang bukan siapa-siapa, dijadikan istri, dijadikan keluarga oleh Andrean. Kenapa kakak tidak bisa terima itu? Ya Tuhan, tega sekali mulut kakak. Dia tidak pernah memikirkan perasaanku,”


********


“Auris, mau kemana kamu?”

__ADS_1


“Ada tugas dan aku ingin mengerjakannya bersama temanku, Dad. Bisa kah? Aku akan pulang tepat waktu,”


“Daddy antar dan Daddy tunggu sampai selesai,”


Auristella membuka mulutnya terperangah mendnegar ucapan Devan. Dan ketika Ia akan protes, Devan langsung menatapnya dengan tegas seraya tersenyum tipis.


“Tidak ada bantahan. Tapi tenang, Daddy tidak menjadi mata-mata, Daddy tunggu di restoran atau kafe yang barangkali ada di dekat rumah temanmu, bagaimana?”


“Ya ampun, Dad. Kenapa Daddy harus mengikuti aku terus?“


“Karena Daddy ingin, itu jawaban yang simple,”


“Dad, aku ‘kan sudah dewasa, untuk apa sih diikuti terus?”


Devan mengangkat salah satu alisnya. Auristella seriuskah bertanya seperti itu? Bukankah sudah sering Ia katakan bahwa Ia adalah tipe ayah yang sangat ingin tahu anaknya dimana, melakukan apa, dengan siapa, semua itu tujuannya cuma satu. Devan ingin memastikan anaknya baik-baik saja, anaknya dalam situasi yang aman. Tidak hanya pada Auristella saja sebenarnya. Tapi pada kedua kakak laki-laki Auristella juga seperti itu. Hanya saja, penjagaannya memang tidak seketat pada Auristella mengingat mereka berdua adalah laki-laki, dan lebih dewasa juga dari Auristella. Ada saatnya ketika Devan benar-benar percaya pada Adrian dan Andrean, Devan akan sedikit melonggarkan penjagaannya. Tapi untuk Auristella yang perempuan, dan anak terakhir, nampaknya sampai dia menikah barulah penjagaan Devan akan sedikit longgar.


Bukan apa-apa, semua manusia di bumi ini juga tahu perempuan lebih rentan disakiti orang lain, jadi Devan sebagai ayah yang baik ingin anaknya selalu aman.


“Sudah, ikuti saja apa mau Daddymu, Auris. Lagipula hanya diantar setelah itu Daddy pergi,” ujar Lovi.


“Dan tidak akan jauh, Daddy pastikan itu,”


Auristella merengut kesal. Tapi Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Daddynya sudah punya aturan sendiri, dan Ia bukan tipe anak yang membangkang, hanya protes saja tapi kalau protesnya tidak diterima, maka Ia akan patuh.


“Ya sudah, aku pergi dulu, Mommy,”


Auristella menganggukkan kepalanya setelah pelukannya dengan sang Mommy berakhir. Setelah itu Ia berjalan lebih dulu, di belakangnya Devan menahan tawa bersama Lovi.


“Kamu menyebalkan ya,”


“Menyebalkan darimana, Lov? Aku hanya ingin menjaga anakku. Dia anak perempuan satu-satunya dan aku tidak akan tenang kalau membiarkan dia pergi sendirian, mengingat ini juga sudah malam,”


“Ya sudah hati-hati. Teruslah jadi Daddy yang posesif, semoga anakmu tidak ada pikiran untuk kabur ya,”


Devan berdecak dan menatap istrinya dengan jengah. “Jangan bicara begitu, takutnya jadi doa,”


“Tidak-tidak, Auris tidak akan kabur. Ya sudah cepatlah susul anak cantik kita itu, nanti dia badmood karena kamu lama,”


“Aku hanya ingin menjaganya dengan baik, tapi aku merasa bahwa sejauh ini aku masih wajar. Aku bebaskan dia berteman bahkan dengan lawan jenis sekalipun asal wajar! Aku bebaskan dia mau pergi kemanapun tapi dengan penjagaan, aku masih memikirkan kenyamanan, aku masih memikirkan hak dia sebagai anak, Lo. Kamu tenang saja,”


“Iya, Sayang. Terimakasih ya sudah menjaga anak kita dengan baik. Tapi Auris itu depertinya ingin sesekali kalau dia pergi malam kamu tidak ikut,”


“Susah, Lov. Aku tidak akan bisa tenang,”

__ADS_1


Auristella yang semula sudah hampir masuk ke dalam mobil akhirnya masuk lagi ke dalam rumah karena Ia tidak melihat Daddy nya berjalan di belakangnya. Ternyata sedang bicara dengan Lovi, mommy nya.


“Dad, ayo kita pergi. Apa yang dibicarakan Mommy sama Daddy? Kalau masih lama lebih baik aku pergi sendiri—“


“Oh tidak, Sayang,”


Devan berjalan mendekati anaknya dan langsung merangkul bahu sang anak dengan hangat sambil tersenyum.


“Ayo kita pergi,”


“Aku pikir Daddy berubah pikiran,”


“Tidak mungkin,”


“Nanti sepulangnya aku dari rumah teman, kita ke bar untuk party, apa boleh, Dad?”


“Apa?!”


Auristella mengangkat salah satu alisnya melihat reaksi sang ayah yang nampak kaget. Devan tidak menyangka anaknya akan punya permintaan seperti itu.


“Astaga, jangan aneh-aneh, Auris,”


“Aneh darimana, Dad? Aku ‘kan sudah dewasa, sudah kuliah, lagipula ditemani Daddy, memang tidak boleh ya? Ian saja boleh, Daddy juga dulu waktu muda pasti dibolehkan, kenapa aku tidak?”


“Karena—“


“Karena apa?”


“Masuk mobil dulu, tadi kamu sudah mau cepat-cepat berangkat,”


Devan segera membukakan pintu mobil dan mempersilahkan anak perempuan satu-satunya itu masuk ke dalam mobil.


Setelah itu Devan menyusul. Tak lupa Ia mengingatkan putrinya untuk memasang seatbelt.


“Cepat katakan, Daddy. Apa aku tidak boleh ke bar? Alasannya apa? Karena apa?”


“Karena—“


“Iya karena apa?”


Auristella tidak sabaran mendengar jawaban dari Devan yang bimbang menjawab atau tidak perlu. Ia tidak menyangka kalau akan tiba di waktu sekarang. Dimana Auristella mulai menunjukkan proses pendewasaannya, mulai tertarik dengan dunia yang digemari oleh sebagian orang dewasa, yaitu mencari kesenangan di bar.


“Karena Daddy belum siap saja,”

__ADS_1


“Kenapa Dady yang belum siap? Aku yang mau ke sana,”


“Iya Daddy tau, Sayang. Tapi Daddy belum siap, ternyata kamu sudah dewasa ya? Daddy sedih, jujur,”


__ADS_2