
Beberapa bulan kemudian.
Pagi menjemput, suara kicauan burung menyambut kedua pangeran kecil yang sudah membuka matanya itu. Andrean bangun lebih dulu daripada Istrinya. Usai mencuci muka dan memastikan dirinya sudah lebih baik setelah semalaman tertidur, Ia menghampiri kedua putranya.
Andrean mengecup keduanya dengan gemas. Senyuman indah milik Axelion dan Axelia berhasil membuat suasana hati Andrean pagi ini lebih baik setelah semalam Ia kembali berdebat dengan Angel. Andrean menatap mata terang mereka.
"Ingin berjalan-jalan?" tanya Andrean pada Azelion dan Axelia. Mereka menendang-nendang udara seolah sangat bahagia mendengar tawaran Andrean.
Angel membuka matanya perlahan. Ia bisa melihat punggung Andrean yang sedang membelakanginya. Terdengar dari suaranya, Lelaki itu sedang berinteraksi dengan Axelion dan Axelia.
Ketika melihat Andrean meletakkan keduanya di dalam stroller, Angel menginterupsi kegiatan suaminya.
"Andrean, kamu ingin membawa mereka kemana?"
Andrean menoleh dengan wajah datarnya. Ia terlihat menghindari mata Angel yang menatapnya sendu.
"Mengajak mereka keluar sebentar untuk menikmati pagi,"
Bahkan dari nada bicaranya pun Angel bisa menilai seberapa besar rasa kesal Andrean terhadapnya.
"Dengan keadaan kalian yang belum mandi?" tanya Lovi dengan sorot geli. Bagaimana mungkin lelaki tampan itu keluar tanpa penampilannya yang sempurna seperti biasa?
Andrean menghela bahunya acuh dan mulai mendorong pelan stroller kedua anaknya.
"Tidak masalah. Masih banyak yang terpesona denganku walaupun penampilanku layaknya orang hutan seperti ini,"
Angel mencibir pelan lalu turun dari ranjang untuk mendekati suaminya.
"Aku ingin ikut, bolehkah?" tanya Angel langsung. Ia juga ingin menikmati pagi yang sejuk bersama orang-orang yang dicintainya.
Andrean menatap Angel dari kepala hingga ujung kaki. Ia membuang mukanya lalu memutuskan untuk keluar dari kamar tanpa menjawab pertanyaan Angel.
Angel tidak terima dengan sikap Andrean yang menyebalkan. Ia berseru dengan marah,
"Andrean, aku ikut!"
Secepat kilat, perempuan itu berlari menyusul suaminya yang sudah berjalan di koridor resort.
Andrean yang mendengar langkah kaki kencang di belakangnya pun menoleh. Wajahnya berubah keras.
"Ganti bajumu!!" titah Andrean ketika Lovi sudah ada di dekatnya. Bibir Angel sedikit mengerucut.
"Kenapa? aku hanya ikut berjalan-jalan jadi tidak masalah memakai piyama seperti ini," sela Angel yang tidak ingin melaksanakan perintah Suaminya.
Andrean mengangkat dagu Angwl untuk menatap tajam mata bersinar itu.
"Dasar bodoh!! piyama tidak ada yang seterbuka ini," komentarnya seraya menarik pelan renda yang ada pundak Angel.
Angel menatap seluruh tubuhnya. Menurutnya tidak ada yang salah dengan penampilannya saat ini. Ia hanya memakai baju tidak berlengan dan celana yang panjangnya sebatas betis. Apakah itu terlalu terbuka?
"Tapi ini..."
"Angel, ganti sekarang!! lenganmu berkeliaran asal kamu tahu?!"
Angel menggeram seraya mencubit lengan Andrean cukup keras.
"Tidak masalah," ucapnya santai. Andrean merasa emosinya pagi ini benar-benar dipancing.
__ADS_1
"Kamu sudah bersuami bahkan memiliki anak dua,”
“Padahal aku merasa ini masih wajar, dan aku merasa gerah,”
Andrean langsung melahap bibir Istrinya.
Mata kedua anak mereka berkedip melihat apa yang dilakukan orang tuanya. Menyadari itu, Angel langsung mendorong bahu suaminya agar lelaki itu tidak lagi berbuat gila di depan anak mereka.
"Apa?!" tanya Andrean.
"Kenapa harus kamu balikkan posisi mereka hingga menghadap kita?!"
Andrean ingat, ketika mereka berdebat tadi, Andrean sengaja membalikkan stroller Axelia dan Axelion hingga menatap mereka. Andrean hanya ingin melakukannya tanpa tujuan yang jelas.
"Aku tidak ada maksud lain," jawab Andrean.
"Mereka melihat kita, Andrean,"
"Tidak ada masalah bukan? aku mencium Ibu mereka bukan wanita lain,"
Angel menangkap maksud yang berbeda dari ucapan Andrean. Anak mereka terlihat sibuk dengan mainan yang digenggam.
"Lakukan saja!”
Namun ketika mendengar suara bergetar pelan milik Angel, Axelion dan Axelia langsung beralih fokus. Berbeda dengan Andrean yang tidak menyadarinya, mereka justru penasaran dengan alasan yang membuat Ibu mereka tampak bersedih.
Angel mengambil alih stroller mereka dan meninggalkan Andrean yang kebingungan. Andrean tidak mengerti kenapa perempuan itu langsung terlihat bad mood. Padahal Ia hanya bergurau.
Andrean menghela napas pelan seraya mengacak rambutnya. Perempuan itu memang benar-benar sulit di pahami. Andrean tidak tahu harus memperlakukan Angel seperti apa. Hal ini makin diperparah dengan gurauannya yang membuat Angel naik darah.
****
Andrean membawa kedua putranya untuk bermain di taman. Tangannya sibuk menyuapi Axelia dan Axelion, sementara Angwl sedang membuatkan susu untuk mereka. Selama berlibur, Angel merasa kesulitan dalam mengeluarkan air susunya. Oleh sebab itu, Andrean langsung membawanya ke rumah sakit agar di periksa. Perempuan itu diminta untuk tidak stres memikirkan apapun dan memperhatikan makanan.
"Sudah habis?" tanya Angel dan duduk di sebelah suaminya.
Andrean memperlihatkan piring mereka yang masih ada isinya. Angel mengambil piring milik Axelia kemudian menyuapinya. Namun si bungsu itu malah menangis.
Andrean menatap lekat Axelia. Ia tidak tega melihat wajah mungil itu memerah karena tangis. Ia mengecup dahi Axelianm dengan lembut namun itu tidak mengurangi tangisnya.
"Kenapa menangis, sayang? hm?" tanya Angel. Ia mengecup bibir Axelia yang terbuka. Andrean dan Angel tidak begitu mengerti bahasa tubuh seorang bayi. Tapi mereka melihat ada rasa kesal yang menyertai tangisan Axelia.
Angel semakin dibuat khawatir karena Axelia tidak kunjung tenang. Ia meletakkan piring Axelia di meja makannya lalu membawa putra bungsunya itu dalam gendongan. Sementara Andrean kembali fokus pada Axelion yang masih sibuk dengan mainan berbahan karet steril yang sejak tadi digigitnya.
Angel menimang putrinya penuh kasih sayang. Bibirnya juga melantunkan nada-nada lembut agar Adelia berhenti menangis. Angwl menatap anaknya yang mulai merasa kesulitan dalam menarik napas. Angel mengusap punggung Axelia dengan lembut.
"Berhenti menangis, Lia. Kamu akan batuk nanti kalau terlalu lama menangis," ujar Angel.
"Jangan memarahinya, Sayang,” ucap Andrean. Ia salah mengartikan maksud ucapan Angel.
"Aku tidak marah. Aku hanya tidak tega melihat dia kesulitan bernapas karena terlalu lama menangis. Lia juga akan batuk setelahnya," jelas Angel.
Andrean khawatir pada anaknya. Begitupun dengan Angel. Jika Zelia dan Axelion kesakitan maka Angel pun turut merasakannya.
"Tenang, Sayang. Jangan menangis lagi ya. Anak Mommy pintar bukan?" hibur Angel dengan senyumnya. Kedua netra indah itu saling menatap. Axelia tersenyum kecil pada Angel membuat Angel tidak bisa menahan rasa gemasnya. Ia mengecup pipi Axelia berkali-kali hingga Axelia terkekeh dengan wajah yang masih memerah. Angel mengusap jejak kristal bening dari mata putrinya itu.
"Makananmu belum habis. Ayo lanjutkan," seru angel dengan berlari kecil untuk menghibur putrinya yang ada dalam gendongan. Terbukti, ketika angel melakukan itu Axelia langsung tertawa.
__ADS_1
Angel mengambil piring Axelia dan berencana untuk menyuapi Axelia di dalam resort. Ia belum berani berdekatan dengan Andrean yang baru saja menegurnya dengan tegas supaya tidak marah pada Axelia padahal Ia tak melalukan itu..
Ketika masuk, Angel melihat Lovi yang sedang membaca sesuatu di ponselnya dengan kacamata di sela hidungnya. Lovi merasakan kehadiran seseorang di dekatnya. Ia melepaskan kacamatanya lalu menatap Angel dan Axelia.
"Lion dimana, Angel?" tanya Lovi.
"Di taman bersama Ean, Mom,"
"Sedang makan juga?"
"Iya..."
Axelia mengangsurkan kedua tangannya pada Lovi. Rupanya pangeran kecil keluarga Vidyatmaka itu menginginkan balutan hangat tangan Neneknya.
Lovi meraih Axelia lalu memangkunya. Si bungsu itu terlihat sangat senang hingga kakinya berayun-ayun.
Lovi melihat piring yang ada di tangan Angel. Ternyata Axelia belum menghabiskan makanannya.
"Grammo suapi makannya ya?" tanya Lovi.
Axelia yang belum mengerti pun tidak menjawab. Ia memainkan rantai kacamata yang melingkari leher Lovi.
"Mommy sedang mengerjakan sesuatu tadi. Jadi biar aku saja yang menyuapkan Axelia, Mom," ucap Angel tak enak hati. Sepertinya Ia sudah mengganggu kegiatan Lovi.
"Tidak, Mama hanya membaca artikel kesehatan saja,"
"Dimana minumnya?" tanya Lovi setelah Ia berhasil membuat mulut kecil Axelia menerima makanannya.
Angel terlalu malas mengambil air minum Axelia yang masih ada di pekarangan. Karena Andrean masih ada di sana. Ia memutuskan untuk mengambilnya di dapur.
Ternyata dugaan Angel salah. Rupanya, Andrean sudah masuk. Dan sekarang Ia sedang meletakkan piring kotor Axelion di tempat pencucian piring yang ada di dapur. Angel sempat terkejut namun sebisa mungkin Ia memasang ekspresi datar di wajahnya. Otaknya berpikir mungkin Andrean masuk ke dapur melalui pintu belakang. Karena selama Angel berbicara dengan Lovi di ruang keluarga tadi, tidak ada tanda-tanda kedatangan Angel dari pekarangan taman.
"Lia sudah selesai makan?" tanya Andrean seraya mencuci tangannya. Sikap lelaki itu terlampau santai seolah Ia tidak pernah melakukan apapun sebelumnya.
"Belum," jawab Angel dengan nada tidak bersahabat. Setelah menuangkan air minum di gelas Axelia, Angel keluar dari dapur meninggalkan Andrean yang mengernyit bingung seraya menatap punggungnya yang menjauh.
Lovi membimbing cucunya untuk minum dengan pelan. Axelia sudah berubah menjadi balita yang menggemaskan sekarang. Semua hal yang dilakukan anak itu mampu membuat orang terhipnotis.
Axelia mengalihkan wajahnya ke samping saat suapan terakhir akan masuk kedalam mulutnya. Namun Lovi tetap meletakkan sendoknya di depan mulut Axelia. Barangkali cucunya berubah pikiran.
Axelia yang merasa dipaksa oleh Lovi pun ingin menangis. Bibirnya sudah terbuka dengan mata yang siap mengeluarkan bulir jernih.
"Kamu sudah kenyang? Maafkan Grammi, sayang," ucap Lovi. Dengan cepat Ia mengalihkan perhatian Axelia agar si kecil itu lupa akan tangisnya. Lovi sengaja membuat mainan Axelia yang berbentuk kuda itu mengeluarkan suara. Ketika mendengar suara yang lucu, raut sedih Axelia langsung berubah menjadi penuh warna kembali.
Angel tersenyum seraya menggeleng pelan. Axelia sangat manja dengan semua orang. Angel rasa pecahnya tangisan Axelia tadi disebabkan oleh rasa bosannya berada di taman. Dan sekarang putrinya itu ingin menangis lagi sebagai bentuk protesnya pada Lovi yang masih mengangsurkan makanannya di saat Ia sudah kenyang.
Lovi melarang angel yang ingin membereskan perlengkapan makan Axelia. Ia memanggil pekerjanya agar menggantikan posisi Angel.
"Lebih baik kamu tidurkan Axelia. Biasanya setelah makan, Axelia akan mengantuk,"
Angel mengangguk patuh. Ia membawa Axelia ke kamarnya untuk beristirahat. Ketika Angel merebahkan Axelia di atas ranjang, Pangeran kecil itu justru berguling-guling layaknya landak.
"Belum ingin tidur sepertinya," gumam Angel. Ia masih bisa melihat sinar di mata Axelia. Menandakan kalau Axelia masih segar dan belum mengantuk.
Angel akan menemani Axelia bermain. Sampai putri bungsunya itu merasa bosan dan memejamkan mata untuk hadir di alam mimpi.
*********
__ADS_1